Sistem Gerak pada Manusia untuk Kelas XI

Indriyana Rachmawatiby:

Sahabat portal ilmu, sebelumnya kita telah mengupas banyak hal tentang­­­ Struktur dan Fungsi Sel. Untuk menambah wawasan kita tentang mata pelajaran Biologi, kali ini kita akan lanjut mempelajarinya. Pembahasan materi Biologi yang akan dibahas tentang sistem gerak pada manusia.

Jangan lupa LIKE FP kami

Apa yang kalian pahami tentang sistem gerak manusia? Apa saja sistem gerak manusia? Pembahasan tentang sistem gerak pada manusia ini dibagi menjadi tiga, yaitu tulang, otot, dan kelainannya. Berikut ini akan dijelaskan lebih jauh tentang sistem gerak manusia, perhatikan baik-baik penjelasan di bawah ini.

Tubuh manusia, pada dasarnya terdiri atas rangka tulang, otot, dan kulit. Ketiga hal tersebut merupakan bangunan yang kuat namun lentur. Tulang adalah alat gerak pasif. Hal tersebut disebabkan hanya dapat bergerak jika digerakkan oleh otot.

Sedangkan otot merupakan alat gerak aktif. Hal ini disebabkan otot dapat berkontraksi dan relaksasi. Kemampuan dari otot untuk berkontraksi dan relaksasi akhirnya mampu menggerakkan tulang disebabkan otot memiliki serabut otot yang dinamakan dengan miofibril.

Kemudian, di dalam miofibril terdapat protein kontraksi yang terdiri dari aktin dan miosin. Ada 206 tulang manusia yang membentuk rangka, sekaligus sebagai penopang tubuh. Selain digunakan sebagai alat gerak, tulang juga berfungsi sebagai pelindung organ dalam.

Selanjutnya, tulang juga berfungsi sebagai pabrik pembuat sel- sel darah. Selain tulang, otot juga memiliki peran dalam menggerakkan tulang dengan kontraksi dan mendapatkan energi berupa ATP.

Setelah memahami tentang fungsi tulang, selanjutnya bagaimana tulang itu terbentuk?

Proses Pembentukan Tulang (osifikasi)

Tulang yang menyusun rangka tubuh terbentuk sejak masa embrio. Pada saat masa embrio, tulang tersusun dari jaringan embrional mesodern yang berupa sel- sel mesenkim.

Lebih lanjut, sel – sel mesenkim tersebut selanjutnya membentuk calon sel- sel tulang yang dinamakan dengan osteogenik. Osteogenik tersebut selanjutnya tumbuh menjadi sel – sel tulang muda yang dinamakan dengan osteoblas.

Selain osteoblas ada pula osteoklas. Osteoklas merupakan sel dengan ukuran yang besar, memiliki inti yang banyak. Osteoklas memiliki fungsi untuk memindahkan matriks, dan membuat rongga untuk membentuk tulang yang baru.

Lebih lanjut, rongga diisi oleh osteoblas atau sel pembentuk tulang yang membentuk osteosit dari arah dalam menuju arah luar. Osteosit ini tersusun secara konsentris sehingga membentuk lapisan- lapisan atau lamela di mana dibagian tengahnya terdapat sistem Haversi.

Kemudian, di sekeliling sel – sel tulang berisi senyawa protein yang nantinya menjadi matrik tulang. Lalu, penambahan senyawa kapur dan fosfor yang akan menyebabkan tulang menjadi keras.

Proses penulangan tersebut dinamakan dengan osifikasi. Sedangkan, penambahan kalsium yang dapat menyebabkan tulang menjadi keras dinamakan dengan klasifikasi.

Demikian pemaparan tentang terbentuknya tulang. Selanjutnya akan dijelaskan tentang jenis- jenis tulang di bawah ini.

Pelajari juga: Sistem Koordinasi: Sistem Saraf, Alat Indra dan Sistem Hormon pada Manusia

Jenis – Jenis Tulang

Tulang dalam tubuh manusia dibedakan menjadi dua, yaitu tulang rawan dan tulang keras. Tulang rawan yang terdapat pada orang dewasa dapat ditemukan pada cakra epifise tulang pipih, antarruas tulang belakang, sendi – sendi tulang, antartulang rusuk dan dada, tulang hidung dan tulang telinga.

Tulang keras berdasarkan sturtur kepadatan matriknya kemudian dibagi lagi menjadi dua. Yang terdiri dari tulang kompak dan tulang spon.

Kemudian, berdasarkan bentuknya, tulang dapat dibedakan menjadi tiga. Tulang – tulang tersebut terdiri dari tulang pipa, tulang pipih, dan tulang pendek.

Jenis – jenis tulang tersebut dapat dijabarkan dalam kolom di bawah ini

Tulang Pipa

Tulang Pipih

Tulang Pendek

Hasta

Lengan atas

Paha

Tengkorak

Tulang iga

Tulang dada

Ruas- ruas tulang belakang

Pangkal lengan

Pergelangan tangan

Kemudian, gambar di bawah ini menunjukkan tentang struktur penyusun tulang dan bagian – bagian dari tulang pipa.

struktur penyusun tulang dan bagian – bagian dari tulang pipa

Tulang pipa dibagi menjadi tiga bagian. Bagian- bagian tersebut yaitu bagian tengah yang dinamakan dengan diafise, kedua ujungnya dinamakan dengan epifise, dan diantara epifise dan diafise ada suatu bagian yang dinamakan dengan cakra epifise.

Cakra epifise ini terdiri atas tulang rawan. Ini merupakan daerah pertumbuhan memanjang pada tulang sehingga dapat menyebabkan pertambahan tinggi badan pada manusia.

Bagian tengah tulang pipa atau diafise ada sumsum tulang. Sumsum  tulang ini merupakan suatu kumpulan pembuluh darah dan saraf, sumsum tulang pipa berupa sumsum merah dan kuning.

Grolier dalam Susilowarno menyatakan bahwa sumsum merah sebagai suatu tempat pembentukan sel darah merah atau eritrosit. Sedangkan sumsum kuning merupakan tempat pembentukan sel – sel lemak.

Tulang rawan atau kartilago. Tulang rawan ini memiliki sifat yang lentur atau elastis. Pada orang dewasa, tulang rawan dapat dijumpai di telingan, ujung hidung, dan ruas antartulang belakang.

Tulang rawan ini disusun oleh sel – sel tulang rawan yang dinamakan dengan kondrosit. Kondrosit yang matang dibentuk dari sel- sel tulang rawan muda yang dinamakan dengan kondroblas. Kondroblas ini ada pada selaput tulang rawan atau perikondrium. Kondroblas ini mengelilingi tulang rawan pada orang dewasa.

Kondrosit merupakan sel – sel yang bulat dan berukuran besar dengan sebuah nukleus yang bening dan dua buah atau lebih nukleolus atau anak inti sel. Kondrosit ini ada dalam ruang – ruang di dalam matriks tulang rawan yang dinamakan dengan lakuna.

Matriks pada tulang rawan pada umumnya berupa kartilako hialin yang homogen dan jernih. Dinding lakuna menebal membentuk kapsula rawan.

Suatu ruangan yang berwarna bening terlihat di antara kapsula dan dinding sel yang dapat mengakibatkan adanya penyusutan kondrosit selama hidupnya yang segera dipecah untuk membentuk kondrosit – kondrosit yang matang.

Kemudian, di dalam suatu lakuna yang tunggal pada umumnya terdapat dua buah sel tulang rawan. Namun, terkadang ada tiga, empat atau lebih sel – sel dalam sebuah lakuna.

Kumpulan sel – sel seperti ini dinamakan dengan sarang sel atau sel – sel isogenik. Sel – sel multiple yang ada di sebuah lakuna merupakan sel – sel bersaudara dari turunan satu sel kondroblas tunggal.

Cavendish dalam Susilowarno menyatakan bahwa tulang rawan dibedakan menjadi tulang rawan hialin, serat atau fibrosa, dan elastin. Masing –masing dapat dijelaskan di bawah ini

Tulang rawan hialin. Kata hialin atau hyalin memiliki arti seperti gelas. Tulang rawan hialin memiliki warna putih kebiru- biruan dan pada keadaan segar terlihat berwarna bening. Kondrosit ini ada dalam lakuna yang berdinding licin pada matriks tulang.

Tulang rawan hialin ada pada: pertama, semua rangka janin yang belum menjadi tulang, kedua, tulang rawan iga, ketiga, tulang rawan sendi pada persendi – sendian, keempat, tulang –tulang rawan hidung, trakea, dan bronkus.

Tulang rawan serat atau fibrosa. Tulang rawan serat memiliki warna buram keputihan dan memiliki sifat yang keras. Jumlah sel – selnya lebih sedikit dan berdiri sendiri atau mengelompok.

Tulang rawan serat dikelilingi oleh sebuah kapsul dari matriks tulang rawan. Tulang rawan serat dapat ditemui di segmen tulang belakang.

Tulang rawan elastin. Tulang rawan elastin ini memiliki warna buram kekuningan, memiliki sifat yang fleksibel dan elastis. Sel – selnya sama dengan sel- sel tulang rawan hialin dan dapat berdiri sendiri atau secara kelompok.

Kemudian, tulang rawan elastin ini dapat dijumpai pada telingan luar dan epigiotis atau tulang rawan yang menutup oleh celah menuju trakea.

Setelah memahami tentang jenis- jenis dari tulang. Selanjutya akan dijelaskan tentang sistem rangka pada sub bab selanjutnya.

Sistem Rangka Manusia

Sub bagian ini akan membahas tentang fungsi rangka, macam tulang penyusun rangka, dan persendian tulang. Masing – masing akan dijelaskan di bawah ini

Fungsi rangka. Sistem rangka pada tubuh manusia sebagai suatu komponen dari sistem gerak memiliki fungsi – fungsi yang dapat dijelaskan sebagai berikut.

  • Imunologis, sebab susum tulang membentuk limfosit B yang dapat mensintesis antibodi untuk sistem kekebalan tubuh manusia.
  • Proteksi, yang dimaksudkan sebagai melindungi alat – alat tubuh dalam yang lemah.
  • Formasi bentuk tubuh di mana kerangka tubuh ini sebagai menyokong dan memberi bentuk tubuh.
  • Formasi sendi, di mana rangka memberikan suatu sistem pengungkit yang digerakkan oleh kerja otot- otot yang melekat padanya atau sebagai alat gerak yang pasif.
  • Hemopoesis, rangka ini menghasilkan sel – sel darah merah, sel – sel darah putih, dan trombosit dalam sumsum merah tulang tertentu.
  • Penyimpanan kalsium, rangka berfungsi sebagai reservoir kalsium, fosfor, natrium, dan elemen – elemen yang lain.

Demikian pemaparan tentang enam fungsi dari rangka, selanjutnya akan dipaparkan tentang macam tulang penyusun rangka.

Sistem rangka pada manusia memberikan bentuk tubuh pada manusia. Di mana sistem rangka pada manusia ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Sistem rangka pada manusia

Sistem rangka pada manusia dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok. Yang terdiri dari tulang sumbu atau aksial dan tulang tambahan atau apendikulen. Di bawah ini akan dijelaskan tentang macam – macam tulang yang dibentuk dalam tabel untuk memudahkan kalian dalam  memahami.

Kelompok Aksial

Nama Tulang

Jumlah

Macam Tulang

Tulang tengkorak28 buah
  • Tulang dagu
  • Tulang hidung
  • Tulang dahi atau frontal
  • Tulang ubun- ubun atau pariental
  • Tulang pipi atau temporal
  • Tulang oksipetal
  • Tulang rahang atas atau maksilla
  • Tulang rahang bawah atau mandibulla
Ruas – ruas tulang belakang33 buah
  • Tulang leher atau servical yang terdiri dari tujuh buah
  • Tulang punggung atau torakal yang terdiri dari dua belas buah
  • Tulang pinggang atau lumbal yang terdiri dari lima buah
  • Tulang sakrum yang terdiri dari lima buah
  • Tulang ekor atau koksigea yang terdiri dari empat buah
  • Tulang rusuk sejati yang terdiri dari tujuh buah
  • Tulang rusuk palsu yang terdiri dari tiga pasang
  • Tulang rusuk melayang yang terdiri dari dua pasang
Tulang rusuk12 pasang
  • Bagian kepala, badan, dan taju pedang

Kelompok Apendikuler

Nama Tulang

Jumlah

Macam Tulang

1. Tulang dada1 buah
2. Tungkai atas5 macamTerdiri dari lengan atas atau humerus, lengan bawah yang dibagi menjadi hasta dan pengumpil, pergelangan tangan atau karpal, telapak tangan atau metakarpal, ruas jari atau palanges
3. Tungkai bawah7 macamTerdiri dari paha atau femur, tempurung atau patela, tulang kering atau tibia, betis atau fibula, ruas pergelangan kaki atau tarsal, ruas jari atau palanges, tulang telapak kaki

Demikian penjelasan tentang tulang yang menyusun rangka pada manusia. Selanjutnya, dijelaskan tentang persendian tulang.

Tulang – tulang yang menyusun sistem rangka saling berhubungan satu sama lain. Hubungan antar tulang dinamakan persendian atau artikulasi. Guna memperkuat sendi dan memudahkan pergerakan dibutuhkan beberapa komponen penunjang.

Komponen – komponen penunjang tersebut terdiri dari ligamen, kapsul sendi, cairan sinovial, dan tulang rawan hialin. Masing – masing komponen dapat dijelaskan sebagai berikut.

  • Tulang rawan hialin yaitu jaringan tulang rawan yang menutupi kedua tujung tulang yang membentuk persendian. Perlindungan ini penting digunakan untuk menjaga benturan yang keras.
  • Cairan sinovial yaitu suatu cairan pelumas pada ujung – ujung tulang yang ada pada bagian kapsul sendi.
  • Ligamen yaitu jaringan ikat yang berguna untuk mengikat bagian luar ujung tulang yang membentuk persendian. Kemudian, mencegah berubahnya posisi tulang atau dislokasi.
  • Kapsul sendi yaitu lapisan serabut yang berfungsi untuk melapisi sendi dan menghubungkan dua tulang yang membentuk persendian. Pada bagian persendian yang memiliki kapsul sendi terdapat rongga.

Selanjutnya, berdasarkan kemungkinan gerak yang dimunculkan, persendian dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu diatrosis, amfiartosis, dan sinartrosis. Perbedaan antara ketiga gerak tersebut dapat dijelaskan di bawah ini.

Diartrosis. Diartrosis ini pergerakannya sangat leluasa. Contoh dari diartrosis yaitu sebagai berikut. Pertama, sendi engsel yang terdiri dari siku, lutut, dan tulang jari. Kedua, sendi pelana terdiri dari ibu jari, antarmetakarpal, dan karpal.

Ketiga, sendi putar terdiri dari tulang tengkorak dengan atlas, lengan atas dengan pengumpil. Keempat, sendi luncur pada ruas – ruas tulang belakang. Kelima, sendi peluru terdiri dari tulang lengan dengan belikat, tulang pada dengan tulang pinggul.

Amfiartrosis. Amfiartrosis ini pergerakannya sangat sedikit atau terbatas. Macam dan contoh dari amfiartrosis dapat dibedakan menjadi sendi antara tulang rusuk dengan tulang belakang.

Sinartrosis. Sinartrosis tidak mungkin memiliki pergerakan. Adapun macam dan contoh dari sinartrosis dapat dijelaskan sebagai berikut. Sinartrosis sinfibrosis atau penghubungnya jaringan ikat, misalkan hubungan antar tulang tengkorak.

Kemudian, sinartrosis sinkondrosis atau penghubungnya tulang rawan, misalkan hubungan antara tulang rusuk dengan tulang dada.

Setelah mempelajari tentang semua hal yang berkaitan denga tulang, selanjutnya dijelaskan tentang otot pada sub bab di bawah ini.

Otot

Otot yang ada pada tubuh manusia dikenal dengan daging. Otot merupakan suatu kumpulan sel – sel otot yang jumlahnya lebih dari 600 macam. Otot merupakan suatu tali yang menarik tulang sehingga memungkinkan munculnya pergerakan.

Oleh sebab itu, otot dinamakan sebagai alat gerak aktif. Sebagai alat gerak aktif, otot memiliki tiga karakteristik yang terdiri dari kontrakbilitas, ekstensibilitas, dan elastisitas. Masing –masing dapat dijelaskan sebagai berikut.

Kontraktibilitas merupakan suatu otot yang memiliki kemampuan untuk memendek dari ukuran semula atau kontraksi.

Ekstenbilitas merupakan suatu kemampuan otot untuk memanjang dari ukuran semula atau dikenal dengan relaksasi.

Elastisitas merupakan suatu otot yang memiliki kemampuan untuk dapat kembali pada ukuran pada mulanya.

Setelah memahami tentang karakteristik dari otot. Selanjutnya dipaparkan tentang jenis otot di sub bagian di bawah ini.

Jenis Otot

Otot memiliki beberapa jenis. Sebagai alat gerak, secara struktural dan fungsional, otot dapat dibedakan menjadi tiga yaitu otot polos, otot lurik, dan otot jantung. Guna memahami tentang otot lurik, sebelumnya harus dipahami terlebih dahulu tentang letaknya.

Otot lurik. Otot lurik ini letaknya menempel pada rangka sehingga sering dinamakan dengan otot rangka. Otot rangka terdiri dari sel – sel atau sarkomer serabut silinder yang panjang. Di mana setiap serabut panjang berisi berkas serat panjag yang lebih kecil yang dinamakan dengan miofibril.

Kemudian, di dalam miofibril ada bangunan seperti tumpukan batu bata yang dinamakan dengan sarkomer. Pada sarkomer ada filamen – filamen tebal yang berisi protein miosin. Di mana filamen tebal tersebut tumpang tindih dengan filamen tipis yang mengandung protein aktin.

Setiap berkas di dalam otot dibungkus oleh fasiapropria. Kemudian, otot atau dagingnya ini dibungkus oleh fasia superfisialis. Setiap sel otot rangka atau lurik mempunyai banyak inti yang letaknya tersebar.

Ukuran sel otot rangka atau lurik ini panjangnya 1 mm- 30 mm dengan diameter 10-100 mm. Kemudian, serabut otot mudah terlihat karena tersusun secara serat lintang atau heterogen. Sifat kerja dari sel otot rangka atau lurik ini sadar atau volunter sehingga reaksi terhadap rangsang sangat cepat.

Otot polos. Otot polos dapat ditemui di organ – organ dalam seperti usus dan saluran pernapasan. Otot polos hanya mmeiliki satu ini yang berada di tengah. Ukuran dari otot polos ini panjangnya 0,02 – 0,5 mm, dengan diameter 8-10 mm.

Serabut otot sukar terlihat. Hal tersebut disebabkan serabut otot ini tersusun sejajar atau homogen. Sifat kerja dari otot polos yaitu tidak sadar atau involunter. Kemudian, reaksi terhadap rangsang lambat.

Otot jantung. Otot jantung ini terletak di dinding jantung. Adapun karakteristik dari otot jantung memiliki percabangan yang dinamakan dengan synsitium.

Struktur yang dimiliki oleh otot jantung ini seperti otot lurik. Namun berisi satu dan bekerjanya secara tidak sadar atau involunter. Ukuran panjang otot jantung yaitu 0.06-0,08 dengan diameter 10-15 mm.

Kemudian, serabut ototnya mudah terlihat. Hal tersebut disebabkan tersusun secara heterogen. Reaksi terhadap rangsang ritmis dan otomatis namun lebih cepat jika dibandingkan dengan otot polos.

Demikian pemaparan tentang otot lurik, otot polos, dan otot jantung. Selanjutnya bagaimana aktivitas dari otot?

Aktivitas otot. Aktivitas otot dalam menggerakkan tulang dengan melakukan dua cara yaitu kontraksi dan relaksasi. Mekanisme kontraksi otot diawali dengan rangsangan yang diterima oleh saraf. Kemudian, diteruskan ke otot pada bagian yang peka yaitu asetikolin.

Lebih lanjut, asetikolin akan terurai menjadi asetyl dan kolin sehingga dapat merangsang terbentuknya miogen. Miogen ini akan memacu aktin dan miosin untuk bergabung membentuk protein kontraksi aktomiosin sehingga menyebabkan otot dapat memendek atau kontraksi.

Mekanisme kontraksi otot dapat dijelaskan secara lengkap dan berurutan dapat dijelaskan sebagai berikut

Pertama, pusat motorik yang ada pada otak mengirim ke otot melalui saraf motorik. Kedua, rangsang yang sampai pada ujung akson kemudian akan dilanjutkan ke neuro humor atau hormon saraf beruspa asetilkolin menuju pada reseptor otot.

Ketiga, setelah sampai pada reseptor otot, energi dilepaskan untuk menguraikan asetikolin menjadi asetil dan kolin sehingga dapat merangsang terbentuknya miogen. Kemudian, terbentuknya miogen dapat memacu aktin bergeser untuk bergabung dengan miosin membentuk aktomiosin sehingga menyebabkan zona H menjadi mengecill.

Mengecilnya zona H dapat menyebabkan otot memendek, membesar, dan mengeras yang dinamakan dengan kontraksi. Keempat, setelah otot berkontraksi ujung saraf motorik mengeluarkan zat peetralisir neurohumor yang berupa enzim kolinesterasi dan Mono Amina Oksida disingkat MAO.

Kemudian, ternetralisasinya neurohumor yang berupa asetikolin menyebabkan aktomiosin terpisah lagi menjadi aktin dan miosin sehingga zona H terbuka kembali. Lalyu otot tampak memanjang dan tipis dan lebih lembek. Keadaan ini dinamakan dengan relaksasi menurut Boisvert dalam Susilowarno.

Lebih lanjut, kondisi otot dalam keadaan kontraksi dan relaksasi dapat dijabarkan sebagai berikut.

Variabel

Relaksasi

Kontraksi

Keadaan pada serabut otot
  1. Miosin berada di luar ruang aktin
  2. Aktomiosin bertambah panjang
  3. Zona Z menjadi memendek
  4. Zona H menjadi lebih panjang
  5. Ukuran otot lebih panjang dari ukuran semula
  1. Miosin bergeser di dalam ruang aktin
  2. Panjang aktomiosin menjadi berkurang
  3. Zona Z menjadi bertambah panjang
  4. Zona H menjadi lebih pendek

Aktivitas kontraksi otot dapat berlangsung, hal tersebut disebabkan adanya energi dari peristiwa peruraian ATP dan Kreatin Phosphat yang tidak membutuhkan oksigen sehingga dinamakan dengan fase anaerob.

Lebih lanjut, peruraian ATP dan Kreatin Phospat dapat dijelaskan sebagai berikut.

peruraian ATP dan Kreatin Phospat

Energi hasil peruraian dari ATP dan kreatin fosfat di atas hanya cukup digunakan untuk kegiatan otot selama 15 detik. Hal tersebut seperti lari spirit 100 meter.

Energi yang dihasilkan dari peruraian glikogen yang dapat ensuplai ATP dalam jumlah yang banyak dapat digunakan untuk aktivitas otot selama 30-40 detik yang seperti lari 400 meter.

Kemudian, pada saat relaksasi otot melakukan aktivitas sintesis energi. Sintesis energi ini membutuhkan oksigen sehingga dinakmakan fase aerob.

Energi otot yang disintesis pada saat relaksasi ini diperoleh dari simpnanan glukosa di dalam otot yaitu glikogen. Skema dari pemecahan glikogen menjadi energi dapat dijelaskan sebagai berikut

Skema dari pemecahan glikogen menjadi energi

Pada peristiwa pemecahan glikogen menjadi energi diperoleh hasil sampingan yang berupa asam laktat. Apabila tersedia cukup oksigen, asam laktat di dalam tubuh dapat diuraikan menjadi karbon dioksida dan air sehingga tidak bersifat racun bagi sel.

Namun, jika kurang tersedia oksigen di dalam otot, asam laktat akan tertimbun di dalam otot dan dapat menyebabkan otot pegal –pegal, linu, dan terasa lelah. Kandungan asam laktat dalam jumlah besar dapat menyebabkan menjadi kram atau kejang otot.

Selanjutnya, perlekatan otot dan macam kerja otot. Otot harus bersambungan dengan tulang agar dapat menggerakkan tulang. Sambungan yang terjadi antara otot dengan tulang ini dinamakan dengan tendon.

Berdasarkan cara melekatnya, tendon dibagi menjadi dua, yaitu origo dan insersi. Adapun penjelasan masing –masing yaitu sebagai berikut.

Origo merupakan suatu ujung otot yang melekat pada tulang dan tidak dapat bergerak pada saat otot berkontraksi. Otot yang berorigo dua dinamakan dengan otot bisep. Sedangkan otot yang berorigo tiga dinamakan dengan otot trisep.

Insersi merupakan ujung otot yang melekat pada tulang dan akan bergerak pada saat otot berkontraksi.

Untuk mendapat jenis gerak tertentu dan dapat kembali padaposisi semula setidaknya diperlukan paling sedikit dua macam otot. Lebih lajnjut, berdasarkan tujuan kerjanya, otot dibedakan menjadi otot antagonis dan sinergis. Adapun penjelasan masing- masing dari kedua otot tersebut sebagai berikut.

Otot antagonis. Otot antagonis merupakan dua otot atau lebih yang memiliki tujuan kerja berlawanan. Apabila otot yang satu berkontraksi, maka otot pasangannya relaksasi atau sebaliknya.

Contoh dari otot antagonis yaitu otot bisep dan trisep. Otot bisep pada lengan atas bagian depan dengan otot trisep pada lengan atas bagian belakang. Otot bisep mengalami kontraksi dan otot trisep relaksasi menyebabkan lengan bawah terangkat atau tangan membengkok.

Lalu sebaliknya, jika otot bisep relaksasi dan trisep kontraksi menyebabkan lengan bawah diturunkan atau tangan menjadi lurus.

Otot sinergis. Otot sinergis merupakan dua otot atau lebih yang bekerja sama untuk tujuan yang sama. Otot sinergis akan mengalami kontraksi dan relaksasi secara bersama- sama.

Contoh dari otot sinergis yaitu pronator kuadratus dan pronator teres dalam menimbulkan gerakan menengah maupun menelungkupkan telapak tangan.

Setelah memahami tentang kerja otot, selanjutnya akan dijelaskan tentang macam gerakan tulang bersama dengan otot di bawah ini.

Macam gerakan tulang bersama otot. Persendian memunculkan gerak yang sangat bervariasi yang dikontrol oleh otot. Adapun macam gerakan yang dihasilkan yaitu sebagai berikut.

Pertama, adduksi dan abduksi. Adduksi merupakan suatu gerak yang mendekati tubuh. Sedangkan abduksi merupakan suatu gerak yang menjauhkan dari tubuh. Adapun contohnya yaitu mengacungkan jari tangan dan meluruskan tangan sejajar dengan sumbu tubuh.

Kedua, supinasi dan pronasi. Supinasi merupakan suatu gerak yang menengadahkan tangan. Sedangkan, pronasi merupakan suatu gerak yang menelungkupkan tangan.

Ketiga, flesi dan ekstensi. Fleksi merupakan suatu gerak membengkokkan atau menekuk. Sedangkan ekstensi merupakan suatu gerak untuk meluruskan. Contoh dari gerak ini yaitu gerakan yang ditimbulkan oleh lutut, siku, ruas- ruas jari, dan bahu.

Keempat, elevasi dan depresi. Elevasi merupakan suatu gerak mengangkat. Sedangkan, depresi merupakan suatu gerak menurunkan. Adapun contoh dari gerak ini yaitu gerakan rahang bawah dalam membuka dan menutup mulut.

Kelima, inversi dan eversi. Inversi merupakan suatu gerak memiringkan atau membuka telapak kaki ke arah dalam. Sedangkan eversi merupakan suatu gerak memiringkan telapak kaki ke arah luar.

Demikian penjelasan tentang gerakan tulang bersama otot. Lebih lanjut, tulang dan otot juga mengalami kelainan. Di bagian selanjutnya akan dijelaskan tentang macam – macam kelainan dari tulang dan otot, yaitu sebagai berikut.

Simak juga: Pengertian, Fungsi dan Jenis Enzim

Macam – Macam Kelainan dari Otot dan Tulang

Kelainan atau gangguan pada sistem gerak manusia dapat terjadi pada tulang dan otot. Gangguan tersebut terjadi sebagai akibat adanya aktivitas atau beban gerak yang berlebihan. Selain itu, adanya pengaruh vitamin atau terjadinya infeksi dari mikroorganisme juga dapat menyebabkan ganguan pada tulang dan otot.

Gangguan pada sistem rangka dapat terjadi disebabkan oleh adanya gangguan secara fisik, gangguan secara fisiologi, gangguan persendian, dan gangguan kedudukan pada tulang belakang. Lebih lanjut, dapat dijelaskan di bawah ini

Gangguan pada tulang. Merupakan gangguan retak dan patah tulang atau fraktura. Fraktura ada yang sederhana dan kompleks. Fraktura sederhana jika tulang yang retak tidak melukai organ tubuh yang lain yang ada disekitarnya.

Sedangkan, fraktura kompleks jika patah tulang yang menyebabkan otot dan kulit terluka. Kemudian, greenstick merupakan tulang retak sebagian dan tidak sampai terpisah. Comminuted merupakan tulang retak menjadi beberapa bagian namun masih tetap bertahan di dalam otot.

Gangguan tulang belakang. Gangguan ini dibagi menjadi skoliosis, kifosis, lordosis, dan subluksasi. Adapun penjelasannya sebagai berikut.

Subluksasi merupakan gangguan tulang belakang pada segmen leher sehingga posisi kepala tertarik ke kanan ataupun ke kiri. Sedangkan lordosis merupakan gangguan jika ruas tulang belakang bagian lumbal atau pinggang tertarik ke depan sehingga pada posisi tegak, kepala seperti tertarik ke belakang.

Skoliosis merupakan tulang belakang melengkung ke arah samping sehingga terkesan badan melengkung ke kiri atau ke kanan. Sedangkan kifosis merupakan terjadi perubahan arah kelengkungan tulang belakang ke daerah punggung sehingga nampak bungkuk.

Gangguan persendian. Gangguan ini dibagi menjadi lima, yaitu dislokasi, terkilir atau keseleo, ankilosis, artritis eksudatif, dan artritis sika. Adapun penjelasannya masing –masing yaitu sebagai berikut.

Artritis sika merupakan gangguan di mana sendi terasa sakit yang disebabkan oleh berkurangnya minyak sendi. Artritis eksudatif merupakan gangguan di mana sendi terasa sakit jika digerakkan karena peradangan getah sendi.

Dislokasi merupakan gangguan di mana pergeseran sendi akibat sobek atau tertariknya ligamen. Terkilir atau keseleo merupakan gangguan di mana tertariknya ligamen karena gerakan mendadak, keleseo disertai dengan rasa sakit dan peradangan sendi.

Ankilosis merupakan gangguan di mana sendi tidak dapat digerakkan sebab seolah –olah tulang sendi menjadi menyatu.

Gangguan fisiologi. Gangguan ini dibedakan menjadi tiga yaitu rakitis, mikrosefalus, dan osteoporosis. Osteoporosis merupakan gangguan tulang dengan gejala rapuh tulang keras yang diakibatkan oleh berkurangnya hormon kelamin pria atau wanita.

Rakitis merupakan penyakit tulang karena kurangya vitamin D sehingga tulang menjadi kurang keras. Kemudian, mikrosefalus merupakan gangguan pada pertumbuhan tulang tengkorak karena kurangnya zat kapur.

Setelah memahami tentang gangguan pada tulang, selanjutnya dijelaskan tentang kelainan otot manusia.

Macam – macam kelainan otot manusia. Kelainan ini dibedakan menjadi sembilan jenis yaitu atropi, hipertopi, kejang otot, kaku leher, tetanus, miastenia gravis, distrofi otot, hernia abdominalis, dan cedera hamstring.

Cedera hamstring merupakan sobeknya otot atau peradangan otot hamstring pada paha akibat adanya gerakan yang keras dan mendadak. Hernia abdominalis merupakan sobeknya otot dinding perut yang lemat mengakibatkan usus melorot masuk ke rongga perut bagian bawah.

Distrofi otot merupakan suatu penyakit otot kronis sejak anak – anak, hal ini diduga merupakan keturunan. Atropi merupakan gangguan otot yang mengecil dan kehilangan kemampuan kontraksi sehingga penurunan ukurannya mencapai 25%. Hal tersebut dapat terjadi disebabkan poliomielitis.

Hipertopi merupakan otot menjadi lebih besar dan kuat sebab sering dilatih secara berlebihan. Kejang otot merupakan otot tidak mampu lagi melakukan kontraksi karena bekerja terus menerus. Tetanus merupakan kejang otot terus menerus yang disebabkan oleh adanya bakteri Clostridium tetani.

Kaku leher atau stiff merupakan suatu keadaan leher kaku dan sakit jika digerakkan yang disebabkan oleh otot trapesium leher mengalami peradangan.

Miastenia gravis merupakan otot yang berangsur- angsur lemah dan menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian yang penyebabnya adalah kekebalan tubuh atau menurunnya aktivitas kelenjar tiroid.

Demikian pemaparan tentang kelainan pada tulang dan otot. Pemabahasan yang selanjutnya akan memparkan tentang teknologi yang berhubungan dengan sistem gerak. Seperti yang diketahui bahwa perkembangan zaman mampu melahirkan suatu alat yang berfungsi untuk mengatasi masalah gangguan pada sistem gerak.

Teknologi yang Berhubungan dengan Kelainan Sistem Gerak

Teknologi ini berkaitan dengan tangan dan kaki palsu elektronik, sendi buatan, antroskop, dan doping. Masing –masing dapat dijelaskan di bawah ini.

Doping. Doping merupakan suatu penggunaan zat kimia buatan untuk meningkatkan kinerja tubuh, khususnya pada kinerja otot dan tulang. Tidak dapat dipungkiri bahwa doping mampu meningkatkan prestasi atlet.

Namun, memberikan efek samping yang berbahaya bagi kesehatan. Akibatnya, doping dilarang dalam olah raga dunia. Ada berbagai macam doping, namun hanya ada satu macam doping yang berhubungan langsung dengan otot dan tulang, yaitu doping steroid anabolik dan beta 2-aganik.

Senyawa tersebut mirip dengan hormon testoteron, yang berperan dalam meningkatkan kekuatan otot dan tulang. Efek samping yang ditimbulkan yaitu menyebabkan kebotakan dan kemandulan pada pria.

Tangan dan kaki palsu elektronik. Hal ini untuk membantu orang yang organ geraknya diamputasi. Pembuatan kaki dan tangan palsu dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan yang asli, jika dibungkus dengans sarung tangan.

Kemiripan tersebut terdiri dari bentuk, ukuran, ruas, dan beberapa aktivitas yang dapat dilakukan. Bahkan sekarang tangan dan kaki palsu telah dilengkapi dengan sirkuit elektronik dan baterai kecil yang tahan lama.

Kedua jari dan ibu jari tangan dapat digerakkan oleh mesin bertenaga listrik. Tangan palsu bertenaga listrik ini dinamakan dengan myoelectric, memiliki semacam otot yang digerakkan oleh aliran listrik.

Otot – otot lengan palsu ditegangkan oleh servo sehingga menghasilkan sinyal – sinyal listrik. Kemudian, sensor melacak sinyal dan memperbesar.

Sendi buatan. Individu yang memiliki gangguan persendian, dapat menggunakan sendi buatan. Hal ini ditemukan tahun, 1981-1982 oleh John Charnley yang membuat persendian internal berupa bola stainless stell yang dipasang pada bagian atas tulang paha dan sebuah mangkok teflon untuk menggantikan tulang panggul yang kini telah diproduksi sebanyak 1000 per hari.

Antroskop. Antroskop merupakan alat sejenis endoskop yang digunakan untuk melihat ke dalam persendian. Adapun contohnya seperti lutut yang cedera karena berolah raga. Alat itu kemudian disisipkan pada irisan kecil kulit melalui lubang alami ke antara otot ligamen dan tendon.

Hal tersebut menyebabkan struktur persendian dapat diterangi oleh sinar teang sehingga dapat divisualisasikan ke layar monitor. Setelah didiagnosis berhasil, kemudian dokter melakukan pembedahan dengan rute yang sama.

Demikian pemaparan tentang sistem gerak pada tubuh manusia, mulai dari tulang sampai otot. Sekaligus diberikan pemaparan tentang kelainan pada tulang dan otot. Semoga artikel ini membantu kalian dalam memahami sistem gerak manusia. Selamat belajar.

Referensi:

Susilowarno, R.G., Hartono, R.S., Mulyadi, Enik Mutiarsih, Murtiningsih, dan Umiyati. 2007.Biologi untuk SMA /MA Kelas XI. Jakarta; Grasindo.

Bagikan Jika Bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *