Watak dan Ciri 11 Tembang Macapat

Hasna Wijayati

  • 26
    Shares

Tembang macapat merupakan kumpulan tembang atau lagu -lagu tradisional yang sangat populer dan dibanggakan. Lagu tradisional dari Jawa memang lebih akrab dengan sebutan tembang macapat. Tembang macapat ini pun hingga kini senantiasa dilestarikan dan diajarkan di berbagai sekolah formal.

Karenanya, tak heran bila masih banyak masyarakat suku Jawa yang mengenal dan memahami tembang macapat yang bernilai luhur ini. Di dalam tembang ini, tersimpan warisan budaya yang luhur dan sangat berharga untuk dipelajari.

Pengertian tembang macapat

Pengertian tembang macapat secara sederhana dapat dipahami sebagai sebuah bentuk ungkapan yang dilagukan dan dipaparkan dalam sebuah ‘pada’ atau paragraf. Kenapa disebut sebagai ungkapan? Sebab, tembang macapat memang sering dimafaatkan sebagai sarana untuk menyampaikan nasehat – nasehat positif secara halus, yakni melalui seni suara.

Jenis – jenis tembang macapat

Tembang macapat secara umum dibagi ke dalam 11 jenis atau 11 kelompok lagu. 11 Tembang macapat tersebut, meliputi :

  1. tembang Maskumambang,
  2. tembang Mijil,
  3. tembang Kinanthi,
  4. tembang Sinom,
  5. tembang Asmarandana,
  6. tembang Gambuh,
  7. tembang Dandanggula,
  8. tembang Durma,
  9. tembang Pangkur,
  10. tembang Megatruh,
  11. tembang Pocung.

Ciri – ciri umum tembang macapat

Tembang macapat sangat mudah dikenali. Meski demikian, dalam tembang macapat, tidak ada lirik lagu yang baku. Artinya, lirik lagu yang ada pada satu tembang macapat bisa berbeda, meski pun sama -sama tembang maskumambang, atau sama -sama tembang mijil dan lain sebagainya.

Lirik tembang macapat dapat dibuat sendiri, selama dalam pembuatan lirik tersebut memenuhi kaidah baku yang ditentukan. Kaidah baku tembang macapat ini pula yang pada dasarnya merupakan ciri tembang macapat.

Kaidah baku ini merupakan ketentuan penulisan lirik yang pada masing – masing tembang macapat, harus dipenuhi pada tiap bait, baris dan vokalnya. Secara umum, ciri – ciri tembang macapat secara umum ada tiga hal, yakni :

1# Tembang Macapat terikat pada kaidah (kaiket dening wewaton (guru).

Kaidah yang mengikat pada tembang macapat meliputi guru gatra, guru wilangan dan guru lagu.

Guru gatra merupakan ketentuan jumlah baris dalam satu bait (cacahing gatra/ larik saben sapada).

Guru wilangan merupakan ketentuan jumlah suku kata dalam satu baris (cacahing wanda saben sagatra).

Guru lagu merupakan jatuhnya nada vokal terakhir pada tiap baris atau larik (tibaning swara ing saben pungkasane gatra).

Sebagai contoh, misal pada tembang maskumambang, kaidah baku guru gatra, guru wilangan dan guru lagu nya adalah : 12i – 6a – 8i – 8a.

Arti dari kaidah tersebut adalah pada tembang maskumambang terdapat “

guru gatranya 4, yakni terdapat 4 baris pada tiap baitnya.

guru wilangannya 12 – 6 – 8 – 8, yakni ada 12 suku kata pada baris pertama, 6 suku kata pada baris kedua, 8 suku kata pada baris ketiga, serta sejumlah 8 suku kata pada baris keempatnya.

guru lagu i – a – i –a, berarti jatuhnya vokal pada baris pertama adalah vokal ‘i’, pada baris kedua jatuh pada vokal ‘a’, di baris ketiga jatuh pada vokal ‘i’, dan pada baris keempat jatuh pada vokal ‘a’.

Dengan demikian, tembang maskumambang yang dibuat dapat berupa lirik berikut :

Kelek-kelek biyung sira aneng ngendi (12 i)

Enggal tulungana (6 a)

Awakku kecemplung warih (8 i)

Gulagepan wus meh pejah (8 a)

2# Tembang macapat dirangkai dengan bahasa jawa gaya baru, serta disisipi dengan bahasa jawa kuno (basane Jawa anyar, diseseli basa Jawa kuna (kawi)).

3# Tembang Macapat berisi nasehat, sopan santun, dongeng, cerita wayang, dan sejenisnya (Isine bab pitutur, kasusilan, dongeng, kaprajan wayang, lan sak piturute). Jadi, isi dari tembang macapat bisa bersifat fleksibel, bahkan bisa untuk mengungkapkan rasa, selama untuk tujuan positif.

Ciri, Watak dan Filosofi 11 Tembang Macapat

Masing – masing dari 11 tembang macapat memiliki ciri khasnya tersendiri, baik dari segi filosofi, watak, maupun kaidah. Jika dilihat secara keseluruhan, kesebelas tembang macapat bertutur mengenai perjalanan hidup manusia.

Filosofi tembang macapat menyerupai gambaran dari rangkaian perjalanan hidup seorang manusia mulai dari lahir, saat belajar di masa kanak – kanak, pada masa dewasa, dan hingga akhirnya meninggal dunia.

Selain itu, jika dilihat dari wataknya, masing – masing tembang macapat ini juga melambangkan watak atau karakter tersendiri. Ada tembang macapat yang melambangkan watak duka atau sedih, nasehat, percintaan, kasih sayang, kebahagiaan dan lainnya.

Watak tembang macapat umumnya digunakan sebagai acuan untuk membuat lirik lagu, meski terkadang hal ini tidak berlaku secara mutlak. Namun demikian, tembang macapat lebih sering digunakan sebagai tembang yang berisi nasehat untuk hidup.

Berikut adalah uraian atau penjelasan dari masing – masing filosofi dan watak 11 tembang macapat yang menggambarkan perjalanan hidup dari lahir hingga meninggal dunia, dilengkapi dengan watak serta kaidah baku masing -masing tembang.

1# Tembang Maskumambang

Tembang Maskumambang mengandung filosofi hidup seorang manusia dari awal mula penciptaannya. Manusia ini digambarkan sebagai embrio yang sedang bertumbuh dalam rahim sang ibunda dan masih belum diketahui jati dirinya, bahkan belum pula diketahui apakah laki-laki atau perempuan.

Maskumambang berasal dari kata ‘mas’ dan ‘kumambang’. Kata ‘mas’ artinya masih belum diketahui laki-laki atau perempuan. Sedangkan kata ‘kumambang’ artinya hidupnya masih mengambang karena bergantung pada Ibunya dalam alam kandungan.

Watak tembang maskumambang adalah menggambakan karakter kesedihan atau duka, serta suasana hati yang nelangsa.

Contoh tembang maskumambang ( 12i – 6a – 8i – 8o ) :

Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi (12 i)

Ha nemu duraka (6 a)

Ing donya tumekeng akhir (8 i)

Tan wurung kasurang-surang (8 o)

2# Tembang Mijil

Tembang Mijil memiliki filosofi berupa penggambaran bentuk dari biji atau benih yang telah lahir di dunia. Dari segi bahasa, mijil berarti biji atau benih. Jadi, mijil menjadi perlambangan awal mula perjalanan seorang manusia di dunia fana.

Karena merupakan permulaan, anak ini dianggap masih suci dan begitu lemah sehingga masih membutuhkan perlindungan dari orang -orang di sekitarnya.

Watak tembang mijil atau karakternya adalah bersifat keterbukaan. Karenanya, tembang inisesuai untuk menyampaikan nasehat, cerita – cerita, dan tentang asmara.

Contoh tembang mijil (10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6o)

Dedalanne guna lawan sekti (10 i)

Kudu andhap asor (6 o)

Wani ngalah dhuwur wekasane (10 e)

Tumungkula yen dipundukanni (10 i)

Ruruh sarwa wasis (6 i)

Samubarangipun (6 o)

3# Tembang Kinanthi

Tembang Kinanthi berasal dari kata ‘kanthi’ yang berarti  menggandeng atau menuntun. Filosofi Tembang Kinanthi dalam hidup mengisahkan kehidupan seorang anak yang masih kecil sehingga masih perlu dituntun hingga nantinya dapat berjalan sendiri dengan baik di dunia.

Seorang anak pada dasarnya membutuhkan tuntunan penuh dari orang tua atau orang – orang lain di sekitarnya. Tuntutan yang utuh ini tidak hanya untuk belajar berjalan, melainkan juga tuntunan dalam memahami berbagai norma dan adat yang berlaku. Dengan begitu, kelak ia dapat mengerti, mematuhi dan menjalankannya dengan baik dan semestinya.

Watak Tembang Kinanthi atau karakternya adalah tentang kesenangan, teladan yang baik, nasehat dan kasih sayang. Tembang kinanthi umumnya digunakan untuk menyampaikan cerita atau kisah yang isinya menggambarkan nasehat yang baik dan tentang kasih sayang.

Contoh Tembang Kinanthi (8u – 8i – 8a – 8i – 8a – 8i)

Kukusing dupa kumelun (8u)

Ngeningken tyas kang apekik (8 i)

Kawengku sagung jajahan (8 a)

Nanging saget angikipi (8 i)

Sang resi kaneka putra (8 a)

Kang anjog saking wiyati (8 i)

4# Tembang Sinom

Kata “Sinom” mempunyai arti pucuk yang baru tumbuh atau bersemi. Filosogi tembang Sinom mengandung penggambaran dari seorang manusia yang beranjak dewasa, dan telah menjadi seorang pemuda / remaja yang bersemi. Menjadi seorang remaja, berarti ia bertugas untuk menuntut ilmu sebaik dan setinggi mungkin untuk dijadikan bekal kehidupannya kelak.

Watak tembang sinom atau karakternya adalah tentang kesabaran dan keramahtamahan. Tembang macapat sinom biasa digunakan untuk menceritakan nasehat yang baik dan mengandung rasa persahabatan.

Contoh Tembang Sinom (8a – 8i – 8a – 8i – 7i – 8u – 7a – 8i – 12a)

Punika serat kawula (8 a)

Katura sira wong kuning (8 i)

Sapisan salam pandonga (8 a)

Kapindo takon pawarti (8 i)

Jare sirarsa laki (7 i)

Ingsun mung sewu jumurung (8 u)

Amung ta wekasi wang (7 a)

Gelang alit mungging driji (8 i)

Lamun sida aja lali kalih kula (12 a)

5# Tembang Asmarandana

Kata Asmarandana berasal dari kata ‘asmara’ yang diartikan sebagai cinta kasih. Filosofi tembang asmarandana adalah mengenai perjalanan hidup seorang manusia telah tiba waktunya untuk memadu cinta kasih bersama jodoh atau pasangan hidupnya.

Pada hakikatnya, kehidupan cinta merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa sesuai kaidah penciptaan manusia, yakni secara berpasangan-pasangan.

Watak tembang asmarandana adalah tentang cinta kasih, asmara yang disertai juga rasa pilu atau sedih.

Contoh tembang asmarandana (8i – 8a – 8e – 7a – 8a – 8u – 8a)

Lumrah tumrap wong ngaurip (8 i)

Dumunung sadhengah papan (8 a)

Tan ngrasa cukup butuhe (8 e)

Ngenteni rejeki tiba (7 a)

Lamun tanpa makarya (8 a)

Sengara bisa kepthuk (8 u)

Kang mangkono bundhelana (8 a)

6# Tembang Gambuh

Kata “Gambuh” mengandung arti menyambungkan. Filosofi tembang Gambuh adalah tentang perjalanan hidup seseorang yang telah menemukan pasangan hidup yang cocok baginya. Maka, keduanya dapat disandingkan dalam ikatan yang lebih sakral yakni melalui ikatan pernikahan Ikatan inilah yang dapat mengantarkan mereka mendapat kehidupan cinta yang langgeng.

Watak tembang gambuh adalah tentang keramahtamahan dan persahabatan. Tembang gambuh biasa digunakan dalam menyampaikan cerita – cerita kehidupan.

Contoh Tembang Gambuh (7u – 10u – 12i – 8u – 8o)

Lan sembah sungkem ipun (7 u)

Mring Hyang Sukma elinga sireku (10 u)

Apan titah sadaya amung sadermi (12 i)

Tan welangsira andhaku (8 u)

Kabeh kagungan Hyang Manon (8 o)

7# Tembang Dhandanggula

Kata Dhandanggula berasal dari kata ‘dandhang’ dan ‘gula’ yang berarti tempat sesuatu yang manis. Filosofi tembang Dhandanggula mengisahkan tentang kehidupan pasangan baru yang tengah berbahagia karena telah mendapatkan apa – apa yang dicita – citakan. Kehidupan manis menjadi kenikmatan atau berkah yang dinikmati bersama keluarga sehingga terasa membahagiakan.

Watak tembang dhadanggula atau karakternya dapat bersifat universal atau luwes dan merasuk hati. Tembang dhandanggula biasa digunakan untuk menuturkan kisah tentang berbagai hal dan dalam kondisi apa pun.

Contoh tembang dhandanggula (10i – 10a – 8e – 7u – 9i – 7a – 6u – 8a – 12i – 7a)

Sinengkuyung sagunging prawali (10 i)

Janma tuhu sekti mandra guna (10 a)

Wali sanga nggih arane (8 e)

Dhihin Syeh Magrib tuhu (7 u)

Sunan ngampel kang kaping kalih (9 i)

Tri sunan bonang ika (7 a)

Sunan giri catur (6 u)

Syarifudin sunan drajat (8 a)

Anglenggahi urutan gangsal sayekti (12 i)

Iku ta warnanira (7 a)

8# Tembang Durma

Kata “Durma” artinya adalah pemberian. Tembang durma mengandung filosofi yang mengisahkan tentang kehidupan yang suatu ketika dapat mengalami duka, selisih dan kekurangan akan suatu hal.

Filosofi tembang macapat Durma mengajarkan agar dalam kehidupan, manusia dapat saling memberi dan saling melengkapi satu sama lain. Dengan begitu, kehidupan yang dijalankan dapat lebih seimbang. Kita perlu untuk menjaga nilai saling menolong kepada siapa saja dengan ikhlas.

Watak tembang durma atau karakternya secara umum adalah tegas, keras dan penuh dengan amarah yang menggebu – gebu.

Contoh Tembang Durma (12a – 7i – 6a – 7a – 8i – 5a – 7i)

Ayo kanca gugur gunung bebarengan (12 a)

Aja ana kang mangkir (7 i)

Amrih kasembadan (6 a)

Tujuan pembangunan (7 a)

Pager apik dalan resik (8 i)

Latar gumelar (5 a)

Wisma asri kaeksi (7 i)

9# Tembang Pangkur

Tembang “Pangkur” berasal dari kata ‘mungkur’ yang artinya pergi atau meninggalkan. Filosofi tembang pangkur merupakan sautu penggambaran kehidupan yang seharusnya dapat menghindari berbagai hawa nafsu dan angkara murka yang sifatnya buruk.

Artinya, ketika kita mendapati suatu hal yang buruk, hendaknya kita mungkur atau pergi menghindar dan meninggalkan yang buruk itu. Pangkur juga menjadi penggambaran seseorang yang sudah mulai bersiap meninggalkan segala hal bersifat keduniawian sehingga dapat lebih mendekatkan diri pada Tuhan.

Watak tembang pangkur atau karakternya adalah sifat yang gagah, kuat, perkasa dan hati yang besar. Tembang pangkur biasa digunakan untuk mengungkapkan kisah kepahlawanan, perjuangan juga peperangan.

Contoh tembang pangkur (8a – 11i – 8u – 7a – 8i – 5a – 7i)

Sekar pangkur kang winarna (8 a)

Lelabuhan kang kanggo wongaurip (11 i)

Ala lan becik puniku (8 u)

Prayoga kawruh ana (7 a)

Adat waton puniku dipun kadulu (8 i)

Miwah ingkang tata karma (5 a)

Den kaesthi siyang ratri (7 i)

10# Tembang Megatruh

Kata Megatruh berasal dari kata ‘megat’ dan ‘roh’, yang berarti putus rohnya atau telah terlepasnya roh. Filosofi tembang Megatruh adalah tentang perjalanan hidup manusia yang telah usai di dunia atau telah berpulang pada sang Pencipta. Pada akhirnya, roh manusia pasti harus putus dari raganya dan pada saat itulah ia harus kembali menghadap Tuhan Yang Maha Pencipta.

Watak Tembang megatruh adalah tentang kesedihan dan kedukaan. Tembang ini biasanya digunakan untuk menggambarkan rasa putus asa dan kehilangan harapan.

Contoh Tembang Megatruh (12u – 8i – 8u – 8i – 8o)

Kabeh iku mung manungsa kang pinujul (12 u)

marga duwe lahir batin (8 i)

jroning urip iku mau (8 u)

isi ati klawan budi (8 i)

iku pirantine ewong (8 o)

11# Tembang Pocung

Kata Pocung dalam tembang macapat ini berasal dari kata ‘pocong’ yang menunjukkan kondisi seseorang yang sudah meninggal, yang mana ia akan dibungkus kain kafan atau dipocong sebelum dikebumikan. Filosofi tembang pocong menunjukkan adanya ritual untuk melepaskan kepergian seseorang, yakni upacara pemakaman.

Watak Tembang Pocung atau karakternya adalah tentang kebebasan dan tindakan sesuka hati. Tembang pocung biasa digunakan untuk menceritakan lelucon dan berbagai nasehat.

Contoh Tembang Pocung (12u – 6a – 8i – 12a)

Bapak pocung dudu tampar dudu dadhung (12 u)

Dawa kaya ula (6 a)

Penclokanmu kayu garing (8 i)

Prapteng griya si pocung ngetokne cahya (12 a)

Referensi :

  1. Daryanto. 1999. Kawruh Basa Jawa Pepak. Surabaya : APOLLO
  2. Imam, Sutardjo. 2008. Kajian Budaya Jawa. Surakarta : FSSR UNS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *