Perempuan Lansia Teladan Generasi Milineal

  • 7
    Shares

Ditengah hiruk pikuk kota Solo, ada kisah nyata menarik di Panti Jompo Aisyiyah. Panti Jompo Aisyiyah, tidaklah jauh dari pusat kota Solo. Tepatnya beralamat di Jalan Pajajaran Utara III No. 7 Sumber, Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah. Sebuah Panti Jompo yang merupakan tempat berkumpulnya ibu-ibu lansia dari berbagai daerah di Indonesia.

Kebanyakan dari mereka adalah perempuan-perempuan yang kurang mampu dan sama sekali tidak memiliki keluarga. Rata-rata mereka berumur 70an keatas. Suasana tenang, damai dan hangat terlihat saat kami yang tergabung dalam sebuah perkumpulan mahasiswa swasta di Surakarta mengadakan kegiatan memperingati Hari Ibu pada tanggal 23 Desember 2018. Budaya saling sapa, saling melempar senyum sepertinya sudah menjadi kebiasaan ibu-ibu lansia di Panti ini.

Persinggahan istimewa, begitulah kira-kira saya menyebutnya. Istimewa karena semua penghuninya adalah perempuan. Perempuan-perempuan hebat yang memiliki semangat muda. Dari sekian perempuan hebat di dalam panti ini, ada sepotong kisah nyata datang dari perempuan berkerudung panjang.

Tatit adalah sapaan akrab kesehariannya. Ibu Tatit merupakan ibu yang paling rajin mengerjakan amalan-amalan sunah. Malam-malamnya selalu diisi dengan dzikir, bahkan sholat sunah tahajud sudah menjadi kebiasaannya. Padahal jam-jam menjelang pagi merupakan waktu tersulit untuk bangun apalagi untuk mengambil air wudhu.

Diwaktu pagi, sholat dhuha tak pernah ia lewatkan. “Saya kalau dalam satu bulan, bisa khatam qur’an 2 kali” celoteh beliau. Selain itu, puasa sunah pun tak pernah ia tinggalkan. Sungguh menakjubkan. Di usia yang ke 73, beliau justru menunjukkan eksistensinya bahwa usia bukanlah alasan untuk kita tidak berbuat sesuatu.

“Amalan-amalan yang kita kerjakan saat ini akan menolong kita di hari perhitungan kelak, walaupun semua kembali pada rahmat Allah SWT ” pesan beliau. Tidak ada support keluarga sama sekali, namun kesehariannya selalu dipenuhi tawa. Yang ada dalam pikirannya hanya berupaya, berupaya dan berupaya.

Usia tidak membuatnya semakin lemah, justru bersama usia upaya-upaya itu dapat dilakukan secara konsisten. “Memang secara fisik, saya sudah agak loyo. Tapi menurut saya, akan sia-sia jika waktu luang di Panti hanya saya gunakan untuk tidur saja. Kalau saya tidak mampu untuk duduk terlalu lama, saya berbaring sejenak sembari berdzikir” tutur ibu Tatit.

Husnudzon

Tidak ada yang mampu menerjemahkan isi hati manusia, kecuali Dzat Sang Pemilik Hati. Begitu pun manusia yang notabennya masih lemah perkara hati. Hati yang bermasalah adalah hati yang didalamnya masih diselimuti kecurigaan atas apa yang dilakukan oleh orang lain.

Oleh karenanya sikap husnudzon itu perlu. Seperti tergambar pada sebuah persahabatan. Akan selalu ada kebaikan yang diberikan dalam persahabatan. Persahabatan sejati adalah persahabatan dimana didalamnya selalu ada sikap husnudzon antara yang satu dengan yang lainnya.

Suatu waktu, kamu merasa kawanmu mengecewakanmu, tidaklah elok kita menanggapi hal itu. Justru dengan mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan akan menepis segala kecewamu. Disinilah husnudzon menampakkan keindahannya. Sungguh indah bukan?

Sebagaimana kisah menarik yang dipaparkan oleh nenek Tatit. Kisah nyata yang berangkat dari lingkungan beliau sebelum tinggal di Panti Jompo Aisyiyah. Sebuah kisah si kaya dan si miskin. Kala itu listrik sedang padam. Suara petir menggelar.

Langit semakin gelap. Pertanda akan segera turun hujan. “Syukur deh kita punya persediaan lilin banyak, jadi tidak perlu repot-repot keluar beli lilin”,seru si kaya dalam hati. “Pasti tetangga sebelah bakal kesini, awas aja tidak akan ku kasih”, gerutu si kaya sambil menyalakan lilin.

Srek, srek, srek suara langkah kaki yang sudah tidak asing lagi bagi si kaya.

Si miskin : tok, tok, tok. Assalamualaikum ?

Si kaya : benar kan dugaanku, si miskin itu bakal datang kesini (ucapnya dalam hati). (Berjalan mendekati pintu dengan tetap memasang wajah biasa). Waalaikumsalam?

Si miskin : Selamat malam bu, apakah ibu memiliki persediaan lilin? (sambil melempar senyum ceria dengan menenteng kantong plastik hitam ditangannya)

Si kaya : (masih menggerutu dalam hati) benar kan? , tidak salah lagi dugaanku, sepertinya anak ini sudah siap menampung lilin pemberianku (dengan mata tertuju menatap kantong plastik hitam yang berada ditangannya). Tidak nak, kami tidak memiliki persediaan lilin sama sekali.  (Padalal lilin persediaanku masih tersisa 1 pack, enak saja dia menerima lilinku secara cuma-cuma. Akan menjadi kebiasaan kalau aku memberikan secara cuma-cuma) batinnya berucap lagi.

Si miskin : owh kebetulan bu, kami memiliki persediaan lilin yang banyak (sambil menyodorkan plastik hitam yang didalamnya berisi lilin)

Si kaya : (dengan hati kecewa dan mata berkaca-kaca) terimakasih nak, lilin ini sangat bermanfaat untuk menerangi rumah kami.

Si miskin : Sama-sama bu, sesama manusia sudah menjadi suatu kewajiban untuk saling membantu , meringankankan beban-beban saudara-saudara kita. Kalau begitu saya pamit dulu bu, wassalamualaikum (sambil mencium tangan si kaya).

“Betapa malunya si kaya, sikap suudzonnya justru membuat ia menyesal atas apa yang ia pikirkan tentang si miskin yang selalu menjadikan rumahnya rujukan untuk meminta”, sambung ibu Tatit. Dapat dipetik hikmah dari sikap husnudzon ini.

Menanamkan sikap husnudzon merupakan langkah awal sebagai perbaikan hati. Husnusdzon menghindarkan kita dari sikap prasangka buruk. Husnudzon menjadikan hati tenang dan damai. Kebahagiaan akan hadir dari sikap husnusdzon yang mengantarkan pada kerukunan persaudaraan.

Sedikit kisah menyayat hati, disampaikan oleh sosok yang enerjik, bijaksana dan dermawan. Enerjiknya terlihat pada kelihainya bercerita padahal secara fisik sudah terlihat lemah. Bijaksananya beliau tergambar pada petuah-petuah yang disampaikan dan penyampaian dengan bahasa yang mudah dipahami serta sarat akan hikmah.

Dan kedermawanan beliau yang bersedia bercerita didepan kawan-kawan sejawatnya di Panti Jompo. Ibu Tatit sangat tegas dengan kegiatannya sehari-hari, karena menurutnya apa yang dia lakukan akan bermanfaat untuk dirinya ketika masih hidup di dunia dan saat beliau sudah tiada.

Tidak Sekedar Ayat – Ayatnya, Beliau Hafal Kisah – Kisah Yang Tertulis di Alquran

Mempelajari al-qur’an  merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim. Sudah menjadi biasa, kalau hanya membaca huruf arabnya saja. Padahal akan lebih menarik, jika mengetahui artinya dan memahami makna pada setiap surah di Al-qur’an.

Betapa banyaknya putra-putri  di negeri ini yang sudah menyandang gelar hafidz maupun hafidzah. Berbagai inovasi-inovasi pembelajaran menarik difasilitasi oleh ahlul qur’an dalam menyampaikan apa yang ia pelajari dari al-qur’an.

Ada yang menyampaikannya melalui ceramah yang sering kita jumpai di majelis ta’lim, ada juga melalui suatu metode pengajaran di lembaga pendidikan seperti guru misalnya. Ada juga melalui suatu karya sastra baik fiksi maupun non fiksi yang dikemas dengan bahasa khas penulis. Bahkan di era digital ini, banyak yang memanfaatkan media sosial sebagai media dakwah untuk menyampaikan kisah-kisah yang terkandung dalam al-qur’an.

Tidak hanya pada kaum muda, ternyata semangat mempelajari dan memahami isi al-qur’an terlihat  pula pada sosok ibu Tatit. Kemahiran beliau nampak jelas pada saat beliau menceritakan kesehariannya di Panti Jompo Aisyiyah. Setiap waktunya tidak pernah terlewatkan untuk membaca al-qur’an.

“Kegiatan saya disini cuma tidur, makan. Yaa kalau ada kegiatan resmi dari panti paling cuma disuruh duduk-duduk saja”, cerita ibu Tatit. “Al-qur’an selalu membersamai hari-hari saya, bahkan dalam satu bulan saya mampu mengkhatamkannya 2 kali”sambung lagi cerita beliau. Sungguh istimewanya al-qur’an bagi ibu berusia 73 tahun ini.

Keistimewaan perempuan ini semakin terlihat jelas pada saat beliau menanyakan kisah Uwais al Qarni kepada pembicara yang merupakan narasumber pada kegiatan memperingati hari ibu. “Assalamualaikum ustadzah? Sebelum saya bertanya, saya ingin bercerita terlebih dahulu.

Saya sering membaca al-qur’an (Dengan gaya bicara yang medhok), banyak kisah menarik di al-qur’an. Seperti surah yusuf, surah maryam dan masih banyak lagi. Namun kenapa kok Uwais al Qarni namanya tidak dibukukan dalam surah oleh Allah?

Padahal nama Uwais terkenal di langit, terimakasih ustadzah (seketika ibu Tatit melempar senyum kepada pembicara). Semoga ustadzah dapat memberikan penjelasan yang mudah dimengerti untuk saya dan ibu-ibu disini (dengan wajah penuh harap). Tatapan mata audien seketika beralih pada ibu Tatit. Bahkan ada beberapa audien yang meneteskan air matanya. Apakah karena rasa haru atau ada rasa lain yang ingin diungkapkan?

(Dengan melempar balik senyuman kepada ibu Tatit, narasumber seketika menjawab pertanyaannya) Kisah Uwais al Qarni memang sangat istimewa. Namanya mahsyur di antara penghuni langit. Walaupun menyandang gelar anak yatim tidak menjadikannya sebagai pemuda lemah.

Tabiin  kesayangan Rasulullah ini adalah pemuda yang sangat mencintai ibunya. Tidak hanya cinta, kepatuhannya sangat tidak diragukan lagi. Bahkan Rasulullah sendiri yang memerintahkan kepada sahabat-sahabatnya  untuk mencari Uwais al qarni dan meminta doa serta istighfar darinya. Inilah yang membuat namanya harum diantara penduduk langit. Allah pun sangat mencintai Uwais al Qarni. Perihal kisah Uwais al Qarni di dalam al-qur’an terdapat pada surah at-taubah ayat 100 yang artinya :

“Dan orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung”.

Dalam ayat ini kisah Uwais al Qarni digambarkan oleh az-Zahabi dalam syiar A’lami an-Nubala (penjelasan oleh pembicara).

Diusianya yang terbilang tua, tidak menyurutkan ibu Tatit untuk terus berprogres. Kesehariannya selalu diisi dengan kegiatan-kegiatan spiritual yang menggungah hati. Gelar perempuan teladan pantas untuk  beliau dapatkan. Tidak ada alasan untuk malas-malasan selagi umur masih muda. Menggali terus potensi yang terpendam.Dan selalu dekat dengan Allah dalam keadaan apapun juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *