Proses Pembentukan Tanah

Tanah adalah salah satu bagian dari lapisan bumi atau litosfer. Tanah berasal dari batu-batuan yang mengalami proses pelapukan dan beraneka tahapan tertentu. Proses pembentukan tanah ini melalui beberapa tahapan, yang diawali dari proses pelapukan yang berlangsung terus menerus sampai bahan induk tanah bisa berubah menjadi tanah.

Ada banyak tahapan yang terjadi hingga tanah bisa benar-benar terbentuk. Jika dirinci, terdapat sepuluh proses pembentukan tanah, yang meliputi : 1. Pencucian (leaching) 2. Asidifikasi 3. Eluviasi liat 4. Podsolisasi 5. Desilikasi 6. Reduksi 7. Salinisasi 8. Alkalisasi 9. Erosi 10. Deposisi (pengendapan).

Namun, proses pembentukan tanah ini secara umum dapat dibagi dalam empat tahapan besar, yakni : (1) proses pelapukan batuan, (2) pelunakan struktur, (3) tumbuhnya tumbuhan perintis, dan (4) proses penyuburan.

Proses Pelapukan Batuan

Tahap paling awal adalah adanya perubahan atau proses pelapukan batuan, yang dapat terjadi secara fisik maupun kimia. Batuan disebut sebagai bahan induk tanah. Batuan atau bahan induk ini melalui serangkaian proses fisik, berupa peningkatan atau penurunan suhu, pembekuan, pengeringan, aliran air atau angin.

Lambat laun, bahan induk ini juga mengalami pelapukan batuan dalam proses kimia dan atau biologi. Bahan induk tanah ini mengalami perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh adanya penambahan, pengurangan atau translokasi bahan-bahan. Hasilnya adalah terbentuknya penampang vertikal tanah dengan morfologi yang khas.

Pada tahapan ini, tanah mengalami perkembangan profil tanah. Batuan di tahan ini melunak sehingga mengalami perubahan komposisi. Batuan yang lapuk ini masih belum bisa disebut sebagai tanah, melainkan bahan tanah. Disebut bahan tanah karena material ini masih menunjukkan adanya struktur batuan induknya.

Proses Pelunakan Struktur Batuan

Batuan-batuan yang telah menjadi bahan tanah tadi akan mengalami proses pelunakan. Proses pelunakan bahan tanah ini banyak dipengaruhi oleh air dan udara. Air dan udara akan masuk dan merembes dalam sela-sela remahan batuan sehingga mengakibatkan lunaknya struktur batuan.

Air dan udara juga ikut mendorong calon mahluk hidup masuk di sela-sela remahan batuan sehingga dapat mulai tumbuh di permukaannya. Namun, tentunya hanya organisme tertentu yang mampu hidup dan berkembang pada tahapan ini, seperti mikroba dan lumut.

Proses pelapukan struktur batuan ini juga terjadi dalam rentang waktu yang lama. Diperkirakan oleh para ahli, proses pelapukan struktur batuan ini dapat berlangsung hingga jutaan tahun.

Tumbuhnya tumbuhan perintis

Struktur batuan yang telah selesai mengalami pelapukan akan memasuki proses tumbuhnya tumbuhan perintis. Jadi, pada batuan lunak tadi akan ditumbuhi aneka jenis tumbuhan perintis.

Tumbuhan perintis dapat berukuran lebih besar daripada lumut. Akar-akar tumbuhan perintis akan masuk ke sela-sela dalam batuan lunak tersebut. Keberadaan akar-akar inilah yang membantu pemecahan batuan.

Adanya asam humus yang mengalir dari bagian permukaan batuan juga memungkinkan batuan yang ada di bagian dalam bisa mengalami pelapukan secara sempurna. Di tahan inilah, akan mulai terjadi proses pelapukan biologi dimulai.

Proses Penyuburan

Kini, tanah telah terbentuk dan mulai mengalami tahapan untuk proses pengayaan bahan-bahan organik. Awalnya, tanah hanya mengandung mineral-mineral yang berasal dari proses pelapukan batuan.

Selanjutnya, akan terjadi proses penyuburan akibat adanya pelapukan materi-materi organik yang asalnya dari hewan dan tumbuhan yang mati di permukaannya. Dalam proses penyuburan ini, ada juga peran penting dari mikroorganisme tanah.

Setelah melalui proses penyuburan, terbentuklah tanah yang sempurna, yakni berupa tanah yang biasa kita lihat dalam sehari-hari. Dari tanah ini, kita bisa menyaksikan berbagai tumbuhan dan hewan autotrof memperoleh sumber makanannya dalam media tanah. .

Namun, perlu pula dipahami bahwa proses pembentukan tanah masih terus menerus berlangsung. Ini terjadi karena masih terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya tanah yang masih tetap ada.

Tahukah Kamu apa saja faktor pembentuk tanah? Faktor tersebut adalah : iklim, bahan induk, organisme, waktu dan topografi. Penjelasan lengkap bisa dibaca di faktor pembentuk tanah.

Sebagai tambahan, jenis pelapukan batuan sendiri secara umum dapat dibagi dalam tiga bentuk, yakni pelapukan kimiawi, pelapukan fisik, dan pelapukan biologi. Pelapukan kimiawi terjadi karena pengaruh hujan asam yang sering terjadi di awal proses terbentuknya bumi.

Asam yang dibawa oleh hujan dihasilkan dari kondensasi metana, sulfur, dan klorida. Zat ini bersifat sangat korosif sehingga membuat batu-batuan yang dilewati terkikis secara kimia. Karenanya seringnya terjadi hujan asam, batuan-batuan yang mengalami pelapukan cukup banyak dan dalam.

Pelapukan fisik terjadi karena pengaruh perubahan iklim dan cuaca ekstrim. Ikatan batuan menjadi lapuk dan mudah pecah lantaran adanya perubahan suhu yang ekstrim atau drastis. Dalam pelapukan fisik ini, struktur kimia batuan tidak mengalami perubahan dan mineral yang terkandung di dalamnya pun tetap sama.

Pelapukan biologi biasanya berlangsung secara terus menerus sejak awal proses pembentukan tanah, hingga setelah tanah terbentuk dan siap digunakan sebagai media hidup. Pelapukan biologi ini juga sering disebut sebagai pelapukan penyempurna dari sifat-sifat yang terbentuk di tanah.

Referensi :

1. Hartono. 2009. Geografi 1 Jelajah Bumi dan Alam Semesta : untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas /Madrasah Aliyah. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
2. Pandu, Ken. 2016. Proses Pembentukan Tanah beserta Ilustrasinya Lengkap. http://www.ebiologi.net/2016/02/proses-pembentukan-tanah.html
3. Anwar, Syaiful dan Dyah Tjahyandari. Tt. Modul 1 : Jati Diri Tanah. Diakses dari http://repository.ut.ac.id/4403/1/LUHT4212-M1.pdf

Materi lain:

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *