Perkembangan Sosiologi Era Auguste Comte (1798-1853)

Sosiologi merupakan sebuah kajian keilmuan yang kemunculannya dipicu oleh perubahan masyarakat yang terjadi di kawasan Eropa di akhir tahun 1800-an hingga awal 1900-an. Namun, momentum dari kemunculan sosiologi yang paling santer terjadi di era Auguste Comte.

Itu sebabnya, sejarah perkembangan sosiologi era Auguste Comte penting dipelajari jika kita ingin memahami mengenai berbagai gejala sosial, fungsi struktur sosial, fenomena sosial, serta berbagai objek sosiologi lain.

Era di mana sosiologi pertama kali muncul lebih sering dikenal sebagai kebangkitan era modern. Kemunculan era modern sendiri disebabkan beberapa faktor, seperti munculnya wilayah perkotaan, pemilik modal dan masyarakat industri.

Overview Sejarah Sosiologi Sebelum Auguste Comte

Pada masa -masa awal perkembangan sosiologi, sudah ada beberapa tokoh sosiologi. Tokoh tokoh sosiologi ini telah lebih dulu populer dengan pemikiran dan teorinya sebelum Auguste Comte. Adapun beberapa tokoh sosiologi sebelum Auguste Comte di antaranya, adalah Aristoteles, Plato, Thomas More, N Machiavelli, Ibn Kaldun, Hobbes, John Loekoe, dan Saint Simon.

Masing masing tokoh sosiologi ini memunculkan pemikirannya mengenai sosiologi melalui berbagai tulisan. Misalnya saja, Aristoteles (384-322 SM) melakukan analisis mendalam terhadap lembaga-lembaga pilitik dalam masyarakat. Aristoteles menekankan bahwa basis masyarakat adalah modal.

Kemudian, Plato (429-347 SM) yang merupakan seorang filosof barat dari romawi, memberikan sumbangsih terhadap struktur sosial beserta fungsi struktur sosial dalam masyarakat yang dijabarkan secara sestematis. Menurutnya, masyarakat sesungguhnya merupakan refleksi dari manusia perorangan yang keseimbangan jiwanya terganggu, dan terdiri dari tiga unsur, berupa : napsu, semangat, dan intelegensia.

Lalu perkembangan sosiologi masa Renaisance (1200-1600), memunculkan tokoh Thomas More dengan gagasan otovia-nyacampanella, yang didalamnya berkaitan dengan gagasan-mengenai bentuk masyarakat ideal. Selain itu, ada juga N. machiavelli yang melakukan analisis tentang bagaimana mempertahankan kekuasaan.

  1. Machiavelli -lah yang pertama kali mencetuskan pemisahan jelas dari politik dan moral, sehingga muncul pendekatan yang mekanis terhadap masyarakat. Ajaran N. machiavelli memberitahu kita bahwa teori-teori politik dan sosial memusatkan perhatiannya pada mekanisme pemerintah.

Lalu, ada Ibn khaldun (1332-1406) mengemukakan beberapa prinsip mengenai bagaimana kehidupan masyarakat terkait satu sama lain, dan terbentuk ikatan -ikatan serta usaha kerja sama antarmanusia.

Hobbes (1588-1679) juga memberikan tambahan melalui tulisannya berjudul “the Leviathan” yang populer pada abad XVII. Ia mengemukakan inspirasi-inspirasi terkait hukum lama, fisika, dan matemetika. Menurut Hobbes, kehidupan manusia dalam keadaan alamiah didasarkan pada keinginan-keinginan yang mekanis. Hal ini membuat manusia selalu saling berkelahi. Meski demikian, terdapat pikiran bahwa hidup damai dan tentram adalah hal yang lebih baik sehingga untuk mewujukdkannya diperlukan perjanjian atau kontrak bersama pihak-pihak yang berwewenang, atau pihak yang dapat memelihara ketentraman.

Sebagai tambahan, terdapat John Loekoe yang mengutarakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki hak-hak asasi berupa hak untuk hidup, kebebasan serta hak atas harta benda. Adapun kontrak yang dilakukan antara warga masyarakat dengan pihak berwewenang, mengandung dasar faktor pamrih.

Saint Simon (1760-1925) sendiri, memunculkan gagasan yang mempelajari manusia dalam bentuk berkelompok. Ia menulis dalam “Memories Sur La Science de L’home” bahwa ilmu politik sesungguhnya adalah suatu ilmu yang positif. Karenanya, berbagai masalah dalam ilmu politik sudah seharusnya dianalisa menggunakan metode yang sering dipakai terhadap gejala-gejala lain.

Menurut Saint Simon, sejarah merupakan bentuk fisika sosial, dan fisiologi dapat mempengaruhi ajaran ajarannya mengenai masyarakat tersebut. Lalu setelah tokoh tokoh sosiologi ini memunculkan pemikirannya, ilmu sosiologi berikutnya pun semakin mengalami perkembangan yang jelas.

Tokoh sosiologi yang dianggap memegang momentum perkembangan sosiologi ini adalah Auguste Comte. Auguste Comte (1798-1853) inilah yang pertama kali membedakan antara ruang lingkup dengan isi dari sosiologi terhadap ruang lingkup dan isi dari pengetahuan lainnya.

Auguste Comte pula, tokoh yang menyusun sistematika serta filsafat sejarah, dengan menggunakan kerangka tahap-tahap pemikiran yang berbeda-beda. Pengaruh pemikiran Auguste Comte terhadap sosiologi memang cukup besar. Itu sebabnya, Auguste Comte diberi julukan sebagai bapak sosiologi.

Perkembangan sosiologi sesudah Auguste Comte juga tetap berlangsung pesat. Selain itu, beberapa tokoh sosiologi lain pun juga bermunculan. Teori sosiologi sesudah Auguste Comte, banyak dipengaruhi oleh pemikiran para tokoh seperti H. Spencer, dan Rester F Ward.

  1. spencer pada tahun 1876 menerbitkan “Principles of Sociologi”, yang di dalamnya terdapat adanya penerapan terhadap teori evolusi pada masyarakat manusia, yang kemudian menghasilkan teori besar mengenai revolusi sosial. Pemikiran inilah yang turut menyumbang peranan tersendiri terhadap sosiologi sehingga dapat dianggap sebagai suatu bidang studi.

Lalu, ada Rester F. Ward, yang berasal dari Amerika. Di tahun 1883, ia menerbitkan “Dinamic Sociologi” yang di dalamnya menyatakan bahwa perkembangan sosial harus terjadi melalui adanya tindakan sosial yang cemerlang. Lalu, para sosiolog di sini akan berperan sebagai pembimbing.

Perintis sosiologi ini adalah para filosof sosial yang mencetuskan banyak teori dalam kajian sosiologi. Hanya saja, teori yang mereka kembangkan banyak dianggap lemah. Lemahnya teori yang diungkapkan tak lain karena mereka terlalu mengagungkan kemampuan atau sistem berpikir mereka, sementara mereka sedikit sekali melakukan penelitian, pengujian dan pengukuran.

Tidak ada proses pengumpulan serta klasifikasi fakta, yang kemudian akan dikembangkan sebagai teori agung dari fakta tersebut. Ini artinya, ditinjau dari segi metodoligsnya, teori -teori ini dapat dikatakan lemah. Sekalipun demikian, para tokoh sosiologi ini cukup berpengaruh pada waktu tersebut, sehingga sering pula diminta merumuskan strategi untuk pemecahan masalah sosial yang terjadi.

Perkembangan sosiologi pasca Auguste Comte ini lebih banyak dikenal sebagai kelompok mazhab. Ada beberapa mazhab yang dibentuk dengan disesuaikan pada pengaruhnya dari ilmu-ilmu lain. Ada pun mazhab sosiologi tersebut, meliputi : mazhab normal, mazhab hukum, mazhab psikologis, mazhab geografi dan lingkungan, mazhab organis dan evolusioner, serta mazhab ekonomi.

Mengenai penjelasan terkait berbagai mazhab ekonomi ini akan dijelaskan pada artikel tersendiri. Sedangkan pada artikel kali ini, pembahasan yang akan kita ulas secara mendalam adalah mengenai perkembangan sosiologi era Auguste Comte.

Lantas, bagaimana sejarah perkembangan sosiologi era Auguste Comte?

Faktor Pendorong Kelahiran Sosiologi

Para ahli percaya bahwa kelahiran sosiologi didorong oleh faktor krisis yang terjadi dalam masyarakat. Laeyendecker (1983) menyatakan bahwa kelahiran sosiologi berkaitan dengan serangkaian perubahan serta krisis yang berlangsung di Eropa Barat.

Laeyendecker memiliki gagasan, bahwa tmbuhnya kapitalisme pada abad 15 ini dilatarbelakangi oleh krisis dan perubahan sosial politik, yang terutama berkenaan dengan beberapa faktor, seperti reformasi Martin Luther, peningkatan individualisme, kelahiran ilmu pengetahuan modern, perkembangan rasa kepercayaan diri sendiri, revolusi industri pada abad ke-18, dan terjadinya revolusi Prancis.

Kelahiran sosiologi banyak mendapat pengaruh dari filsafat sosial. Ini jelas berbeda dari ilmu filsafat sosial lain yang cenderung banyak dipengaruhi oleh ilmu alam yang memandang masyarakat sebagai “mekanisme”, yang dikuasai oleh hukum-hukum mekanis sosiologi, yang lebih menempatkan warga masyarakat sebagai individu dengan sifat relatif bebas.

Jika diruntut perlahan, kita bisa mengetahui bagaimana para filsuf sosial seperti Plato dan Aristoteles yang meyakini bahwa ketertiban dunia dan masyarakat berasal dari adanya keteraturan yang abadi, adimanusia, ahistoris serta tidak ada perubahan. Sedangkan sosiologi sendiri, menempatkan diri sebagai pengkoreksi terhadap keyakinan lama para filsuf tersebut.

Sebagai gantinya, dimunculkanlah keyakinan baru yang dipandang lebih mampu dalam mencerminkan realitas sosial sesungguhnya. Lantas, apa yang dipercaya oleh para ahli sosiologi ini? Mereka meyakini bahwa bentuk kehidupan bersama ini tak lain merupakan hasil ciptaan manusia sendiri.

Bagaimana kehidupan ini dikatakan sebagai hasil ciptaan manusia itu sendiri? Sebab, kehidupan yang melahirkan masyarakat ini berlangsung karena adanya kesepakatan yang dilakukan para individu. Lewat kesepakatan ini, terbentuk masyarakat, gejala pelapisan sosial, serta pola-pola interaksi yang dapat berbeda dalam satu masyarakat dengan lainnya.

Sosiologi ini lalu diakui eksistensinya pada abad ke-19 tersebut. Sebelumnya, kajian mengenai kemasyarakatan telah dilakukan, hanya saja bukan sebagai pengetahuan ilmiah atau ilmu. Baru ketika abad ke-19, di masa Auguste Comte, sosiologi sebagai pengetahuan sosial baru diakui sebagai ilmu pengetahuan.

Pengetahuan sosial sendiri memang dianggap memiliki keterbatasan bila harus dianggap sebagai ilmu. Keterbatasan atau kelemahan ini terutama karena ilmu sosial sulit diuji kembali kebenarannya. Selain itu, Leonardost Layendecker (1983) menyebutkan terdapat tiga keterbatasan dari pengetahuan sosial, berupa :

1# Karena pengetahuan sosial diperoleh dari lingkunganyang ralatif terbatas.

2# Karena pengetahuan sosial rawan muncul bias, lantaran diperoleh secara selektif menurut emosi-emosi dan karakteristik dari pribadi masing-masing orang.

3# Karena pengetahuan sosial seringkali tidak ditinjau secara kritis, atau pun diperoleh secara tidak sengaja, main-main, dan karenanya kurang dipikirkan secara mendalam.

Namun, Auguste Comte mencoba untuk merumuskan sosiologi ini sebagai sebuah ilmu pengetahuan dengan lebih gamblang. Adapun latar belakang pemikiran Auguste Comte dalam hal pengembangan sosiologi, yakni :

  • Terjadinya Revolusi Perancis
  • Perkembangan filsafat sosial di Perancis abad 18, yang membuat kajian tentang ilmu sosial semakin ramai.
  • Aliran reaksioner dari para ahli pikir Thoecratic (aliran yang menganggap kekuasaan gereja yang besar adalah kondisi terbaik), sehingga muncul pemikiran untuk merobohkan kekuasaan dari para theocratic.
  • Lahirnya aliran yang dikembangkan oleh para pemikir sosialistik, terutama yang diprakarsai Sain– Simont, yakni terkait sosiologi dan perkembangannya.

Inti Sosiologi Menurut Auguste Comte

Auguste Comte mengembangkan pemikirannya mengenai sosiologi dengan beberapa poin pomikiran. Dasar pemikiran sosiologi menurut Auguste Comte yang paling utama adalah ide positif. Positif di sini maksudnya adalah factual atau berdasarkan pada fakta-fakta.

Comte menegaskan bahwa pengetahuan yang kita miliki tidak boleh melebihi fakta-fakta yang ada, dengan kata lain, pengetahuan tersebut pada dasarnya kita peroleh melalui pengamatan terhadap fakta.

Ide sosiologi utama yang diusulkan oleh Comte ini juga dikenal sebagai alira positivism, yang mana positivism ini sejalan dengan empirisme, yakni menekankan pengalaman sebagai sumber pengetahuan.

Sebagai informasi, secara umum terdapat perkembangan aliran filsafat ilmu yang dikenal, yakni Positivisme/empirisme > Interpretivisme > Kritisisme. Auguste Comte sendiri mengembangkan pemikiran filsafat ilmu pada masa yang sangat awal, yang berupa positivisme.

Inti dari pemikiran Auguste Comte dalam gagasan positivism ini adalah “fenomena harus bisa dijelaskan dengan akal atau nalar manusia. Segala sesuatu yang di luar akal sehat manusia, seperti sesuatu yang astral, metafisik atau gaib, tidak dikaji oleh positivism”.

Ciri metode positif, menurut Auguste Comte ini utamanya adalah objek yang dikaji harus berupa fakta, serta kajian yang dilakukan tersebut haruslah bermanfaat dan mengarah ke kepastian dan kecermatan.

Sedangkan sarana untuk kajian sosiologi, dalam hal ini dapat dilakukan dengan beberapa jalan, berupa pengamatan, perbandingan, eksperimen, serta metode historis.

Pembagian Sosiologi menurut Auguste Comte

Auguste Comte juga mengajukan gagasan yang cukup populer, yakni dengan membedakan antara sosiologi stasis (socials statics) dengan sosiologi dinamis (socials dynamic). Perkembangan sosiologi sendiri dibentuk oleh setting sosialnya. Setting sosial ini pula yang menjadi basis masalah pokok yang dikaji dalam sosiologi.

Setting sosial yang menjadi momentum perkembangan sosiologi terjadi ketika revolusi Perancis dan revolusi industri yang berlangsung sepanjang abad ke 19. Revolusi yang terjadi kala itu membawa perubahan dahsyat dalam bidang politik dan ekonomi kapitalistik. Kondisi sosial yang penuh kecemasan inilah yang kemudian memunculkan para pemikir seperti Auguste Comte.

Auguste Comte yang sering dianggap sebagai “bapak sosiologi” ini adalah seorang ahli filsafat dari Prancis. Pria kelahiran 1798 ini pertama kali mencetuskan nama “sociology” di dalam bukunya yang tersohor, berjudul “Positive Philosophy” yang terbit pada tahun 1838.

Istilah yang dalam bahasa Indonesia, diartikan sebagai “sosiologi” ini berasal dari bahasa latin “socius” yang artinya “kawan”, dan bahasa Yunani “Logos” yang artinya “kata” atau “berbicara”. Dari sini, secara etimologi, kata ‘sosiologi’ dapat diartikan sebagai ‘berbicara mengenai masyarakat’.

Dalam hirarki ilmu, Comte meletakkan sosiologi pada urutan teratas, yakni di atas astronomi, fisika, kimia, dan biologi. Comte kala itu memunculkan pandangan baru, yang menyatakan kepercayaannya terhadap sosiologi yang harus didasarkan pada observasi serta klasifikasi sistematis, dan bukannya pada kekuasaan maupun spekulasi.

Gagasan Comte ini rupanya mendapat sambutan hangat dari masyarakat luas. Pemikirannya menjadi rintisan bagi para ilmuwan besar lain di bidang sosiologi. Para ilmuwan besar sosiologi yang kesemuanya berasal dari Eropa pun banyak yang ikut menyumbangkan pemikirannya untuk mengembangkan gagasan Comte ini.

Beberapa ilmuwan besar sosiologi tersebut meliputi Herbert Spencer, Karl Marx, Max Weber, dan Pitrim Sorokin. Istilah sosiologi yang dimunculkan oleh Comte semakin dipopulerkan pada masa Herbert Spencer. Ilmuwan Inggris ini mempopulerkan istilah sosiologi melalui bukunya yang berjudul “Princeples of Sociology” pada tahun 1876, atau setengah abad setelah masa Auguste Comte.

Spencer sendiri menerapkan teori evolusi organik pada masyarakat manusia. Selain itu, ia juga mengembangkan teori besar mengenai evolusi sosial, yang mana teori ini baru diterima secara luas beberapa puluh tahun kemudian.

Sekalipun gagasan mengenai ketiga tahap tersebut adalah fiksi, namun gagasan tersebut mampu memberikan penerangan terhadap bagaimana pikiran manusia bekerja.

Kembali pada pembagian ilmu sosiologi menjadi dua, yakni sosiologi statis dan sosiologi dinamis, pembagian ini dilakukan karena anggapan Comte bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang paling kompleks. Itu sebabnya, dibutuhkan pembagian yang lebih gamblang untuk mempermudah mempelajari ilmu tersebut.

Sosiologi statis sendiri lebih memusatkan kajiann yang dilakukan terhadap hukum-hukum statis, yang menjadi dasar keberadaan masyarakat. Adapun sosiologi dinamis lebih memusatkan kajiannya terhadap perkebangan masyarakat dalam arti pembangunan.

Dalam sosiologi statis, kita akan membahas soal anatomi sosial, yang di dalamnya mengulas mengenai aksi-aksi dan reaksi timbal balik yang terjadi dalam sistem-sistem sosial. Sosiologi statis dilatarbelakangi oleh cita -cita dasar yang menganggap bahwa semua gejala sosial pada dasarnya saling berkaitan.

Hal ini dapat dipahami kita tidak akan bisa mempelajai unit sosial secara terpisah. Sebab, unit sosial terpenting bukanlah induvidu, melainkan keluarga. Ikatan yang menjalin keluarga ini adalah simpati. Lalu, agar suatu masyarakat dapat berkembang, maka simpati ini perlu diganti dengan kooperasi atau kerjasama. Kerjasama ini hanya dapat diwujudkan dengan adanya pembagian kerja.

Sedangkan pada kajian sosiologi dinamis, Comte menyatakan bahwa masyarakat harus diteliti melalui fakta -fakta objektif sebagai dasarnya. Menurut Comte, penelitian -penelitian perbandingan perlu dilakukan dalam berbagai masyarakat yang berlainan. Sebab, hal inilah yang akan membuka tabir dinamika sosial yang berlangsung dalam masyarakat yang sifatnya dinamis.

Agar lebih jelas, mari kita rangkum inti dari sosiologi statis atau social statics, menurut Auguste Comte :

  • Berfokus pada teori yang mengulas tentang dasar masyarakat, seperti struktur sosial yang sifatnya statis.
  • Mencari hukum aksi reaksi dalam sistem sosial yang berlangsung.
  • Ada 4 doktrin : individu, keluarga, masyarakat, negara.

Sedangkan inti dari sosiologi dinamis atau socials dynamic, yakni :

  • Berfokus pada kajian teori tentang perkembangan manusia
  • Mengajukan gagasan mengenai tiga tingkatan intelegensi manusia atau hukum tiga tahap.
  • Sejarah umat manusia ditentukan oleh perkembangan pemikiran manusia

Tiga Tahapan Perkembangan Intelektual menurut Auguste Comte

Intelektualitas yang diwujudkan dalam bentuk perkembangan ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki sifat terus berkembang. Dalam kajian sosiologi dinamis yang dirumuskan oleh Comte, perkembangan intelektual ini ada tiga tahapan. Tiga perkembangan intektual atau yang juga dikenal sebagai hukum tiga tahap menurut Comte tersebut, meliputi :

1# Tahap Theologi

Tahap pertama disebut sebagai tahap theologi atau fiktip. Pada tahapan ini, manusia menapsirkan gejala –gejala yang berlangsung di sekelilignya secara theologis. Pengertian theologis sendiri berkaitan dengan kekuatan-kekuatan yang dikendalikan oleh roh dewa-dewa atau oleh Tuhan yang Maha Kuasa.

2# Tahap Metafisik

Tahap metafisik ini merupakan tahap perkembangan dari tahapan pertama. Pada tahapan ini, manusia menganggap bahwa pada setiap gejala yang terjadi, ada kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada hakikatnya akan diungkapkan.

3# Tahap Ilmu Pengetahuan Positif

Tahap positif ini adalah tahap di mana manusia mulai berpikir secara ilmiah. Pada tahap ilmu pengetahuan positif, manusia dianggap masih terikat cita-cita, namun tanpa verifikasi. Tahapan ini terjadi lantaran kepercayaan manusia yang menganggap setiap cita-cita terkait pada realitas tertentu dan tidak terdapat usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.

Sosial dinamik ini juga berkaitan dengan bagaimana perkembangan dari lembaga -lembaga yang ada dalam masyarakat. Di mana perkembangan tersebut berlangsung dalam tiga tahapan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yakni tahapan teologis, tahapan metafisis, dan tahapan positif, dengan ringkasan sebagai berikut :

  • tahap teologis – tingkatan pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa.
  • tahap metafisis – tahap yang masih percaya terhadap kekuatan-kekuatan
  • tahap positif – tahap manusia sudah berfikir secara ilmiah.

Lebih lanjut, Comte mengutarakan bahwa ilmu pengetahuan bersifat positif ketika ilmu pengetahuan memusatkan perhatiannya terhadap gejala-gejala yang nyata dan konkret. Hal ini memungkinkan adanya penilaian terhadap cabang ilmu pengetahuan, yang dilakukan dengan mengukur isi serta keberadaannya yang positif.

Kemudian, secara general, ilmu pengetahuan ini dibagi ke dalam tingkat -tingkat, yang meliputi : matematika, astronomi, fisika, ilmu kimia, boilogi, sosiologi. Sosiologi sendiri menurut Comte berlangsung positif dan berkaitan dengan hukum-hukum dasar dari gejala sosial.

Perubahan sosial menurut Auguste Comte

Dalam pembahasannya, Auguste Comte banyak membahas mengenai perubahan sosial. Bagi Comte, perubahan sosial sendiri merupakan bagian dari gejala yang dapat melekat di dalam setiap masyarakat yang dinamis. Menurutnya, perubahan sosial ini dapat terjadi karena latar belakang material maupun non material.

Pada masa Comte, masyarakat mengalami perubahan sosial dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern. Perubahan ini mengakibatkan terjadinya berbagai goncangan dalam masyarakat tersebut, seperti memudar atau bahkan menghilangnya pola-pola tradisi yang dimiliki oleh masyarakat dahulu.

Contoh perubahan sosial yang terjadi misalnya terjadi pada proses pengelolaan bahan bangunan. Jika dahulu masyarakat membangun rumah dengan memanfaatkan kegotong-royongan, kini masyarakat sudah tidak banyak yang menerapkan cara tersebut. Masyarakat modern lebih banyak yang memilih membayar tukang bangunan untuk menyelesaikan proses pembangunan rumah mereka.

Auguste Comte menekankan bahwa perubahan masyarakat ini paling besar dipengaruhi oleh industrialisasi. Industrialisasi yang terjadi di era modern juga turut mendorong perkembangan laju komunikasi sehingga arus informasi diterima dengan sangat cepat.

Auguste Comte sendiri juga menyatakan bahwa di dalam suatu perubahan sosial, ketika terjadi perubahan yang amat sangat, maka hal ini justru akan menghancurkan adat istiadat yang telah dimiliki masyarakat sejak jaman dahulu. Namun, jika dilihat dari kaca mata pengembangan industri, perubahan ini memiliki dampak baik untuk menghasilkan peningkatan kestabilan ekonomi masyarakat.

Referensi :

  1. Bell George, 1896. The Positive Philosophy. London
  2. K.J. Veeger.  1986. Realitas sosial. Jakarta: PT Gramedia.
  3. P.J. Bouman. 1976. Sosiologi “Pengertian-Pengertian dan Masalah-Masalah”. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  4. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (ed). 1974. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
  5. Soekanto, soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
  6. Sztompka, Piotr. 2005. Sosiologi Perubahan Sosial (alih bahasa oleh Alimandan). Jakarta: Prenada Media.

Bacaan lain: