Pendidikan melalui Cerita Rakyat, Diskusi, Membaca, dan Menulis

Apakah pendidikan itu? Bapak pendidikan yaitu Ki Hajar Dewantara, telah mendefinisikan pendidikan sebagai tuntunan di dalam hidup anak – anak, yang akan menjadi kekuatan untuk mencapai kebahagiaan, bahkan keselamatan jiwanya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan menjadi sebagai sarana untuk menuntun jalan anak – anak, selama pertumbuhannya.

Tuntunannya tersebut berguna dan bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang diinginkan oleh seorang individu dalam kehidupannya. Tanpa pendidikan, individu bagaikan kertas putih, yang belum diisikan dengan satu coretan sama sekali. Oleh karena itu pendidikan menjadi suatu sarana yang penting.

Pendidikan bagi individu dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui cerita rakyat, diskusi dalam suatu masalah, membaca teks, dan menulis narasi. Hal tersebut menjadi bagian pendidikan, sebab mengajarkan individu untuk membentuk, memahami, dan mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki.

Mendengarkan Cerita Rakyat atau Folklor

Ada berbagai macam cerita rakyat yang berkembang di bumi pertiwi kita. Cerita – cerita tersebut, antara lain Bawang Merah dan Bawang Putih, Tangkuban Perahu, Keong Mas, dan Lutung Kasarung. Cerita rakyat tersebut berasal dari daerah yang berbeda – beda.

Cerita rakyat merupakan cerita yang berasal dari masyarakat sekitar dan berkembang di dalam masyarakat. Cerita rakyat tersebut dapat berbentuk puisi maupun prosa. Prosa sendiri, terdiri dari agenda, mite, dan dongeng. Karena cerita rakyat berasal dari masyarakat sekitar, maka tidak mengherankan jika masing – masing daerah memiliki cerita yang berbeda.

Meskipun memiliki cerita yang berbeda dari setiap daerah, cerita  rakyat menyampaikan berbagai makna dan nasehat yang dapat berguna untuk mendidik seorang individu. Cerita yang dibagikan bukanlah tanpa nilai – nilai yang dapat dianut. Dalam cerita rakyat, terdapat berbagai macam nilai yang bisa kita pahami untuk diterapkan dalam aspek kehidupan kita.

Nilai – nilai apa sajakah yang terkandung dalam cerita rakyat? Nilai – nilai tersebut, antara lain kejujuran, persahabatan, tolong – menolong, rela berkorban, dan tolerasi. Mendengarkan cerita rakyat, tidak akan lengkap rasanya, jika tidak memahami tentang isi dari cerita yang disampaikan. Namun, hal tersebut akan menjadi lebih sempurna lagi, ketika pembaca mampu mengambil makna dari cerita yang disampaikan dan menerapkan makna tersebut dalam kehidupannya.

Dalam membaca suatu cerita, khususnya rakyat, tidak jarang kita menjumpai adanya konflik. Konflik yang menyebabkan cerita tersebut menjadi menarik untuk dibaca maupun didengar. Bagaimanakah cara untuk mendiskusikan suatu masalah yang ditemukan dalam bacaan, akan dijelaskan di bab selanjutnya.

Mendiskusikan Masalah yang Ditemukan dari Artikel

Berbicara tentang masalah, tentu tidak akan ada habisnya, karena masalah atau konflik akan terus muncul dalam kehidupan individu. Entah masalah tersebut berkaitan antara diri individu dengan lingkungan, maupun yang berkaitan dengan dalam diri individu itu sendiri.

Pembahasan dalam artikel ini, tidak akan menjelaskan tentang permasalahan yang dialami individu dengan lingkungan maupun dengan dirinya. Namun, akan membahas tentang mendiskusikan suatu masalah yang ditemukan dalam artikel.

Artikel merupakan karya tulis yang dihasilkan oleh individu, dapat berupa opini atau pendapat dan pada umumnya terdapat di dalam majalah atau surat kabar. Ada berbagai macam informasi yang dibagikan oleh media, baik elektronik maupun media cetak.

Semua informasi tersebut bertujuan untuk mempengaruhi pembaca agar merasa terlibat di dalamnya. Pendengar tentu saja akan mencermati isi dari informasi dan pengetahuan yang disampaikan oleh media. Bahkan, bukan hany mencermati isi informasi dan pengetahuan saja, namun juga memberikan komentar atau menanggapinya.

Komentar atau tanggapan yang akan disampaikan berdasarkan artikel yang diperoleh dapat dilakukan melalui diskusi masalah. Diskusi merupakan bertukar pikiran antara dua orang atau lebih mengenai suatu masalah tertentu untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Diskusi dapat mencakup tiga unsur pokok, yaitu sebagai berikut.

  1. Terdapat masalah yang menjadi pokok pembicaraan dalam diskusi
  2. Terdapat tujuan yang hendak dicapai dalam diskusi
  3. Individu yang terlibat, terdiri dari dua orang atau lebih

Unsur – unsur pokok dalam diskusi perlu untuk dipenuhi, sehingga diskusi dapat dijalankan. Dalam suatu forum diskusi yang dapat dinyatakan ke dalam suatu skala yang besar, maka pembicara perlu menyusun permasalahan sebelumnya, dalam suatu makalah. Penyaji makalah dinamakan dengan pemrasaran.

Pemrasaran harus dapat memancing orang lain agar bersedia untuk menyampaikan pendapat, sehingga nampak bahwa pencengar turut aktif dan berpikir dalam membahas masalah yang sedang didiskusikan. Kegiatan diskusi perlu pula kehadiran seorang ketua, moderator, sekretaris, penyaji yang dapat terdiri dari satu orang atau lebih, dan peserta yang dituntut untuk terlibat secara aktif.

Berdasarkan hal yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa mendiskusikan masalah yang ditemui dalam artikel dapat dilakukan secara berkelompok maupun sendiri. Meskipun demikian, individu yang terlibat dan melakukan kegiatan diskusi perlu memperhatikan unsur – unsur yang harus dipenuhi.

Selanjutnya, setelah membahas tentang mendiskusikan masalah, tuntunan dalam pendidikan yang lain, yaitu membaca. Membaca yang akan dibahas berupa membaca intensif teks bacaan nonsastra.

Membaca Intensif Teks Bacaan Nonsastra

Membaca merupakan bagian penting dalam kehidupan pelajar. Tanpa membaca, seorang pelajar akan buta. Buta dalam artian, tidak memahami berbagai macam informasi. Membaca bukan hanya menjadi tugas pelajar yang ada di sekolah saja, namun juga setiap individu. Mengapa setiap individu? Karena semua orang di dunia ini merupakan individu yang sedang belajar, baik di lingkungan sekolah, maupun dalam kehidupan sehari – hari.

Membaca merupakan suatu proses yang sangat penting bagi individu untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan. Artinya membaca menjadikan individu memperoleh ilmu dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam kehidupannya.

Membaca ekstensif yaitu membaca secara luas. Objek bacaannya dapat meliputi sebanyak mungkin bacaan dalam waktu yang sangat singkat. Lalu apa yang menjadi tujuan dan tuntutan dalam membaca ekstensif?

Hal yang menjadi tujuan dan tuntutan dalam kegiatan membaca ekstensif, yaitu memahami isi pokok atau yang penting dalam bacaan, dengan cepat. Kondisi tersebut dimaksudkan agar membaca secara efisien dapat dilaksanakan.

Sekalipun tujuannya untuk membaca secara efisien, namun makna yang terkandung dalam bacaan, tidak dapat dikesampingkan. Tanpa memahami makna dari bacaan, maka individu tidak akan memahami isinya, apalagi menulis suatu paragraf naratif yang akan dibahas pada pembahasan selanjutnya.

Menulis Paragraf Naratif

Menulis merupakan kegiatan yang membutuhkan keuletan dan keterampilan individu untuk melahirkan suatu karya yang indah. Ada berbagai macam bacaan yang dapat dijumpai dalam bentuk teks atau wacana. Namun diantara teks tersebut, terdapat pula teks yang berjenis narasi. Terdapat perbedaan antara teks narasi dan teks deskripsi.

Teks deskripsi memberikan gambaran yang sejelas – jelasnya mengenai suatu objek, yang seolah – olah pembaca dapat membayangkan objek tersebut berada dihadapannya. Sedangkan teks narasi, berusaha memberikan suatu kisah dari peristiwa atau kejadian, seolah – olah pembaca dapat melihat sendiri atau mengalami sendiri, peristiwa tersebut. Hal yang menjadi unsur penting dalam teks narasi yaitu perbuatan atau tindakan dan waktu.

Teks narasi dibedakan menjadi dua, yaitu narasi fiktif dan narasi nonfiktif. Narasi fiktif, antara lain cerpen, roman, dongeng, dan novel. Sedangkan narasi nonfiktif, antara lain sejarah, biografi, dan autobiografi.

Referensi:

  1. Olivia, F. 2008. Tools for Study Skills: Teknik Membaca Efektif. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
  2. Tim Dosen PAI. 2016. Bunga Rampai Penelitian dalam Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta: Deepublish.
  3. Syahzaman. 1994.Cerita Rakyat dari Kalimantan Barat. Jakarta: Grasindo.
  4. Wiyanto, A. 2007.Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA. Jakarta: Grasindo.
  5. Juhara, E., Budiman, E dan Rita R. 2005. Cendikia Berbahasa: Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA Kelas X Jilid 1. Jakarta: PT Setia Purna Inves.
  6. Indrawati. 2009. Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA/ MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Materi lain:

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *