Teori Ekonomi Politik Radikal: Strukturalisme Dependensia

Kajian Strukturalisme dependensia muncul dipermukaan pada era tahun 60-an di Amerika Latin. Pencetusnya adalah maraknya kemiskinan terjadi di Amerika Latin. Padahal, pada masa tersebut, berbagai negara di dunia, termasuk Amerika Latin mengimplementasikan paham liberalisme.

Faktanya, liberalisme tidak mampu berdampak sama pada negara-negara yang mengimplementasikannya. Beberapa negara menjadi kaya dan makmur, sementara beberapa negara lain tidak. Negara berkembang, seperti yang ada di Amerika Latin banyak menunjukkan kegagalan.

Latar Belakang Kemunculan Strukturalisme Dependensia

Fenomena kemiskinan yang melanda Amerika Latin mendapat perhatian khusus dari PBB. Muncul inisiatif untuk mengetahui akar dari permasalahan kemiskinan tersebut. Lalu, dibentuklah komisi PBB untuk Amerika Latin, atau ECLA-The Economic Commission for Latin America (sekarang ECLAC).

Di bawah pimpinan Raul Prebisch, ECLA bertugas untuk meneliti apa yang melatarbelakangi kemiskinan dan permasalahan ekonomi yang terjadi di negara-negara Amerika Latin. Setelah serangkaian penelitian, ditemukan fakta bahwa terjadi eksploitasi pihak asing yang dilakukan terhadap negara-negara Amerika Latin.

Eksploitasi ini terjadi akibat adanya hubungan ekonomi yang tidak seimbang atau tidak adil. Ekonomi pasar bebas yang merupakan konsep liberalisme, ternyata memberikan dampak kemiskinan dan keterbelakangan kepada negara-negara berkembang atau miskin. Negara-negara ini mengalami ketergantungan terhadap negara maju.

Hasil penelitian ECLA ini lalu memunculkan paradgima baru. Di tahun 1980, paradigma baru ini berkembang dan dikenal sebagai “Ekonomi Politik Radikal”. Di dalamnya, terdapat pendekatan ekonomi politik strukturalisme ketergantungan (dependencia).

Konsep Ekonomi Politik Radikal

Kemunculan strukturalisme dependensia ini merupakan akibat dari era liberalisasi ekonomi yang pesat. Di satu sisi, negara-negara maju mengalami perkembangan ekonomi yang pesat. Namun, di sisi lain, ada pihak yang justru terhambat ekonominya. Imbasnya, muncul saling ketergantungan antar negara. Hal ini berlanjut pada bertambahnya jumlah kemiskinan massal.

Dalam aliran Stukturalisme Dependensia diyakini bahwa faktor utama penyebab kemiskinan dan keterbelakangan negara-negara di Kawasan Amerika Latin adalah adanya eksploitasi pihak asing. Ekspolitasi ini adalah akibat dari hubungan ekonomi yang bersifat tidak adil.

Strukturalis sendiri merupakan paham yang menolak bahwa ketimpangan struktural adalah sumber dari ketidakadilan sosia lekonomi, seperti yang diyakini Neoklasik. Neoklasik mengagungkan prinsip kepentingan pribadi, mekanisme pasar bebas, persaingan ketat, dan pengutamaan pertumbuhan dibanding pemerataan.

Pandangan Strukturalis terhadap Pasar Bebas

Sementara kaum strukturalis, menolak mekanisme pasar bebas. Kaum strukturalis menilai mekanisme pasar bebas secara inhern justru cenderung menimbulkan ketidakadilan sosial-ekonomi. Bagi strukturalis, pasar bebas terbukti tidak omniscent dan omnipotent, tidak self-regulating dan self-correcting.

Pasar bebas dianggap tidak mampu mengatasi ketimpangan struktural, dan justru mendorong polarisasi sosial ekonomi. Artinya, ketimpangan sosial justru semakin lebar. Pasar bebas menjadi konsep yang memperegang integrasi sosial dan persatuan nasional. Pasar bebas memelihara sistem ekonomi subordinasi yang eksploitatif, nonpartisipatif, dan nonemansipatif terhadap pihak lemah.

Strukturalis tidak hanya menolak pasar bebas, melainkan juga menolak konsep invisible hand yang dipopulerkan Adam Smith. Kaum strukturalis meyakini bahwa prinsip kepentingan pribadi ditambah perilaku manusia sebagai homo economicus justru mendorong tindakan homo homeni lupus. Asumsi Neo-Klasik terhadap ″Invisible Hand″-nya Adam Smith dianggap justru mengarah pada ″imperfect hand″, bahkan ″the dirty hand″.

Strukturalisme di Amerika Latin

Setelah kemunculan pemikiran kaum strukturalis, tafsiran historis tentang masalah dan rintangan negara berkembang pun banyak terpengaruh. Beberapa asumsi kaum strukturalis terhadap perekonomian negara berkembang, pertama, struktur perdagangan luar negeri di negara Amerika Latin tidak banyak berkembang karena mereka lebih berperan sebagai pengekspor komoditas primer dalam bentuk bahan mentah ke Negara industri.

Kedua, stagnansi yang dialami sektor pertanian disebabkan oleh struktur pemilikan, penguasaan tanah dan perilaku nonekonomis dari oligarki tuan tanah yang memiliki tanah. Mereka memilih tanah lebih karena gengsi sosial, upaya melindungi diri dari bahaya inflasi, serta mengusahakan pertanian lahan luas (latifundo) dengan teknologi regresif.

Ketiga, ketimpangan distribusi pendapatan dan konsentrasi kekayaan serta kekuasaan politik segolongan elit menjadi penghambat mobilitas sosial. Inilah yang mendorong pola konsumsi berlebihan hanya di pihak tertentu.

Bisa disimpulkan bahwa kaum strukturalis menganggap bahwa ekonomi pasar bebas dunia berimbas negatif pada sosial ekonomi masyarakat dunia, seperti:

  • lebih banyak menimbulkan keterbelakangan dan kemiskinan dari pada kemakmuran,
  • meningkatkan angka pengangguran daripada penciptaan lapangan pekerjaan,
  • menimbulkan ketimpangan daripada pemerataan.

Pemikiran kaum strukturalis berupaya mengoreksi dan menolak asumis-asumsi dasar dari ekonomi pasar serta menunjukkan berbagai kelemahan ajaran ekononi Neoklasik yang dianggap bersifat parsial. Beberapa kelemahan neoklasik berdasarkan persepsi Strukturalisme, yakni:

  • Kegagalan pasar dan ketidaksempurnaan pasar dalam menghubungkan micromacro rift. Inilah yang membuat ekonomi Neoklasik yang menitikberatkan pada mekanisme persaingan pasar bebas gagal mengatasi adanya ketimpangan struktural.
  • Keterbelakangan negara-negara berkembang, termasuk negara-negara Amerika Latin. Penyebabnya adalah mereka secara tidak sengaja terkoneksi dengan sistem ekonomi dunia yang kapitalis dan liberal, sementara kondisi ini menempatkan mereka menjadi negara pinggiran dari negara kapitalis.

Negara Pusat dan Negara Pinggiran dalam Ekonomi Politik Radikal

Bagi kaum strukturalisme, liberalisme menyebabkan terbentuknya dua jenis negara yaitu negara pusat dan negara pinggiran. Inilah yang terjadi pada negara-negara maju dan negara berkembang. Kelompok negara maju sebagai negara pusat akan menikmati kemakmuran, sementara kelompok negara pinggiran yakni negara berkembang akan mengalami keterbelakangan dan ketergantungan.

Kondisi ini bisa terjadi akibat industrialisasi yang tidak merata. Negara-negara pusat menghasilkan barang-barang industri, sementara negara-negara pinggiran menghasilkan produk hasil pertanian.

Lalu, keduanya melakukan transaksi perdagangan, yang seharusnya dapat mencapai keuntungan. Tapi, prakteknya keuntungan tidak terjadi secara seimbang atau tidak adil. Negara-negara pinggiran mengekspor barang hasil pertanian ke negara pusat. Dengan ekspor ini, rakyat dari negara pinggiran mengalami peningkatan pendapatan.

Namun, peningkatan pendapatan ini ternyata diiringi dengan peningkatan kebutuhan akan berbagai barang mewah yang merupakan hasil produksi negara industri. Dengan demikian, terjadi impor barang mewah dari negara industri ke negara pinggiran. Ini berarti bahwa terjadi pula peningkatan pendapatan di negara industri karena adanya permintaan dari negara pinggiran tersebut.

Hanya saja, nilai tukar barang mewah dan hasil pertanian tidaklah berimbang. Ini berimbas pada neraca perdagangan yang juga tidak seimbang dan menimbulkan defisit di negara pinggiran. Di saat bersamaan, negara industri pun melakukan proteksi terhadap hasil pertanian yang dihasilkan di dalam negeri mereka. Ini berakibat pada terbatasnya ekspor yang bisa dilakukan oleh negara pinggiran ke negara pusat.

Ditambah dengan teknologi yang terus dikembangkan oleh negara pusat, semakin banyak pula ditemukan sintesis bahan mentah industri sehingga mengurangi kebutuhan impor barang mentah dari negara pinggiran. Pada akhirnya, gerak ekonomi di negara pinggiran pun semakin sulit berkembang.

Pada kondisi inilah, muncul ketergantungan dari negara pinggiran. Negara pinggiran dijadikan sebagai daerah koloni kaum kapitalis, yang bertindak sebagai penyedia raw material untuk memenuhi kebutuhan industrinya. Pada akhirnya, negara pinggiran ini hanya menjadi penyedia raw material berharga rendah, sekaligus konsumen bagi hasil industri negara kapitalis.

Kondisi inilah yang memunculkan adanya struktur ketergantungan sehingga menghambat pembangunan di negara-negara pinggiran. Konsep ini memunculkan adanya istilah “negara center” atau negara pusat dan “negara periferi” atau negara pinggiran. Jika digambarkan, skema eksploitasi tersebut seperti gambar berikut:

Center adalah negara dengan pengaruh ekonomi politik, sementara periferi adalah negara yang mengalami ketergantungan terhadap negara center. Proses ini adalah bentuk ketergantungan yang terus melahirkan struktur produksi yang pincang di negara berkembang. Sektor industri maju terus menikmati surplus dari sektor yang terbelakang. Proses produksi dan reproduksi pada akhirnya justru menjadi skema ketergantungan atau dependecia.

Pendekatan Dependencia

Pendekatan dependencia atau ketergantungan merupakan pengembangan dari kaum strukturalisme, yang lebih menekankan pada persoalan keterbelakangan yang terjadi negara-negara di Dunia Ketiga dalam perspektif ekonomi politik global secara struktural, terutama pada negara-negara bekas jajahan.

Pendekatan dependensia juga menolak adanya teori modernisasi yang “menuduh” bahwa keterpurukan pembangunan yang terjadi di Dunia Ketiga lebih disebabkan faktor internal negara-negara Dunia Ketiga yang buruk. Kaum dependensia meyakini bahwa faktor eksternal-lah yang menghambat perkembangan negara-negara berkembang dan terbelakang.

Namun, teori dependensi juga mendapat kritikan karena dianggap gagal mempertimbangkan kesuksesan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di sejumlah negara Dunia Ketiga. Sebagai contoh, muncul New Industrializing Countries (NICs) seperti Taiwan, Korea Selatan, Singapura, dan Hongkong yang berhasil melepaskan diri dari ketergantungan, dengan memanfaatkan kekuatan dari faktor internalnya.

Meski demikian, teori dependencia tetap dianggap memiliki peran penting, mengingat keberadaannya mampu menggambarkan kondisi di banyak negara dan mampu menyumbang pemikiran dalam teori-teori pembangunan.

Inti Pemikiran Strukturalisme Dependensia

Strukturalisme dependensia ini pada intinya menganggap bahwa adanya ketimpangan dari negara berkembang dan negara maju adalah akibat industrialisasi yang tidak merata, sehingga menimbulkan ketergantungan negara berkembang (negara periferi) terhadap negara maju (negara pusat).

Apabila negara terbelakang yang ingin mencapai kemajuan, ia harus mampu melakukan industrialisasi. Langkah industrialisasi bisa diawali melalui pengembangan industri barang substitusi impor. Pemerintah harus mengambil peran dalam pengembangan ini dengan memberikan subsidi kepada industri yang sedang berkembang tersebut sehingga dapat meningkatkan daya saingnya.

Referensi:

1. Cristobal Kay. 2018. Catatan Mengenai Teori Dependensi dan Strukturalis dalam Perspektif Amerika Latin. Diakses dari https://berpijar.co/blog/2018/08/04/catatan-mengenai-teori-dependensi-dan-strukturalis-dalam-perspektif-amerika-latin-bagian-1-2/
2. Ismah Tita Ruslin. 2912. Relasi Ekonomi-Politik dalam Perspektif Dependencia. Jurnal Sulesana Volume 7 Nomor 2 Tahun 2012.
3. Maimun Sholeh. Tt. Akar Kemiskinan dan Ketergantungan di Negara-negara berkembang Dalam Prespektif Strukturalis dependensia. http://staffnew.uny.ac.id/upload/132316484/penelitian/Akar+Kemiskinan++dan+Ketergantungan+di+Negara-negara+berkembang+Dalam+Prespektif+Strukturalis+dependensia.pdf
4. Mohammad Maiwan. Tt. Teori-Teori Ekonomi Politik Internasional Dalam Perbincangan: Aliran Dan Pandangan. Modul Dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Ilmu Sosial Politik, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta
Taryono. Tt. Modul Pengantar Teori Ekonomi Pembangunan. Diakses dari http://repository.ut.ac.id/4234/1/MMPI5204-M1.pdf