Pengertian Lempeng Tektonik, Jenis dan Pembagiannya

Tahukah Kamu kenapa gempa bumi bisa terjadi? Gempa bumi muncul akibat aktivitas yang terjadi pada lempeng. Jadi, lempeng – lempeng ini bisa bergerak dan mengakibatkan gerakan bumi. Gerakan inilah yang disebut sebagai gempa bumi.

Untuk mempelajarinya lebih lanjut, kita perlu membahas tentang geraklempeng teknonik.

Pengertian lempeng tektonik

Apa itu lempeng tektonik? Lempeng-lempeng tektonik adalah bagian kerak bumi yang di bawahnya disokong oleh magma. Lempeng ini berada di wilayah dasar gunung api. Ketika lempeng ini bergerak naik, turun dan bergeser, gerakannya akan mengakibatkan perubahan pada bentuk kulit bumi. Perubahan bentuk serta pergerakan yang terjadi ini disebut gempa bumi.

Lantas, kenapa lempeng ini dapat bergerak? Sebab ada yang menggerakannya, yakni tenaga lempeng. Tenaga ini mendorong lempeng-lempeng untuk berbgerak bebas sehingga terjadi tumbukan, gesekan atau pemisahan lempeng. Kita bisa memahami deskripsi pergerakan melalui teori lempeng tektonik.

Teori Lempeng Tektonik

Bagaimana kemunculan teori lempeng tektonik? Teori lempeng tektonik disampaikan oleh seorang ahli meteorologi dan geologi dari Jerman, bernama Alfred Lothar Wagener. Ia menyampaikannya lewat bukunya berjudul “The Origin of Continents an Oceans” (1915).

Dalam buku tersebut, disampaikan bahwa benua yang padat ini sesungguhnya terapung dan bergerak di atas massa yang relatif lembek, yang disebut continental drift. Teori ini disebut sebagai teori pengapungan kontinen. Dalam teori ini dinyatakan bahwa kerak bumi tidaklah bersifat permanen, melainkan bergerak secara mengapung.

Hasil pengamatannya juga menunjukkan bahwa beberapa bagian benua di bumi ini memiliki kesamaan bentuk pantai, di antara satu benua dengan benua lain. Selain itu, ada juga kesamaan geologi serta kesamaan makhluk yang hidup di pantai seberang.

Teori ini mulai dipopulerkan sekitaran awal abad ke 20. Pada awalnya, teori ini tidak langsung diterima oleh para ahli. Muncul berbagai perdebatan sengit dalam beberapa tahun. Sebagian besar ahli ilmu bumi menolak ide atau teori ini.

Selama periode tahun 1950-an hingga 1960-an, muncul berbagai bukti yang ditemukan mendukung teori tersebut. Perkembangan teknologi pesat memungkinkan dilakukannya pemetaan pada lantai samudera. Ditambah lagi, muncul data-data mengenai aktivitas seismik serta medan magnit bumi.

Bukti-bukti ini membuat teori pengapungan kontinen kembali disinggung dan dianalisis. Butuh waktu hampir setengah abad bagi para pakar geologi untuk membuktikan dan menerima teori ini. Tahun 1968 teori tentang kontinen yang mengapung ini pun berhasil diterima oleh para ahli secara luas, dan selanjutnya disebut sebagai “Teori Tektonik Lempeng” (Plate Tectonics).

Apa isi dari teori tektonik lempeng? Teori ini menyampaikan bahwa pada bagian luar bumi (litosfer), terdapat sekitar 20 segmen padat yang disebut lempeng. Lempeng yang paling besar di antara semua lempeng tersebut adalah lempeng Pasifik. Lempeng Pasifik menempati sebagian besar lautan, kecuali hanya pada sebagian kecil di Amerika Utara (meliputi Kalifornia bagian Baratdaya dan Semenanjung Baja).

Litosfer berada di atas zona atau material yang lebih lemah dan lebih panas, atau yang dinamakan sebagai astenosfer. Jadi, lempeng-lempeng litosfer yang bersifat padat ini dilapisbawahi material yang bersifat lebih “plastis”. Ketebalan lempeng-lempeng litosfer ini berhubungan dengan sifat material kerak bumi yang menutupinya.

Lempeng-lempeng samudera yang bersifat lebih tipis memiliki variasi ketebalan antara 80 sampai 100 km, sedangkan lempeng atau blok kontinen memiliki ketebalan antara 100 km atau lebih. Di beberapa daerah, ketebalan blok kontinen bisa mencapai 400 km.

Jadi, inti teori lempeng tektonik adalah kerak Bumi sejatinya terdiri dari lempengan-lempengan besar yang seolah-olah mengapung dan bergerak pada lapisan inti Bumi yang lebih cair.

Hingga kini, teori lempeng tektonik dianggap relevan dalam menjelaskan berbagai peristiwa geologis yang terjadi, seperti peristiwa gempa bumi, tsunami, serta meletusnya gunung berapi, dan juga tentang bagaimana terbentuknya gunung, benua, dan samudra. Teori ini juga membuktikan bahwa benua-benua selalu bergeser. Ini adalah salah satu prinsip utama teori tektonik lempeng, yakni tiap-tiap lempeng dapat bergerak-gerak sebagai satu unit terhadap unit lempeng lain.

Batas – Batas Lempeng

Batas-batas lempeng pada dasarnya ada tiga tipe. Masing-masing bisa dikelompokkan berdasarkan jenis pergerakannya. Ada oun batas-batas lempeng tersebut, meliputi :

  • Batas-batas divergen, yakni tempat lempeng-lempeng bergerak saling menjauh, sehingga mengakibatkan naiknya material dari mantel bumi dan membentuk lantai samudera yang luas.
  • Batas-batas konvergen, yakni tempat lempeng-lempeng yang bergerak saling mendekati, sehingga mengakibatkan salah satu lempengnya masuk ke dalam mantel bumi dan berada di bawah lempeng lainnya.
  • Batas-batas patahan transform, yakni tempat lempeng-lempeng yang bergerak saling bergesekan tanpa mengakibatkan penghancuran pada lapisan litosfer.

Jenis – Jenis Lempeng

Lempeng bumi dapat dikelompokkan dalam dua bentuk, yaitu lempeng samudra dan lempeng benua. Pembagian kedua lempeng ini berdasarkan pada ciri- ciri masing-masing lempang. Selain itu, bumi yang terdiri dari dua bagian (daratan dan lautan) juga menjadi penanda bahwa masing-masing lempeng sebetulnya mewakili karakteristik bumi itu sendiri.

Lempeng samudra juga disebut sebagai kerak samudra atau sima. Lempeng samudra ini berada di bawah laut, terdiri dari silikon dan megnesium dengan ketebalan antara 5 hingga 10 km. Lempeng samudra sifatnya lebih padat karena memiliki jumlah silikon yang banyak. Kepadatan kerak samudra ini terjadi disebabkan oleh adanya perbedaan silikon.

Lempeng benua juga disebut sebagai kerak benua atau sial. Lempeng benua terdiri dari silikon dan aluminium dan memiliki ketebalan sekitar 30 sampai 50 km. Kerak benua memiliki jumlah silikon yang lebih sedikit. Bagian ini lebih banyak mempunyai materi berat. Sifatnya yang padat membuat lempeng benua bisa digunakan sebagai tempat tinggal manusia, apalagi, tempatnya berada di atas permukaan laut.

Beberapa daerah juga ada yang memiliki dua jenis lempeng ini sekaligus. Wilayah yang memiliki lempeng samudra dan lempeng benua bersamaan adalah lempeng Afrika. Pada lempeng afrika, terdapat bagian benua afrika dan Samudra Antartika hingga Samudra Hindia, yang masih merupakan satu lempeng.

Mekanisme Pergerakan

Pergerakan lempang dipercaya dapat terjadi karena adanya panas bumi yang tidak merata. Ketika panas bumi berbeda- beda, maka akan terjadi tingkat konveksi yang besar. Pengaruh lain juga disebabkan oleh usia lempeng. Lempeng samudra dapat mengalami penuaan sehingga lempeng tersebut mengalami pendinginan. Ketika lempeng mengalami pendinginan, lempeng akan semakin padat. Pada kondisi ini, lempeng akan menghujam dan masuk ke dalam selimut bumi.

Kondisi ini mengakibatkan bagian belakang lithosfer mengalami tarikan. Kemudian, adanya tekanan di bawah mengakibatkan astenosfer akan bergerak naik. Gerakan pada lempeng bumi dapat disebabkan oleh tiga hal, yakni :

  • gaya gesek,
  • gaya gravitas, dan
  • gaya dari luar bumi.

Gaya gesek dapat dibedakan menjadi dua, yakni “basal drag” dan “slab suction”. Adapun yang dimaksud Basal drag merupakan adanya pergerakan yang dikarenakan adanya gesekan antara astenosfer dan lithosfer. Slab suction sendiri adalah tarikan yang terjadi pada lempeng ketika sebuah lempeng menghujam, dan masuk ke dalam selimut bumi.

Gaya gravitas merupakan gaya yang menarik ke dalam bumi. Gaya gravitas terjadi karena adanya lempeng yang mempunyai kepadatan lebih berat. Karenanya, lempeng tersebut tertarik ke dalam selimut bumi. Proses tertariknya lempeng ke dalam selimut bumi disebut sebagai runtuhan. Kondisi ini juga bisa terjadi akibat pembengkakan lempeng, sehingga membuat lempeng menjadi berat.

Gaya dari luar merupakan gaya yang asalnya dari luar bumi, salah satunya adalah gaya gravitasi bulan. Gaya gravitasi bulan teradi karena rotasi bumi di bawah bulan, sehingga menarik permukaan bumi ke atas. Proses ini seupa dengan proses terjadinya pasang. Hanya saja, pengaruh dari gravitasi bulan seperti in bisa dibilang sangat kecil.

Pembagian Lempeng

Bumi memiliki tujuh lempeng besar dan banyak lempeng kecil. Lempeng-lempeng kecil sendiri terjadi akibat adanya perpecahan dari lempeng-lempeng besar. Adapun lempeng-lempeng besar meliputi :

  • Lempeng Benua Afrika, meliputi Afrika
  • Lempeng Benua Amerika Selatan, meliputi Amerika Selatan
  • Lempeng Benua Amerika Utara, meliputi Amerika Utara dan Siberia
  • Lempeng Benua Antartika, meliputi Antartika
  • Lempeng Benua Australia, meliputi Australia hingga India
  • Lempeng Benua Eurasia, meliputi Asia dan Eropa
  • Lempeng Samudra Pasifik, meliputi samudra pasifik

Negara Indonesia sendiri termasuk dalam negara yang rawan bencana alam akibat posisi geografisnya. Indonesia berada pada wilayah yang dikeliling banyak lempeng, meliputi lempeng Indo- Australian dan Lempeng Eurasia.

Lempeng yang berada di Indonesia ini memiliki sifat konvergen. Akibatnya, lempeng Indo- Australian masuk ke bawah Lempeng Eurasia. Pada Indonesia bagian timur, juga terdapat tiga lempeng sekaligus, yakni lempeng Filipina, lempeng Pasifik, dan lempeng Indo- Australia.

Karena keberadaannya yang dikelilingi oleh lempeng inilah, Indonesia rawan terhadap bencana alam gempa bumi juga gunung meletus.

Referensi :

1. Ani Anjayani, Tri Haryanto. Geografi : Untuk Kelas X SMA/MA. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.
2. Farah. Tt. Pengertian Tektonik Lempeng – Jenis dan Pembagiannya, diakses dari https://ilmugeografi.com/geologi/pengertian-tektonik
3. Flysh Geost. 2015. Teori Tektonik Lempeng : Pangea, diakses dari https://www.geologinesia.com/2015/10/teori-tektonik-lempeng-pangea.html
4. Matthew dan William H. 1967. Geology Made Simple. New York : Doubleday & Company, Inc.
Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *