Pengertian, Bagian Bagian Telinga, Fungsi dan Kelainan pada Telinga

Setiap panca indra manusia memiliki tugas amat penting, termasuk telinga. Tak heran, materi telinga banyak dipelajari di pelajaran Biologi. Kali ini, kita mengulas pengertian telinga, bagian –bagian telinga, fungsi telinga serta kelainan pada telinga. Dengan mengetahui tentang materi ini, maka kita akan bisa mengenal seluk beluk telinga dengan lebih baik, sekaligus memahami bagaimana telinga menjalankan perannya sebagai salah satu panca indra.

Pengertian Telinga

Alat indra merupakan alat- alat tubuh yang memiliki fungsi untuk mengetahui keadaan luar. Alat indra ini disebut dengan panca indra, salah satunya telinga. Telinga memiliki fungsi untuk mengamati bunyi atau suara.

Bunyi dihasilkan jika sebuah benda bergetar, akibatnya udara di sekitarnya ikut bergetar dan menghasilkan gelombang bunyi. Telinga dapat membedakan antara kekuatan, kecepatan, dan arah getaran. Telinga manusia dapat mendengar bunyi dengan frekuensi sekitar 20 Hz- 20.000 Hz. Saraf yang melayani indra pendengaran yaitu saraf kranial kedelapan atau nervus auditorius.

BagianBagian Telinga

Pengertian Bagian dan Fungsi Telinga

Telinga merupakan indra pendengar yang terdiri dari telinga bagian luar, telinga bagian tengah, dan telinga bagian dalam. Telinga bagian luar terdiri dari daun telinga, lubang telinga, liang pendengaran, kelenjar minyak, dan selaput gendang atau membran timpani.

Selain itu, telinga luar terdiri dari aurikel atau pinna, di mana pada binatang yang rendahan berukuran besar dan dapar bergerak dan membantu mengumpulkan gelombang suara.

Kemudian, meatus auditorius externa yang menjorok ke dalam menjauhi pinna, dan menghantarkan getaran suara menuju membran timpani.

Liang ini berukuran panjang sekitar dua setengah sentimeter sepertiga luarnya merupakan tulang rawan sementara dua pertiga di dalamnya berupa tulang. Raglan tulang rawan tidak lurus dan bergerak ke arah atas dan belakang.

Liang ini dapat diluruskan dengan cara mengangkat daun telinga ke atas dan ke belakang. Hal ini ada umumnya dilakukan bila kita hendak menyemprot telinga. Cairan semprotan itu harus diarahkan ke dinding posterior dan dinding atas jiang telinga. Setelah disemprot dan diperiksa, cairan selebihnya dapat dikibaskan ke luar oleh pasien.

Aurikel ini berbentuk tidak teratur serta terdiri dari tulang rawan dan jaringan fibrus, kecuali pada ujung paling bawah yaitu cuping telinga yang terdiri dari lemak.

Terdapat tiga kelompok otot yang ada pada bagian depan, atas, dan belakang telinga. Kendati demikian, manusia hanya sanggup menggerakkan telinga sedikit sekali, sehingga hampir- hampir tidak dapat terlihat.

Telinga bagian luar memiliki fungsi untuk menangkap rangsangan yang berupa bunyi atau suara. Gendang telinga dapat pecah sebagai akibat adanya tekanan udara yang terlalu kuat akibat ledakan, petir, atau sejenisnya.

Pada dinding saluran telinga luar, minyak serumen, dan rambut- rambut halus memiliki fungsi untuk penyaring dari gangguan benda asing. Jika terjadi gangguan pada bagian penerima gelombang bunyi atau pada sistem saraf, maka pendengaran akan mengalami gangguan bahkan dapat menyebabkan menjadi tuli.

Sedangkan, telinga bagian tengah terdiri dari gendang telinga, tiga tulang pendengar meliputi martil, landasan, dan sanggurdi, dan saluran eustachius. Telinga bagian tengah berupa rongga telinga yang berisi udara.

Telinga tengah atau rongga timpani merupakan bilik kecil yang mengandung udara. Rongga tersebut ada di sebelah dalam membran timpani atau gendang telinga, yang memisahkan rongga tersebut dari meatus auditorius externa.

Rongga tersebut sempit dan memiliki dinding tulang dan dinding membranosa. Sementara bagian belakangnya bersambung dengan antrum mastoid dalam prosesus mastoideus pada tulang temporalis, melalui sebuah celah yang dinamakan dengan aditus.

Tuba eustakhius bergerak ke depan dari rongga telinga tengah menuju ke naso- farinx, lantas terbuka. Dengan demikian, tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga dapat diatur secara seimbang melalui meatus auditorius externa, dan melalui tuba eustakhius atau faringo timpanik.

Celah tuba eustakhius akan tertutup apabila dalam keadaan biasa dan akan terbuka setiap kali kita menelan. Akibatnya, tekanan udara di dalam ruang timpani dipertahankan tetap seimbang dengan tekanan udara dalam atmosfer. Dengan demikian, cedara atau ketulian akibat dari tidak seimbangnya tekanan udara, dapat dihindarkan.

Hubungan dengan naso- farinx ini memungkinkan infeksi pada hidung atau tenggorokan dapat menjalar masuk ke dalam rongga telinga tengah.

Tulang- tulang pendengaran adalah tiga tulang kecil yang tersusun pada rongga telinga tengah seperti rantai yang bersambung dari membran timpani menuju rongga telinga dalam.

Tulang sebelah luar adalah malleus, berbentuk seperti martil dengan gagang yang terkait pada membran timpani, sementara kepalanya menjulur ke dalam ruang timpani.

Tulang yang ada di tengah adalah inkus atau landasan, sisi luarnya bersendi dengan malleus, sementara sisi bagian dalamnya bersendi dengan sisi dalam sebuah tulang kecil yaitu stapes.

Stapes atau tulang sanggurdi, yang dikaitkan pada inkus dengan ujung yang lebih kecil, sementara dasarnya yang bulat panjang terkait dengan membran yang menutup fenestra vestibuli atau tingkap- jorong. Rangkaian tulang – tulang ini memiliki fungsi untuk mengalirkan getaran suara dari gendang telinga menuju rongga telinga dalam.

Prosesus mastoideus merupakan bagian tulang temporalis yang ada di belakang telinga, sementara ruang udara ada pada bagian atasnya adalah antrum mastoideus yang berhubungan dengan rongga teinga tengah.

Infeksi dapat menjalar dari rongga telinga tengah hingga pada antrum mastoid, dan dengan demikian menimbulkan mastoiditis.

Ketiga tulang pendengaran yaitu martil, landasan, dan sanggurdi menghubungkan telinga bagian luar dan telinga bagian dalam. Saluran eustachius menghubungkan rongga telinga dengan rongga mulut. Saluran ini memiliki fungsi untuk menjaga agar tekanan udara di luar dan tekanan udara di dalam telinga sama besarnya.

Rongga telinga dalam ada dalam  bagian ospetrosum tulang temporalis. Rongga telinga dalam ini terdiri dari berbagai rongga yang menyerupai saluran- saluran dalam tulang temporalis.

Rongga- rongga tersebut dinamakan dengan labirin tulang dan dilapisi dengan membran sehingga membentuk labirin membranosa. Saluran – saluran bermembran ini mengandung cairan dan ujung- ujung akhir saraf pendengaran dan keseimbangan

Labirin tulang terdiri dari tiga bagian. Vestibula merupakan bagian tengah, dan tempat bersambungnya bagian – bagian yang lain. Saluran setengah lingkaran bersambung dengan vestibula.

Terdapat tiga jenis saluran – saluran yaitu saluran superior, posterior dan lateral. Saluran lateral letaknya horizontal, sementara ketiga – tiganya saling membuat sudut tegak lurus satu sama lain.

Pada salah satu ujung setiap saluran terdapat penebalan yang dinamakan dengan ampula. Ampula merupakan gerakan cairan yang merangsang ujung – ujung akhir saraf khusus dalam ampula ini yang menyebabkan kita sadar akan kedudukan kita.

Telinga bagian dalam dibagi menjadi alat keseimbangan tubuh, tiga saluran setengah lingkaran, tingkap jorong, tingkap bundar, dan rumah siput atau koklea.

Koklea merupakan sebuah tabung yang berbentuk spiral yang membelit dirinya laksana rumah siput. Belitan- belitan itu melingkari sebuah sumbu yang berbentuk kerucut yang memiliki bagian tengah dari tulang, yang disebut dengan mochulus. Dalam setiap belitan, ada saluran membranosa yang mengandung ujung- ujung akhir saraf pendengaran.

Rumah siput ini berisi cairan limfa dan sel- sel sensoris yang dihubungkan ke otak oleh saraf- saraf pendengar.  Cairan dalam labirin membranosa dinamakan dengan endolimfe sedangkan cairan yang berada di luar labirin membranosa dan dalam labirin tulang dinamakan dengan perilinfe.

Ada dua tingkap dalam ruang melingkar ini yaitu fenestra vestibuli dan fenestra kokhlea. Fenestra vestibuli atau yang dinamakan dengan fenestra ovalis karena berbentuk bulat panjang dan ditutup oleh tulang stapes.

Fenestra kokhlea atau yang dinamakan dengan fenestra rotunda, karena berbentuk bundar dna ditutup oleh sebuah membran.

Keduanya menghadap ke telinga dalam. Tingkap – tingkap ini dalam labirin tulang bertujuan agar getaran dalam dialihkan dari rongga telinga tengah, untuk dilangsungkan dalam perilimfe. Perilimfe merupakan cairan yang praktis yang tidak dapat dipadatkan.

Getaran dalam perilimfe dialihkan menuju endolimfe, dan dengan demikian akan merangsang ujung- ujung akhir pada saraf pendengaran.

Nervus auditorius atau saraf pendengaran terdiri dari dua bagian, salah satunya pengumpulan sensibilitas dari bagian vestibular rongga telinga dalam yang memiliki hubungan dengan keseimbangan.

Serabut- serabut saraf ini bergerak menuju nukleus vestibularis yang ada pada titik pertemuan antara pons dan medula oblongata, kemudian bergerak menuju serebelum.

Bagian dari kokhlearis pada nervus auditorius adalah saraf pendengar yang sebenarnya. Sarabut- serabut sarafnya mula- mula dipancarkan pada sebuah nukleus khusus yang ada tepat di belakang talamus, kemudian dari sama dipancarkan lagi menuju pusat penerima akhir dalam kortex otak yang ada pada bagian abwah lobus temporalis.

Cedera pada saraf kokhlearis akan mengakibatkan ketulian saraf, sementara cedera pada saraf vestibularis akan mengakibatkan vertigo, ataxia, dan nistagmus.

Telinga bagian dalam merupakan bagian yang memiliki fungsi untuk menerima rangsangan. Bagaimanakah fungsi dari bagian- bagian dari indra pendengar?

simak juga: Pengertian Mikroskop, Fungsi dan Bagiannya

Fungsi Bagian – Bagian Indra Pendengar

Bagian ini akan menjelaskan tentang fungsi dari bagian-bagian indra pendengar, yang dijelaskan sebagai berikut

Daun telinga, lubang telinga dan liang pendengaran memiliki fungsi untuk menangkap dan mengumpulkan gelombang bunyi.

Gendang telinga memiliki fungsi untuk menerima rangsang bunyi dan meneruskan  bunyi ke bagian yang lebih dalam.

Tiga tulang pendengaran meliputi tulang martil, landasan, dan sanggurdi yang memiliki fungsi untuk memperkuat getaran dan meneruskan getaran ke koklea atau rumah siput.

Tingkap jorong, tingkap bundar, tiga saluran setengah lingkaran dan koklea atau rumah siput memiliki fungsi untuk mengubah impuls dan diteruskan ke otak. Tiga saluran setengah lingkaran juga memiliki fungsi untuk menjaga keseimbangan tubuh.

Saluran eustachius memiliki fungsi untuk menghubungkan rongga mulut dengan telinga bagian luar. Bagaimanakah mekanisme pendengaran manusia?

Mekanisme Pendengaran Manusia

Adanya bunyi atau suara menyebabkan gelombang bunyi merambat di udara. Daun telinga menangkap, menampung, dan meneruskan gelombang bunyi menuju gendang telinga. Kemudian, gendang telinga menjadi bergetar.

Getaran pada gendang telinga akan diteruskan melalui tulang- tulang pendengaran menuju saluran – saluran di dalam telinga bagian dalam.

Dengan bergetarnya saluran- saluran tersebut akan menyebabkan cairan limfa di dalam rumah siput juga ikut bergetar sehingga menimbulkan rangsangan pada sel- sel sensoris. Rangsangan tersebut yang kemudian disampaikan ke otak oleh saraf- saraf pendengar.

Akhirnya manusia dapat mendengar bunyi atau suara tersebut. Manusia dapat mendengarkan bunyi atau suara dengan frekuensi 20-20.000 Hz, sedangkan kelelawar dapat menangkap getaran sampai dengan 100.000 Hz dan anjing dapat mendengar sampai 30.000 Hz.

Setelah memahami tentang mekanisme pendengaran manusia, selanjutnya apa sajakah kelainan pada telinga?

Kelainan pada Telinga

Adapun macam- macam kelainan pada telinga yaitu sebagai berikut

  1. Tuli merupakan terganggungnya aliran suara ke koklea dan ini mungkin disebabkan oleh kotoran dalam telinga atau peradangan dalam telinga bagian tengah. Tuli dibagi menjadi dua yaitu tuli saraf dan tuli konduktif. Tuli saraf merupakan tuli yang disebabkan oleh faktor putusnya saraf pendengaran dan rusaknya bagian asosiasi pendengaran di otak. Tuli konduktif merupakan kelainan yang disebabkan oleh faktor, yaitu sobeknya gendang telinga, gangguan pada saluran atau liang telinga, pengapuran pada sambungan tulang pendengaran, kekakuan hubungan tulang sanggurdi dengan fenestra ovali, dan penyumbatan oleh minyak serumen.
  2. Peradangan telinga bagian tengah, disebabkan oleh bakteri atau virus.
  3. Gangguan pada bagian labirin, seperti mual- mual, muntah, suara mendenging, bahkan sampai pada tuli.

Demikian penjelasan tentang bagian- bagian telinga sampai pada kelainan yang dialami pada telinga. Semoga artikel ini bermanfaat dan selamat belajar.

Referensi:

  1. Yudha, R.A. 2014. Kamus Super Lengkap Biologi SMP Kelas 1,2, dan 3. Jakarta: Kunci Komunikasi.
  2. Nurhayati, S. 2015. Buku Cerdas Biologi, Fisika, Kimia SMP Kelas 1, 2, 3. Jakarta: Niaga Swadaya.
  3. Furqonita, D. Seri IPA Biologi SMP Kelas IX. Jakarta: Quadra.
  4. Hermanto, B. Metode The King Biologi ala Tentor: Rangkuman Lengkap Biologi SMP Kelas 1,2, dan 3. Jakarta Selatan: Wahyu Media.
  5. Zakrinal dan S., Sinta Purnama. 2009. Jago Biologi SMA. Depok: Wisma Hijau.
  6. Asterisma, G. “Pop- Up” Rumus Biologi SMA. Jakarta Pusat: Kompas Ilmu.
  7. Andriyani, R., Triana, A., dan Widya J. 2015. Buku Ajar Biologi Reproduksi dan Perkembangan. Yogyakarta: Deepublish.
  8. ilustrasi: id.wikipedia.org