Sejarah Afghanistan, Perjalanan Mencari Perdamaian, hingga Kini

Tanah yang sekarang disebut sebagai Afghanistan memiliki sejarah panjang tentang perjuangan mencari perdamaian. Sejarah Afghanistan didominasi oleh penakluk asing dan perselisihan antar faksi yang bertikai secara internal. Negeri ini seolah-olah tak pernah menikmati perdamaian.

Berada di gerbang antara Asia dan Eropa, Afghanistan telah ditaklukkan oleh Darius I dari Babilonia sekitar 500 SM. Alexander Agung dari Makedonia juga datang menaklukan negeri ini pada tahun 329 SM.

Belum lagi, Mahmud dari Ghazni, seorang penakluk abad ke-11 yang menciptakan sebuah kerajaan dari Iran ke India. Ia dianggap sebagai penakluk terbesar Afghanistan.

Sejarah panjang Afghanistan mencerminkan betapa berat perjuangan negeri ini dalam mendapatkan perdamaian. Bahkan, sejarah Afghanistan jauh lebih luas dari apa yang disajikan dalam artikel ini.

Artikel ini berusaha menampilkan gambaran perjuangan Afghanistan dalam mencari perdamaian dan kemakmuran. Mulai dari sejarah masa silam, hingga masa kini. Meski rasanya, tidak mungkin menyajikan setiap peristiwa di Afganistan yang tak pernah berhenti dilanda perang dalam satu timeline tunggal.

Hingga tulisan ini dibuat, Afghanistan masih berjuang untuk menemukan pemerintahan yang stabil dan menemukan kemakmuran bagi masyarakatnya. Semoga negeri ini bisa segera menikmatinya.

Perang Anglo – Afghan pertama (1838)

Jenghis Khan telah mengambil alih wilayah Afhanistan pada abad ke-13. Namun, baru pada tahun 1700-an daerah itu dipersatukan sebagai satu negara. Selanjutnya, Islam telah berakar di wilayah tersebut, bahkan setelah daerah itu diserang oleh berbagai penakluk Arab.

Selama abad ke-19, Inggris, yang berupaya melindungi kerajaan India-nya dari Rusia, berupaya untuk mencaplok Afghanistan. Keinginan ini menghasilkan serangkaian Perang Inggris-Afghanistan, mulai dari tahun 1838-42, 1878-80, hingga 1919-21.

Sejarah kekuasaan Inggris diawali oleh British East India Company, yang ingin menunjukkan dominasinya di Asia Tengah. Ia menyerbu Afghanistan, dengan cara mengontrol seorang penguasa yang sebelumnya diasingkan, untuk menjadi pemimpin Afghanistan, Shah Shoja.

Namun, ketidakpercayaan rakyat Afghanistan pada pemimpin ini menyebabkan dia dibunuh. Inggris masih berupaya untuk menduduki Afghanistan. Tapi, setelah perlawanan panjang, Inggris merasa tidak berdaya dan segera mundur kembali ke negara tetangga India di tahun 1943.

Monarki Afghanistan (1933-1973)

Setelah kematian Shah Shoja, Afghanistan segera saja diduduki oleh Amānullāh Khan, penguasa anti-Inggris yang terkenal. Ia berupaya memperkenalkan berbagai macam “reformasi sosial”.

Namun sayangnya, gerakan reformasi ini tidak cukup disambut oleh rakyat banyak. Ini membuatnya terpaksa melarikan diri ke tanah terdekat. Selanjutnya, Zahir Shah mengambil alih tanah tersebut.

Zahir Shah menjadi penguasa pertama monarki yang bertahan selama sekitar 40 tahun di tanah Afghanistan. Sepanjang 40 tahun ini, para pemimpin negara dapat berganti dengan damai beberapa kali. Ini termasuk Jenderal Mohammed Daud yang menjadi perdana menteri pada tahun 1953.

Dia adalah pemimpin pertama sejak Ḥabībullāh Khan yang beralih ke negara adidaya asing untuk mencari bantuan ekonomi. Dia memutuskan untuk beralih ke Rusia. Momentum ini menjadi pertama kalinya Soviet sangat terlibat dalam pemerintahan Afghanistan.

Mohammed Daud juga adalah pemimpin pertama Afghanistan yang mulai memperkenalkan reformasi sosial seperti praktik memisahkan perempuan dari pandangan publik.

Namun, Daud akhirnya memilih mengundurkan diri. Sayangnya, pengunduran diri ini membuat negara itu lemah dan rentan. Monarki konstitusional yang mengendalikan negara dari tahun 1963-1973 tampaknya tidak cukup berhasil membuat negara ini mapan.

Melihat hal ini, Daud kembali untuk mengambil alih kekuasaan sekali lagi. Hingga akhirnya, ia menjadi pemimpin terakhir dari Kerajaan Afghanistan

Soviet Invasion (1979)

“Mujahidin”, atau Muslim yang berusaha menggulingkan pemerintah komunis atas nama Jihad semakin kuat di pemerintahan ini. Kelompok ini berusaha menggulingkan pemerintah yang dipimpin oleh Nur Mohammad Taraki, yang dianggap sebagai pemerintah bergaya “Marxis-Leninis”.

Pemerintahan ini memang sangat dekat dengan Uni Soviet. Karenanya, gerakan kelompok militan ini menakuti sekutunya, Soviet. Pada bulan Desember 1979, Soviet menyerbu Afghanistan dengan niat menjaga pemerintahan komunis tetap terkendali.

Soviet dengan mudah merebut pemerintah dan pada 1980 melantik Babrak Karmal sebagai pemimpin Afghanistan yang didukung Soviet. Selanjutnya, Afghanistan berada di bawah kontrol Soviet.

Geneva Accords (1988)

Sebuah kelompok di Pakistan yang dipimpin oleh Mujahidin berniat untuk menggulingkan pemerintah Soviet. Kelompok anti-komunis ini mendapat dukungan dari Amerika Serikat. Banyak negara lain yang juga bergabung dengan inisiatif ini.

Sekutu-sekutu ini mulai memasok senjata dan keuangan kepada Mujahidin untuk membantu menjatuhkan Soviet. Soviet memutuskan untuk tidak terlalu terlibat dengan Afghanistan dan menanamkan penguasa asli, Najibullah.

Karena gejolak yang mulai tak terkendali, pada 15 Mei 1988, Uni Soviet, Afghanistan, Amerika Serikat dan Pakistan menandatangani perjanjian yang menyerukan penarikan Pasukan Soviet dari Afghanistan.

Namun, perjanjian perang ini tidak menyelesaikan segalanya. Perjanjian ini memiliki beberapa kelemahan besar sehingga memungkinkan pemerintah komunis untuk melanjutkan kekuasaannya di Afghanistan, meskipun tidak berafiliasi dengan Soviet. Meskipun Soviet telah hengkang dari Afghanistan, perang saudara antara pemerintah komunis yang ditinggalkan Soviet dan Mujahidin terus berlanjut.

Taliban mengambil kendali (1996)

Setelah Soviet meninggalkan Afghanistan, perang saudara atas kekuasaan masih berlanjut. Taliban muncul sebagai pemimpin Mujahidin. Pada saat itu, Taliban mendapat dukungan dari CIA dan ISI.

Pada bulan September 1996, Taliban mengambil alih Kabul (Capitol Afghanistan) atau Ibukota Afghanistan. Ia mengusir pemimpin komunis Burhanuddin Rababani.

Tanpa sepengatahuan CIA, saat Taliban menguasai Afghanistan, mereka membawa metode Islam yang sangat ekstrem. Sebagian besar dunia terkejut dengan pelanggaran hak asasi manusia yang diterapkan dalam metode ekstrem Taliban.

Misalnya saja, perempuan tidak diizinkan bekerja dan orang dirajam sampai mati dan bahkan diamputasi karena tidak mengikuti aturan Islam yang ketat. Penerapan hukum yang ketat ini menimbulkan kontroversi dan menimbulkan masalah dengan seluruh dunia.

Pada tahun 1998, Dewan Keamanan PBB memutuskan bahwa mereka akan ikut campur untuk mengakhiri perlakuan sewenang-wenang terhadap perempuan.

Hubungan al-Qaeda – Amerika Serikat

Dalam pemerintahannya, Taliban juga mengakui al-Qaeda, yang dipimpin oleh Osama bin Laden. Taliban mulai mendukung al-Quaeda dengan persetujuan bahwa mereka tidak akan memusuhi Amerika Serikat. Namun, kesepakatan ini tidak berlangsung lama.

Pada tahun 1998, al-Qaeda membom Kedutaan Besar AS di Afrika Timur. Momentum ini menjadi serangan pertama dari banyak permusuhan antara kedua kelompok.

Menyusul serangan 1998; pada tahun 2001 al-Quaeda dengan terkenal menyerang pusat Perdagangan Dunia di New York. Marah dengan serangan tersebut, Amerika Serikat meminta Mullah Omar, pemimpin Taliban, menyerahkan Osama bin Laden ke Amerika Serikat. Namun, dia menolak.

Operation Enduring Freedom (2001)

Setelah serangan 11 September, AS berusaha mati-matian untuk bisa menangkap Osama bin Laden. Tapi, orang-orang Afghanistan yang tidak mau menyerahkan Osama bin Laden menyulut kemarahan AS.

George W Bush dan Donald Rumsfeld (Presiden dan Sekretaris Pertahanan) sepakat untuk mengirim 60.000 tentara dengan niat menggulingkan Taliban. Langkah ini dinamai “Operation Enduring Freedom”.

Kekuatan besar AS secara efektif menggulingkan Taliban. Tahun 2001 menandai bermulanya invasi AS terhadap Afghanistan. Pemerintahan Afghanistan digantikan oleh pemerintah baru yang didukung oleh AS/ NATO. Sementara Taliban menjadi kelompok militan yang berusaha menguasai wilayah-wilayah Afghanistan dan menggulingkan pemerintahan.

Sejak invasi pimpinan AS pada tahun 2001 ini, Afghanistan selalu diselimuti ketakutan. Rasa aman seolah telah menguap. Perang Afghanistan telah menjadi perang terpanjang dalam sejarah AS.

Dengan berlalunya waktu, konflik tidak hanya menjadi lebih intens, tetapi juga menjadi lebih rumit. Serangan menjadi lebih besar, lebih sering, lebih luas dan lebih mematikan.

Kedua belah pihak, baik Taliban dan pemerintah Afghanistan yang didukung AS / NATO, berusaha untuk menang.

Intervensi NATO (2003)

Mulai September 2002, Taliban merasa cukup percaya diri di bawah penguasa Mullah Omar untuk mulai menyerang pasukan asing. Semua serangan itu disebut “Jihad”. Pada tahun 2002, terdapat 50 serangan dilakukan di pangkalan asing.

Selain itu, pertarungan individual ini terjadi hampir sepanjang musim panas tahun 2002, yang mengakibatkan banyak korban dari kedua pihak. Sepanjang tahun 2000-an terjadi pertempuran terus-menerus antara Taliban dan NATO, sehingga mengenai wilayah Afghanistan dan kekuatan masing-masing kota.

Pada tahun 2003, NATO mengambil kendali Pasukan Bantuan Keamanan Internasional. Pasukan ini memiliki niat untuk membantu rakyat Afghanistan dalam membangun kembali pemerintahan mereka, dan untuk melatih militer Afghanistan.

Mullah Omar, pemimpin Taliban, tidak menyetujui pasukan ini dan melancarkan serangan resmi pertama pada pasukan asing yang menyerang.

Pada tahun 2008, Amerika Serikat seolah merasa lelah dengan perang ini, dan berniat mengakhirnya dengan mengirim lebih dari 20.000 tentara. Pada 2008, Taliban menyerang pangkalan NATO di Provinsi Kunar yang mengakibatkan sekitar 90 warga negara terbunuh.

Sepanjang 2008, Taliban mulai menyerang jalur pasokan NATO, membakar truk kargo, dan serangan serupa tetap kuat hingga pertengahan 2010. Presiden Obama meningkatkan jumlah pasukannya di Afghanistan menjadi sekitar 88.000. Ini menjadi momentum yang menyebabkan berakhirnya Pelanggaran Taliban.

Withdrawal (2011 – sekarang)

Pada Juni 2011, presiden Obama memberikan “Drawdown speech” yang terkenal. Dia berjanji bahwa keamanan di Afghanistan akan sepenuhnya diserahkan kepada pasukan Afghanistan pada tahun 2014.

NATO menyetujui rencana penarikan pada Mei 2012. Tapi sayangnya, Taliban kembali melakukan penyerangan dan menunjukkan dominasinya. Bahkan, menurut PBB, lebih dari 10.000 warga sipil tewas atau terluka pada tahun 2017 akibat perang dengan Taliban.

Hingga AS diperintah oleh Donald Trump, peperangan dengan Taliban masih belum usai. Trump pun berupaya membuat berbagai rencana untuk sesegera mungkin mengakhiri perang dengan Taliban di Afghanistan.

Rakyat Afghanistan pun terus merindukan perdamaian yang benar-benar bisa dinikmati. Jelas, pertikaian panjang ini membuat ekonomi Afghanistan terhambat. Artinya, kesejahteraan rakyat sangat sulit untuk diraih.

Referensi :

  • Azami, Dawood . 2019. Afghanistan war: What could peace look like? Diakses dari https://www.bbc.com/news/world-asia-47733079
  • Bbc. 2018. Why Afghanistan is more dangerous than ever. Diakses dari https://www.bbc.com/news/world-asia-45507560
  • Maini, Tridivesh Singh . 2019. Regional Turmoil and Its Impact on Afghanistan’s Economy. Diakses dari https://thegeopolitics.com/regional-turmoil-and-its-impact-on-afghanistan/
  • Politica. 2014. A Historical Timeline of Afghanistan. Diakses dari https://www.pbs.org/newshour/politics/asia-jan-june11-timeline-afghanistan
  • Shenkenberg, Jacob . tt. Afghanistan: a Land Of Turmoil. Diakses dari https://www.sutori.com/story/afghanistan-a-land-of-turmoil–KMobvgfdPATer7mELuBoFrNd