Begini Loh Tipe Keluarga Hebat untuk Anak Hebat! Apakah Anda Sudah Termasuk?

by:

Sedikit mengutip kata-kata dari laman sahabat keluarga, bahwa “Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua”. Berarti, kita memang tidak akan menemukan sebuah gedung dengan plakat “Sekolah Tinggi Keorangtuaan”. Siapa yang rela menempuh sekolah lagi, hanya demi menjadi orang tua? Sementara, cukup hanya dengan memiliki anak, kita sudah menjadi orang tua.

Jangan lupa LIKE FP kami

Jika menjadi orang tua dianggap sesederhana itu, hasilnya tentu bisa bahaya bagi bangsa ini. Apalagi, di era kekinian yang penuh dengan tantangan seperti sekarang ini. Teknologi digital yang semakin membumi membuka ruang yang begitu lebar bagi siapa pun, termasuk anak-anak, untuk mengakses berbagai informasi, baik maupun buruk.

Masyarakat yang dekat dengan keterbukaan pun banyak yang berpikir untuk membiarkan anak-anaknya bebas bereksplorasi. Sayangnya, kebebasan yang diberikan seringkali tanpa diberikan batasan norma dan etika yang jelas dan tegas.

Perlu disadari bahwa keluarga adalah ujung tombak dari suksesnya sebuah bangsa. Dalam hal ini, orangtua adalah sosok yang menciptakan anak-anak, yang kelak akan jadi tokoh-tokoh pemimpin dan penggerak bangsa ini. Jadi, jika kita hanya menjadi orang tua dengan cara serampangan, akan jadi apa bangsa ini kelak?

Seandainya kelak bangsa ini diisi dengan orang-orang yang kita anggap “tidak baik”, itu berarti kegagalan ada di tangan kita, sebagai orang tua. Tapi, tentunya kita tidak ingin hal buruk menimpa bangsa ini, lantaran keteledoran kita sebagai orang tua bukan? Nah, itu sebabnya, kita mesti berusaha menjadi orang tua hebat, untuk anak-anak kita. Ciptakan sebuah keluarga hebat, untuk anak hebat.

Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sendiri sangat memahami pentingnya pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan di era kekinian. Itu sebabnya, Kemdikbud berusaha merancang sebuah “Kurikulum Untuk Orang Tua” yang ditujukan untuk mengarahkan keluarga agar bisa menjalankan fungsinya secara tepat.

Melalui upaya tersebut, Kemdikbud ingin agar keluarga bisa menjadi tempat bernaung yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi para anggotanya. Fungsi keluarga yang dijalankan dengan baik dapat mendorong tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak agar berkualitas, bebas dari penyalahgunaan narkoba, pornografi, kekerasan dan hal negatif lain.

Sayangnya, tidak semua keluarga, terutama orang tua, memiliki panduan ataupun persiapan khusus untuk ini. Di sinilah, pentingnya keterlibatan aktif seluruh masyarakat dalam mendorong terciptanya kondisi kondusif bagi tumbuh kembang anak, sesuai instruksi dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 30 Tahun 2017 Tentang Pelibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan.

Sebagai bentuk dukungan atas upaya pemerintah tersebut, kali ini kita akan membahas tentang bagaimana sih agar kita bisa menciptakan anak-anak hebat lewat keluarga hebat? Tapi sebelumnya, kita harus cari tahu seperti apa saja tipe keluarga yang bisa dibentuk.

Mengenal Tipe Keluarga

Secara umum, kita bisa membagi pola pengasuhan keluarga (orang tua), dalam empat tipe. Pembagian ini merujuk pada jurnal hasil penelitian yang dirancang oleh para ahli loh. Keempat tipe (Howenstein, 2015) yang disebutkan itu adalah :

(1) Authoritative (bijak)

Penuh kehangatan, Penuh kontrol.

Pada tipe ini, keluarga sangat tanggap terhadap kondisi anggotanya, tetapi juga menuntut permintaan yang banyak. Keluarga juga mengimbanginya dengan memberi kehangatan dan keterlibatan, serta menyajikan penalaran dan induksi.

(2) Authoritarian (otoriter)

Penuh kontrol, rendah kehangatan.

Pada tipe ini, keluarga tidak tanggap terhadap kondisi anggota keluarga, tapi memiliki tuntutan permintaan tinggi. Otoritas orang tua jelas, tanpa mempedulikan alasan dan pertanyaan, serta menerapkan hukuman.

(3) Permissive (permisif)

Penuh kehangatan, rendah kontrol.

Pada tipe ini, keluarga sangat tanggap, tetapi minim tuntutan. Keluarga bersifat sangat toleransi dan menerima keputusan anak-anak, tetapi cenderung mengabaikan kenakalan anak.

(4) Neglecting (abai)

Rendah kehangatan, rendah kontrol.

Orang tua tidak tanggap, dan juga tidak banyak menuntut.

Dari keempat tipe keluarga tersebut, menurut Anda, keluarga Anda termasuk yang mana? Pertama, kedua, ketiga atau keempat? Lantas, menurut Anda, mana tipe keluarga yang terbaik?

Kembali merujuk pada penelitian hasil Howenstein dan kawan-kawan, dikatakan bahwa pola asuh orang tua atau keluarga ini berpengaruh terhadap tingkah laku anak dan kepribadiannya. Pembentukan kepribadian seorang anak memang dipengaruhi oleh banyak faktor, tapi yag paling berpengaruh di antaranya adalah lingkungan keluarga.

Selain itu, ditemukan bahwa tipe keluarga yang mampu membentuk karakter positif paling banyak pada anak adalah tipe authoritative. Anak-anak yang dibesarkan dalam tipe ini ditemukan lebih bahagia, memiliki kontrol emosi yang lebih baik, lebih teratur, memiliki kemampuan sosial yang baik, serta sederetan tingkah laku positif lainnya loh. Hebat bukan?

Jika diurutkan berdasarkan dampaknya dalam membentuk perilaku positif anak, tipe berikutnya adalah tipe authoritarian, permissive, dan yang paling buruk adalah neglecting. Ini artinya, jika kita ingin menghasilkan anak dengan penuh kepribadian positif, jadilah orang tua yang mampu menciptakan nuansa penuh kehangatan di dalam keluarga, tapi juga berikan kontrol yang sesuai.

Membangun keluarga yang penuh kontrol tanpa kehangatan, hasilnya tidak cukup baik karena membuat anak tertekan. Begitu pula dengan tipe yang memberikan begitu banyak kehangatan, tapi juga memberikan kebebasan yang luas bagi anak. Hasilnya, anak akan cenderung tidak bertanggung jawab dan mengamini kenakalan yang dilakukan sebagai hal yang wajar.

Membangun Keluarga yang Ideal

Suatu keluarga bisa dikatakan sukses bila seluruh anggotanya merasa bahagia dan dipenuhi hal-hal positif. Tipe keluarga yang ideal untuk menghasilkan anak-anak yang hebat adalah keluarga yang dibangun dengan nuansa authoritative atau penuh dengan wibawa dan keijaksanaan.

Lantas, bagaimana ya cara mewujudkan keluarga yang ideal sebagai tempat yang kondusif bagi anak-anak untuk bertumbuh kembang secara optimal? Mari kita uraikan bersama.

# Menghadirkan kehangatan

Setiap anak pasti menginginkan bisa mendapat kehangatan dari seluruh anggota keluarganya. Memberikan kehangatan berarti kita bisa mencurahkan kasih dan sayang dalam bentuk sikap yang nyata. Curahkan kasih sayang dalam setiap tindakan dan kata-kata. Jangan ragu berikan pelukan dan senyuman. Jika perlu, manjakan juga anak agar dia merasa nyaman dan senang.

# Memberikan batasan atau kontrol

Mencurahkan kasih, sayang dan juga memanjakan tak berarti kita harus menuruti setiap keinginan anak ya. Keluarga yang ideal untuk membentuk karakter positif bagi anak-anak adalah keluarga yang menerapkan aturan di dalamnya. Berikan batasan-batasan pada anak secara jelas dan tegas.

Beritahu anak-anak kita mengenai hal apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Ingat! Menyayangi bukan berarti memberikan kebebasan. Tapi, jangan pula mengikat anak terlalu erat ya. Anda pun harus membatasi diri agar tidak kebablasan dalam memberikan kontrol terhadap anak-anak.

Tunjukkan, sejauh mana mereka boleh bertindak. Kontrol ini ditujukan agar anak-anak bisa memahami batasan sikap dan perkataan, serta mengerti hal yang baik dan buruk, yang benar dan salah.

# Tanggap

Setiap anggota keluarga sudah selayaknya tanggap terhadap kondisi anggota lainnya. Orangtua terhadap anak, kakak terhadap adik, dan sebaliknya. Setiap orang yang saling mengerti kebutuhan satu sama lain dalam keluarga, akan membuat keluarga jadi lebih harmonis. Pada akhirnya, hal ini akan menumbuhkan karakter positif dalam diri anak, seperti rasa empati, simpati, dan peduli.

# Memberikan target

Ciptakan target atau tuntutan untuk anak-anak Anda, juga untuk Anda sendiri. Dalam lingkungan keluarga yang setiap anggotanya memiliki target jelas, maka anak-anak akan belajar untuk lebih terorganisir. Tuntutan positif yang diberikan juga akan membuat anak-anak belajar untuk kreatif, inovatif dan pantang menyerah.

# Terlibat

Jangan biarkan satu anggota keluarga Anda menghadapi masalah sendirian. Saling terlibatlah ketika ada yang menghadapi masalah, cobaan, tantangan, ataupun kegiatan lain. Hal ini mengajarkan anak untuk peduli terhadap masalah orang lain, dan menunjukkan bahwa kita peduli terhadap mereka. Jadi, jangan sekedar memberi tuntutan ya.

# Mengarahkan

Sebagai orangtua, kita seharusnya memiliki pengalaman, pengamatan dan pemikiran yang lebih matang serta bijak. Karenanya, sudah jadi tugas kita untuk menjadi panutan dan penuntun dalam keluarga. Bimbing keluarga kita ke arah yang positif. Bantu anak-anak kita untuk menentukan hobi yang baik, sekolah yang tepat, teman yang nyaman dan kegiatan yang menyenangkan.

# Komunikasi

Untuk bisa membangun keluarga yang hangat dan saling pengertian, tentunya kita butuh komunikasi bukan? Jangan ragu untuk mengkomunikasikan setiap masalah, tantangan, harapan atau pun saran demi tujuan positif.

Akan lebih baik bila dalam keluarga, ada jadwal rutin untuk komunikasi secara intens. Misal setiap malam minggu, atau setiap senin petang. Saling mencurahkan hati, masalah, kritik serta keinginan terhadap pihak lain bisa sangat membantu membina kedekatan dan kehangatan.

# Menjelaskan Alasan

Jika jaman dulu, banyak orangtua yang memerintah ataupun melarang tanpa alasan yang jelas. Paling hanya bilang “pamali”, maka itu sudah cukup jadi alasan. Tapi jaman sekarang, memaksakan kehendak tanpa alasan jelas bukanlah hal bijak. Kita mesti menyampaikan alasan yang jelas, logis dan dapat diterima. Jadi, anak-anak akan bisa menerima tuntutan yang kita berikan dengan lebih bijak karena mereka memahami alasan di balik tuntutan itu.

Jelaskan kenapa anak-anak tidak boleh berlama-lama bermain gawai. Beritahu alasan kenapa mereka tidak boleh bermain di tempat berbahaya, juga kenapa mereka tidak boleh sembarangan memilih kawan. Tunjukkan apa bahayanya jika mereka makan sembarangan. Segala alasan logis, berdasarkan fakta, nalar dan landasan hati, bisa membangun pola pemikiran mereka ke arah yang lebih baik serta bijak.

#sahabatkeluarga

Referensi:

  1. Dewi, Bunga Kusuma. 2018. Kurikulum Untuk Orang Tua, dalam sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id, diakses pada 29 Maret 2018.
  2. Howenstein, Jeff dkk. 2015. Correlating Parenting Styles with Child Behavior and Caries. Pediatr Dent. 2015 Jan-Feb; 37(1): 59–64, dipublikasikan dalam www.ncbi.nlm.nih.gov
Bagikan Jika Bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *