Sistem Peredaran Darah pada Manusia (Penjelasan Lengkap)

Sahabat portal ilmu, sebelumnya kita telah dijelaskan banyak hal tentang sistem gerak pada tubuh manusia. Mulai dari tulang sampai otot. Bahkan, tak lupa kita juga belajar tentang kelainan pada tulang dan otot.

Untuk lebih menambah wawasan kita tentang mata pelajaran Biologi, kali ini kita akan belajar tentang sistem peredaran darah pada manusia. Apa yang kalian ketahui tentang sistem peredaran darah pada manusia?

Artikel ini akan mengupas tuntas tentang sistem peredaran darah manusia. Jadi, simak baik- baik penjelasan di bawah ini.

Dalam sistem peredaran darah manusia akan dibahas tentang komponen darah, jantung, pembuluh darah, peredaran getah bening dan golongan darah.

Komponen dan Fungsi dari Darah

Seperti yang telah diketahui bahwa darahberwarna merah. Mengapa bisa demikian? Hal tersebut disebabkan warna merah dari sel darah merah atau eritrosit yang mengandung pigmen merah pembawa zat besi atau Fe, yang dikenal dengan Hemoglobin.

Hemoglobin ini mudah mengikat oksigen. Kemudian, mengankutnya ke seluruh tubuh. Warna merah dalam darah dapat berubah- ubah sesuai dengan kandungan dari oksigennya. Darah manusia bukan hanya terdiri dari sel darah merah saja.

Darah manusia juga mengandung keping – keping darah atau trombosit dan sel darah putih atau leukosit. Di mana jenisnya dapat dibedakan menjadi lima macam, yaitu limfosit, monosit, basofil, netrofil, dan eosinofil.

Guna membuktikan komponen penyusun darah dapat dilakukan dengan cara memusingkan darah yang ditempatkan pada tabung reaksi di dalam sentrifuse sehingga diperoleh dua cairan yang terpisah.

Bagian atas yang berning kurang lebih 55% merupakan plasma. Plasma darah ini tersusun atas air, protein, mineral, dan bahan organik. Endapan padat pada bagian bawah tabung yang berwarna merah kira- kira sebanyak 45% berisi campuran sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

Dengan menggunakan teknik memusingkan darah tersebut diperoleh pula perbandingan antara penyusun darah yang padat dengan yang cair. Hal tersebut dikenal dengan istilah Hematokrit. Nilai hematrokit menggambarkan tentang volume total dari eritrosit.

Nilai hematrokit ini pada manusia dapat bervariasi. Nilai hematrokit yang normal sebanyak 40-50%, sedangkan pada pria dewasa nilainya 35-45%, wanita dewasa 30-35%. Selanjutnya akan dijelaskan tentang eritrosit atau sel darah merah, leukosit atau sel darah putih, trombosit atau keping – keping darah, dan plasma darah.

Eritrosit atau sel darah merah

Erotrosit merupakan suatu bagian yang utama dari darah. Eritrosit ini dibentuk oleh sumsum merah tulang. Pembentukan eritrosit dinamakan dengan eritropolesis.

Pembentukannya diatur oleh hormin glikoprotein yang dinamakan dengan eitroprotein. Setiap 1mm3 darah pada pria mengandung 5 juta sel dan darah wanita sebanyak 4 juta sel.

Bentuk eritrosit yaitu cakram bikonkraf, tidak memiliki inti, dengan diameter 8 mikron, volume rata- rata 83 mikrokubik, tidak dapat bebas bergerak, dan tidak mampu menembus dinding kapiler. Lebih lanjut, umur dari eritrosit ini kira – kira 120 hari.

Sel pertama yang diketahui sebagai rangkaian sel – sel darah merah dinamakan dengan proeritroblas. Dengan rangsangan yang sesuai maka sel – sel induk atau stem cell ini dapat membentuk proetrosit dalam jumlah yang banyak.

Sekali proeritroblas ini terbentuk, maka preoriroblas akan membelah beberapa kali sampai akhirnya terbentuk menjadi delapan sampai enam belas eritrosit dewasa. Sel  sel baru dari generasi pertama ini dinamakan dengan basofil eritroblas.

Hal tersebut disebabkan dalam dicat dengan zat basa. Sel – sel ini mengandung sedikit hemoglobin, namun pada generasi selanjutnya yang dinamakan dengan polikromatofil eritoblas akan mulai terbentuk cukup hemoglobin.

Sesudah terjadi pembelahan lainnya, maka akan terbentuk hemoglobin yang lebih banyak lagi dan sel – sel ini dinamakan dengan ortokromatik eritoblas. Di mana warananya menjadi merah karena dipengaruhi oleh hemoglobin yang mencapai konsentrasi lebih kurang 34%.

Sehingga, nukleas akan memadat sampai pada ukurannya menjadi kecil dan terdorong dari sel. Eritrosit di dalamnya mengandung hemoglobin yang terdiri dari protein rangkap hemin dan globulin. Protein hemin ini dapat mengikat atom besi sehingga memiliki kemampuan untuk mengikat oksigen.

Hemoglobin memiliki fungsi yang dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama, hemoglobin dapat mengangkut oksigen dan karbondioksida. Kedua, hemoglobin menjaga keseimbangan asam basa atau penyangga sama dengan buffer dalam darah.

Demikian pemaparan tentang sel darah merah. Selanjutnya akan dijelaskan tentang sel darah putih atau leukosit.

Leukosit atau sel darah putih

Leukosit memiliki fungsi sebagai alat pertahanan tubuh. Leukosit ini dibentuk di retikuloendotelium sumsum merah tulang. Di mana setiap 1 mm3darah mengandung 6000-9000 sel. Leukosit memiliki bentuk yang bervariasi.

Leukosit memiliki ini, ukuran leukosit 6-12 milimikron. Umurnya yaitu 12 hari. Leukosit dapat bergerak bebas secara amoebid serta dapat menembus dinding kapiler atau diapendensis. Adapun macam – macam bentuk leukosit dapat dijelaskan sebagai berikut.

Monosit. Monosit memiliki jumlah 5,3% dengan satu inti yang besar. Sifatnya fagosit, dengan ukuran 9-12.

Trombosit atau keping- keping darah

Trombosit berperan dalam proses pembekuan darah pada saat terjadi luka. Jumlah trombosit ini sekitar 300.000 per mm3 darah. Trombosit dibentuk di sumsum tulang dan dapat hidup selama 8 hari.

Bentuk dari trombosit yaitu bulat atau lonjong dan tidak memiliki inti. Trombosit mudah pecah jika keluar dari pembuluh darah atau bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan yang kasar.

Jika terjadi luka, darah akan keluar dari pembuluh darah. Hal tersebut menyebabkan trombosit menjadi pecah. Trombosit yang pecah akan menghasilkan enzim trombokinase atau tromboplastin.

Trombokinase ini berfungsi untuk mengubah protrombin dalam plasma darah menjadi trombin dengan bantuan ion Ca2+ dan vitamin K.

Trombin akan mengubah fibrinogen dalam plasma menjadi benang- benang fibrin. Benang – benang fibrin merupakan benang – benang halus yang dapat menghentikan perdarahan dan menutup luka.

Berikut ini merupakan tabel perbedaan antara eritrosit, leukosit, dan trombosit.

Eritrosit

PembedaEritrosit
Ukuran7,5 m
JumlahKurang lebih 5.000.000/mm3
BentukCakram bikonkraf
StukturMemiliki hemoglobin dan tidak memiliki nukleus
Tempat produksiSumsum merah tulang pipa dan tulang pipih
FungsiMembawa oksigen dari paru- paru ke seluruh tubuh dan karbondioksida dari seluruh jaringan tubuh ke paru – paru

Leukosit

PembedaLeukosit
Ukuran5-9 m
JumlahKurang lebih 7.000/mm3
BentukTidak beraturan
StukturTidak memiliki hemoglobin, namun memiliki nukleus
Tempat produksiSumsum tulang dan kelenjar limfa
FungsiLimfosit menghasilkan antibodi untuk membunuh kuman dan fagosit memakan kuman

Trombosit

PembedaTrombosit
Ukuran2-4 m
JumlahKurang lebih 300.000/mm3
BentukTidak beraturan
StukturTidak memiliki hemoglobin dan tidak memiliki nukleus
Tempat produksiSumsum tulang belakang
FungsiPembekuan darah

Setelah memahami tentang perbedaan antara eritrosit, leukosit, dan trombosit. Selanjutnya akan dijelaskan tentang plasma darah.

Plasma darah

Plasma darah merupakan suatu cairan dari darah yang memiliki komposisi 55%. Plasma darah ini tersusun atas: Pertama, protein sebanyak 8% yang terdiri dari albumin, protrombin, fibrinogen, globulin, dan hormon.

Kedua, air sebanyak 90%. Ketiga, bahan organik sebanyak 0,1% yang terdiri dari glukosa, asam amino, lemak, urea, asam urat, enzim, dan antigen. Keempat, garam mineral sebanyak 0,9% terdiri dari NaCl, NaHCO3, garam kalsium, fosfor, magnesium, dan besi.

Adapun fungsi protein darah merupakan zat yang penting bagi tubuh sebab masing- masing memiliki fungsi khusus, yaitu albumin, protrombin, fibrinogen, glubulin, dan hormon. Masing- masing dapat dijelaskan sebagai berikut.

Hormon merupakan protein pemacu dan pengendali metabolisme tubuh. Fibrinogen sebanyak 0,3% merupakan protein pembeku darah yang dibuat di hati dan setelah diubah oleh trombin akan menjadi benang- benang fibrin sehingga pendarahan menjadi berhenti, sebab sel – sel darah terjebak oleh benang tersebut.

Plasma darah yang kehilangan fibrinogen dinamakan dengan serum. Globulin sebanyak 2,7% ini dibentuk oleh limfosit maupun hati, merupakan suatu protein yang berfungsi sebagai bahan untuk membuat zat kekebalan tubuh atau antibodi berupa gamaglobulin atau limfosit.

Protrombin sebanyak 0,01% dibuat di hati dengan bantuan dari vitamin K. Protrombin ini merupakan suatu protein enzim yang belum aktif, setelah diaktifkan akan menjadi trmobin yang berfungsi untuk enzim pembeku darah.

Albumin sebanyak 4% dibuat di hati, berfungsi untuk menjaga tekanan osmotik darah sehingga sel – sel darah tidak rusak yang disebabkan oleh peristiwa osmosis.

Lebih lanjut, antibodi bekerja melalui dua cara yang berbeda. Tujuannya untuk mempertahankan tubuh terhadap penyakit.

Cara antibodi bekerja yaitu menyerang langsung penyebab penyakit tersebut dan mengaktifkan sistem komplemen yang kemudian akan merusak penyebab penyakit tersebut. Selain itu, antibodi dapat melemahkan penyakit dengan salah satu cara yang dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, lisis, beberapa antibodi yang memiliki sifat antigenik yang sangat kuat kadang – kadang mampu langsung menyerang membran sel agen penyakit sehingga menyebabkan sel tersebut menjadi rusak.

Kedua, netralisasi merupakan antibodi yang memiliki sifat antigenik akan menutupi tempat- tempat yang toksik dari agen penyebab penyakit.

Ketiga, presipitasi, terbentuknya molekul yang besar antara antigen yang larut dengan antibodi sehingga berubah menjadi tidak larut dan akan mengendap.

Keempat, aglutinasi, terbentuknya gumpalan- gumpalan yang terdiri atas struktur besar berupa antigen pada permukaannya, bakteri –bakteri, atau sel – sel darah merah.

Demikian pemaparan tentang komponen – komponen dan fungsi dari darah. Pembahasan selanjutnya akan dijelaskan tentang struktur dan fungsi jantung serta pembuluh darah. Perhatikan penjelasan di bawah ini.

Struktur dan Fungsi Jantung, serta Pembuluh Darah

Jantung

Letak jantung manusia berada pada dalam rongga dada agak ke sebelah kiri. Ukuran jantung manusia kurang lebih sama dengan kepalan masing – masing orang. Jantung manusia memiliki fungsi sebagai alat pemompa darah.

Jantung manusia tersusun atas tiga lapisan, yaitu endokardium, miokardium, dan perikardium. Adapun penjelasan dari masing – masing lapisan tersebut yaitu sebagai berikut.

Endokardium merupakan suatu selaput yang membatasi ruangan jantung. Lapisan endokardium ini banyak mengandung pembuluh darah dan saraf.

Miokardium merupakan otot jantung yang strukturnya lurik namun sifat kerja yang dimiliki yaitu autonom. Perikardium, merupakan suatu selaput pembungkus jantung yang memiliki fungsi untuk proteksi mekanis.

Sistem Peredaran Darah pada Jantung manusia

Ruang jantung terdiri dari empat bagian yaitu atrium dexter, atrium sinister, ventrikel dexter, dan ventrikel sinister. Masing – masing ruang dapat dijelaskan sebagai berikut.

Atrium dexter memiliki fungsi untuk menerima darah dari seluruh tubuh. Atrium sinister memiliki fungsi untuk menerima darah dari paru – paru.

Ventrikel dexter memiliki fungsi untuk memompa darah ke paru – paru. Ventrikel sinister memiliki fungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Lebih lanjut, tekanan sistole dan diastole orang yang sehat berkisar 120 mmHg dan 80 mmHg. Dalam keadaan normal jantung berdenyut 60-90 kali. Jika tekanan di atas normal maka seseorang dapat dikatakan hipertensi, namun jika di bawah normal dinamakan dengan hipotensi.

Pembuluh darah

Manusia memiliki pembuluh darah yang terdiri dari dua macam , yaitu pembuluh darah arteri dan pembuluh darah vena. Urutan pembuluh arteri dari yang paling besar ke yang kecil yaitu aorta, arteri, arteriola, dan vena.

Vena dibagi menjadi vena cava dan vena venula. Selain vena dan arteri ada pembuluh kapiler yang memiliki fungsi untuk menghubungkan antara arteri dan vena. Adapun perbedaan antara pembuluh darah arteri dan pembuluh darah vena dapat dijelaskan sebagai berikut.

Arteri memiliki dinding yang tebal dan elastis. Arah aliran dari arteri yaitu meninggalkan jantung. Tekanannya kuat, jika terpotong maka darah akan memancar.

Arteri banyak mengandung oksigen, kecuali arteri pulmonalis. Letaknya lebih ke dalam. Memiliki satu klep pada pangkal.

Vena memiliki dinding yang tipis dan kurang elastis. Arah aliran vena yaitu menuju ke jantung. Tekanannya lemah, dan jika terpotong akan menetes.

Vena banyak mengandung karbondioksida, kecuali pada vena pulmonalis. Letaknya dekat permukaan tubuh. Vena memiliki klep yang banyak di sepanjang vena.

Demikian pemaparan tentang struktur dan fungsi jantung, serta pembuluh darah. Selanjutnya akan dijelaskan tentang proses peredaran darah.

Proses Peredaran Darah

Peredaran darah manusia secara keseluruhan dapat dibedakan menjadi dua yaitu peredaran darah kecil dan peredaran darah besar.

Sistem peredaran darah kecil merupakan peredaran darah dari jantung ke paru – paru kembali lagi menuju jantung. Secara ringkas sistem peredaran darah kecil dapat dijelaskan sebagai berikut.

Darah dari bilik kanan atau ventrikel dekster keluar melalui arteri pulmonalis menuju ke paru – paru, terjadi pertukaran karbondioksida dengan oksigen. Kemudian, dari paru – paru darah kembali melalui vena pulmonalis menuju ke bilik kiri atau ventrikel sinister.

Sistem peredaran darah besar merupakan peredaran darah dari jantung atau ventrikel kiri beredar ke seluruh tubuh dan kembali lagi ke jantung atau atrium kanan.

Secara ringkas sistem peredaran darah besar dapat dijelaskan sebagai berikut. Darah dari ventrikel kiri masuk ke aorta dan ke arteri selanjutnya ke kapiler di seluruh tubuh. Dari kapiler seluruh tubuh ke venula dilanjutkan ke vena dan vena cava.

Sampai akhirnya, masuk ke jantung lagi pada bagian serambi kanan atau atrium dekster. Peredaran darah manusia dalam sekali beredar ke seluruh tubuh melewati jantung sebanyak dua kali. Pertama, saat dari paru – paru pada peredaran darah kecil.

Kedua, saat dari seluruh tubuh pada peredaran darah besar. Oleh sebab itu, peredaran darah manusia dinamakan dengan peredaran darah ganda.

Selain dikenal sebagai sistem peredaran darah kecil dan besar dikenal pula dengan sistem porta. Sistem porta pada manusia hanya dikenal dengan sistem porta hepatika.

Sistem porta hepatika merupakan sistem peredaran darah di mana darah dari usus sebelum kembali ke jantung masuk terlebih dahulu ke hati melalui vena porta dan kemudia keluar dari hati melalui vena hepatica (Cavendish dalam Susilowarno, 2007).

Setelah memahami tentang sistem peredaran darah, selanjutnya dijelaskan tentang peredaran getah bening sebagai berikut.

Simak juga: Pengertian, Fungsi dan Jenis Enzim

Peredaran Getah Bening

Peredaran getah bening atau limfe merupakan suatu sistem peredaran yang paralel dengan sistem peredaran darah. Pada peredaran getah bening yang diedarkan yaitu cairan limfe.

Cairan limfe ini berisi sel darah putih yang keluar dari sistem peredaran darah melalui pembuluh kapiler darah dan lemak yang diserap oleh pembuluh kill pada usus manusia.

Sistem peredaran getah bening ini memiliki fungsi untuk mematikan kuma penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Selain itu juga berfungsi untuk mengedarkan atau transportasi lemak ke seluruh tubuh.

Sistem peredaran getah bening ini tersusun atas kelenjar limfe, pembuluh limfe, dan cairan limfe. Struktur pembuluh limfe ini mirip dengan vena kecil dengan banyak klep. Akibatnya, nampak seperti rangkaian merjan.

Pembuluh limfe ini terletak di sela- sela otot dengan cabang halus dengan ujung yang terbuka. Hal ini dimakssudkan sebagai tempat masukknya cairan jaringan tubuh sebagai bahan pembentuk cairan limfe.

Pada sepanjang pembuluh limfe terdapat kelenjar- kelenjar limfe yang besar. Kelenjar ini berfungsi untuk menyaring kuman. Beberapa kelenjar limfe yang besar antara lain yaitu kelenjar limfe ketiak, leher, lipatan paha, lipat siku, lutut, tonsil atau amandel, selaput lendir usus, dan folikel bawah lidah.

Selanjutnya, pembuluh limfe ini dibedakan menjadi dua yaitu pembuluh limfe dada kanan dan pembuluh limfe dada kiri. Masing – masing pembuluh memiliki fungsi.

Pembuluh limfe dada kanan memiliki fungsi untuk menampung cairan limfe yang berasal dari kepala, leher, dada, dan tangan sebelah kanan. Pembuluh limfe itu bermuara pada vena di bawah selangka bagian kanan.

Sedangkan, pembuluh limfe bagian dada kiri memiliki fungsi untuk menampung limfe yang berasal dari kepala, leher, dada, dan tangan sebelah kiri serta bagian tubuh sebelah bawah. Pembuluh limfe tersebut bermuara pada vena di bagian bawah selangka kiri.

Peredaran limfe ini dimulai dari jaringan tubuh yang berupa cairan jaringan yang masuk ke pembuluh limfe halus dan berubah menjadi cairan limfe.

Lebih lanjut, beberapa pembuluh limfe lainnya bergabung dengan pembuluh limfe dada kanan yang bermuara pada vena di bawah selangka kanan. Kemudian, pembuluh limfe kiri yang bermuara pada vena di bawah selangka kiri.

Pendorong dari aliran getah bening dalam pembuluh darah getah bening ini berasal dari kontraksi otot rangka.

Setelah diberikan pemaparan tentang peredaran getah bening. Selanjutnya akan dijelaskan tentang penggolangan darah dan transfusi darah pada bagian selanjutnya.

Penggolongan Darah dan Transfusi Darah

Penggolongan darah pada umumnya yang dikenal yaitu penggolongan darah ABO. Penggolongan darah ini ditemukan oleh Karl Landsteiner dari Austria.

Menurut penggolongan darah Landsteiner, darah dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu A, B, AB, dan O. Dasar dari pemberian nama pada jenis darah ini adalah ada tidaknya dan jenis dari aglutinogen yang terkandung oleh darah.

Di dalam darah manusia ditemukan adanya aglutinogen atau antigen yang ada di dalam eritrosit dan aglutinin atau antibodi yang ada pada plasma darah.

Penemuan dari penggolongan darah bermula dari terjadinya aglutinasi atau penggumpalan darah ketika eritrosit seseorang dicampur dengan serum darah dari orang lain. Namun, pada orang orang lain, campuran tersebut tidak menyebabkan penggumpalan darah.

Antigen atau aglutinogen yang dibawa oleh eritrosit orang tertentu dapat bereaksi dengan zat antibodi atau aglutinin yang dibawa oleh serum darah.

Oleh sebab itu, dikenal dengan dua macam antigen yaitu antigen  atau aglutinogen A dan antigen atau aglutinogen B. Sedangkan, zat aglutinin dibedakan menjadi zat aglutinin α dan aglutinin β.

Terdapat orang yang memiliki antigen A atau B saja, namun ada pula yang memiliki antigen A dan B atau tidak memiliki antigen A dan B. Berikut ini merupakan klasifikasi dari penggolongan darah, berdasarkan pada aglutinin dan aglutinogennya.

Pertama, orang yang tidak memiliki antigen, namun memiliki anti α dan β, maka orang tersebut digolongkan O.

Kedua, orang yang memiliki antigen A dan B, namun tidak memiliki anti α dan β, maka mereka memiliki golongan darah AB.

Ketiga, orang yang memiliki antigen B, namun memiliki anti α maka orang tersebut memiliki golongan darah B.

Keempat, orang yang memiliki antigen A tidak memiliki anti α, melainkan anti β dalam serum plasma, maka orang tersebut memiliki golongan darah A .

Adapun golongan darah dan unsur pokok antigen dan antibodi dapat dijelaskan di bawah ini

Glongan DarahAntigen dalam eritrositAntibodi dalam plasma
AAntigen A Antibodi β
BAntigen BAntibodi α
OAntigen tidak adaAntibodi α dan β
AB Antigen A dan B

Lebih lanjut, aglutinogen A memiliki enzim glikosil transferase yang mengandung asetil glukosamin pada rangka glikoproteinnya. Sedangkan, aglutinogen B, mengandung enzim galaktose pada rangka glikoprotein.

Aglutinogen AB memiliki kedua enzim tersebut. Enzim – enzim yanga da dalam aglutinogen itu yang akan mendorong terbentuknya reaksi penggumpalan darah jika bertemu dengan jenis aglutinin dari plasma yang tidak sesuai.

Penerapan dari golongan darah adalah dalam tranfusi darah. Tepatnya, pemberian darah seseorang yang dinamakan dengan donor kepada orang yang membutuhkan yang disebut dengan resipien.

Dalam peristiwa tersebut donor akan memberikan eritrosit yang di dalamnya mengandung antigen, akan memberikan eritrosit yang di dalam nya ada antigen.

Jika antigen ini tidak sesuai dengan antibodi pada plasma resipien, maka akan terjadi aglutinasi. Oleh sebab itu, yang perlu diperhatikan dalam transfusi darah yaitu kecocokan antara aglutinogen atau antigen donor dengan antibodi atau aglutinin dari resipien.

Lebih lanjut, agar tidak terjadi pembekuan darah pada proses pengambilan darah guna keperluan tranfusi dara. Hal tersebut dapat dicegah dengan cara sebagai berikut

Pertama, mencegah bersentuhan dengan bidang yang kasar. Cara tersebut dapat ditempuh dengan menggunakan jarum yang tajam, selang, dan kantong darah yang licin dan halus.

Kedua, disimpan di tempat yang dingin atau dengan suhu di bawah nol derajat celcius sehingga enzim trombokinase tidak aktif dan tidak terbentuk trombin.

Ketiga, memberikan zat antokoagulasi darah seperti heparin dan dukamarol. Keempat, memberikan natrium sitrat atau natrium oksalat yang bertujuan untuk mengikat Ca++ sehingga menghalangi pembentukan trombin sebagai enzim aktif dalam proses pembekuan darah.

Demikian pemaparan tentang penggolongan darah dan transfusi darah. Pembahasan selanjutnya akan dijelaskan tentang sistem kekebalan tubuh.

Sistem kekebalan Tubuh

Tubuh manusia memiliki kemampuan untuk bertahan maupun untuk melawan segala macam organisme dan toksin. Hal tersebut dapat merusak sel, jaringan, maupun organ tubuh. Kemampuan tersebut dinamakan dengan sistem kekebalan atau sistem imunitas.

Sistem kekebalan tubuh manusia tersusun atas komponen utama yang berupa sel darah putih atau leukosit. Sel darah putih dalam melaksanakan mekanisme kekebalan tubuh dilakukan dengan dua cara yaitu secara fagositosis atau memakan antigen dan pembentukan antibodi.

Fagositosis dilakukan oleh monosit dan makrofag. Sedangkan, pembentukan antibodi dilakukan oleh limfosit. Sistem kerja antibodi dalam melawan antigen dapat dilakukan dengan beberapa cara.

Cara tersebut yaitu aglutinin dengan menggumpalkan antigen, presiptin dengan mengedepankan antigen, opsonin dengan mengaktifkan monosit untuk memakan antigen secara fagositosis, lisis dengan menghancurkan antigen, dan antitoksin dengan menawarkan racun.

Sel – sel pembentuk sistem kekebalan tubuh dibentuk oleh sel batang pada sumsum tulang belakang. Salah satu sel yang dibentuk pada sumsum tulang ini merupakan limfosit. Limfosit pada tubuh terdiri dari satu di antaranya dua macam limfosit, yaitu T limfosit atau B limfosit.

T limfosit ini dibentuk di sumsum tulang dan menuju ke kelenjar timus. Hal ini dimaksudkan untuk melakukan deferensiasi sehingga menjadi matang dan siap bekerja.

T limfosit ini memiliki fungsi untuk mencegah infeksi bakteri, virus, jamur, dan tahan ada kanker serta alergi.

B limfosit dibentuk dan matang di sumsum tulang, kemudian menuju ke bursa fabricius di kelenjar limfe saluran pencernaan untuk berdeferensiasi membentuk sel plasma.

Sel plasma tersebut selanjutnya akan menghasilkan imunoglobin. Imunoglobin ini memiliki fungsi untuk melawan bakteri influensa, streptococcus, meningococcus, virus campak, dan polio.

Lebih lanjut, sistem kekebalan tubuh manusia dibedakan menjadi dua yaitu sistem kekebalan bawaan dan sistem kekebalan buatan. Di mana masing – masing dibedakan menjadi sistem kekebalan pasif dan kekebalan aktif. Masing – masing dapat dijelaskan sebagai berikut.

Kekebalan aktif alami. Kekebalan aktif alami dapat terbentuk karena sel menghasilkan antibodi. Antibodi ini diproduksi sebagai respon terhadap adanya antigen yang berasal dari kuman penyakit yang masuk ke dalam tubuh.

Kekebalan pasif alami. Kekebalan pasif alami merupakan sistem kekebalan yang berupa antibodi yang diberikan oleh ibu ke anak yang dikandung selama kehamilan melalui plasenta atau air susu ibu atau ASI. Kekebalan ini hanya berfungsi dalam waktu yang relatif singkat setelah bayi lahir.

Kekebalan aktif buata. Kekebalan aktif buatan merupakan suatu sistem kekebalan yang sengaja dibuat dengan cara menambahkan sejumlah kecil antigen yang berupa vaksin ke dalam tubuh.

Vaksin merupakan bibit atau kuman penyakit yang telah dilemahkan daya patogenitasnya sehingga tidak berbahaya bagi tubuh. Masuknya vaksin ke dalam tubuh akan mengaktifkan sel – sel penghasil antibodi untuk mensekresikan antibodi bila ada kuman penyakit yang sama masuk ke dalam tubuh.

Teknik semacam ini dinamakan dengan imunisasi. Contoh dari kekebalan aktif buatan yaitu imunisasi cacar, DPTP, BCG, dan lain – lain.

Kekebalan pasif buatan. Kekebalan pasif buatan merupakan kekebalan yang berupa antibodi yang telah jadi dimaksukkan ke dalam tubuh. Sistem kekebalan ini tidak memacu sel – sel penghasil antibodi untuk menghasilkan antibodi.

Antibodi yang dimasukkan dapat diperoleh dengan cara menyuntikkan antigen tertentu ke hewan yang sesuai. Kemudian, selanjutnya akan terbentuk antibodi dalam tubuh hewan dan diambil untuk disuntikkan ke manusia.

Pengambilan antibodi dari darah hewan dilakukan dengan cara mengekstrak darah yang telah mengandung antibodi. Setelah memahami tentang sistem kekebalan tubuh manusia, selanjutnya akan dijelaskan tentang penyakit pada sistem peredaran darah sebagai berikut.

Penyakit pada Sistem Peredaran Darah

Penyakit pada sistem peredaran manusia dapat dijelaskan sebagai berikut

1. Anemia

Anemia disebabkan oleh kekurangan jumlah sel darah merah sebab kekurangan hemoglobin, zat besi atau kekurangan eritrosit. Kekurangan eritrosit dapat terjadi sebab adanya pemakan sel darah merah, seperti malaria dan cacing tambang. Pencegahannya dapat dilakukan dengan hidup di lingkungan yang bersih dan makan – makanan yang bergizi.

2. Thalasemia

Thalasemia merupakan penyakit anemia yang diturunkan. Thalasemia sering ada pada bayi dan anak – anak.

Pada penderita thalasemia, daya ikat sel darah merah terhadap oksigen rendah sebab kegagalan pembentukan hemoglobin. Penderita thalasemia berat atau thalasemia mayor membutuhkan transfusi darah setiap bulan.

3. Hemofilia

Hemofilia merupakan suatu penyakit yang menyebabkan darah sulit membeku jika terjadi luka. Kelainan ini disebabkan oleh faktor keturunan atau genetis. Kelainan tidak dapat diobati, namun dapat dicegah. Penderita harus menghindari terjadinya pendarahan agar darah tidak mengalir terus.

4. Leukimia

Leukimia atau kanker darah merupakan suatu penyakit yang bertambahnya sel darah putih yang tidak terkendalikan.

Gejala leukimia yaitu badan lemah dan sakit kepala, sering mengalami infeksi, demam, kedinginan dan gejala flu, kehilangan berat badan, berkeringat, terutama malam hari, serta nyeri tulang atau sendi.

Demikian merupakan penjelasan tentang sistem peredaran darah manusia sampai pada kelainan pada sistem peredaran darah tersebut. Semoga artikel ini membantu sahabat portal ilmu dalam memahami sistem peredaran darah. Semoga sukses.

Referensi:

  1. Wasis dan Irianto, S.Y. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam 2: SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
  2. Susilowarno, R.G., Hartono, R.S., Mulyadi, Enik Mutiarsih, Murtiningsih, dan Umiyati. 2007.Biologi untuk SMA /MA Kelas XI. Jakarta; Grasindo.
  3. Asterisma, G. Tanpa Tahun. “Pop-Up” Rumus Biologi SMA. Jakarta: Kompas Ilmu.
  4. Abdullah, M. Saktiyono, dan Lutfi. 2007. IPA Terpadu SMP dan MTs Jilid 2A. Jakarta: Erlangga.
Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *