Pengertian dan Ciri Anak Kreatif

Pengertian Kreatif

Kreatif merupakan kemampuan seorang individu dalam menemukan dan mengahasilkan sesuatu secara orisinil dan baru, dapat berwujud ide maupun alat-alat. Kreatifitas dapat pula diartikan sebagai bakat yang dimiliki individu, diartikan pula sebagai proses, sebagai produk, dan terakhir diartikan sebagai pengakuan dari orang lain. kreatifitas sebagai bakat, artinya individu mampu menemukan suatu ide-ide yang baru secara spontan berdasarkan imajinasinya.

Misalkan Andi mendapat tugas untuk mengarang cerita yang bertemakan liburan. Bu guru menugaskan, dalam ceritanya nanti membahas tentang dimana liburan tersebut dilaksanakan, bersama siapa liburannya, dan berapa lama liburannya, serta hal-hal atau kejadian yang dialami, selama liburan, juga perlu diceritkan. Andi membayangkan suatu ide yang baru bahwa dalam ceritanya dia akan menambahkan hikmah yang dapat dipetik dari pengalamannya selama liburan.

Kreatifitas sebagai proses, diartikan sebagai gabungan ide-ide yang berbeda dari beberapa individu, yang telah disimpulkan sehingga menjadi suatu ide yang baru. Misalkan Andi satu kelompok dengan Ria dan Wahyu, kemudian mereka membahas tentang tugas prakarya untuk membuat pohon. Ria meminta pohon harus ada buahnya, wahyu meminta kelompok agar pohon yang dibuat, memiliki akar, akhirnya andi mengatakan bahwa pohonnya nanti mengandung buah dan akar.

Kreatifitas sebagai produk, artinya bahwa individu mampu menghasilkan produk yang berbeda dari sebelumnya atau yang telah ada. Misalkan, seperti kasus Andi dengan Ria dan Wahyu, mengenai pembuatan prakarya pohon. Pohon yang dibuat, bukan hanya memiliki buah dan akar, namun dapat dilihat dari sudut lain, sehingga pohon tersebut nampak hidup.

Kreatifitas sebagai pengakuan dari orang lain, artinya tindakan yang telah dilakukan oleh orang lain, bukan hanya menghasilkan sesuatu yang baru, namun juga memperoleh pengakuan dari orang lain, seperti pujian. Misalkan pohon 3 dimensi yang dibuat oleh Ria, Wahyu, dan Andi, bukan hanya menjadi sesuatu yang baru, dibandingkan oleh kelompok lain. Namun juga, mendapat pujian dari guru, karena berhasil membuat sesuatu yang menarik dan unik.

Ciri – ciri Anak Kreatif

Ciri – ciri anak kreatif, menurut Campbell (1986) dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu ciri –ciri pokok, ciri- ciri yang memungkinkan, dan ciri – ciri sampingan. Ciri – ciri pokok merupakan kemampuan untuk melahirkan ide, gagasa, ilham, pemecahan, cara baru, dan penemuan. Ciri-ciri yang memungkinkan membuat seorang individu mampu untuk mempertahankan ide-ide kreatifnya setelah ditemukan.

Ciri-ciri sampingan melibatkan perilaku orang-orang kreatif terhadap ide-ide yang telah ditemukan, agar tetap terjaga. Menurut A.Roe dalam Setiawan (2012), individu yang kreatif, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu, tekun atau ulet, menyadari dan memperhitungkan resiko yang ada terhadap suatu keputusan, mandiri dalam bertindak, berpikir, dan menilai, toleransi terhadap hal-hal yang bersifat ambigu. Selanjutnya, individu tersebut juga memiliki perhatian untuk melihat sesuatu secara tidak biasa, tidak mudah tergantung bpada standar kelompok, menerima pesaing, dan membutuhkan dan mengasumsikan kemandirian.

Hal di atas dapat diartikan bahwa individu yang memiliki kreatifita yang tinggi lebih bersikap mandiri dalam segala hal, bahkan memperhitungkan secara matang setiap keputusan yang diambil. Namun, tidak pernah menutup kemungkinan adanya pengalaman-pengalaman baru yang dapat dipahami dan dipelajari. Selain itu, memiliki sikap toleransi dan tekun terhadap hal-hal yang dipelajari.

Raudsepp dalam Setiawan (2012), menyatakan individu yang memiliki kreatifitas, ditunjukkan dengan memiliki kepekaan terhadap permasalahan yang muncul, fleksibel atau tidak kaku, asli, selektif, memiliki motivasi, mampu melahirkan ide-ide segar dan besar, memiliki imajinatif yang tinggi, mampu berkonsentrasi. Selain itu, tidak takut terhadap kegagalan, keterbukaan, dan tanggap terhadap perasaan. Berdasarkan pendapat Raudsepp, nampak bahwa individu yang memiliki kreatifitas yang tinggi, tidak memiliki rasa takut terhadap kegagalan, sebab menganggap kegagalan merupakan pembelajaran untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, kembali.

Referensi:

  1. Campbell, D. 1986. Mengembangakan Kreatifitas, disadur oleh A A. Mangunhardjana. Yogyakarta: Kanisius.
  2. Green, A. Kretaifitas dalam Public Relations Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
  3. Setiawan, I. 2012. Agribisnis Kreatif: Pilar Wirausaha Masa Depan, Kekuatan Dunia Baru Menuju Kemakmuran Hijau. Depok: Penebar Swadaya.
  4. Wahyudin. 2007. A to Z Anak Kreatif. Jakarta: Gema Insani Press.
Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *