Pengertian Tenaga Endogen dan Macamnya

Masih ingatkah Kamu tentang litosfer? Lapisan kulit atau kerak bumi, yang biasa dianalogikan sebagai cangkang pada telur. Pada lapisan litosfer inilah, kita akan menemukan dinamika yang sangat beragam, yang bisa kita amati.

Di bawah lapisan litosfer, terdapat astenosfer, yang pada analogi cangkang telur disepadankan dengan putih telur. Astenosfer adalah lapisan yang sifatnya cair kental dan memiliki suhu sangat tinggi alias sangat panas.

Cairan astenosfer yang panas ini ternyata dapat menjadi suatu kekuatan besar bagi bumi sehingga dapat menggerakkan lempeng-lempeng secara tidak beraturan. Kekuatan yang berasal dari dalam bumi dan diberikan oleh astenosfer inilah yang dinamakan sebagai tenaga endogen.

Pengertian tenaga endogen

Jadi, sudah paham apa maksud dari tenaga endogen? Kita bisa menarik kesimpulan pengertian tenaga endogen sebagai suatu tenaga yang berasal dari dalam perut bumi dan mengakibatkan adanya aktivitas di kerak bumi, sehingga mengakibatkan adanya dampak yang dapat membentuk penampakan di muka bumi.

Aktivitas tenaga endogen ini bisa mempengaruhi aneka bentuk penampakan yang unik di muka bumi. Tenaga endogen dapat menimbulkan variasi bentuk muka bumi, yang bisa terjadi di daratan dan juga di dasar laut.

Macam Tenaga Endogen

Ada beberapa macam tenaga endogen. Macam tenaga endogen atau aktivitas endogen ini meliputi : (1) tektonisme (aktivitas gerakan lapisan bumi), (2) vulkanisme (aktivitas gunung api), dan (3) seisme (gempa).

1# TEKTONISME

Tektonisme merupakan tenaga yang berasal dari dalam perut bumi berupa aktivitas gerakan lapisan bumi, yang menyebabkan perubahan letak (dislokasi) atau perubahan bentuk (deformasi) dari kulit bumi.

Untuk memahaminya, kita bisa melihat hubungan antara kulit bumi dan lapisan di bawahnya. Kulit bumi atau litosfer yang ketebalannya relatif tipis ini rentan pecah ketika terdapat dorongan atau gerakan. Adanya dorongan dari dalam bumi membuat kulit bumi mudah pecah menjadi potongan-potongan kulit bumi yang berwujud tak beraturan. Potongan inilah yang biasa disebut sebagai lempeng tektonik.

Lempeng tektonik ini terus mengalami pergerakan secara horizontal dan vertikal akibat adanya arus arus konveksi pada lapisan di bawahnya (astenosfer). Nah, gerakan lempeng tektonik inilah yang merupakan salah satu macam tenaga endogen, yang disebut sebagai tektonisme.

Berdasarkan luas dan waktu terjadinya, gerakan lempeng tektonik digolongkan dalam dua jenis, yakni gerak epirogenetik dan gerak orogenetik.

Gerak epirogenetik, merupakan suatu gerak atau pergeseran dari lapisan kerak bumi yang berlangsung dalam waktu relatif lambat sehingga membutuhkan waktu lama, dan dampaknya meliputi daerah yang luas. Contoh gerak epirogenetik : penenggelaman benua Gondwana menjadi Sesar Hindia.

Gerak epirogenetik bisa disebut sebagai gerak epirogentik positif ketika daratan yang mengalami penurunan sehingga tampaknya permukaan air laut yang naik. Contoh: Turunnya pulau-pulau di Indonesia bagian timur (Kepulauan Maluku dari pulau-pulau barat daya hingga ke pulau Banda).

Sedangkan dikatakan gerak epirogentik negatif, ketika daratan menaik sehingga kelihatannya permukaan air meturun. Contoh: naiknya Pulau Buton dan Pulau Timor.

Gerak orogenetik, merupakan proses pembentukan pegunungan yang meliputi luas areal relatif sempit dan berlangsung dalam waktu relatif singkat. Gerakan otogenetik ini biasanya banyak membentuk pegunungan, patahan dan lipatan.

Contoh gerak orogenetik : pembentukan pegunungan-pegunungan, seperti Pegunungan Andes, Pegunungan Seribu, Rocky Mountain, Sirkum Mediterania, Pegunungan Verbeek, Bukit Barisan.

Gerak orogenetik mendorong adanya tekanan horizontal dan vertikal pada kulit bumi, sehingga mengakibatkan dislokasi atau berpindah-pindahnya letak dari lapisan kulit bumi. Dislokasi inilah yang dapat menyebabkan terjadinya lipatan dan patahan.

Dinamika bumi akibat adanya aktivitas teknonisme ini dapat memberikan dampak positif juga negatif. Dampak negatif tektonisme yang paling mudah dirasakan adalah adanya peristiwa gempa bumi, tsunami, erosi dan longsoran.

Di sisi lain, tektonisme juga bisa bisa memberi dampak positif yang sering tidak disadari manusia, seperti munculnya kantong-kantong minyak dan gas alam di lipatan atau patahan akibat gerakan lempeng.

2# VULKANISME

Tenaga endogen berupa aktivitas vulkanisme merupakan suatu peristiwa yang berhubungan dengan pembentukan gunung api. Adapun pengertian vulkanisme adalah pergerakan magma dari dalam litosfer yang menyusup menuju lapisan yang lebih atas atau dapat mencapai ke permukaan bumi.

Magma adalah isi bumi yang bersifat cair dan secara umum mengandung batuan serta gas bersuhu sangat tinggi. Suhu yang sangat panas ini mengakibatkan adanya gejolak magma sehingga berpotensi meretakkan, menggeser, maupun menyusup menuju lapisan Bumi di atasnya.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa gejala vulkanisme ini terjadi akibat penyusupan magma.

Magma yang ada di dalam litosfer, menempati suatu kantong yang disebut sebagai dapur magma (Batholit). Besar dan kedalaman dapur magma bervariasi. Beberapa dapur magma terletak sangat dalam, sementara lainnya ada yang berada dekat dengan permukaan bumi.

Perbedaan letak kedalaman magma ini menyebabkan adanya perbedaan kekuatan letusan yang dapat terjadi ketika magma menyusup keluar. Dapur magma yang dalam justru lebih mampu menimbulkan dampak letusan yang lebih kuat jika dibanding dapur magma yang letaknya dangkal.

Magma sendiri mengandung bahan-bahan silikat pijar yang terdiri dari bahan padat (batuan), cairan, dan gas yang letaknya ada di dalam lapisan kulit bumi (litosfer). Macam gas yang terdapat di dalam magma berupa uap air, Oksida Belerang (SO2), Gas Hidrokarbon atau Asam Klorida (HCL), Gas Hidrosulfat atau Asam Sulfat (H2SO4).

Bentuk gerakan magma terkait dengan aktivitas vulkanisme dapat dibedakan dalam dua macam, yakni intrusi dan ekstrusi magma.

Intrusi magma adalahterobosan magma yang masuk ke dalam lapisan-lapisan litosfer, akan tetapi tidak mencapai permukaan bumi. Intrusi magma sendiri masih dibagi lagi dalam empat jenis, yakni :

  1. Bathalit, adalah dapur magma.
  2. Intrusi datar (sill atau lempeng intrusi), adalah magma yang menyusup masuk di antara dua lapisan batuan, mendatar dan pararel dengan lapisan batuan tersebut.
  3. Lakolit, adalah magma yang menerobos masuk di antara lapisan bumi yang paling atas, berbentuk seperti lensa cembung atau kue serabi.
  4. Gang (korok), adalah batuan hasil dari intrusi magma yang telah menyusup dan membeku di daerah sela-sela lipatan (korok).
  5. Diaterma, adalah lubang (pipa) yang terdapat di antara dapur magma dan kepundan gunung api yang berbentuk menyerupai silinder panjang.

Jika dilihat dari bentukan hasil intrusi magma, kita bisa mendapatkan sumber mineral penting yang bisa dimanfaatkan secara ekonomi. Daerah intrusi ini sering bisa ditemukan aneka mineral seperti intan, tembaga, besi, perak, emas, dan mineral logam maupun mineral non logam lain.

Ekstrusi magma, merupakan suatu proses keluarnya magma dari dalam perut bumi hingga mencapai permukaan bumi. Jika dilihat dari bentuk lubang keluarnya magma, kita mengenal tiga macam erupsi, yakni :

  1. Erupsi Linier atau Erupsi Melalui Retakan. Pada proses ini, magma dari dapur magma mengalir menyusup keluar bumi melewati retakan memanjang yang ada di kulit Bumi. Erupsi ini menghasilkan deretan gunung api.
  2. Erupsi Areal. Erupsi ini ditandai dari magma yang keluar dan meleleh di permukaan Bumi akibat letak dapur magma yang begitu dekat terhadap permukaan Bumi. Erupsi ini menghasilkan terbentuknya area kawah gunung api yang sangat luas.
  3. Erupsi Sentral atau biasa disebut sebagai letusan gunung api. Proses ini terjadi karena magma keluar melalui sebuah lubang yang ada di permukaan Bumi sehingga terbentuk gunung yang terletak terpisah dari gunung-gunung lainnya.

Jenis erupsi gunung api juga bisa dilihat berdasarkan kekuatan letusan dan kandungan material yang dikeluarkan. Erupsi gunung api dilihat dari kekuatan letusan dan kandungan materialnya tersebut, terbagu dalam dua jenis, yakni :

  1. Erupsi Eksplosif. Yakni erupsi atau letusan yang mengakibatkan adanya ledakan besar. Ledakan besar ini terjadi karena tekanan gas magmatis yang ada sangat kuat sehingga material keluar secara masif. Material yang biasa dikeluarkan pada erupsi eksplosif biasanya bersifat padat dan cair. Erupsi eksplosif biasanya mengakibatkan bentukan permukaan Bumi berupa danau kawah besar (eksplosif), seperti Danau Batur di Bali.
  2. Erupsi Efusif. Yakni erupsi atau letusan yang aktivitasnya tidak menyebabkan ledakan. Pada erupsi ini, tekanan gas tidak cukup kuat sehingga tidak ada ledakan materialnya. Erupsi efusif biasanya mengeluarkan material berupa cairan atau sebagian besar lava dan sedikit material padat berukuran kecil. Contoh : Gunung Maona Loa di Hawaii.

Jika dilihat dari materi hasil ekstrusi magma, ada beberapa jenisnya, yang berupa:

  1. Lava, adalah magma yang keluar hingga mencapai permukaan bumi dan mengalir di permukaan bumi.
  2. Lahar, adalah material campuran lava beserta materi-materi lain di permukaan bumi, seperti pasir, kerikil, debu, dan lain-lain dengan air sehingga terbentuk lumpur.
  3. Eflata dan piroklastika, adalah material padat yang berupa bom, lapili, kerikil serta debu vulkanik.
  4. Ekhalasi (gas) adalah material yang berupa gas asam arang, berupa fumarola (sumber uap air dan zat lemas), solfatar (sumber gas belereng), dan mofel (gas asam arang).

3# SEISME (GEMPA BUMI)

Berbagai dinamika perubahan muka Bumi yang terjadi akibat tenaga endogen biasanya diiringi dengan adanya gempa. Gempa sendiri menjadi salah satu bukti bahwa di dalam perut bumi, terdapat tenaga-tenaga yang mampu menggerakakan bumi.

Lantas, apa yang dimaksud seisme atau yang lebih populer disebut sebagai gempa bumi? Gempa bumi adalah getaran yang asalnya dari dalam perut bumi, yang disebabkan tenaga endogen, getaran itu merambat hingga ke permukaan bumi.

Untuk mempelajari gempa bumi ini, ada bidang ilmu khusus, yang disebut sebagai seismologi, sementara ilmuwan yang mempelajarinya disebut sebagai seismolog.

Gempa bumi berkaitan erat dengan tektonisme dan vulkanisme. Suatu gunung api, dikatakan memiliki tingkat keaktifan tertentu juga dilihat dari seberapa sering terjadi gempa di gunung tersebut, atau dari frekuensi gempanya.

Gempa sendiri menjadi gejala pelepasan energi berupa gelombang yang menjalar hingga ke permukaan bumi, disebabkan adanya gangguan yang terjadi di lempeng bumi.

Ada alat yang digunakan mengukur dan mencatat getaran gempa secara khusus, yang disebut seismograf atau seismometer. Dengan seismograf atau seismometer ini, kita bisa mengetahui besarnya kekuatan getaran gempa serta berapa lama gempa tersebut berlangsung.

Peristiwa gempa tentu sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Apalagi, jika titik gempa terjadi di sekitaran tempat tinggal manusia. Untuk itu, para pakar seismologi terus mengembangkan tata cara penggunaan informasi mengenai gempa bumi ini.

Para pakar seismologi melakukan analisa yang terjadi pada permukaan bumi yang tediri dari lapisan batuan paling luar, atua yang disebut kerak bumi. Kerak bumi ini dapat pecah dan menghasilkan potongan-potongan besar yang sebetulnya saling berpasangan. Potongan inilah yang dinamai lempeng.

Secara perlahan, lempeng diketahui akan selalu bergerak, bergesekan, saling mendesak dan menekan bebatuan. Hal ini mengakibatkan adanya tekanan yang besar. Ketika tekanan semakin besar, bebatuan di bawah tanah berpotensi pecah dan terangkat. Proses pelepasan tekanan ini akan menimbulkan rambatan geratan yang berujung pada gempa bumi.

Diperkirakan, tiap tahunnya akan terjadi sekitar 11 juta gempa bumi. Di antaranya, 34.000 gempa memiliki kekuatan yang cukup besar untuk dirasakan manusia. Untuk itulah, para ahli harus terus mengontrol serta berupaya mendeteksi potensi gempa bumi ini untuk mencegah dampak buruk dari gempa bumi.

Gempa bumi, dapat digolongkan dalam berbagai macam, tergantung dengan parameter pengukurnya.

Dilihat dari kedalaman pusat gempa atau hiposentrumnya, gempa bumi terbagi dalam :

  1. Gempa dalam, apabila titik hiposentrum terletak pada 300–700 km di bawah permukaan Bumi.
  2. Gempa intermidier, apabila hiposentrum terletak pada 100–300 km di bawah permukaan Bumi.
  3. Gempa dangkal, apabila hiposentrum terletak kurang dari 100 km di bawah permukaan Bumi.

Jika dilihat berdasarkan pada bentuk episentrumnya, macam gempa bumi dibagi dalam :

  1. Gempa linier, apabila bentuk episentrum berupa garis. Contoh gempa linier : Gempa tektonik karena patahan.
  2. Gempa sentral, apabila bentuk episentrum berupa titik. Contoh gempa sentral : Gempa vulkanik dan gempa runtuhan.

Sedangkan bila dilihat berdasarkan pada letak episentrum gempa, kita bisa membagi gempa dalam :

  1. Gempa daratan, apabila letak episentrum berada di daratan.
  2. Gempa laut, apabila letak episentrum gempa berada di dasar laut.

Gempa jika dilihat berdasarkan jarak episentrum dengan tempat terasa gempanya, dibedakan dalam:

  1. Gempa setempat, apabila jarak antara episentrum dan tempat gempa terasa berada sejauh kurang dari 1.000 km.
  2. Gempa jauh, apabia jarak antara episentrum dan tempat gempa terasa sejauh sekitar 10.000 km.
  3. Gempa sangat jauh, apabila jarak antara episentrum dan tempat terasa gempa berada lebih dari 10.000 km.

Terjadinya gempa bumi ini juga identik dengan gelombang gempa. Sebab, gelombang gempa ini menjadi kekuatan yang mendorong getaran sampai pada muka bumi sehingga terjadi gempa. Pada dasarnya, jika dilihat dari gelombangnya, terdapat tiga macam gelombang gempa, meliputi :

  1. Gelombang longitudinal atau disebut juga gelombang primer (P). Gelombang ini adalah gelombang yang merambat dari hiposentrum menuju ke segala arah. Gelombang ini tercatat pertama kali oleh seismograf memiliki kecepatan antara 7 – 14 km per detik dengan periode gelombang 5 – 7 detik.
  2. Gelombang transversal atau gelombang sekunder (S). Gelombang ini adalah gelombang gempa yang yang merambat dari hiposentrum menuju ke segala arah dan tercatat sebagai gelombang kedua oleh seismograf. Kecepatan gelombang ini antara 4 – 7 km per detik dengan periode gelombang 11 – 13 detik.
  3. Gelombang panjang atau gelombang permukaan. Gelombang ini adalah gelombang yang merambat dari arah episentrum secara menyebar ke segala arah di permukaan bumi dan memiliki kecepatan antara 3,5 – 3,9 km per detik dengan periode gelombang yang relatif lama.

Referensi :

  • Anjayani, Ani danTri Haryanto. 2009. Geografi : Untuk Kelas X SMA/MA. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
  • Kamil Pasya, G. 2002. Geografi: Pemahaman Konsep dan Metodologi. Bandung: Buana Nusantara.
  • Tisnasomantri, A. 1999. Geologi Umum. Bandung: Jurusan Pendidikan Geografi FPIPS-IKIP Bandung.
  • Waluya, Bagja. 2009. Memahami Geografi 1 SMA/MA : Untuk Kelas X, Semester 1 dan 2. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *