Pengertian Klausa dan Jenis – Jenis Klausa

Klausa, akan dibahas dalam artikel ini. Pernahkah kamu membuat sebuah klausa untuk tugas bahasa Indonesiamu? Apa saja yang kamu pahami tentang klausa? Di sini nanti akan dijelaskan tentang banyak hal yang berkaitan dengan klausa. Supaya kalian bisa paham tentang jenis – jenis dari klausa. Jadi pelajari baik – baik yaa…

Pengertian Klausa

Klausa merupakan suatu satuan yang terdiri dari subjek dan predikat. Subjek dan predikat tersebut, baik disertai dengan objek, pelengkap, dan keterangan, atau tidak disertai dengan ketiga hal tersebut. Klausa berbeda dengan kalimat, sebab tidak menggunakan unsur intonasi.

Klausa menggunakan bagian dari suatu kalimat. Sama hal nya dengan pendapat lain yang menyatakan bahwa klausa merupakan suatu kumpulan kata yang setidaknya atau sedikitnya memiliki satu objek dan satu predikat. Klausa tidak mengandung jeda, intonasi, tempo, dan nada, seperti dalam sebuah kalimat.

Klausa terdiri dari dua bagian, yaitu klausa utama dan klausa bawahan. Masing – masing dari kedua klausa tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Klausa bawahan merupakan suatu klausa yang tidak dapat berdiri sendiri dan isi dalam klausa tersebut belum lengkap.
  2. Klausa utama merupakan suatu klausa yang dapat berdiri sendiri dan isi dari klausa tersebut dapat dipahami.

Contoh dari klausa utama dan klausa bawahan, yaitu sebagai berikut:

Ketika hujan turun, para siswa memakai jas hujan dengan baik.
Ketika hujan turun (merupakan klausa bawahan)
Para siswa memakai jas hujan dengan baik (merupakan klausa utama)

Baik klausa utama maupun klausa majemuk, dapat digunakan dalam kalimat majemuk bertingkat dan campuran. Dalam sebuah kalimat majemuk, klausa utama dapat disebut juga sebagai induk kalimat, klausa atasa, maupun klausa utama.

Selanjutnya, selain klausa utama dalam dapat digunakan dalam sebuah kalimat majemuk, klausa bawahan pun juga bisa. Dalam kalimat majemuk, klausa bawahan merupakan bentuk perluasan dari satu fungsi yang ada dalam kalimat. Klausa bawahan dapat dikatakan sebagai anak kalimat. Bahkan, klausa bawahan juga dapat ditandai dengan menggunakan kata sambung.

Klausa bawahan dinamakan dengan anak kalimat, disebabkan kedudukannya yang rendah dalam kalimat majemuk bertingkat. Sedangkan klausa utama memiliki kedudukan yang lebih tinggi dalam kalimat majemuk bertingkat.

Namun, baik antara klausa utama maupun klausa bawahan dapat menempati posisi di awal sebuah kalimat. Bagaimanakah penulisannya? Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut, apabila klausa utama menjadi awal dalam sebuah kalimat, maka perlu diberikan tanda koma.

Tanda koma digunakan sebagai pemisah antarklausa utama dari klausa bawahan. Selanjutnya, jika di awal kalimat merupakan suatu klausa bawahan, maka penggunaan tanda koma sebagai pemisah antar klausa bawahan dengan klausa utama.

Terdapat beberapa kata penghubung yang dapat digunakan dalam sebuah kalimat majemuk bertingkat yang disesuaikan dengan fungsi dari kata penghubung, yaitu

  1. Untuk menyatakan waktu, antara lain dapat menggunakan setelah, sesudah, sejak
  2. Untuk menyatakan syarat atau kondisional, antara lain dapat menggunakan jika, asal, apabila.
  3. Jika menyatakan pengandaian, antara lain dapat menggunakan seandainya dan andaikan.
  4. Untuk menyatakan tujuan, antara lain dapat menggunakan supaya dan agar.
  5. Untuk menyatakan perlawanan, antara lain dapat menggunakan meskipun dan sekalipun.
  6. Untuk menyatakan alasan, antara lain dapat menggunakan sebab dan karena.
  7. Untuk menyatakan akibat, antara lain dapat menggunakan sampai dan maka.
  8. Untuk menyatakan perbandingan, antara lain dapat menggunakan bagaikan dan ibarat.

Sudah paham kan tentang pengertian dari klausa.Jadi klausa itu dapat berbentuk satu subjek maupun satu predikat. Klausa juga berbeda dengan kalimat. Namun, ada juga klausa yang dapat berubah menjadi kalimat mayor, yang dapat  kamu jumpai ketika mempelajari jenis – jenis dari klausa. Selanjutnya, kita akan belajar tentang jenis – jenis dari klausa. Silahkan diperhatikan baik – baik pembahasan di bawah ini.

Pelajari juga: Pengertian dan Jenis – Jenis Konjungsi 

Jenis – Jenis Klausa

Terdapat beberapa jenis dari klausa. Nah, perbedaan jenis klausa tersebut dibedakan berdasarkan struktur dan berdasarkan pada kategori yang menjadi predikat dalam klausa. Berdasarkan pada strukturnya, klausa dibedakan menjadi dua hal.

Apa sajakah itu? Yaitu klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas merupakan suatu klausa yang mempunyai unsur –unsur yang lengkap. Unsur lengkap tersebut setidaknya memiliki subjek dan predikat. Sehingga, klausa memiliki kemampuan untuk menjadi suatu kalimat mayor.

Contoh dari klausa bebas yang mampu menjadi kalimat mayor, sebagai berikut.

Adikku masih sehat dan kakakku gagah berani. Klausa tersebut dalam menjadi kalimat mayor dengan cara diberikan intonasi di akhir. Yaitu sebagai berikut.

  1. Adikku masih sehat.
  2. Kakakku gagah berani.

Selanjutnya, setelah dijelaskan tentang klausa bebas, akan dijelaskan kembali tentang klausa terikat. Klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap. Unsur yang terkandung dalam klausa dapat berupa subjek saja maupun keterangan saja.

Berbeda dengan klausa bebas yang dapat menjadi kalimat mayor. Klausa terikat tidak mampu menjadi kalimat mayor. Klausa terikat dapat diketahui dari adanya konjungsi atau penghubung antarkata, antarklausa, antarfrase, dan antarkalimat yang terdapat di depannya.

Kemudian, perbedaan klausa dapat dibedakan berdasarkan kategori unsur yang mampu menjadi predikat, dapat dibedakan menjadi lima klausa. Klausa – klausa tersebut yaitu klausa nominal, klausa verbal, klausa ajektival, klausa adverbial, dan klausa preposisional. Masing – masing jenis klausa dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Klausa verbal

merupakan suatu klausa yang predikatnya menggunakan kategori verbal. Contoh klausa verbal yaitu: kakak menari, ayam itu bertelur, dan ayah mandi.

Klausa verbal ini masih dibedakan menjadi dua, disebabkan adanya berbagai tipe verba, yaitu klausa transitif dan klausa intransitif.
Klausa transitif merupakan suatu klausa yang predikatnya berwujud verba transitif atau yang memerlukan objek. Contoh: Ani membaca buku keterampilan.
Klausa intransitif merupakan suatu klausa yang predikatnya berwujud verba intransitif atau yang tidak memerlukan objek. Contoh: Budi berlari – lari.

2. Klausa nominal

merupakan suatu klausa yang predikatnya berwujud suatu nomina atau fase nominal. Contoh: Kamu sekarang guru fisika.

3. Klausa adjektival

merupakan suatu klausa yang predikatnya sebagai kategori ajektif, baik berwujud kata maupun frase. Contoh: Kantor sudah panas sekali.

4. Klausa adverbial

merupakan suatu klausa yang predikatnya berwujud adverbia. Klausa adverbial jumlah sangat terbatas dalam bahasa Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan jumlah kata maupun frase adverbial yang memang tidak dalam jumlah yang banyak. Contoh dari klausa adverbial yaitu nakalnya keterlaluan sekali.

5. Klausa preposisional

merupakan suatu klausa yang predikatnya berwujud frase yang sebagai kategori preposisi. Contoh: Ulvi di kamar, Ibu ke pasar, dan Anton dari Jakarta. Klausa preposisional dalam ditemukan dalam ragam bahasa yang tidak baku. Klausa perposisional dapat menjadi klausa verbal, jika dilengkapi dengan keterangan ada, datang, dan pergi.

6. Klausa numeral

merupakan suatu klausa yang predikatnya berwujud kata maupun frase numeralia. Contoh klausa numeral, yaitu tunjangannya dua juta sebulan, mobilnya sepuluh buah. Kontruksi dalam klausa numeral dianggap keliru dalam bahasa Indonesia baku. Sebab yang benar adalah tunjangannya adalah dua juta sebulan, mobilnya ada sepuluh buah. Kata dengan dan ada menunjukkan pada verba, sehingga klausa numeral tersebut dinamakan dengan klausa verbal. Sama halnya dengan klusa preposisional, klausa numeral juga ditemukan dalam ragam bahasa indonesia yang tidak baku.

Referensi:

  1. Darmayanti, N. 2008. Persiapan UN Bahasa Indonesia untuk SMA/MA. Bandung: Grafindo.
  2. Juhara, E., Budiman, E., dan Rita R. 2005. Cendikia Berbahasa: Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Kelas XII Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah Program Bahasa. Jakarta: PT Setia Inves.
  3. Tamrin, E.M. 2008. Persiapan UN Bahasa Inggris SMA. Depok: Media Pusindo.
  4. Nababan, D. 2008. Intisari Bahasa Indonesia untuk SMA. Jakarta: PT Kawan Pustaka.
  5. Hatikah, T., Mulyanis, dan Kissumi D. 2007. Membina Kompetensi Bebahasa dan Bersastra Indonesia untuk Kelas XI Semester 1 Sekolah Menengah Atas Program Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung: Grafindo.

Materi lain:

Tinggalkan Balasan 1

Your email address will not be published. Required fields are marked *


ARIP WIBOWO

ARIP WIBOWO

Yaudah iya