Teori Komunikasi Massa

Banyak Teori komunikasi massa. Artikel ini akan mengulas teori-teori yang lebih mengarah kepada efek media massa. Yang pertama akan dibahas adalah Teori peluru atau jarum hipodermik (hypodermic needle theory),  ditampilkan pada 1950-an yang dikemukakan oleh Wilbur Schramm.

Teori ini mengasumsikan keperkasaan media massa yang dapat melontarkan peluru kepada khalayak (yang dianggap pasif). Namun teori ini dicabut pad atahun 1970-an, teori ini dianggap tidak pernah ada.

Banyak ilmuan yang tidak mendukung teori peluru pada tahun 1960 dan muncul teori limited effect model (model efek terbatas). Teori tersebut dilahirkan oleh Hovland. Kesimpulannya ia berpendapat bahwa tidak semua khalayak dapat tertembus peluru dari media massa. Khalayak tidak benar2 pasif dan dapat menagkis peluru komunikasi.

Teori lainnya adalah the multi stef flow (banyak tahap), teori ini percaya bahwa sebagian orang menerima efek media dari tangan kedua (opinnion leaders). Tahap pengamatan dilakukan kepada The News Republic,  sebuah majalah politik. Thap kedua, para opinion leaders berbagi opini pada lingkaran sosial mereka. Lingkaran sosial tersebut memiliki kelompok sosial lainnya.

Terbukti bahwa mereka memiliki pengaruh sosial bagi orang-orang yang tidak pernah membaca majalah The News Republic sekalipun. Karena metodenya lebih menitik beratkan kepada komunikasi antarpersona, maka teori ini pun mendapat kritik.

Selanjutnya adalah teori proses selektif (selective processes theory). Teori ini menilai bahwa orang-orang cenderung melakukan selective exposure (terpaan selektif). Mereka menolak pesan yang berbeda dengan kepercayaan mereka. Pada 1960 Joseph Klapper menerbitkan kajian penelitian efek media massa yang tergabung dalam penelitian pascaperang tentang persuasi, pengaruh persona dan proses selektif. Kalapper menyimpulkan bahwa pengaruh media itu lemah, presentase pengaruhnya kecil.

Lain halnya dengan teori pembelajaran sosial, berdasarkan hasil penelitian Albert Bandura, teori ini menjelaskan bagaimana khalayak meniru apa yang dilihatnya dari media massa (terutama Televisi). Suatu proses pembelajaran atau observasi dari khalayak. Contoh: akibatnya akan muncul sikap toleran bagi perilaku perampokan dan kriminalitas, mengandrungi kehidupan glamor seperti di Televisi.

Teori yang akhir-akhir ini dilakukan sebagai komunikasi pembangunan, adalah teori difusi inovasi. Everett M. Rogers mendefinisikan difusi sebagai proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu dalam jangka waktu tertentu di antara para anggota suatu sistem sosial.

Difusi adalah suatu jenis khusus komunikasi yang terkait penyebaran pesan atau ide-ide baru. Derajar ketidakpastian seseorang dapat dikurangi dengan jalan memperoleh informasi. Unsurnya dalah inovasi yang dikomunikasikan melalui saluran tertentu, dalam jangka waktu tertentu. Umumnya aplikasi komunikasi massa yang utama berkaitan dengan proses adaptasi inovasi.

Everett M. Rogers dan Floyd G. Shoemaker mengemukakan bahwa teori difusi inovasi dalam prosesnya ada 4: pengetahuan, persuasi, keputusan dan konfirmasi.

Teori yang terakhir adalah teori kultuvasi, menurut teori ini  media khususnya televisi merupakan sarana utama kita untuk belajar tentang masyarakat dan kultur kita. Melalui televisi kita belajar tentang dunia.

Jadi para pecandu televisi memiliki citra realitas yang tidak konsisten dengan kenyataan. Contoh: pecandu televisi beranggapan bahwa kemungkinan seseorang menjadi korban kejahatan adalah 1 berbanding 10 padahal, kenyataannya 1 berbanding 50. Pecandu juga beranggapan 20% masyarakat dunia bertempat tinggal di Amerika, padahal hanya 6%. Namun, tidak semua pecandu televisi terpengaruh oleh dunia televisi yang dibawa ke dunia sebenarnya.

Referensi:

  1. Rakhmat, Jalaluddin. 1996. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  2. Mulyana, Deddy. 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  3. Ardianto, Elvinaro, Lukiati Komala dan Siti Karlinah, Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Simbiosa Rekatam Media, Bandung, 2007.

Bacaan lain: