Studi Pemikiran Para Filsuf dalam “Logika”

Hasna Wijayati

  • 6
    Shares

Logika dekat dengan kajian filsafat. Dalam kajian filsafat sendiri, kita akan sering diantarkan pada berbagai pertanyaan yang seolah tiada akhir. Inilah yang membuat filsafat disebut sebagai pusat dari segala ilmu di dunia ini. Sebab, lewat filsafat pula, perkembangan ilmu pengetahuan dunia terus melesat.

Filsafat menjadi jalan yang mengantarkan manusia untuk mampu membedakan mana mitos dan mana realitas. Sejarah menunjukkan bahwa sebelum abad renaisance, peradaban Eropa dipenuhi dengan kepercayaan-kepercayaan di luar nalar manusia.

Lalu, dengan perkembangan filsafat inilah, kepercayaan-kepercayaan yang seolah di luar nalar, berangsur hilang. Filsafat membuat mereka mulai meninggikan rasio. Hingga akhirnya, fenomena seperti gerhana matahari dan bulan yang mereka yakini terjadi karena tidurnya sang dewa, pudar.

Periode perkembangan paling awal filsafat sebetulnya tidak bisa dipastikan. Namun, kefilsafatan ini baru mulai ramai diperbincangkan ketika abad keenam sebelum masehi. Tokoh utama yang mempelopori perbincangan filsafat alias filsuf ini adalah Cocrates, Plato, dan Aristoteles yang berasal dari Miltos, Yunani.

Sementara gelar sebagai bapak filosof awal sendiri dinobatkan kepada Thales, lalu disusul oleh Anaximandros dan Anaximenes. Selanjutnya, filsafat terus berkembang oleh para filsuf lain yang juga banyak membahas kehidupan sehari-hari dengan cara-cara filsafat.

Perkembangan filsafat terus berlangsung dan mendorong manusia semakin mengandalkan pemikiran yang berdasarkan rasio atau logika. Dalam perkembangan ilmu logika sendiri, dikenal pula banyak filsuf yag dianggap paling berkontribusi dan memiliki pemikiran khas.

Adapun filsuf tersebut adalah : Plato, Socrates, Al Ghazali, Ibnu Rushd, St.Augustinus, St. Thomas Aquinas, Thomas, John Locke, Karl Popper, Thomas Kuhn. Jadi, pada pembahasan kali ini, kita akan mengulas pemikiran para filsuf populer dalam kajian logika tersebut.

Virtue untuk mencapai Arete menurut Socrates

Filsuf besar paling awal yang dikenal dalam perkembangan logika adalah Socrates. Socrates berusaha mendorong pemikiran rasional sebagai langkah untuk memperoleh kebenaran. Karenanya, ia banyak membahas tentang bagaimana idealnya sebuah kebenaran itu.

Socrates berpandangan bahwa kebenaran ini adalah sesuatu yang sifatnya objektif. Artinya, orang yang berbeda satu sama lain, seharusnya bisa memiliki pandangan yang sama, jika sesuatu itu adalah kebenaran. Kebenaran bukan ditentukan oleh keinginan atau kebutuhan individu semata.

Untuk bisa mendapatkan kebenaran tersebut, kita bisa mengandalkan proses internal dalam diri kita. Cara mendapat kebenaran yang dianjurkan oleh Socrates adalah dengan banyak bertanya. Ia mendorong orang-orang agar semakin banyak bertanya, terutama bagi kaum muda. Cara inilah yang kini sering kita sebut dengan berpikir ‘kritis’.

Menurut Socrates, jika seseorang telah memiliki kebenaran, ia akan memiliki virtue atau sifat kebaikan. Virtue inilah yang juga mendorong mereka untuk juga bertindak dengan baik. Sederhananya, ia yang paham kebaikan akan melaksanakannya.

Socrates juga memunculkan konsep Arete. Arete menurut Socrates adalah kondisi tertinggi seseorang, ketika ia memiliki pengetahuan moral sehingga mampu melihat virtue sebagai tindakan terbaik di segala situasi. Kondisi arete inilah yang dimaksud Socrates sebagai pencapaian kebenaran. Orang yang mampu mencapai arete, berarti telah mencapai kebenaran.

Konsep Fenomen dan Eidos menurut Plato

Plato adalah filsuf yang juga masih berusaha menjelaskan bagaimana manusia bisa mendapatkan kebenaran. Untuk itu, Plate memunculkan konsep “fenomen” dan “eidos”. Fenomen adalah sebutan dari dunia yang nyata, apa yang tampak di mata atau sederhananya disebut sebagai “realitas”.

Adapun “Eidosmerupakan istilah untuk menyebut dunia tempat semua ide berasal. Plato menyebutkan hubungan antara fenomen dan eidos, bahwa kenyataan yang ada pada fenomen adalah cerminan dari eidos.

Karenanya, sangat memungkinkan jika kenyataan yang ada pada fenomen mengalami pergeseran, kerusakan, atau corruption. Keberadaan ide yang muncul dari eidos itu terkadang belum bisa diejawantahkan secara tepat. Inilah yang membuat eidos terus berkembang sehingga membuat fenomen juga ikut bergeser.

Untuk bisa mencapai kebenaran, manusia harus mampu mencapai eidos. Pencapaian pemahaman terhadap eidos bisa dilakukan melalui proses mendalami dan berpikir. Plato menyebut proses ini sebagai proses untuk mengerti atau yang ia sebut dengan istilah theoria.

Tahafut al Falasifah karya Imam al Ghazali

Imam al Ghazali hidup pada masa setelah kajian filsafat logika berkembang di Yunani dan masuk ke peradaban Islam. Namun, terhadap filsafat Yunani ini, Imam al Ghazali lebih banyak melontarkan kritikannya.

Ada tiga kritik utama Imam al Ghazali terhadap filsafat Yunani, yakni penolakannya terhadap ketiga ide berikut :

  • Kepercayaan terhadap keabadian ide
  • Kepercayaan bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal partikular
  • Kepercayaan bahwa tidak ada kebangkitan fisik

Terhadap ketiga ide tersebut, al Ghazali menyatakan penolakannya dengan tegas. Bagi al Ghazali, ada sesuatu yang keliru jika mereka percaya bahwa ide itu abadi, Tuhan tak mengetahui hal-hal partikular, dan ketiadaan kebangkitan fisik. Ketiga konsep ini sama halnya dengan menolak kebesaran Tuhan.

Jika manusia beranggapan bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal partikular, seperti misalnya tidak mengetahui ketika manusia tengah mencuri uang di warung makan, berarti ini menolah sifat Tuhan Yang Maha Tahu. Padahal, sebagai seorang filsuf muslim, ia meyakini Kemahatahuan Allah.

Al Ghazali mengakui akan pentingnya nalar manusia. Namun, jika kaum filsuf Yunani hanya mengandalkan nalar untuk menjawab segala fenomena yang terjadi di sekitar manusia dan di alam ini, ia menolaknya. Ia menolak supremasi nalar, atau menjadikan nalar sebagai satu-satunya landasan berpikir.

Jika kaum Yunani juga menyebutkan adanya hukum alam sebagai bentuk supremasi nalar ini, Al Ghazali menolaknya. Menurut al Ghazali, apa-apa yang disebut sebagai “hukum alam” ini sebetulnya adalah “Ketentuan Tuhan” yang termanifestasi melalui elemen-elemen alam. Jadi, tak lain Tuhan-lah yang menentukan semuanya, termasuk alam. Bukan sebaliknya, alam yang menentukan peristiwanya sendiri.

Tahafut al Tahafut sebagai Bantahan Ibnu Rushd terhadap Kritik Al Ghazali

Sama seperti Imam al Ghazali, Ibnu Rushd juga merupakan seorang filsuf muslim. Namun, ini tidak berarti bahwa pemikiran Ibnu Rushd sepenuhnya sejalan dengan al Ghazali. Malahan, Ibnu Rushd membantah pendapat-pendapat al Ghazali. Kritik Ibnu Rushd terhadap pemikiran al Ghazali juga diuraikannya dalam sebuah buku, berjudul Tahafut al Tahafut.

Pertanyaannya, kenapa justru Ibnu Rusdh membantah pendapat al Ghazali? Jika ditelisik lebih lanjut, bantahan Ibnu Rushd ini lebih kepada kritik al Ghazali. Ia melihat al Ghazali mengkritik filsafat yang dilontarkan para filsuf Yunani sebagai sesuatu yang tidak pas.

Ibnu Rushd beranggapan bahwa al Ghazali melakukan generalisasi berlebihan dalam kritiknya terhadap filsafat. Jadi, bukan ide-ide al Ghazali yang dikritik, melainkan kritikan al Ghazali terhadap ide filsuf Yunani. Sebab, Ibnu Rushd mengejawantahkan pemikiran para filsuf Yunani dengan cara yang berbeda dari al Ghazali.

Secara bersamaan, Ibnu Rushd juga sekaligus melontarkan kritiknya terhadap pandangan sesama filsuf Muslim, yang memisahkan antara dunia ide dan dunia materi (neo-Platonisme). Jika sebelumnya, para filsuf Yunani mengandalkan dunia materi, sementara filsuf muslim mengandalkan dunia ide, maka Ibnu Rushd memiliki pandangannya sendiri.

Ibnu Rushd justru membagi jenis kebenaran menjadi dua kelompok. Pertama, kebenaran yang didapat melalui indera. Kebenaran yang didapat melalui indra ini berarti sifatnya dapat diuji dan juga dipersalahkan dengan memanfaatkan indera kita, atau sisi rasionalitas.

Jenis kebenaran yang kedua adalah kebenaran yang didapatkan melalui Iman. Kebenaran dari iman inilah yang tidak dapat diuji dengan perangkat indera. Kelima indera yang dimiliki oleh manusia, terbatas dalam membuktikan jenis kebenaran iman ini. Tetapi, bukan berarti jika tidak bisa dibuktikan dengan iman, ia tidak bisa disebut sebagai kebenaran.

Bagi Ibnu Rushd, kedua jenis kebearan ini sifatnya complementary atau saling melengkapi, dan bukannya subsidiary atau saling menggantikan. Inilah yang juga menjadi pembeda antara pemikiran Ibnu Rushd dengan al Ghazali. Alih-alih melengkapi kebenaran materi yang dilontarkan filsuf Yunani, al Ghazali justru menggantinya. Padahal, Ibnu Rushd sendiri beranggapan bahwa keduanya sifatnya saling melengkapi.

Iman dan ilmu pengetahuan dalam pendangan St. Agustinus

Bagi St. Agustinus, manusia dapat memperoleh kebenaran dari satu sumber utama, yakni wahyu. Jadi, hanya wahyu dari Tuhan-lah yang memberikan dan menerangkan kebenaran ini. Adapun filsafat baginya hanya merupakan alat bantu guna menerangkan dan meneguhkan kebenaran tersebut, yang dinaungi oleh iman.

St. Agustinus dikenal sebagai salah satu teolog terbesar abad keemat. Ajarannya banyak dianut. Pada masanya, ia menjadi salah satu dari tiga Doktor Gereja Barat dalam tradisi Filsafat Katolik yang karyanya paling banyak dipelajari. Dua karya besarnya adalah The Confessions dan The City of God. Karya City of God menjadi karya populer yang menerangkan relasi kekuasaan, agama (Kristen) dengan negara.

Ajaran-ajarannya menunjukkan bahwa ajaran agama tidak semata-mata berupa ajaran teologis, melainkan juga memiliki muatan politis. Namun, Santo Augustinus mendasari jawabannya terhadap pencarian kebenaran melalui pendekatan normatif-teologis, dan bukan empiris. Karenanya, pada masanya, banyak pemikiran yang berkembang pada kepercayaan dan takhayul.

Thomas Aquinas menolak neo-Platonisme

Thomas Aquinas merupakan salah satu filsuf populer yang menentang ajaran plato yang biasa disebut sebagai neo-platonisme. Dalam neo-platonisme, Plato mengajukan gagasan pembagian dunia menjadi dua kelompok, yakni idea dan materi.

Menurut Thomas Aquinas, filsafat dapat menjadi jalan bagi manusia untuk mencapai kebenaran. Cara ini dilakukan dengan menggabungkan “Kebenaran Iman” dengan “Kebenaran Akal”.

Thomas Aquinas memiliki aliran filsafat yang bertentangan dengan filsafat barat yang menentang metafisika. Ia lebih menekankan pada perbedaan antara pengetahuan dan keimanan manusia. Ia pun memberikan pencerahan mengenai etika.

Menurutnya, kebenaran itu sifatnya objektif, ia adalah benar dimana pun ditemukan. Sementara Tuhan adalah makhluk yang sempurna keberadaannya dan tidak berkembang. Manusia, dengan menggunakan akal yang dimiliki, dapat mengetahui bahwa Tuhan itu ada dengan sifat-sifat yang dimiliki-Nya.

Metode Thomas Hobbes dalam Menentukan Kebenaran

Menurut Thomas Hobbes, manusia dapat memperoleh kebenaran dengan menggunakan akal dan rasio. Dua hal inilah yang menjadi sumber kebenaran. Sementara itu, manusia dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang berkembang sejalan dengan perkembangan akal.

Hobbes dikenal karena metode penalaran kebenaran yang diajarkannya berupa “A priori”. Metode apriori inilah yang mempelopori pemikiran deduksi. Menurut Hobbes, Konsep ini dihasilkan lewat akal, dan dilekatkan pada benda-benda nyata.

Jadi, proses kebenaran menurut Hobbes adalah adanya input yang masuk lewat indera manusia. Semisal, hal ini disebut sebagai konsep A. Konsep A ini dapat diverifikasi dengan konsep lain yang dapat dipahami dengan akal dan rasio. Nah, jika konsep tersebut lolos proses verifikasi, artinya konsep A benar.

Tabula Rasa John Locke

Konsep menarik tentang cara menentukan kebenaran yang diuraikan oleh John Locke adalah tentang Tabula Rasa. Menurut Locke, tabula rasa sama dengan pikiran, pikiran ini adalah ruang kosong. Lalu, ruang kosong ini dapat kita isi dengan pengalaman. Artinya, pengalamanlah yang pada akhirnya membentuk pikiran dan membuatnya memiliki corak tertentu.

Dapat mengetahui sesuatu sama dengan menemukan kebenaran akan realitas. Kita bisa mengetahui hal-hal di sekitar kita dan mendapatkan kebenaran dari sana. Dari konsep inilah, muncul pengetahuan poste-riori.

Posteriori ini artinya bahwa suatu pengetahuan dianggap benar jika dibuktikan oleh pengalaman nyata. Berbeda dengan pemikiran Hobbes yang lebih mengacu pada pemikiran apriori. Pada posteriori, metode penalaran yang digunakan dikenal sebagai metode induksi.

Pandangan Karl Popper terhadap perkembangan ilmu pengetahuan

Popper dikenal dengan metode pemikiran falsifikasi. Dalam falsifikasi, anggapan awalnya yakni semua ilmu itu adalah benar, hanya saja, ilmu itu akan bisa menjadi salah jika dapat dibuktikan salah. Jika tidak ada pembuktian bahwa ilmu itu salah, berarti ia tetap dianggap benar.

Pada penalaran ini, penelitian sains dilakukan bukan untuk membuktikan kebenaran, tapi justru untuk membuktikan kesalahan. Sebagai contoh, jika ada teori bahwa “semua zat akan memuai jika dipanaskan”, maka pandangan ini akan selalu dianggap benar, kecuali jika ada pembuktian bahwa ada zat yang tidak memuai ketika dipanaskan.

Paradigm menurut Thomas Kuhn

Thomas Kuhn dikenal karena idenya tentang paradigm (paradigma). Menurutnya, paradigma merupakan seperangkat perilaku atau nilai yang mendasari disiplin ilmu tertentu yang berlangsung pada suatu masa. Paradigma inilah yang berfungsi dalam penyusunan ilmu pengetahuan.

Dalam memperoleh peradigma, kita harus mulai memahami beberapa hal, seperti : (1) Apa yang diteliti; (2) Pertanyaan apa yang ditanyakan saat penelitian; (3) Bagaimana menyusun pertanyaan; serta (4) Bagaimana penelitian dilaksanakan.

Sebuah ilmu pengetahuan dianggap berada dalam paradigma tertentu. Jadi, dalam paradigma ini, perkembangan ilmu dianggap linier. Akan tetapi, akan terjadi perpindahan paradigma ketika paradigma lama tidak mampu menjawab tantangan zaman.

Proses kemunculan paradigma baru tersebut, adalah : ketika terjadi kondisi paradigma Normal, lalu mengalami Anomali, terjadi krisis paradigma, lalu muncul paradigma baru. Proses pergantian paradigma ini menurutnya bersifat revolusioner.

Referensi :

  • Farkhani, dkk. 2018. FILSAFAT HUKUM; Paradigma Modernisme Menuju Post Modernisme. Solo: Kafilah Pubishing.
  • Mamahit, Ferry Y. 2000. Kota Allah : Sebuah Interpretasi Teologis dan Filosofis terhadap Sejarah. Jurnal Veritas 1 / 2 Oktober 2000. 159 – 168.
  • Taufik Mandailing. 2013. Mengenal Filsafat Lebih Dekat. Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close