Pendekatan Psikoanalisis: Sejarah Perkembangan hingga Kelemahan

Jika sebelumnya sudah dijelaskan tentang penelitian dalam bimbingan dan konseling yaitu kuantitatif dan kualitatif. Kali ini kita akan mulai membahas tentang model konseling yang dapat digunakan untuk memberikan layanan pada konseli.

Pendekatan yang dibahas dalam artikel portal-ilmu.com kali ini yaitu pendekatan psikoanalisis. Mau tahu lebih banyak tentang pendekatan psikoanalisis. Simak baik- baik penjelasan di bawah ini.

SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOANALISIS

Pendekatan psikoanalisis dicetuskan oleh sigmund Freud (1856-1939). Freud dikenal pula sebagai bapak konseling karena teori yang dikembangkan ini merupakan cikal bakal dari teori-teori konseling lainnya.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya murid dari Freud yang mengembangkan sendiri pendekatan konseling, meskipun pada awalnya sepaham dengan freud namun pada akhirnya mereka mengembangkan sendiri pendekatan konseling.

Perkembangan pendekatan psikoanalisis tidak dapat dipisahkan dari perlakuan keluarganya. Freud berasal dari keluarga yang otoriter dan mengalami keterbatasan ekonomi.

Meskipun berasal dari keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi, ayah mengetahui kecerdasan yang dimiliki oleh Freud. Ayahfreud kemudian membiayai untuk melanjutkan sekolah kedokteran.

Setelah lulus kuliah, freud menjadi dosen dalam bidang psikoterapi. Kemudian, Freud dan Jean Charcot mengembangkan kesehatan mental. Mereka meneliti tentang gangguan nervous dengan menggunakan hipnotis sebagai penyembuh histeria.

Lebih lanjut, kerjasama yang terjalin antara freud dan josef breueruntuk mengembangkan metode katarsis dalam terapi histeria. Freud pernah mengalami psikosomatik, ketakutan akan kematian serta fobia-fobia.

Berdasarkan kondisi yang pernah dialami, freud melakukan analisis terhadap dirinya: menganalisa masa kecilnya yang sangat membenci ayahnya dan sangat menyayangi ibunya.

HAKIKAT MANUSIA PSIKOANALISIS

Perilaku manusia ditentukan oleh

  • kekuatan-kekuatan irasional,
  • motivasi yang tidak disadari,
  • dorongan biologis serta
  • naluri dan peristiwa psikoseksual tertentu pada enam tahun pertama kehidupannya.
  • Manusia memiliki sifat mekanik, pesimistik, deterministik, dan ruduksionistik.

Insting atau naluri adalah bagian yang sentral dari pendekatan psikoanalitik. Menurut Freud, manusia selalu dikaitkan dengan libido. Freud memandang perilaku manusia sebagai perwujudan dari id, ego, dan superego.

Individu yang terlalu mementingkan superego, akan menjadikan dirinya sebagai orang yang “sok” sempurna, sebaliknya individu yang mengedepankan id, akan menjadikan dirinya menjadi manusia yang penuh nafsu atau tindakan yang tidak bermoral.

Keseimbangan antara id dan superego, perlu ditanamkan dalam diri manusia, agar tercipta harmonisasi perilaku. Tidak dapat dipungkiri bahwa jalan pikiran itu dapat ditentukan, namun tidak linear, dan perilaku manusia itu lebih rumit dari yang dibayangkan oleh manusia itu sendiri.

PERKEMBANGAN PERILAKU PSIKOANALISIS

Struktur Kepribadian Psikoanalisis

Freud membagi tahap perkembangan kepribadian manusia menjadi lima bagian, yaitu oral, anal, falik, laten, dan genital. Masing- masing dijelaskan sebagai berikut

Tahap Oral

Tingkat kepuasan adalah daerah mulut dan bibir dengan cara menghisap dan menelan. Aktifitas selama tahap oral ini adalah oral-inkoporatif dan oral-agresif.

Oral-inkoporatif diartikan sebagai stimulasi pada daerah mulut yang mengasikkan. Individu yang mengalami ketidakpuasan dalam oral- inkoporatif, cenderung fiksasi oral. Melampiaskan dengan cara makan yang berlebihan, mengunyah, berbicara, merokok, dan minum- minuman keras.

Oral-agresif merupakan fase di mana individu sudah mulai tumbuh gigidimulaimulai melakukan aktifitas menggigit. Jika terjadi ketidakpuasan dalam tahap ini maka ketika usia dewasabersikap kasar seperti sifat bermusuhan, agresif, tukang gosip, dan memberikan komentar yang kritis.

Tahap Anal

Dialamipada usia 1-3 tahun. Ditandai kenikmatan pada daerah anus — toilet training. Di mana pada masa ini, melatih sikap disiplin dan moral, mandiri dan menangani perasaan negatif

Tahap Falik

Pada usia 3-6 tahun di mana kenikmatan berpusat pada alat kelamin. Pada masa ini mulai mengenali dan membedakan bentuk tubuh antara laki- laki dan perempuan.

Permasalahan berhubungan dengan konflik seksual

  • anak laki- laki sangat mencintai ibunya dan menciptakan permusuhan dengan ayahnya hal ini biasa disebut dengan oedipus complex.
  • anak perempuan cenderung menciptakan situasi yang mencintai ayahnya, dan cenderung menciptakan permusuhan dengan ibunya atau disebut dengan electra complex.

Pada masa ini mulai mengidentifikasi peran yang sesuai dengan kondratnya, anak laki-laki dengan ayahnya dan anak perempuan dengan ibunya.Kegagalan pada masa ini menyebabkan individu mengalami kebingungan pada dua hal yaitu peranan seks secara wajar dan menemukan standar moral yang tepat.

Tahap Laten

Usia 6-12 tahun, dimana pada masa ini, beralih menjadi sosialisasi. Individu mulai mengalihkan perhatian pada hal yang lebih luas. Dorongan seks disublimasikan ke kegiatan sekolah.

Menurut Erikson, tugas anak adalah“mendapatkan cita rasa berkarya — gagal — adanya perasaan kurang kuat dan merasa lemah. ”Problema yang bisa ditangani konselor adalah konsep diri yang negatif, perasaan yang tidak kuat dalam hubungannya dengan belajar, rasa inferioritas untuk menghadapi tantangan baru, tidak punya inisiatif, dan ketergantungan.

Tahap Genital

Usia 12-18 tahun, pada masa ini ditandai dengan

  • mulai tertarik pada lawan jenis
  • memikul tanggung jawab sebagai orang dewasa.
  • mencoba untuk menghindar dan bebas dari orang tua,
  • mengembangkan fase pribadi
  • masa ini ada masa perkembangan identitas pribadi. Jika hal ini tidak terjadi maka mengakibatkan krisis identitas diri

TINGKATAN KESADARAN

Freud, kepribadian manusia terdiri dari alam kesadaran (awareness), yang terdiri dari tiga tingkatan yaitu alam sadar (conscius), alam prasadar (preconscius), dan alam bawah sadar (unconscius).

Alam sadar berfungsi untuk mengingat, menyadari, merasakan sesuatu secara sadar.

Alam prasadar berfungsi untuk menyimpan ide, ingatan, dan perasaan yang mengantarkan ide, ingatan dan perasaan kepada alam sadar jika kita berusaha untuk mengingatnya kembali.

  • Alam prasadar ini bukan bagian dari alam sadar, namun bagian tersendiri yang membutuhkan waktu beberapa saat untuk menyadarinya.

Alam bawah sadar merupakan bagian dari kesadaran yang terbesar dan sebagai bagian terpenting dari struktur psikis, karena segenap pikiran dan perasaan yang dialami sepanjang hidupnya yang tidak dapat disadari lagi akan tersimpan di dalamnya.

STRUKTUR KEPRIBADIAN

Ada tiga sistem dalam struktur kepribadian yaitu id, ego, dan super ego. Ketiga sistem tersebut saling berkaitan satu sama lain yang tidak bisa dipisahkan. Id merupakan kepribadian asli yang dibawa sejak lahir.

Kedudukan id sebagai sumber utama dalam insting. Ciri– ciri dari id adalah

  • tidak memiliki pengorganisasian,
  • buta,
  • selalu menuntut,
  • mendesak, dan
  • tidak memikirkan baik atau buruknya perbuatan
  • tidak mau mengalami ketegangan, selalu ingin melakukan kesenangan,
  • menghindari penderitaan

Id biasa berada di alam bawah sadar, sehingga mereka tidak menyadari apa yang dilakukannya mengandung unsur baik atau buruk. Super ego merupakan alam sadardan dikembangkan dari interaksi dengan orangtua maupun masyarakat sekitar.

Super ego berisikan kode moral seseorang. Ini untuk menilai tindakannya tersebut baik atau buruk, benar atau salah dari cerminan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Fungsi super ego sendiri adalah penghambat dari tindakan- tindakan id.

Ego merupakan pengatur dan pengontrol menjadi penengah antara id dan super ego. Ego merupakan kendali perilaku untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kenyataan. Cara kerja ego dengan menganut prinsip realitas (reality principle), yang bertugas mengendalikan tuntutan-tuntutan insting (id) dengan kode moral (super ego).

Pribadi Sehat Dan Bermasalah Psikoanalisis

Pribadi yang sehat menurut pendekatan psikoanalisis yaitu

  • Mengendalikan ego dengan baik.
  • Proses perkembangan baik.
  • Keinginannya tersalurkan secara wajar.
  • Menerima keadaan lingkungannya.

Sehingga mencapai individu dapat mencapai Aktualisasi diri yang baik

Pribadi Bermasalah menurut Freud ditunjukkan dengan

  • Tidak seimbang antara id, ego dan super ego
  • Ketidakmampuan ego mengendalikan keinginan dan tuntutan moral.
  • Pengalaman masa anak-anak (khususnya 5 tahun pertama kehidupan) yang ditekan terus menerus maka akan dimasukkan ke dalam bawah sadar dan suatu saat dimasukkan ke dalam alam
  • Mengalami kecemasan- kecemasan, neurosis, dan histeria.

Mekanisme Pertahanan Diri

Mekanisme pertahanan diri (defends mechanism) merupakan upaya- upaya yang dilakukan individu untuk melakukan penghindaran untuk mengingkari sebuah kenyataan yang merugikan bagi dirinya.

Mekanisme pertahanan diri, muncul ketika seseorang berada di bawah tekanan, kesalahan atau saat kecemasan dan ketakutan. Individu yang melakukan mekanisme pertahanan diri dinilai normal jika untuk hal tertentu melakukannya atau asalkan tidak terus- menerus (adaptif).

Macam-macam mekanisme pertahanan diri, diantaranya adalah

  • Repression dengan mengusir pikiran & perasaan menyakitkan, dan mengancam keluar dari kesadaran.
  • Denial enggan untuk mengakui hal-hal yang dianggap dapat mempermalukan dan merugikan dirinya dengan cara: mengacaukan apa yang sedang dipikirkan, dirasakan, atau dilihat dalam situasi tertentu defends mechanism yang paling sederhana.
  • Reaction Formatiom melawan keinginan- keinginan yang menganggu untuk melawan sikap negatifnya.
  • Projection menempelkan pada orang lain suatu keinginan dan impuls, yang sebenarnya ada pada diri sendiri (impuls agresif).
  • Displacement menggeser dari objek yang mengancam kepada sasaran yang lebih aman.
  • Rationalization memberikan alasan-alasan logis untuk menghilangkan kecemasankecemasan.
  • Sublimation mengubah arah energi seksual atau sikap agresif ke perilaku yang kreatif.
  • Regression kemampuan untuk mengatasi kecemasan atau ketakutan terhadap situasi yang sedang dihadapinya dengan cara kembali ke fase- fase perkembangan sebelumnya.
  • Introjetion menggabungkan atau menggunakan sistem nilai-nilai yang digunakan orang lain
  • Identification menambah rasa harga diri dengan menyamakan dirinya dengan orang lain yang memiliki pengaruh dengan tujuan meningkatkan kualitas harga diri dan melindungi seseorang dari perasaan gagal.
  • Compensation menutupi kelemahan- kelemahan yang dimiliki dengan berpenampilan yang positif untuk menutupi keterbatasanketerbatasan.
  • Fiksasi melakukan tindakan yang berlebihan karena terpaku pada fase perkembangan awal.
  • Undoing melakukan berbagai kegiatan yang berlebihan untuk menghilangkan rasa bersalahnya.
  • Isolasi menghindari perasaan yang tidak dapat diterima dengan cara melepaskan mereka dari peristiwa yang seharusnya mereka terikat, merepresikannya dan bereaksi terhadap peristiwa tersebut tanpa emosi. Hal ini terjadi pada psikoterapi.

HAKIKAT KONSELING PSIKOANALISIS

Hakikat konseling untuk mengubah perilaku. Pendekatan psikonanalisa hakikat konseling adalah “Individu mengetahui ego dan memiliki ego yang kuat”.

Individu mampu menempatkan ego pada tempat yang benar, mampu memilih secara rasional, dan mediator antara Id dan Superego. Konseling merupakan proses re- edukasi terhadap egoagar lebih realistik dan rasional.

KONDISI PENGUBAHAN PSIKOANALISIS

Tujuan Pendekatan Psikoanalisi yaitu

  • membentuk kembali struktur karakter individu dengan cara merekonstruksi, membahas, menganalisa, dan menafsirkan kembali, pengalaman- pengalaman masa lampau, yang terjadi di masa kanak- kanak.
  • Membantu konseli untuk membentuk kembali struktur karakternya. Di mana hal- hal yang tidak disadari menjadi disadari oleh konseli sehingga mengakibatkan kecemasan.

Untuk menuju ke arah perkembangan kesadaran intelektual. Kemudian menghidupkan  kembali  masa  lalu konseli.

Ini dilakukan dengan cara  menembus konflik yang ditekan. Selain itu, memberikan kesempatan kepada konseli untuk  menghadapi situasi yang selama ini ia gagal untuk mengatasi situasi tersebut.

Sikap, Peran, Dan Tugas Konselor Dalam Psikoanalisis

Karakteristik konselor — membiarkan dirinya anonim. Konselor hanya berbagi sedikit saja perasaan dan pengalaman pribadinya kepada konseli. Peran utama konselor dalam konseling ini adalah

  • membantu konseli dalam mencapai kesadaran diri,
  • ketulusan hati,
  • hubungan pribadi yang lebih efektif dalam menghadapi kecemasan melalui cara- cara yang realistis,
  • memperoleh kembali kendali untuk tingkah lakunya yang irasional danimpulsif.
  • membangun hubungan kerja sama dengan konseli dengan melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan.
  • memberikan perhatian kepada resistensi konseli untuk mempercepat proses penyadaran hal- hal yang tersimpan dalam ketidaksadaran.
  • mendengarkan dan memberikan tafsiran- tafsiran terhadap informasi konseli,
  • peka terhadap isyarat- isyarat non verbal dari konseli.

Salah satu fungsi utama konselor adalah mengajarkan proses pada konseli untuk mendapatkan pemahaman atas masalahnya sendiri, mengalami peningkatan kesadaran, sehingga konseli mampu mendapatkan kendali yang lebih rasional atas kehidupannya sendiri.

Sikap, Peran, Dan Tugas Konseli Dalam Psikoanalisis

  • Bersedia terlibat dalam proses konseling secara intensif,
  • Melakukan asosiasi bebas dengan mengatakan segala sesuatu yang terlintas dalam pikirannya. Di mana produksi verbal konseli merupakan esensi dari kegiatan konseling psikoanalisa.
  • Untuk kasus- kasus tertentu, konseli diminta secara khusus oleh konselor untuk tidak mengubah gaya hidupnya selama proses konseling berlangsung.
  • Klien menelusuri apa yang tepat dan tidak tepat pada tingkah lakunya dan mengarahkan diri untuk membangun tingkah laku baru.

Situasi Hubungan Antar Konselor Dan Konseli Dalam Psikoanalisis

Aliansi  yaitu sikap klien kepada konselor yang relatif rasional, realistik, dan tidak neurosis (merupakan prakondisi untuk terwujudnya keberhasilan konseling).

Transferensi yaitu pengalihan segenap pengalaman konselidi masa lalunya terhadap orang-orang yang menguasainya, yang ditujukan kepada konselor yang merupakan bagian yang sangat penting untuk dianalisis dan membantu konseli mencapai pemahaman. Pemahaman yang dimaksud tentang  bagaimana konseli telah salah dalam menerima,  menginterpretasikan, dan merespon pengalamannya pada saat ini, kaitannya dengan masa lalunya.

Kontratransferensi yaitu konselor mengembangkan pandangan-pandangan yang tidak selaras dan berasal dari konflik- konfliknya sendiri yang menimbulkan perasaan tidak suka, atau justru keterikatan atau  keterlibatan yang berlebihan. Konselor harus menyadari tentang perasaaan yang dimiliki terhadap klien. Kemudian, mencegah pengaruh perasaan tersebut,yang bisa merusak. Konselor diharapkan untuk bersikap relatif obyektif dalam menerima kemarahan, cinta, bujukan, kritik, dan emosi- emosi kuat lainnya dari konseli.

MEKANISME PENGUBAHAN PSIKOANALISIS

Tujuan utamanya untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang perilaku manusia, dan bukan untuk mendapatkan cara yang paling tepat dalam penanganan gangguan jiwa.

Tujuan konseling dengan pendekatan psikoanalisis yaitu bukan semata-mata untuk menghilangkan sindrom yang tidak dikehendaki, tetapi yang terutama ditujukan untuk memperkuat ego (das Ich) sehingga mampu mengendalikan dorongan-dorongan dari das Es dan memperbesar kemampuan individu untuk berkarya.

Dalam konseling, Konseli dilatih bagaimana dorongan- dorongan agresif dan seksual, bagaimana mengarahkan keinginan dan bukan diarahkan oleh keinginan. Ciri- ciri Teknik Konseling Freud

  • Dilaksanakan dalam suasana santai: melalui penataan ruang, warna dinding, pencahayaan, dan lain- lain sehingga pasien betul- betul merasa nyaman dan betah berada di ruang tersebut.  Dengan suasana yang santai Freud berharap konflik yang telah ada di alam tidak sadar akan mudah muncul ke alam sadar.
  • Konseli diberi kebebasan: Konseli dibebaskan untuk bicara apa saja, termasuk menangis, menjerit, mengumpat, dan lain- lain. Jika Konseli mengalami bloking atau kebuntuan Freud berusaha membantu sehingga terjadilah asosiasi antara apa yang ada dalam alam tak sadar dengan apa yang berikan oleh konselor.
  • Waktu pelaksanaan: Pertemuan Konseling, pertemuan antara Konseli dan konselor dalam konseling, biasanya dilakukan 4 atau 5 kali seminggu (1 sampai 2 jam pertemuan), selama 2 sampai 3 tahun.

Artikel terkait: Pendekatan Penelitian Kuantitatif dalam Bimbingan dan Konseling

TAHAP – TAHAP KONSELING PSIKOANALISIS

Tahap konseling  menurut (Arlow dalam Corsini) :

A# Opening phase (Tahap pembukaan), terdiri dari

  1. Membangun rapport dan melakukan wawancara awal, untuk menciptakan hubungan kerja dengan konseli
  2. Free association dengan menggunakan katarsis
  3. Tahap Pembukaan, ini terjadi pada permulaan interview hingga masalah Konseli ditetapkan. Dengan mempelajari riwayat dan perkembangan pasien, memahami fantasi, pikiran, perasaan, konflik ketidaksadaran, dan cara pasien mengatasi masalah
  4. Di Pembukaan ini dapat terjadi resisten dari si konseli. Tahap krisis bagi konseli diartikan sebagai kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan konseli melakukan transferensi.
  5. Bisa dilakukan analisis mimpi

B# Developing of transference (pengembangan transferensi)

  1. Pengembangan transferensi, perasaan Konseli mulai ditunjukkan kepada konselor, yang dianggap sebagai orang yang telah menguasai di masa lalunya (significant figure person)
  2. Jika konseli tampak sudah siap kemudian lakukan diskusi atau analisis mengenai dorongan dan konflik yang tidak disadari dari masa lalu yang dapat mempengaruhi hingga masa kini.
  3. Diperoleh insight alias gambaran terhadap masa lalu Konseli terutama pada masa kanak- kanaknya

C# Working through (bekerja melalui tranferensi)

Konseli dan konselor, merealisasikan hal-hal yang diperoleh dalam tahap insight sehingga reaksi lebih adaptif. Hal ini dilakukan dengan melalui transferensi, mencakup tentang mendalami pemecahan dan pengertian Konseli sebagai seseorang yang terus melakukan transferensi, untuk pemahaman diri Konseli.

  1. Resolution of transference (resolusi tranferensi)
  2. Fase penutup (termination phase) dari konseling
  3. Resolusi transferensi, memecahkan perilaku neurosis Konseli yang ditunjukkan kepada konselor sepanjang hubungan konseling.
  4. Jika pasien dan konselor merasa puas, tujuan utama konseling tercapai, makan transference di pahami dan berhasil sehingga mendapat insight baru alias kehidupan yang baru.

TEKNIK – TEKNIK KONSELING PSIKOANALISIS

Teknik atau strategi terapeutik yang digunakan dalam konseling psikoanalitis, di antaranya :

#A Asosiasi bebas, merupakan suatu upaya yang dilakukan agar Konseli dapat menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari- hari sekarang. Konseli diminta mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya, “katakan apa pun yang muncul dalam pikiran. Tujuan teknik ini adalah agar Konseli mengungkapkan pengalaman masa lalu dan melepas mekanisme pertahanan diri dan menghentikan emosi- emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu, misalnya trauma disaat kecil. Hal ini disebut juga katarsis agar hakekat terungkap. Dengan katarsis, orang- orang akan menjadi lebih sadar terhadap kehidupan emosionalnya dan lebih mantap mengontrol perasaannya dengan cara yang tepat.

#B Analisis mimpi, Konseli diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah- masalah yang belum terpecahkan. Menurut Freud, mimpi ini ditafsirkan sebagai “jalan mengekspresikan keinginan- keinginan dan kecemasan yang tak disadari” (the royal road to the uncounscious). Peristiwa dalam mimpi secara simbolis mempresentasikan orang sebenarnya, dorongan atau situasi yang terjadi pada masa sadar.

#C Metoda penafsiran mimpi: Freud beranggapan bahwa setiap mimpi memiliki arti. Untuk menyingkap arti mimpi, ada dua metoda yang digunakan oleh Freud, yaitu metoda simbolik dan metoda sandi (Berry, 2001: 39).

#C#1 Metoda simbolik merupakan pencarian makna dari simbol- simbol yang muncul dalam mimpi (manifestasi impian).

#C#2 Metoda sandi (decoding) merupakan menggunakan “kunci” yang tepat. Freud memberi catatan bahwa metoda sandi bukan metoda ilmiah karena “kunci” aslinya bisa saja salah. Berkenaan dengan penafsiran mimpi, Freud telah memberikan saran-saran yang bermanfaat sebagai berikut (Berry, 2001: 40).

  1. Menafsirkan mimpi merupakan suatu kerja keras yang membutuhkan ketekunan.
  2. Setelah analisis terhadap suatu mimpi selesai dilakukan hendaknya hasilnya diendapkan terlebih dahulu. Wawasan yang segar bisa saja muncul belakangan.
  3. Mimpi seringkali terjadi dalam kelompok- kelompok yang memiliki temna yang serupa. Suatu wawasan yang muncul dalam sebuah mimpi mungkin dapat mengungkap keseluruhan rangkaian mimpinya.
  4. Sesuatu yang tampaknya dangkal atau remeh di dalam suatu mimpi mungkin sebenarnya merupakan suatu wawasan mendalam yang tersembunyi.
  5. Penting bagi analis untuk memberikan perhatian terhadap semua komentar Konseli betapapun kelihatannya remeh.

Freud melihat mimpi sebagai keinginan, kebutuhan, dan rasa takut yang semuanya tidak disadari. Mimpi mengandung isi dua tingkat isi laten dan isi manifest.

Isi laten terdiri dari motif yang tersembunyi, simbolis dan motif,  keinginan dan rasa takut yang tidak disadari. Isi laten kemudian di transformasikan menjadi isi manifest yang lebih bias diterima, yaitu bewujud mimpi yang dialami seseorang.

#D Interpretasi, merupakan suatu cara untuk mengungkap yang terkandung di balik yang dikatakan Konseli. Baik dalam asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi Konseli. Konselor menetapkan, menjelaskan dan bahkan mengajar Konseli tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resitensi dan transferensi guna melakukan interpretasi. Membantu pasiennya untuk memahami akar permasalahan yang dihadapinya, dan mendapatkan kontrol yang lebih besar terhadap permasalahan tersebut serta kebebasan untuk melakukan tindakan yang berbeda. Tetapi, interpretasi yang efektif merupakan sebuah ketrampilan yang sulit. Hal- hal yang harus diingat oleh konselor ketika membuat sebuah interpretasi adalah :

  1. Apakah waktunya tepat? Apakah Konseli siap menerima ide ini?
  2. Apakah interpretasi tersebut benar? Apakah bukti yang cukup kuat telah dikumpulkan?
  3. Dapatkah interpretasi tersebut dituangkan dalam kata- kata yang dapat dimengerti oleh Konseli?

#E Analisis resistensi; Resistensi berati penolakan, analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan Konseli terhadap alasan- alasan terjadinya penolakannya (resistensi). Konselor meminta perhatian Konseli untuk menafsirkan resistensi.Ketika Konseli membicarakan permasalahannya, konselor mungkin bisa mencatat bahwa si Konseli mengelak, memotong atau mempertahankan diri dari perasaan atau fakta tertentu. Freud memandang penting untuk mengetahui sumber penolakan tersebut, dan kondisi tersebut akan menarik perhatian Konseli apabila terjadi terus-menerus.

Analisis transferensi. Transferensi adalah mengalihkan, bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. Dalam hal ini, Konseli diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan yang oleh Konseli dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor.

Biasanya Konseli bisa membenci atau mencintai konselor. Konselor menggunakan sifat-sifat netral, objektif, anonim, dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. Konselor cenderung untuk bertindak alami terhadap Konseli mereka.

Jarang seorang konselor psikoanalisis terlatih untuk membagi perasaan atau kehidupannya sendiri kepada Konseli mereka. Alasannya berusaha untuk mempresentasikan mereka sebagai “layar kosong”, tempat Konseli dapat memproyeksikan fantasinya atau asumsi yang terpendam berkenaan dengan hubungan yang amat dekat dengan dirinya.

Para konselor berharap perasaan Konseli terhadapnya akan sama dengan perasaan mereka terhadap figure penting dan autoritatif dalam masa lalu mereka. Dengan cara menjadi netral dan tidak terikat.

Dengan demikian, konselor dapat meyakinkan bahwa perasaan Konseli terhadap dirinya bukan akibat dari yang dilakukannya. Tapi sebagai hasil dari Konseli yang memproyeksikan citra ibu atau ayahnya, atau yang lainnya, kepada si konselor.

Proses ini disebut pemindahan “transference”. Hal tersebut memungkinkan konselor untuk mengobservasi hubungan Konseli pada awal masa kanak- kanak sebagaimana yang kembali dimainkan oleh Konseli dalam ruang konsultasi.

Tujuannya adalah membuat Konseli menyadari proyeksi ini, pertama- tama, dalam hubungannya dengan sang konselor dan kemudian dalam hubungannya dengan orang lain, seperti terhadap pasanagn, bos, kawan, dan lain sebagainya.

Beragam teknik lainnya. Ketika berhadapan dengan anak-anak,  menggunakan mainan dan permainan untuk memungkinkan anak mengeksternalisasikan ketakutan dan kekhawatirannya.

Beberapa orang konselor yang menangani orang dewasa juga menemukan hasil yang menggembirakan dengan menggunakan teknik ekspresif seperti seni, mematung dan membuat puisi.

Teknik proyektif seperti Roschach Inkblot Test atau Thematic Apperception test (TAT), juga dapat menelurkan hasil yang sama. Roschach Inkblot Test, dengan tes ini memungkinkan konseli untuk mengeluarkan konflik alam bawah sadar mereka kepada stimulus gambar yang diberikan (such as a cloud) dengan stimulus yang ambigu.

Seorang konselor dengan simple menggambarkan apa maksud dari hal yang dilihatnya. Tidak ada jawaban yang benar atau salah. Hermann Rorshach—- berdasarkan bercak tinta— dikenal dengan “Tes Rorschach”,

Alat ini menggunakan 10 kartu dimana containing nothing more dari bercak tinta. Test dilaksanakan dan terstrukture untuk menggambarkan apa yang mereka lihat di gambar.

Respon mereka bisa dianalisa dengan beberapa score system, tetapi beberapa hal tentang psikis mereka kembali kepada insights dalam mengartikan dan meresponbiasanya jawaban and recurring tema adalah bagian yang menarik.

Catatan Harian atau Autobiografi, sebagai cara untuk mengeksplorasi kondisi masa lalu dan sekarang mereka. Teknik ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh wawasan intelektual, dan memulai proses keseluruhan kerja yang akan menyebabkan penataan kembali kepribadian.

HASIL – HASIL PENELITIAN PSIKOANALISIS

Contohnya penelitian mengenai “Pengaruh Katarsis dalam Menulis Ekspresif sebagai Intervensi Depresi Ringan pada Mahasiswa”. Katarsis dalam asosiasi bebas menurut sudut pandang psikoanalisa merupakan ekspresi dan pelepasan emosi yang ditekan, pengalaman emosional yang menyakitkan dalam psikoterapi, biasanya melibatkan kesadaran pada materi yang sebelumnya ditekan (Corsini & Wedding, 1989).

Partisipan akan diberikan instruksi tertulis di dalam amplop dimana di dalam instruksi juga dijelaskan mengenai jumlah waktu partisipan membuat tulisan ekspresif (20 menit).  Partisipan dianjurkan mencari tempat untuk menulis yang membebaskan pengungkapan emosinya dan tidak mengganggu proses menulisnya.

Setiap minggu dalam dua minggu sesi akan dilakukan sesi umpan balik dengan memperhatikan skema proses mengatasi depresi yang sudah dipaparkan sebelumnya. Sesi ini digunakan untuk mengukur kepuasan partisipan dengan sesi terapi, dan tingkat dimana mereka merasa bahwa mereka mempelajari kecakapan sesuai dengan tujuan.

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh katarsis yang sangat  signifikan dalam menulis ekspresif terhadap  depresi ringan pada mahasiswa.

Hal ini menunjukkan bahwa pada mahasiswa yang  mengalami depresi ringan, melalui menulis ekspresif pengalaman-pengalaman  emosional sebagai katarsis atau pelepasan emosi dapat menurunkan tingkat depresi ringan mereka.

KELEMAHAN DAN KELEBIHAN PSIKOANALISIS

Kelebihan Pendekatan Psikoanalisis

Pendekatan konseling psikoanalisis memliki kelebihan sebagai berikut:

  1. Mengetahui masalah pada diri konseli yang dimulai dari mencari tahu pengalaman-pengalaman masa lalu pada diri konseli. Di mana masa lalu pelajaran buat Konseli.
  2. Membantu konseli mengetahui masalah-masalah yang selama ini tidak disadarinya untuk memberikan rasa percaya diri pada Konseli, memahami ambang kesadaran dan ketidaksadaran.
  3. Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dan kesempatan kepada Konseli menghadapi situasi yang selama ini ia gagal mengatasinya.
  4. Membentuk struktur kepribadian Konseli dengan mengembalikan hal-hal yang tak disadari menjadi sadar kembali, menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman- pengalaman masa anak- anak, untuk ditata, didiskusikan, dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian Konseli bisa direkonstruksi lagi.
  5. Meningkatkan kesadaran dan kontrol ego terhadap impuls- impuls dan berbagai bentuk dorongan naluriah yang tidak rasional.

Kelemahan Pendekatan Konseling Psikoanalisis

Sedangkan kelemahan dari pendekatan konseling psikoanalisis diantaranya adalah

  1. Waktu yang dibutuhkan dalam terapi terlalu panjang.
  2. Diperlukan konselor yang benar- benar terlatih untuk melakukan teknik ini.
  3. Pandangannya yang terlalu deterministik di nilai terlalu merendahkan martabat manusia.
  4. Terlalu menekankan pada libido. Ketidaksadaran (unconsciousness) amat berpengaruh terhadap prilaku manusia.
  5. Pengalaman masa kecil sangat menentukan atau berpengaruh terhadap kepribadian masa dewasa. Terlalu berasumsi pada masa lampau tanpa memandang sedikitpun masa depan. Kepribadian manusia terbentuk berdasarkan cara- cara yang ditempuh untuk mengatasi dorongan- dorongan seksualnya. Secara umum perilaku manusia bertujuan untuk meredakan ketegangan, menolak kesakitan dan mencari kenikmatan

Demikian pembahasan tentang konseling psikoanalisis. Pendekatan yang digagas oleh Sigmund Freud ini menjadi awal munculnya berbagai pendekatan konseling yang lain. Yang nantinya, akan di bahas juga dalam artikel portal ilmu.

Jadi tunggu model- model pendekatan konseling lainnya di portal-ilmu.com. Dan semoga artikel ini bermanfaat bagi kalian semua.

Daftar Pustaka

  1. Gerald Corey. 2005. Theory and Practice of Counseling and Psycotherapy seven adition Chapter 4. America: Thomson Learning,
  2. Les Parrott. 1973. Counseling and psychotherapy America:Thomson Learning.
  3. 2009. Psikologi Dalam, Electronic Book.
  4. Mc Leod, John. 2008. Pengantar Konseling Teori dan Studi Kasus.Jakarta:Kencana.
  5. Novi Qonitatin, Sri Widyawati, Gusti Yuli Asih. 2011. Pengaruh katarsis dalam menulis ekspresif sebagai Intervensi depresi ringan pada mahasiswa, Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol. 9, No.1, April 2011.
  6. 2005. Psikologi Konseling. Malang: UMM Press
  7. Corey, Gerald. 1995. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Semarang: IKIP Semarang
  8. Corey, Gerald. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psycotheraphy. USA:

Bacaan lain: