SI PEMILIK KUCING HITAM

 Bandara internasional California.

Akhirnya aku sampai juga. California. Akhir Desember. Dingin sekali. Wilayah para seniman. Dan seniman gila. Aroma seniman yang lezat ini, meskipun aku baru turun dari pesawat. Sangat terasa. Seperti ikan kakap segar yang baru saja diambil dari kolamnya di lereng gunung, siap untuk dimasak, kakap bakar ala bumbu Jawa tradisional. Ah sekarang masakan seperti itu sudah punah.

Oiya, aku ke sini bukan untuk mewakili seniman Indonesia, ataupun universitas-universitas seni di Indonesia. Aku bukan orang seni. Aku penikmat seni yang tidak memiliki satu pun karya. Terutama musik. Ya ya ya band-band besar seperti Sevenfold dan Greenday dari California bukan ?

Tujuan ku ke sini adalah  …

Ketika SMP kelas satu dulu, aku bertemu seorang guru yang merubah cita-citaku..

Karena sering kali orang tuaku meminta maaf ketika pagi hari karena tidak bisa memberikan uang saku ketika aku berangkat sekolah. Beberapa temanku juga mengalami hal sama. Lalu ketika tanggal muda, aku dan teman-teman meminta uang 20 ribu kepada masing-masing orang tua kami, sebagai uang saku 1 bulan. Orang tua kami menertawakan kami.

“20 ribu Cuma dapet es teh 20 gelas,” ujar orang tua Wisnu, salah satu temenku yang aku ajak buat ngumpulin uang 20 ribu. Orang tua Wisnu adalah pedagang HIK di malam hari. Sementara di siang hari, ayahnya makelar barang-barang elektronik bekas di pasar Klithikan yang ketika itu masih di samping Pasar Legi.

Ketika itu es teh masih seharga seribu rupiah. Namun, berbeda dengan warung di ibunya Angga, teman baikku yang aku ajak ngumpulin uang 20 ribu selain wisnu. Di warung ibunya Angga, es teh seharga 500 perak. Meskipun warungnya di tengah hutan, tapi tetap ramai pengunjung.

Waktu itu aku dan teman-teman teman sekolah yang sering nongkrong di warungnya ibunya Angga berfikir apakah untung ini warung. Tapi nyatanya sudah sejak Angga TK sampai SMP kelas satu, warung klasik tersebut belum gulung tikar. Ibunya Angga adalah tipe orang yang tidak banyak nuntut kepada anaknya maupun warungnya.

Sebenarnya, ibunya Angga tahu teman-teman sekolahnya sering nggabrul gorengan warungnya tapi ibunya Angga ikhlas dan mendoakan kebaikan untuk anak-anak tersebut. Angga adalah anak yatim, jadi penghasilan satu-satunya adalah warung tersebut.

Sekolah kami dengan rumah Wisnu tidak jauh, kurang lebih berjarak lima rumah jika jalan kaki. Namun, jika diukur rumah wisnu cuma di belakang sekolah kami pas. Hehehe. Pernah kami berimajinasi membuat jalan pintas lewat genting dan mencoba merealisasikannya ketika hari libur. Eh malah disidang satpam SMP kami, Mbah Edi. Disidang lama banget sampe-sampe gak tahu gimana ceritanya pak RT ikutan nimbrung. Waktu itu kami trio koclok diteriaki mbah Edi,

“Woy ngopo koe ! miduno !” kami dikira maling. Mbah Edi emang terkenal keras tegas dan disiplin, melebihi guru BP kami. Kalo ada anak-anak yang bandel urusannya sma mbah Edi, bukan guru BP. Keren kan peran mbah Edi. Ngluwihi pns. Kami beneran dikira maling waktu itu. Hampir seharian kami disidang Mbah Edi, pak RT , dan beberapa warga. Namun kami bangga karena berhasil membuktikan imajinasi kami bisa menjadi nyata. Dan emang bener bisa dan lebih cepat lewat genting daripada lewat jalan kampung dari rumah Wisnu ke sekolah.

Singkat cerita, karena kejadian tersebut, base camp kami pindah ke rumah sekaligus warungnya Angga, di tengah hutan desa Pucangan 3 Kartasura. Dengan uang 60 ribu kami membeli ceriping kiloan di pabrik kerupuk dan ceriping waktu itu yang terletak di Gawok. 1 kilo seharga 10 ribu. Lalu kami packing ulang  dengan kemasan yg lebih kecil dan kami kasih kaldu tambahan, dijual per kemasan 1500 rupiah kami titipkan ke warung-warung sekitar sekolah.

Sementara ceriping dengan berat yang sama hanya seharga 1000 rupiah. Namun ceriping kami lebih laris, mungkin karena bumbu masaknya itu yg marem  untuk anak-anak sekolah yg alam bawah sadarnya menghamba kpd micin.

Oh iya, jadi dengan demikian kami telah memecahkan mitos kemustahilan uang jajan 20 ribu per bulan kala itu yang dianggap mustahil oleh teman-teman kami begitupun dengan orang tua kami.

Satu bulan telah berlalu dari ketika kami menginvasi warung-warung sekitar sekolah dengan ceriping super micin legendaris. Ketika itu hari minggu yang cerah, namun jarang sekali angin sepoi berhembus. Kami ingin melebarkan daerah invasi kami. Berjalanlah kami dari warung es teh super murah yang sekaligus basecamp kami menuju SMAN 1 Kartasura.

Dalam perjalanan aku masih berharap angin sepoi berhembus menyapa dan menampar ringan wajah ganteng kami bertiga yang penuh keringat. Namun, tubuh muda kami masih berjalan tegap dan tegas dengan membawa kresek hitam besar berisi daganan kami menantang si resek mentari yang lagi bergairah-gairahnya memancarkan pesonanya melalui sinarnya yang di konveksikan oleh oksigen siang itu dengan efisien.

“Ini sekolah kayaknya lebih maju smp kita meskipun smp kita swasta.” Wisnu mulai ber-analisis.

“Ngawur iki sekolah negeri len. Angel mlebu kene.” Bantah Angga

“Coba di sekitar iki sekolah ora enek warung. Warunge gur jero kantin tok.” Kata Wisnu. Ia beranggapan semakin majunya sekolah dilihat dari banyaknya kantin atau warung di sekitar sekolah tersebut. Karena jika semakin banyak kantin atau warung maka semakin banyak muridnya yang aktif.

Maklumilah jika ada analisa yang salah kaprah, kami Cuma anak desa di sekolah swasta pinggiran dan baru kelas 1 smp.

Lalu kami lanjut menuju ke STAIN Surakarta. Untuk mencari warung yang bisa kami titipi dagangan kami.

“Aneh yo iki kan daerah Sukoharjo tapi kog iki kampus Surakarta?” ceplos Wisnu lagi.

Angga menjawab dengan panjang lebar.

Wisnu tidak terima, ia membalas dengan argumen lain.

Ah biasalah mereka emang sering berdebat. Dan ujung-ujungnya diem-dieman. Tapi biasanya engga sampe 2 jam ngambek-ngambeknya udah saling hilang.

Tapi ah sialnya lagi kenapa ketika ngambeknya mereka, diem-diem-annya mereka, malah kemudian aku yang jadi cerewet. Ngomong sendiri. aku yang nanya, aku juga yang jawab ! Kesannya malah aku kayak ngomong sama angin di jalan.

Siang itu akhirnya kami sampai di depan gerbang STAIN. Kami tidak sengaja bertemu guru kami. PNS muda pindahan dari jakarta baru 2 minggu ini. Beliau mengenal kami meskipun baru sekali mulang kelas kami. Beliau malah yang menyapa kami duluan.

“Lagi ngapain disini ?” tanya beliau sambil tersenyum.

Kalo aku wanita aku udah jatuh cinta sama dia” ucap wisnu di hari berikutnya ketika kami lagi nongkrong di warungnya Angga sepulang sekolah.

“Rumah pak guru keren.” Kataku lirih ketika di warung ibunya Angga, setelah itu aku segera menyeruput es teh buatan ibunya Angga.

Lalu mereka berdua bengong melihatku. Kemudian ibunya Angga tertawa melihat tingkah kami. diiringi angin sepoi yang berhembus dari utara hutan rumah Angga.

Jadi, waktu itu kami diajak mampir ke rumah pak guru ganteng, pak Wahyu namanya. Rumahnya di dekat STAIN. Beliau tinggal seorang diri. Orang tuanya sudah meninggal semua. Ibunya meninggal waktu dia SMA. Sementara ayahnya 1 bulan sebelum kepindahannya ke Solo. Ayahnya meninggal di Jakarta. Rumah tersebut adalah warisan dari kakeknya. Rumahnya Joglo jawa, namun di dalamnya modern bergaya semi Britania. Perpaduan seni yang unik. Beliau memelihara anak kucing hitam.

” Di desaku kucing hitam itu mitosnya malapetaka, kutukan.” Cerita pak Wahyu ketika waktu itu kami meyapa anak kucing peliharaan pak Wahyu yang masuk ke rumah, lalu aku bermain-main dengan kucing tersebut.

“Waktu itu aku berkunjung ke tempat kakekku di desa pelosok Jawa Timur.” Lanjut pak Wahyu. ” waktu itu ada kakek-kakek dan beberapa anak kecil melemparinya,” pak wahyu sambil menunjuk anak kucing peliharaannya tersebut,

“Dengan batu. Sambil mengucap ‘pergilah pembawa malapetaka desa, pergilah pembawa malapetaka desa’.”

“Kejam sekali pak…” cetus angga kasian melihat anak kucing didepannya yang sedang aku elus-elus.

“Iya adat di desa tersebut kayak gitu…” kata pak Wahyu. “Kalo udah berbicara adat mah susah..”

“setelah itu pak Wahyu nekat memungut kucing ini pak ?” tanyaku.

” aku enggak tega.. segera aku menghampiri mereka lalu menggendong si Kuro.”kata pak Wahyu. ” lalu aku bilang kepada mereka , eh malah aku juga dilempari, aku segera pergi deh lari, sambil menggendong kuro yg berdarah.”

“Sampe berdarah pak ???” teriak Wisnu.

“Hukumnya di desa kakekku malah dibunuh kalo ada kucing hitam.” Jawab pak Wahyu.

Hening sejenak. Kami bertiga merasa miris kog ada adat seperti itu.

“Soalnya dulu dulu banget jaman awal-awal desa itu berdiri, penduduknya diserang wabah aneh. Beberapa anak digigit kucing hitam jadi kesurupan sampai meninggal. Trus dukun di desa itu yang dipercaya sebagai titisan orang sakti ngasih perintah untuk ngebasmi semua kucing hitam yg masuk ke desa kakekku. Trus adat tersebut jadi turun temurun di desa kakekku. Desa kakekku sampai sekarang juga belum dimasuki listrik. Jadi masih pake obor gitu. Kapan-kapan main kesana mau gak?”

“Serem pak serem gak berani” jawab Wisnu dan Angga. Aku masih asyik bermain dengan kucing hitam tersebut.

“Apakah penyakit itu mungkin rabies ya pak?” tanyaku.

“Iya mungkin bisa jadi..” jawab pak guru

[bersambung…]

Nb: apa yang terjadi sebenarnya tentang penyakit kedua orang tua pak guru Wahyu? Apakah penyakit yang sangat berbahaya atau menular? Atau penyakit turunan? Apa juga hubungannya California dengan si tokoh utama yang tiba-tiba menceritakan masa lalunya? Apa juga yang terjadi tentang masa lalu pak Wahyu? Apakah mbah Edi yang mengganggu ekspedisi trio koplak Eza, Angga, dan Wisnu akan muncul di episode berikutnya? Disisi lain Kuro si kucing hitam imut ingin sekali membalas kebaikan tuannya. Akan kita bahas di eps selanjutnya, tapi entah kapan si penulis (saya) akan melanjutkan episodnya XD terima kasih untuk lagunya Aqua Timez – Ketsui no Asa Ni dan teman-teman SMP yang menjadi inspirasi cerbung saya kali ini 🙂

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *