Bangladesh: Perjuangan Melawan Kemiskinan

Mendengar nama Bangladesh, apa yang Anda pikirkan? Banyak orang akan segera berpikir tentang “kemiskinan” ketika ia mendengar nama negara Bangladesh. Bangladesh merupakan salah satu negara terpadat di dunia, dengan penduduk yang hidup berjejalan dalam delta sungai yang bermuara di Teluk Bengal.

Negara ini ditempatkan dalam kelompok negara dunia ketiga. Secara etimologi, istilah “dunia ketiga” dicetuskan oleh seorang ekonom dan demografi Perancis bernama Alfred Sauvy. Ia menganggap negara-negara berkembang di Asia Selatan, Amerika Latin dan Afrika sebagai seperti Negara Dunia Ketiga. Ini menggambarkan betapa miskin negara tersebut, atau betapa buruk ekonomi negara tersebut.

Bangladesh bahkan sering disebut sebagai salah satu negara termiskin di dunia. Tak lama setelah kemerdekaannya, sekitar 82% masyarakat Bangladesh hidup di bawah garis kemiskinan. Tentu ini adalah kondisi yang memprihatinkan.

Namun, tahukah Anda bahwa Bangladesh telah berjuang melawan kemiskinan ini? Sejak reformasi ekonomi dan liberalisasi perdagangan yang dilakukan Bangladesh pada awal 1990-an, bersama dengan percepatan pertumbuhan ekonomi sejak awal 2000-an, Bangladesh telah mengalami kemajuan dramatis dalam usahanya mengurangi kemiskinan.

Menurut Bank Dunia, lebih dari 33 juta orang Bangladesh telah keluar dari kemiskinan sejak tahun 2000. Ini adalah pencapaian yang menggembirakan. Di tahun 2019, Bangladesh telah menjauh dari peringkat negara-negara termiskin di dunia. Bangladesh telah berada di peringkat ke-50 penduduk termiskin di dunia, dengan GDP per kapita 4,993.

Kemajuan luar biasa dalam pengentasan kemiskinan yang dilakukan Bangladesh telah diakui oleh lembaga internasional. Kemiskinan masih tersebar luas, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, Bangladesh sukses mengurangi pertumbuhan populasi dan meningkatkan kesehatan dan pendidikan.

Kenapa Bangladesh Begitu Miskin?

Ketika pertama kali Bangladesh menjadi negara berdaulat di tahun 1971, Bangladesh sangat miskin. Tingkat pertumbuhan PDB -14%. Ketidakstabilan politik semakin mengacaukan negara ini. Bangsa ini semakin hancur lantaran bencana banjir dan kelaparan.

Bangladesh masih dianggap sebagai salah satu negara miskin di dunia. Salah satu alasan utama mengapa Bangladesh miskin adalah permulaan politik negara dan perjuangan kemerdekaannya. Perjalanan kemerdekannya mengakibatkan kurangnya pembangunan di negara itu. Berikut adalah faktor penyebab Kemiskinan di Bangladesh :

# Kemerdekaan yang Berawal dari Perpecahan

Sejarah Bangladesh bermula pada tahun 1947, di saat pemerintahan Inggris atas India berakhir. Saat itu, dan Pakistan Barat dan Timur didirikan di kedua sisi India. Namun, masih ada perpecahan dalam Pakistan yang tak terselesaikan. Hingga di tahun 1971, setelah perang sembilan bulan, kaum nasionalis Bengali memenangkan kemerdekaan dari Pakistan.

Kaum Bengali inilah yang lantas menjadi negara yang sekarang dikenal sebagai Bangladesh. Setelah kemerdekaannya dari Pakistan, Bangladesh harus berjuang untuk menjadi negara yang mapan dan mandiri. Tapi, langkah ini ternyata tidak mudah.

#Gejolak Politik yang Terus Menerus

Dari tahun 1975 hingga 1991, Bangladesh terus menerus mengalami gejolak politik, antara diperintah oleh kudeta militer dan pemerintah parlementer. Pada tahun 1991, Bangladesh baru mulai menata sistem parlementer yang saat ini sedang digunakan saat ini.

Namun, dari 1991 hingga 2009, terdapat siklus dua pemimpin yang menjalankan negara. Satu pemimpin akan bekerja untuk dua masa jabatan dan kemudian pemimpin lainnya akan bekerja pada dua masa jabatan berikutnya. Ini justru menyebabkan ketidakstabilan di negara tersebut karena tidak memungkinkan negara untuk fokus pada warga negara Bangladesh.

# Kesenjangan Masyarakat Tinggi

Ada kesenjangan yang lebar antara warga kelas atas dan warga kelas bawah di Bangladesh. Ini sebagian besar disebabkan oleh kota-kota besar seperti ibu kota Bangladesh, Dhaka, yang menjadi pusat kota metropolitan.

Kekayaan dan pembangunan terkonsentrasi di kota-kota besar dan semakin menjauhkan orang dari daerah miskin. Orang-orang di luar daerah-daerah ini menjadi lebih miskin. Distribusi barang difokuskan pada kota-kota besar sehingga masyarakat di daerah pedesaan semakin sulit untuk mencari nafkah.

# Pendidikan yang Rendah

Meskipun ada peningkatan stabilitas dan PDB selama beberapa tahun terakhir, kelas bawah di Bangladesh masih mengalami kesulitan terhadap akses pendidikan. Kesenjangan ekonomi sekaligus berdampak pada kesenjangan pendidikan. Lebih banyak daerah yang memiliki fasilitas pendidikan rendah. Ini membuat SDM di Bangladesh ikut rendah.

# Kesehatan Rendah

Kesehatan masyarakat Bangladesh terhitung rendah. Angka harapan hidup rendah sementara tingkat kematian bayi cukup tinggi. Kondisi ini memprihatinkan sehingga menghambat negara dalam proses pembangunan.

Kemajuan Ekonomi Bangladesh

Tak ingin terjebak dalam kemiskinan yang panjang, Bangladesh menunjukkan upaya yang masif untuk mengubah status negaranya. Banyak hal telah bergerak. Bangladesh telah digolongkan oleh PBB sebagai salah satu negara paling tidak berkembang di dunia (LDC) sejak 1975.

Namun, Bangladesh diprediksi akan segera melepaskan diri dari status tersebut. Bangladesh di tahun 2019 memiliki tingkat pertumbuhan rata-rata 8%. Menurut Asian Development Bank, angka ini jauh di atas rata-rata pertumbuhan Asia, termasuk India. Apalagi, tahun 2019 adalah tahun ketika berbagai negara di dunia menghadapi resesi global.

Jika pencapaian ekonomi ini terus berlangsung, Bangladesh diperkirakan mampu melepaskan status “Least developing country” atau “negara paling tidak berkembang” dalam lima tahun ke depan.

Bangladesh telah menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, melebihi pertumbuhan 6 persen per tahun antara 2004 dan 2015. Pertumbuhan PDB meningkat melebihi angka 7 persen sejak masa reformasi ekonomi yang dilakukannya.

Bangladesh bahkan diproyeksikan akan secara bertahap melampaui pertumbuhan 10 persen hingga 2030. Prestasi ekonomi ini juga diiringi dengan prestasi sosial di Bangladesh yang semakin positif.

Terjadi pengurangan kemiskinan secara dramatis dan pencapaian ini telah diakui sebagai prestasi menarik bagi organisasi internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Antara 1972 dan 2018, populasi Bangladesh hidup dengan kurang dari $ 1,90 / hari. Kemiskinan tercatat 82%.

Tapi angka ini meningkat dramatis hingga menjadi 9% di tahun 2019. Antara 2008 dan 2018, Pendapatan per kapita di negara ini meningkat 149%. Dalam The Global Competitiveness Report 2019 dari World Economic Forum, Bangladesh berada di urutan ke-105.

Sungguh pencapaian yang luar biasa. Semakin kompetitif suatu negara, semakin besar kemungkinan negara itu dapat meningkatkan standar hidup. Ini menjadi bukti bahwa Bangladesh benar-benar berjuang untuk bisa keluar dari keterpurukan ekonomi, dan melepaskan diri dari cap “negara termiskin di dunia”.

Transformasi Bangladesh : Mengentaskan Diri dari Kemiskinan

Lantas, apa yang membuat Bangladesh mampu mencapai berbagai prestasi tersebut? Kuncinya terletak pada transformasi ekonomi yang dilakukan Bangladesh. Namun, kapan pastinya transformasi ekonomi dilakukan? Tidak ada jawaban pasti. Hanya petunjuk yang memperlihatkan bahwa transformasi ekonomi Bangladesh sebagian besar didorong oleh perubahan sosial, yang dimulai dengan pemberdayaan perempuan.

Visi Perdana Menteri Sheikh Hasina yang menekankan pada pemberdayaan perempuan dalam pembangunan masyarakat secara keseluruhan dianggap sebagai faktor utama perubahan Bangladesh. Perempuan mendominasi masyarakat Bangladesh. Karenanya, Perdana menteri yang juga perempuan ini percaya bahwa tanpa kemajuan perempuan, pembangunan negara tidak mungkin.

Tidak ada yang menyangkan bahwa Bangladesh akan mencapai pertumbuhan ekonomi sesukses ini. Pada tahun 2006, ketika kondisi Bangladesh mencatatkan pertumbuhan yang lebih cepat daripada Pakistan, hal ini bahkan dianggap sebagai kebetulan. Sebab, transformasi ekonomi Bangladesh sebelumnya tak pernah berhasil memuaskan.

Namun, tahun itu menjadi momentum berharga. Tahun 2006 menjadi titik belok bagi Bangladesh karena sejak saat itu, pertumbuhan PDB tahunan Bangladesh selalu melampaui angka Pakistan, sekitar 2,5 poin persentase per tahun. Bahkan, di tahun 2019, tingkat pertumbuhan Ekonomi Bangladesh telah melampaui India.

Ini menunjukkan bahwa perbaikan ekonomi Bangladesh bukanlah kebetulan. Reformasi ekonomi yang dimulai dengan penerapan kebijakan ekonomi yang ramah investasi, privatisasi industri publik, disiplin anggaran, dan liberalisasi perdagangan, menjadi elemen kunci di balik percepatan ekonomi Bangladesh.

Ketika pertama kali berkuasa pada tahun 1996, PM Sheikh Hasina menghapus monopoli dalam industri telekomunikasi sehingga membuka jalan bagi persaingan yang ketat antara perusahaan.

Sebagai konsekuensi, masyarakat Bangladesh menikmati salah satu data seluler termurah dan biaya penggunaan ponsel terendah di dunia. Hal ini telah membantu layanan keuangan seluler Bangladesh juga mampu berkembang secara global.

Saat berkuasa, Sheikh Hasina telah membuka banyak sektor yang secara tradisional disediakan untuk sektor publik untuk sektor swasta, termasuk kesehatan, perbankan, pendidikan tinggi, TV dan bahkan zona pemrosesan ekspor dan ekonomi.

Pada saat yang sama, pemerintahnya memperluas program kesejahteraan secara substansial. Program ini bertujuan untuk mengangkat populasi yang paling miskin dan paling terabaikan. Pemerintah meningkatkan subsidi untuk elemen-elemen penting ekonomi lainnya seperti pertanian. Filosofi perkembangannya adalah campuran dari kebjakan kapitalistik dan sosialistik.

Penurunan pertumbuhan populasi juga membantu peningkatan pendapatan per kapita di Bangladesh. Bangladesh telah menunjukkan peningkatan luas dalam berbagai aspek seperti kesehatan, pendidikan, kematian bayi dan harapan hidup. Inilah yang mendorong pertumbuhan dan mengurangi kerentanan ekonomi.

Pemberdayaan perempuan, sebagai SDM terbesar yang dimiliki Bangladesh juga banyak berkontribusi.Jumlah pekerja yang bekerja di bawah garis kemiskinan turun dari 73,5% pada 2010 menjadi hanya 10,4% pada 2018.

Peningkatan industri di Bangladesh turut mendorong pertumbuhan ekonomi secara masif. Salah satunya adalah Industri Garmen. Perdagangan garmen yang dimulai di Bangladesh pada tahun 1970-an, sekarang merupakan industri bernilai $ 30 miliar. Bahkan, Bangladesh telah melampaui Pakistan dan India.

Tetapi, tak hanya industri garmen yang berkembang di Bangladesh. Ekonomi Bangladesh mengalami diversifikasi sehingga menghasilkan percepatan ekonomi yang lebih luas.

Sektor jasa misalnya, termasuk keuangan mikro dan komputasi juga berkembang baik. Nilainya mencapai 53% dari PDB negara. Keberhasilan industri TI sebagai pusat transformasi digital dan pertumbuhan ekonomi Bangladesh yang berkelanjutan juga semakin masif. Sektor ini mengekspor hampir $ 1 miliar produk teknologi setiap tahun. Negara ini juga memiliki 600.000 freelancer IT yang banyak diandalkan.

Referensi :

  • Basu, Kaushik. 2018. Why is Bangladesh booming? Diakses dari https://www.brookings.edu/opinions/why-is-bangladesh-booming/
  • Bbc. 2019. Bangladesh country profile. Diakses dari https://www.bbc.com/news/world-south-asia-12650940
  • International Monetary Fund, World Economic Outlook April 2019.
  • Rahman, Salman Fazlur. 2019. The secret to Bangladesh’s economic success? The Sheikh Hasina factor. Diakses dari https://www.weforum.org/agenda/2019/10/the-secret-to-bangladesh-s-economic-success-the-sheikh-hasina-factor/
  • Rooney, Katharine. 2019. Here’s what you need to know about Bangladesh’s rocketing economy. Diakses dari https://www.weforum.org/agenda/2019/11/bangladesh-gdp-economy-asia/
  • Ventura, Luca. 2019. The World’s Richest and Poorest Countries 2019. Diakses dari https://www.gfmag.com/global-data/economic-data/worlds-richest-and-poorest-countries
  • Wetmore, Deanne. 2017. Why Bangladesh is Poor? https://borgenproject.org/why-bangladesh-is-poor/
  • WorldBank. 2019. The World Bank In Bangladesh. Diakses dari https://www.worldbank.org/en/country/bangladesh/overview#1

Bacaan lain:

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *