Pengertian, Ciri, dan Klasifikasi Kingdom Plantae atau Tumbuhan

Indriyana Rachmawati

  • 6
    Shares

Materi Biologi berikut ini akan memaparkan tentang pengertian, ciri, dan klasifikasi kingdom plantae. Perhatikan baik- baik penjelasan di bawah ini.

Ciri – Ciri Plantae

Adapun ciri- ciri yang dimiliki oleh plantae, yaitu sebagai berikut:

Jangan lupa LIKE FP kami

  • Tumbuhan yang hampir semuanya mengandung pigmen zat hijau atau berklorofil yang terbungkus di dalam kloroplas.
  • Tumbuhan yang bisa membuat makanan sendiri
  • Berdasarkan tumbuhan yang mengandung celluse yang dapat memberikan kekuatan
  • Eukariotik
  • Multiseluler
  • Memiliki dinding selulosa
  • Cadangan makanan berupa amilum
  • Embrio hasil pembuahan di wadahi dalam biji dan diberi makan oleh induk betina

Kingdom Plantae meliputi kelompok Bryophyta atau Lumut, Pteridophyta atau paku – pakuan, dan Spermatophyta atau tumbuhan berbiji. Kingdom Plantae memiliki anggota kurang lebih lima ratus ribu spesies.

Pengelompokkan tumbuhan berdasarkan struktur tubuh meliputi, struktur organ tubuh, habitat, keberadaan jaringan pengangkut, tipe stele, kedudukan, bentuk, ukuran, dan pertulangan daun, dan struktur alat reproduksi dan cara reproduksi.

Klasifikasi Kingdom Plantae

Tumbuhan Lumut atau Bryophyta

Tumbuhan lumur di muka bumi terdiri dari tidak kurang dua puluh lima ribu jenis. Tumbuhan lumut memiliki susunan tubuhnya lebih kompleks dibandingkan dengan Thallophyta. Tumbuhan lumut memiliki ciri – ciri sebagai berikut:

  • Bersel banyak dan bentuk tubuhnya pipih, melekat pada substrat dengan ketinggian satu sampai dua centimeter dan sampai ada yang dua puluh centimeter.
  • Dinding selnya terbentuk dari selulosa dan tidak memiiki jaringan yang diperkuat oleh liginin seperti jaringan penguat pada tumbuhan tingkat tinggi.
  • Akarnya berupa rhizoid
  • Tidak memiliki batang kecuali lumut daun
  • Daunnya mikrofil atau bersisik
  • Daun mudanya tidak menggulung
  • Tidak memiliki berkas pengangkut
  • Spora tumbuh atau berkecambahnya berupa protonema
  • Ditinjau dari metagenesis, gametofitnya dominan
  • Kromosom tumbuhan lumut bersifat haploid
  • Fase haploid mencakup spora, protonema, tumbuhan lumut, anteredium, arkegonium, ovum, dan sperma
  • Fase diploid mencakup zigot, sporogonium, sporangium
  • Tumbuhan lumut tidak memiliki pembuluh angkut sehingga proses pengangkutan di dalam tubuhnya menggunakan sel – sel parenkim.
  • Habitatnya di tempat yang lembab dan basah, kecuali Sphagnum yang dapat hidup di dalam air.
  • Penyebaran lumut bersifat kosmopolit atau di manasaja ada, dari daerah tropik sampai tundra atau kutub.

Reproduksi lumut

Reproduksi dari lumut dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Cara reproduksi lumut dengan menghasilkan spora
  • Secara vegetatif melalui kuncup eram dan tunas
  • Reproduksi secara generatif dengan menghasilkan anteridium atau penghasil spermatogonium dan arkegonium atau penghasil ovum. Sperma bergerak ke ovum secara khemotaksis karena pengaruh gula dan protein yang dihasilkan oleh arkegonium.
  • Adapun daur hidupnya pergantian keturunan atau metagenesis antara turunan vegetatif dengan turunan generatif. Tumbuhan lumut penghasil gamet dinamakan dengan gametofit atau fase haploid. Sedangkan tumbuhan lumut penghasil spora dinamakan dengan sporofit atau fase diploid. Gametofit lebih menonjol dibandingkan dengan sporofit. Gametofit merupakan turunan vegtatif yang melekat pada substrat dengan menggunakan rhizoid atau protonema. Sporofit merupakan turunan dari generatif berupa badan penghasil spora atau sporogonium.

Berikut ini merupakan bagan metagenesis lumut sebagai berikut:

bagan metagenesis lumut

Klasifikasi lumut

Lumut atau Bryophyta diklasifikasikan berdasarkan struktur tubuhnya yaitu sebagai berikut:

  • Lumut hati atau Hepaticeae atau Hepaticopsoda. Lumut jenis ini memiliki ciri – ciri sebagai berikut: tubuhnya berupa talus dan memiliki rhizoid yang memiliki fungsi sebagai akar, sporofit pertumbuhannya terbatas sebab tidak memiliki jaringan merstematik, habitatnya di tempat yang lembab, berkembangbiaknya secara generatif dengan cara oogami sedangkan berkembang biak secara vegetatif dilakukan dengan fragmentasi, tunas, dan kuncup eram atau gemma atau budding. Adapun contoh dari lumut hati yaitu sebagai berikut: Marchantia polymorpha yang dapat digunakan untuk bahan obat sakit hati atau hepatitis, Machantia germinata.
  • Lumut daun atau Musci atau Bryopsida. Lumut daun memiliki ciri – ciri sebagai berikut: tubuhnya memiliki struktur yang mirip batang, daun, dan akar atau rhizoid, namun tidak memiliki jaringan atau sel dan fungsi seperti tumbuhan tingkat tinggi.

Kumpulan lumut ini membentuk hamparan hijau yang luas yang memiliki sifat seperti karet busa sehingga mampu menyerap dan menahan air.

Ciri selanjutnya, memiliki ciri gametofit yang dibedakan menjadi dua tingkatan yaitu protonema yang bertalus dan berbentuk benang dan gametofora yang berupa tumbuhan lumut.

Sporofit terdiri dari bagian kaki, seta, dan kapsul, lumut ini telah memiliki batang, daun, dan rhizoid. Spora terdiri dari dua lapisan yaitu endospora dan eksospora, habitatnya di tempat yang lembab.

Adapun contoh dari lumut daun yaitu sebagai berikut: Sphagnum fimbriatum yang digunakan sebagai pembentuk tanah gambut, hidup di air asam atau paya – paya, memiliki fungsi sebagai bahan pencuci hama atau pestisida dan sebagai pengganti kapas atau pembalut.

  • Lumut tanduk atau Anthoceropsida. Lumut tanduk memiliki ciri – ciri sebagai berikut: memiliki ciri gametofitnya yang berupa talus yang lebar, tipis dengan tepi yang berlekuk, rhizoid dibagian ventral.

Selain itu, tubuhnya mirip lumut hati, namun berbeda pada sporofitnya. Sporofit pada lumut ini membentuk kapsul yang memanjang yang tumbuh seperti tanduk. Habitat lumut ini di daerah yang memiliki kelembaban yang tinggi.

Berdasarkan analisis asam nukleat, ternyata lumut ini berkerabatan paling dekat dengan tumbuhan berpembuluh atau vaskuler dibandingkan dengan kelas lain pada tumbuhan lumut. Contoh: Anthoceros leavis.

Adapun manfaat lumut bagi kehidupan manusia yaitu sebagai berikut. Tumbuhan lumut bersama dengan tumbuhan lumut kerak merupakan vegetasi perintis. Dikatakan demikian sebab kedua tumbuhan tersebut dapat menghancurkan batu – batuan.

Batu- batuan yang hancur menjadi tanah yang dapat digunakan untuk tempat tumbuhan yang lain. Tumbuhan lumut yang tumbuh di lantai hutan dapat menahan erosi, mengurangi banjir, dan mampu menyerap air sehingga dapat menyebabkan air pada musim kemarau.

Simak juga: Pengertian Pertumbuhan dan Perkecambahan pada Tumbuhan

Tumbuhan Paku – Pakuan atau Pteridophyta

Tumbuhan paku – pakuan memiliki anggota kurang lebih sembilan ribu jenis. Tumbuhan paku sudah memiliki akar, batang, dan daun sehingga dinamakan dengan kormofita. Tumbuhan paku – pakuan setapak lebih tinggi jika dibandingkan dengan tumbuhan lumut.

Ciri – ciri yang dimiliki oleh tumbuhan paku yaitu sebagai berikut

  • Ukuran tubuhnya makroskopis dan ada yang tingginya mencapai dua puluh meter.
  • Habitatnya kosmolipit, ada di mana – mana.
  • Cara hidupnya secara saprofit, epifit, dan hidup di atas tanah atau air.
  • Akarnya berupa serabut
  • Batangnya memiliki rhizoma dan berpembuluh, yaitu xylem dan floem
  • Daunnya memiliki mikrofil, makrofil atau ukuran, tropofil, sporofil atau fungsi
  • Daun mudanya menggulung
  • Memiliki berkas angkut, konsentris
  • Spora tumbuhnya berupa protalium
  • Metagenesisnya dengan sporofit dominan
  • Kromosom tumbuhan paku bersifat diploid
  • Fase haploidnya mencakup spora, protalium, anteredium, arkegonium, ovum, sperma
  • Fase diploid mencakup zigot, tumbuhan paku, sporofil, sporangium.
  • Embrio berkutub dua atau bipolar sedangkan tumbuhan paku berkutub satu atau monopolar.
  • Tumbuhan paku – pakuan dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan yang lembab dan ada beberapa jenis paku- pakuan yang dapat hidup di dalam air.

Klasifikasi Paku – Pakuan

Klasifikasi tumbuhan paku berdasarkan bentuk dan ukuran spora dapat dibedakan menjadi berikut ini:

  • Paku homospora memiliki bentuk dan ukuran spora yang sama. Contohnya yaitu Lycopodium calvatum
  • Paku heterospora memiliki spora jantan atau mikrospora dan spora betina atau makropsora. Contohnya yaitu Sellaginella wildenowii atau paku rane dan Marsilea crenata atau semanggi.
  • Paku Isospora atau peralihan memiliki bentuk dan ukuran spora yang sama, hanya sebagian besar yang memiliki kelamin betina. Contohnya yaitu Equisetum debile atau paku ekor kuda.

Tumbuhan paku juga mengalami pergiliran keturunan atau metagenesis. Dalam siklus hidupnya fase sporofit lebih dominan dibandingkan dengan fase gametofitnya. Gametofit tumbuhan paku berupa protalium.

Sedangkan, sporofitnya berupa tumbuhan paku itu sendiri. Berikut ini merupakan bagan metagenesis tumbuhan paku homospora, peralihan dan heterospora.

bagan metagenesis tumbuhan paku homospora

sumber: belajar.kemdikbud.go.id

bagan daur hidup paku peralihan

sumber: belajar.kemdikbud.go.id

bagan metagenesis tumbuhan paku heterospora

sumber: brainly.co.id

Lebih lanjut, tumbuhan paku dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelas yaitu sebagai berikut:

  • Psilopytinae atau psilopsida atau paku purba atau paku telanjang, sebab sebagian besar jenisnya telah punah. Dinamakan paku telanjang sebab tidak memiliki daun atau daunnya kecil, ada pula yang tidak memiliki akar sejati.

Kebanyakan hidup di zaman purba dan ditemukan dalam bentuk fosil. Contohnya yaitu Psilotum nudum.

  • Equisetinae atau Spenopsida atau paku ekor kuda, di mana kebanyakan spesies ini punah, satu- satunya spesies yang ada yaitu kelompok Equisetaceae yaitu Equisetum debile atau paku ekor kuda. Paku ekor kuda tumbuh di dataran tinggi.

Batangnya seperti rebung asparagus atau mirip daun cemara. Selain itu, batang berongga, berbuku- buku, dan tumbuh tegak. Daun terdapat pada setiap buku, melingkar, dan berbentuk sisik, dan kecil atau mikrofil.

Ciri –ciri kelas ini yaitu daun kecil, tunggal, dan tersusun melingkar. Sporangium terdapat dalam strobilus atau kerucut.

  • Lycopodinae atau Lycopsida atau paku rambut. Ciri – cirinya yaitu berdaun kecil dan tersusun spiral, sporangium muncul di ketiak daun dan berkumpul membentuk strobilus. Batangnya seperti kawat. Contohnya yaitu Selaginella candate atau paku rane. Selaginella banyak ditanam di pot atau taman. Jumlah keseluruhan spesiesnya yaitu 1100 spesies.
  • Filicinae atau tumbuhan paku, memiliki jumlah anggota yang paling banyak. Adapun contohnya yaitu Adiatum cuneatum atau suplir, Plathycerium sp atau tanduk rusa, Marsilea creanata atau semanggi, dan Salvinia natans.

Kegunaan paku – pakuan

Tumbuhan paku memiliki peranan dalam kehidupan manusia, antara lain:

  • Tanaman hias, meliputi Adiantum atau suplir, Selaginella, Asplenium Platycerium atau tanduk rusa, Asplenium nidus atau paku sarang, dan Selaginella wildenowii.
  • Bahan obat, meliputi Lycopodium clavatum, Aspidium filixmas, dan Dryopteris filixmas.
  • Pupuk hijau meliputi, Azolla pinata simbiosis dengan Anabaena azollae.
  • Sayuran meliputi Marsilea creanata atau semanggi.
  • Pelindung tanaman persamaian, meliputi Gleichenia linearis.
  • Tumbuhan paku yang hidup pada zaman karbon telah memfosil. Fosil tersebut berupa batu bara yang dapat dijadikan bahan bakar.
  • Ada yang digunakan untuk menanam anggrek, yaitu paku tiang atau Alsophilla glauca.

Spermatophyta

Spermatophyta merupakan tumbuhan yang dapat menghasilkan biji sebagai alat reproduksinya. Spermatophyta ini dinamakan dengan Anthophyta. Sebab memiliki bunga dan dinamakan Phanerogamia sebab memiliki alat kelamin yang jelas.

Selain itu, dinamakan pula dengan Embrifita sifonogama sebab tumbuhan yang memiliki lembaga dan perkawinannya melalui pembuluh atau buluh serbuk sari.

Adapun ciri – ciri yang dimiliki oleh tumbuhan spermatophyta yaitu sebagai berikut: memiliki akar, batang, dan daun sejati yang lengkap dengan berkas pengangkutnya atau Trakheophyta, memiliki alat perkembangbiakan yang jelas

Kemudian, reproduksi dilakukan dengan menghasilkan biji yang di dalamnya mengandung embrio, generasi sporofitnya berupa tumbuhan dan generasi gametofitnya berupa bunga, kandung lembaganya terlindung dalam ovula.

Klasifikasi spermatophyta

Gymnospermae. Gymnospermae merupakan tumbuhan berbiji terbuka, di mana bakal bijinya tidak dibungkus oleh daun buah, namun menempel pada daun buah. Adapun ciri –ciri morfologi dari Gymnospermae yaitu sebagai berikut:

  • Memiliki akar tunggang atau serabut
  • Batangnya tidak bercabang atau bercabang
  • Berkayu
  • Tumbuh dan gerak ke atas
  • Berdaun sempit, tebal, dan kaku, seperti jarum
  • Bijinya terdapat pada daun buah atau makrosporofil
  • Serbuk sari ada dalam bagian yang lain atau mikrosporofil
  • Daun buah penghasil dan badan penghasil serbuk sari terpisah dari masing – masing yang dinamakan dengan strobillus

Sedangkan ciri –ciri secara anatomi dari Gymnospermae   yaitu sebagai berikut

  • Akar dan batangnya berkambium
  • Akarnya memiliki kaliptra
  • Batang berkambium dan memiliki floeterma atau sarung tepung yaitu endodermis yang mengandung zat tepung
  • Pembuahan tunggal selang waktu antara penyerbukan dan pembuahan relatif lama
  • Berkas pengangkut belum dapat berfungsi dengan sempurna sebab masih berupa tracheid saja.

Adapun siklus hidup dari pinus Merkussi, yaitu sebagai berikut

Lebih lanjut, organ reproduksi generatifnya berupa strobillus atau konus atau rujung. Strobillus memiliki kumpulan sporofit yang membentuk bangunan seperti kerucut atau konus.

Strobillus dibedakan menjadi strobillus jantan dan strobillus betina. Strobillus jantan terdiri dari mikrosporofil, yang tersusun atas sel induk atau mikrospora.

Sel induk mikrospora mengalami meiosis menghasilkan empat mikrospora. Lebih lanjut, mikrospora akan membelah berulang kali secara mitosis menjadi dua, yang berupa jaringan gametofit jantan bersayap dan dinamakan dengan serbuk sari.

Setiap serbuk sari akan mengandung sel generatif dan sel buluh atau sel vegetatif. Sel generatif akan menjadi sel sperma yang proses pematangannya di dalam liang bakal biki. Strobillus betina, terdiri dari megasporofil atau nuselus atau makrosporofil yang mengandung sel induk megaspora.

Sel induk megaspora membelah secara meiosis secara berulang menjadi jaringan gametofit betina. Bagian jaringan gametofit betina akan membentuk arkegonium yang berbentuk seperti botol, yang pada bagian pangkalnya ada ovum.

Tumbuhan Gymnospermae dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelas, yaitu sebagai berikut:

  • Kelas Cycadinae. Kelompok tumbuhan ini menyerupai palem, namun bukan palem sejati yang merupakan tumbuhan berbunga, memiliki biji terbuka yang ada dalam sporofil, yaitu daun yang terspesialisasi untuk alat reproduksi. Contohnya yaitu Cycas rumphii atau pakis haji.
  • Kelas Gynkoales. Tumbuhan kelompok ini memiliki daun seperti kipas yang warna menjadi keemasan dan rontok pada musim gugur. Sifat ini merupakan sifat yang tidak biasa yang dimiliki oleh Gymnospermae. Contohnya yaitu Ginkgo biloba merupakan satu – satunya spesies yang masih hidup.
  • Kelas Coniferae. Kelompok tumbuhan ini memiliki spesies yang terbesar di dalam Gymnospermae sebab memiliki anggota sebanyak 550 spesies. Tumbuhan ini memiliki alat reproduksi berupa conus.

Conus merupakan kumpulan sporofil yang menyerupai sisik yang tersusun memadat membentuk bangunan seperti kerucut. Contohnya yaitu Agathis alba atau damar, Gingga biloba dan Pinus merkusii.

Pinus memiliki daun seperti jarum untuk beradaptasi dengan lingkungan yang kering, lapisan kutikula yang tebal dan letak stomata yang terletak di bawah permukaan daun yang berfungsi untuk mengurangi kehilangan air.

  • Kelas Gnetinae. Anggota gnetales berupa perdu, liana atau tumbuhan pemanjat, dan pohon. Daun berhadapan, dengan urat daun yang menyirip seperti tumbuhan dikotil.

Pada xilem terdapat trakea. Strobilus tidak berbentuk kerucut. Contohnya yaitu Gnetum gnemon atau mlinjo. Daun muda, bunga, dan biji mlinjo dapat di sayur, bijinya dapat dibuat emping, kulitnya dapat digunakan untuk benang jala atau bahan kertas, dan makanan.

Peranan Gymnospermae dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai berikut:

  • Bahan pembuat obat- obatan, antara lain Pinus merkusi, Ependra sp, Juniperus sp, dan Taxodium yang dapat menghasilkan taxol, antikanker dari kulit batang, dan Ginkgo biloba.
  • Tanaman hias, antara lain Cycas rumpii, Thuja, dan Cupessus.
  • Bahan makanan, antara lain Gnetum gnemon.
  • Bahan industri, antara lain getah damar atau Agathis albis, batang pinus merkusii sebagai bahan kertas.

Angiospermae. Angiospermae merupakan kelompok tumbuhan yang memiliki biji tertutup oleh daging buah. Adapun ciri – ciri morfologi tumbuhan Angiospermae yaitu sebagai berikut:

  • Daun tunggal atau majemuk, bentuknya daun pipih, lebar, dan pertulangan daun beranekaragam.
  • Komofita sejati, memiliki akar, batang, dan daun serta memiliki bunga yang sesungguhnya.
  • Pembuahan ganda, pembentukan embrio dan endosperm dalam waktu yang hampir bersamaan.
  • Akarnya tunggang atau serabut dan batang bercabang atau tidak bercabang.
  • Bakal biji tidak nampak, terlindung dalam daun buah dan putik.

Adapun siklus hidup Angiospermae, yaitu sebagai berikut

Lebih lanjut, alat perkembangbiakan Angiospermae berupa bunga. Bunga lengkap merupakan bunga yang terdiri dari kelompok bunga, benang sari, dan putik. Benang sari atau stamen terdiri dari kepala sari atau antera dan tangkai sari atau filamentus.

Dalam kepala sari ada kantung sari atau mikrosporangium yang mengandung sel induk mikrospora. Sel induk mikrospora dan dilanjutkan dengan pembelahan mitosis berulang- ulang dan menghasilkan serbuk sari  untuk gametofit jantan.

Serbuk sari tersebut dibungkus oleh selaput luar atau eksin dan selaput dalam atau intin. Dalam serbuk sari terdapat inti generatif dan sel vegetatif atau sel buluh serbuk sari. Inti vegetatif akan membentuk buluh serbuk sari dan inti generatif akan membentuk dua sel sperma jika terjadi pembuahan.

Putik atau pistilum terdiri dari kepala putik atau stigma, tangkai putik atau stilus, dan bakal buah atau ovarium. Bakal buah merupakan bagian putik yang membesar dan berada di tengah – tengah dasar bunga yang di dalamnya ada bakal biji atau megasporangium.

Selain itu, terdapat sel induk megaspora atau sel induk kandung lembaga yang akan membelah secara meiosis menjadi empat sel megaspora. Tiga sel mengalami degenerasi, satu sel berkembang menjadi inti kandung lembaga primer.

Selanjutnya, akan mengalami pembelahan mitosis menjadi dua, yang satu menuju ke kalaza dan yang satunya lagi menuju ke mikrofil.

Sesampainya di kalaza dan mikrofil akan membelah secara mitosis dua kali sehingga menghasilkan empat sel inti kandung lembaga. Satu inti dari kalaza dan mikrofil menuju ke tengah akan membentuk calon kandung lembaga sekunder.

Tiga inti sel pada kalaza selanjutnya akan membentuk atipoda. Sementara itu sel yang di tengah di antipoda menjadi ovum dan pengapitnya dinamakan dengan sel sinergid.

Penyerbukan Angiospermae merupakan suatu peristiwa jatuhnya serbuk sari ke kepala putik. Selanjutnya, serbuk sari berkecambah membentuk buluh serbuk sari yang dimulai dengan pecahnya eksin.

Kemudian, memanjangnya intin menuju ke mikrofil dengan dipandu oleh inti vegetatif. Inti generatif di dalam buluh serbuk sari akan membelah menjadi dua sel sperma.

Pada sata menyentuh mikrofil, sel vegetatif akan berdegenerasi untuk membuka mikrofil dan selanjutnya sperma satu masuk mikrofil membuahi ovum menjadi zigot.

Sedangkan, sperma dua membuahi calon kandung lembaga sekunder menjadi endopserm yang memiliki fungsi sebagai cadangan makanan. Pembuahan ini berlangsung dua kali sehingga dinamakan dengan pembuahan ganda.

Setelah pembuahan zigot akan tumbuh menjadi embrip atau lembaga yang tertanam di dalam biji. Berdasarkan jumlah kotiledon, Angiospermae dibagi menjadi dua, yaitu Monocotyledonae dan Dicotyledonae. Adapun perbedaan ciri –ciri morfologi dan anatominya dapat dijelaskan sebagai berikut.

Monocotyledonae. Kotiledonnya terdiri dari satu keping, sistem perakaran berupa serabut, tidak memiliki kambium, tulang daunnya sejajar atau melengkung, jumlah bagian bunga yaitu kelipatan tiga, biji setelah berkecambah tetap utuh, dan memiliki kaliptogen.

Dicotyledonae. Kotiledonnya terdiri dari dua keping, sistem perakaran berupa tunggang, memiliki kambium, tulang daunnya menyirip atau menjari, jumlah bagian bunga yaitu kelipatan empat atau lima, biji setelah berkecambah terbelah dua, dan tidak memiliki kaliptogen.

Lebih lanjut, klasifikasi tumbuhan yang termasuk kelas Monocotyledonae yaitu sebagai berikut:

  • Liliaceae, adapun contohnya yaitu Gloriosa superba atau kembang sungsang, Lilium longflorum atau lili gereja.
  • Poaceae atau graminae atau rumput – rumputan. Adapun contohnya yaitu zea mays atau jagung dan oryza sativa atau padi, bambusa sp atau bambu.
  • Zingiberacaeae atau jahe- jahean, adapun contohnya yaitu zingiber officinale atau jahe dan alpina galanga atau laos.
  • Amarylianceae, adapun contohnya yaitu agave centala atau kantala, agave sisalana atau sisal.
  • Adapun contohnya yaitu musa paradisiaca atau pisang, kurma atau phoenix.
  • Arecaceae atau palmae. Adapun contohnya yaitu coccus nucifera atau kelapa, areca cathecu atau pinang.
  • Adapun contohnya yaitu phalaeonopsis amabilis atau anggrek bulan, cattleya, dendrobium, phalaenopsis, arundina, vanda, epidendrum, laelia, oncidium, dan vanili atau vanilla planifolia.
  • Araceae, adapun contohnya yaitu coloscasia esculenta atau talas.
  • Adapun contohnya yaitu magnolia grandiflora, arenaria, D. carophylus, agrostemma

Kelas Dicotyledoneae, dapat diklasifikasikan mejadi beberapa familia yaitu sebagai berikut:

  • Adapun contohnya yaitu mimosa pudica atau putri malu.
  • Adapun contohnya yaitu hibiscus rosa- sinensis atau kembang sepatu.
  • Adapun contohnya yaitu durio zibberthinus atau durian.
  • Adapun contohnya yaitu monihot utilisima atau ketela pohon.
  • Adapun contohnya yaitu morinda citrofolia atau mengkundu.
  • Adapun contohnya yaitu plameria acuminata atau kamboja.
  • Adapun contohnya yaitu ipomea reptans atau kangkung.
  • Adapun contohnya yaitu phaseolus radiatus atau kacang hijau.
  • Adapun contohnya yaitu caesalpinia pulcherima atau kembang merak.
  • Adapun contohnya yaitu ficus elastica atau karet.
  • Adapun contohnya yaitu citrus nobilis atau jeruk keprok.
  • Adapun contohnya yaitu psidium guajava atau jambu batu.
  • Adapun contohnya yaitu tectona grandis atau jati.
  • Adapun contohnya yaitu coleus tuberotus atau kentang hitam.
  • Brassica oleracea atau kubis, sawi atau B. Rugosa, lobal atau raphanus sativus, sawi tanah atau nasturtium heterophylum.
  • Leguminosae, Adapun contohnya yaitu falmboyan atau delonix regia, akasia atau accacia farnesiana, kembang merak atau caesalpinia pulcherrima.
  • Adapun contohnya yaitu deruju atau celangkringan atau argemone mexicana dan papaver somniverum.
  • Adapun contohnya yaitu mawar atau rosa hybrida, apel atau malus sylvestris, aprikot atau prunus armeniaca, P. domestica.

Demikian pemaparan tentang kingdom plantae. Semoga artikel ini dapat membantumu dalam memahami hal – hal yang berkaitan dengan pengertian, ciri, dan klasifikasi kingdom plantae. Selamat belajar dan sukses selalu.

Referensi:

  1. Susilowarna, R.G. 2008. Siap Menghadapi Ujian Nasional SMA/MA. Jakarta:  Grasindo.
  2. Zakrinal & S., Sinta Purnama. 2009. Jago Biologi SMA. Jakarta: Media Pusindo.
  3. Asterisma, G. Tanpa Tahun. “Pop-Up” Rumus Biologi SMA. Jakarta: Kompas Ilmu.
  4. Susilowarno, R.G., Hartono, R.S., Mulyadi, Enik M., Murtiningsih, dan Umiyati. Biologi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Grasindo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close