Pejuang Tanggung Yang Ingin Tangguh

by:

Aku ya aku

Yang masih mendamba kasih sayang seperti orang lain

Yang ingin diperlakukan baik seperti orang lain

Walau tak memberi kesan yang baik, tapi setidaknya ada sedikit perhatian

Walau hanya sedikit, lebih sedikit dari pada tidak sama sekali

Aku ya aku

Pejuang tanggung yang ingin tangguh

Yang ingin disanjung walau tanpa sentuh

Sedikit berkecimpung walau dengan rapuh

Semutpun akan berlindung jika gajah bersimpuh

Aku ya aku

Bukan pelarian yang ku tempuh

Hanya ingin memandang penuh

Masa depan tersentuh

Walau dengan peluh

Dan bersimpuh

(Yusuf Rubiherlan, 23 Juli 2016)

Burung-burung bercericit di batang pohon beringin. Burung itu tampak gembira terhindar dari terik matahari dan menikmati semilir angin yang berhembus. Sementara itu di bawah pohon beringin tampak beberapa orang siswa sedang bercengkrama, mereka tak terganggu dengan suara burung-burung itu. Adapula beberapa siswa laki-laki sedang asyik bermain bola di lapangan, dan yang lainnya hanya menonton saja sambil menyemangati.

Jangan lupa LIKE FP kami

Di sudut lain yaitu di perpustakaan tampak dua orang siswa sedang berdiskusi tentang kegiatan di sekolahnya.

“Di, sekolah kita mengadakan lomba loh!” kata Tina kepada Rusdi

“Terus?” Rusdi menyela sambil fokus pada buku yang dibacanya.

“Kok Terus Di?”

“Ya lalu apa?”

“Kamu komentar apa gitu!” Tak hanya terus” Tina jengkel.

“Dengar ya Tintin, aku tak tertarik ikut lomba.” Rusdi menutup bukunya lalu pergi menuju meja petugas perpustakaan.

“Dasar aneh.” Tina menggerutu

“Bu, saya pinjam buku ini, dan ini kartu perpus saya.” Rusdi memberikan buku yang hendak dipinjam dan kartu anggota perpustakaan.

Rusdi Setiawan seorang siswa kelas empat SDN Sentosa yang dikenal sebagai siswa yang aneh. Ia selalu melakukan hal-hal yang dianggap orang aneh. Seperti jajan donat pake saos kecap, belajar di dalam toilet, katanya inspirasi datang saat sedang berjuang dan banyak keanehan-keanehan lainnya.

Terdengar bel berbunyi. Anak-anak yang ada di luar kelas berlarian menuju ke kelasnya masing-masing. Mereka mengikuti pelajaran pada jam berikutnya. Begitu juga Rusdi dan Tina, mereka masuk ke kelasnya. Tak berapa lama, masuklah guru kelas empat yaitu Pak Dedi. Tidak langsung duduk di meja guru, Pak Dedi berdiri di depan kelas menghadap ke arah siswa.

“Rusdi Setiawan, kamu mewakili kelas kita untuk mengikuti lomba pembacaan Undang-Undang Dasar 1945.”. Mata Rusdi melotot kaget, tak sadar mulutnya menganga. Serasa mimpi dengan apa yang barusan gurunya katakan..

“Apa bapak tak salah bicara?’ Rusdi bergumam.

“Rusdi mewakili kelas empat untuk ikut lomba?” Herman, sang ketua kelas berkata.

“Bapak yakin? Apa tidak ada orang lagi, sehingga menunjuk Rusdi?” Herman meragukan.

“Ya, Bapak yakin seyakin yakinnya, bahwa Rusdi bisa.” Pak Dedi berkata dengan semangat. Kemudian Pak Dedi melanjutkan pelajarannya.

Bel pulang pun berbunyi, anak-anak kelas empat lalu merapihkan alat tulisnya bersiap hendak pulang.  Diiringi dengan teriakan-teriakan beberapa siswa yang tampak semangat untuk pulang. Beberapa siswa masih berada di kelas karena ada jadwal piket kelas. Beberapa siswa sedang membahas apa yang tadi Pak Dedi katakan. Tampaknya siswa kelas empat masih tidak percaya dengan penunjukkan Rusdi untuk ikut lomba. Rusdi tampak tenang seperti biasanya. Ia membereskan alat tulisnya. Rusdi pun mendengar apa yang teman-temannya bicarakan.

“Udiiiiiiiii….” Terdengar teriakan Tina, sahabat Rusdi

“Apa Tintin?” jawab Rusdi.

“Namaku Tina bukan Tintin.” Tina kesal

“Hei… Tintin itu nama yang bagus tau…” jawab Rusdi

“Bagus apanya?” komentar Tina.

“Tintin tuh sejenis perhiasan. Bentuknya lingkaran dan biasanya disematkan di jari. Kenapa kamu sebel banget aku panggil Tintin?” Papar Rusdi.

“Itu Cincin… Udoottttttt!!!!!… “ Tina berteriak sebel.

“Ya udah, ada apa kamu panggil aku?” Rusdi bertanya.

“Aku mau ngucapin selamat kamu ditunjuk oleh Pak Dedi untuk ngewakilin kelas kita lomba Pembacaan UUD 1945.” Tina bersemangat.

“Entahlah Tin, kayaknya teman-teman kita meragukan aku ikut lomba ini!” Rusdi berkata.

“Semangat Di.. kamu pasti bisa, walau…??”

“Walau apa?” Rusdi bertanya.

“Hmmm…hmmm…” Tina bergumam,

“Walau apa?” Rusdi menatap wajah Tina

“Walau suara mu cempreng…” Tina langsung lari.

“Tintinnnnnnnnnnnnnnnnnn………….” Rusdi kesal.

Rusdi lalu pulang menuju rumahnya, walau kali ini ia berjalan sendiri tanpa sahabatnya Tina. Ia dan Tina bersahabat semenjak kelas satu, karena jarak rumah mereka berdekatan. Rusdi berjalan gontai tampak tak semangat. Jarak sekolah ke rumahnya tidak terlalu jauh, ditempuh paling lama hanya sepuluh menit. Melewati jalan kecil dan kolam ikan milik warga.

Rumah Rusdi terbuat dari tembok, sederhana. Kira-kira berukuran sepuluh kali tujuh meter. Di bagian depan terdapat pintu dan di samping kiri pintu terdapat dua buah jendela. Pekarangannya pun luas dan ada di bagian depan dan belakang rumah. Ibu Rusdi  menanam tanaman seperti  pohon mangga di depan rumah serta tanaman hias yang di tanam di tanah dan di pot. Sementara di belakang rumah hanya ada satu pohon yaitu pohon Rambutan.

Assalamu’alaikum…………”Rusdi buka pintu dengan wajah cemberut.

Waalaikum salam,” Ibu Rusdi menjawab, “Kenapa kamu Nak?” Kok senyum-senyum gitu ?” Ibu Rusdi meledek.

“Mah.. Udi itu sedang galau, bukan senyum-senyum?” Apa gak kelihatan gitu ya muka udi? Udi menjawab kesal.

“Kelihatan kok, mamah cuman meledekin ajah, gak biasanya kamu pulang sekolah berwajah cemberut gitu!”

“Iya nih mah, Udi ditunjuk Pak Dedi ikutan lomba.”

“Lomba apa Nak?”

“Lomba Pembacaan Undang-Undang Dasar 1945, dalam rangka Hari Sumpah Pemuda.” Udi menjelaskan.

“Wuihhh… anak mamah keren, ditunjuk Pak Dedi ikutan lomba, kamu harus bangga dong, jangan cemberut gitu.”

Rusdi pun langsung masuk ke kamarnya, lalu menyimpan tas di meja belajar Kemudian membuka mengganti seragam sekolahnya ke pakaian rumahan yang biasa Rusdi pakai. Rusdi selalu diajarkan mamahnya untuk selalu rapi dan menempatkan barang di tempatnya.

Kamar Rusdi tak begitu besar, berada di sisi sebelah kanan ruang keluarga dan berseberangan dengan kamar ibunya. Kamar Rusdi sangat rapi, meskipun dikenal orang sebagai orang yang aneh, tapi itu tidak tampak kelihatan dengan kondisi kamar Rusdi. Di dalam kamar Rusdi hanya terdapat satu buah kasur kecil yang cukup untuk satu orang, lemari dan meja belajar. Sementara pada dinding kamar terdapat foto-foto masa kecil Rusdi dan di depan meja belajar terdapat papan seperti layaknya papan pengumuman. Di papan ini, Rusdi selalu mencatat apa yang akan dikerjakan.

Rusdi keluar dari kamarnya, kemudian duduk bersila di ruang keluarga sambil menonton TV. Rusdi mengganti channel TV berulang-ulang. Sepertinya tak ada tayangan atau program TV yang menarik.

“Lekas ke meja makan!” kata Ibu Rusdi.

“Makan sama apa Mah?” Tanya Rusdi.

“Kamu kebiasaan Nak, lihat saja dulu di meja makan!” Ibu Rusdi menjawab.

“Ya biasanya kan seorang chef menjelaskan menu nya hari ini apa saja?” Rusdi cekikikan.

“Mamah sibuk!”  Ibu Rusdi menyela sambil duduk di sofa ruang keluarga.

“Sibuk?” Rusdi melihat ke mamahnya seakan tak percaya apa yang dikatakan mamahnya.

“Cepat makan Rusdi….!” Ibu Rusdi bicara lagi.

“Iya, mamahku sayang” Rusdi beranjak dari tempat duduknya, kemudian menuju ke meja makan. Kemudian Rusdi makan dengan lahapnya. Ibu Rusdi senang melihat anaknya yang makan dengan semangat lalu ia beranjak dari sofa dan mendekati ke arah Rusdi, lalu ia duduk di sebelah Rusdi.

“Nak, kamu harus makan yang banyak biar kamu sehat!” kata Ibu Rusdi.

“Iya Mah…”

“Nak, kalau kamu yakin untuk ikut lomba itu, kamu harus berusaha  berlatih dan jangan lupa berdo’a, agar mendapatkan hasil yang maksimal. Apapun hasilnya, yang penting kamu sudah menampilkan yang terbaik, dan ingat kamu harus jadi pejuang yang tangguh. Semangat ya Nak…!” Ibu Rusdi menasehati.

Rusdi berpikir panjang, benar juga apa yang dikatakan Mamahnya. Ia harus berusaha maksimal supaya dalam mengikuti lomba, ia bisa mencapai hasil yang bagus. Ia harus bangga dengan kepercayaan yang diberikan oleh Pak Dedi. Ia juga membuktikan kepada teman-temannya bahwa ia bisa.

Sore harinya, ia berniat mengunjungi rumah Tina. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Rusdi berpamitan pada ibunya karena akan mengunjungi rumah Tina. Rumah Tina tak jauh dari Rumah Rusdi, terhalang sekitar tujuh sampai delapan rumah dari rumah Rusdi. Sore ini langit tampak cerah, matahari berada di ufuk barat bersinar kekuningan. Sinar mentari pun mengiringi Rusdi berjalan menyusuri jalan menuju rumah Tina.

Assalamu’alaikum..!” Rusdi mengucapkan salam.

Waalaikum salam..!” Terdengar suara jawaban salam dari Rusdi. Kemudian ada seseorang yang membuka pintu.

“Ehh.. ada Om Udi!” Adik Tina menyambut.

“Om????? Panggil aku kakak ya De.” Rusdi berkata.

“Nggak ah.. Ade panggil Om Udi saja, karena Om Udi udah tua, hihihi.” Adik Tina terkikik geli.

“Ya udah, nggak apa-apa!” Kak Tina nya ada nggak?” Rusdi menjawab kesal.

“Ada Om.. sebentar ya, Ade panggilkan.” Ade Tina lalu memanggil kakaknya.

“Eh.. ada Udi!” Tina mempersilahkan Rusdi untuk masuk ke ruang tamu.

“Tin, nggak mengganggu kan aku kesini?” Rusdi bertanya.

“Nggak Di, justru aku senang kamu ke sini, ada yang mau aku tunjukkin! Sebentar ya, aku ambil dulu” Tina lalu masuk ke kamarnya, kemudian keluar lagi sambil membawa beberapa helai kertas.

“Nih..”! Tina memberikan kertas itu ke Rusdi.

“Apa nih?” Rusdi bertanya penasaran.

“Baca dulu aja..!”

Rusdi pun mulai membaca bacaan yang ada di kertas. Rusdi kemudian melihat ke arah Tina.

“Tintinn… kamu baik banget!” Rusdi tampak senang.

“Ya dong, karena aku tahu tujuan kamu datang kesini!” Tina berkata sombong.

“Iya sih, kamu kan dukun, betul ngggak Tin?” Rusdi berkata sambil tertawa. Tina tampak tidak senang.

“Makasih ya Tin, emang ini tujuan aku datang ke sini, mau tahu cara membaca Undang-Undang Dasar 1945 dan bagaimana cara lomba ini.” Paparan Rusdi.

Tina berniat membantu Rusdi dalam mengikuti lomba ini. Tina ingin sekali Rusdi juara, ingin membuktikan bahwa Rusdi tidak hanya di cap aneh, tetapi juga bisa berprestasi seperti siswa lainnya. Tina pun mencari dari internet bagaimana cara dan teknik dalam membaca Undang-Undang Dasar 1945 ini. Setiba di rumahnya, Tina langsung buka laptop dan membuka google. Di rumah Tina ada fasilitas internet, orang tuanya sengaja menyediakan fasilitas tersebut guna menunjang belajar anak-anaknya.

“Yuk..Di, kita belajar dan diskusi, tentang cara dan teknik membaca Undang-Undang Dasar 1945, kamu harus banyak berlatih kayaknya” Kata Tina.

“Siapp Tin..! aku mau buktikan bahwa aku bukan pejuang tanggung.” Rusdi bersemangat.

”Coba sekarang kamu berdiri!” Perintah Tina. Rusdi kemudian berdiri.

“Di, berdiri harus tegak, jangan membungkuk gitu. Coba dibaca di kertas itu, bagaimana cara berdiri yang baik” Tina berkata. “Berdiri tegak, dada dibusungkan, kaki menjadi tumpuan harus dalam posisi yang baik, pandangan ke depan” Rusdi membaca kertas tersebut. Kemudian Rusdi mempraktekkan.

“Nah gitu Di..” Bagus” Tina acungkan jempol.

“Sekarang cara membacanya, coba kamu baca dulu di kertas tersebut, aku mau ngeprint dulu teks Undang-Undangnya.” Tina melangkah pergi menuju kamarnya. Rusdi membaca dengan seksama bacaan di kertas tersebut. Tak sedikitpun yang terlewatkan, Rusdi membaca dari awal sampai akhir, setelah selesai kemudian Rusdi kembali membaca lagi.

“Nih.. Di” Tina memberikan selembar kertas berisi Teks Undang-Undang Dasar 1945. Rusdi mengambilnya. Kemudian Rusdi berdiri mempraktekkan apa yang barusan Rusdi baca. “Ingat Di.. kalau baca pake mulut bukan pake hidung.” Ujar Tina datar sambil berjalan meninggalkan Rusdi, hendak mengambil minum untuk Rusdi. “Tanda bacanya dipake, jangan datar kalau membaca.” Tina bicara dari dapur.

Rusdi berlatih membaca Undang-Undang Dasar 1945 dengan bantuan Tina, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Rusdi pun pamit kepada Tina karena Rusdi harus mengaji.

“Makasih ya Tin.., kamu baik banget sama aku!” Rusdi tersenyum.

“Sama-sama Udot, aku ingin kamu juara.” Ujar Tina.

“Sekali lagi makasih ya, Assalamu’alaikum.” kemudian Rusdi meninggalkan rumah Tina.

Keesokan harinya, Rusdi bersiap berangkat sekolah dengan semangat. Setelah semuanya siap, Rusdi keluar dari kamarnya, kemudian beranjak ke meja makan untuk sarapan. Terlihat ayah Rusdi sedang memberi makan burung dan ibu Rusdi sedang menyeduh Teh. Sepertinya adiknya masih tidur, tidak kelihatan batang hidungnya. Rusdi mempunyai satu adik perempuan  berusia dua tahun. Ayahnya seorang pedagang di pasar sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa.

“Pagi Mah.. Pagi Pak!” Rusdi menyapa. “Rani masih tidur mah?” Rusdi bertanya tentang adiknya.

“Pagi… Nak!, Ya, Rani masih tidur, Sarapan dulu Nak!” Ibu Rusdi berkata.

“Heii.. jagoan bapak, katanya kamu ikutan lomba ya?” Bapak Rusdi bertanya.

“Iya Pak, Udi ditunjuk untuk mewakili kelas empat ikut lomba Pembacaan Undang-undang.” Ujar Rusdi.

“Wuihhhh kerennn…, kapan lombanya?”

“Empat hari lagi Pak?” Rusdi menjawab.

Suasana SDN Sentosa pagi hari ini seperti biasanya, murid-murid berdatangan dan langsung menuju kelas. Ada sebagian siswa yang langsung menuju lapangan untuk bermain, ada lagi yang di dalam kelas sambil membersihkan kelas. Tetapi Rusdi beda dengan yang lainnya, ia langsung menuju kamar mandi siswa, kemudian ia masuk ke salah satu ruangannya dan langsung ,membuka teks Undang-undang dasar.

Tak lama kemudian datanglah sang ketua kelas yaitu Herman ke kamar mandi siswa. Terdengar suara yang sedang membaca Undang-Undang di salah satu bilik kamar mandi. Lalu Herman mengetuk pintu bilik tersebut. Rusdi membuka pintu tersebut.

“Kamu sedang apa Di?” Tanya Herman.

“Sedang bernapas” Jawab Rusdi datar.

“Kalau jawab itu yang benar!” Herman geram. “Kamu sedang baca Undang-Undang kan?”Tanya Herman lagi.

“Kalau sudah tahu kenapa nanya?” Rusdi balik bertanya.

“Ya, ingin memastikan saja, lagian kamu aneh, masa di toilet gini baca Undang-Undang!” Ujar Herman.

“Ya sudah, kalau nggak boleh, minggir!” Rusdi berlalu meninggalkan kamar mandi siswa, Herman melotot geram.

“Dasar orang aneh!” Herman berteriak.

Rusdi tak menghiraukan perkataan Herman, Ia lalu menuju kelasnya. Sesudahnya tiba di kelas, Rusdi kemudian duduk di bangkunya yang terletak di bagian belakang. Rusdi kembali berlatih membaca Undang-undang. Ia berniat untuk membuktikan bahwa ia bisa, ia tidak mau dicap sebagai pejuang tanggung.

Bel masuk pun berbunyi, Rusdi dan teman-temanya masuk ke ruangan kelas empat. Tak lama kemudian Pak Dedi pun masuk dan pelajaran dimulai dengan diawali membaca do’a yang dipimpin oleh Herman sang ketua kelas.

“Gimana Rus, sudah sampai mana kamu berlatih untuk lomba? Pak Dedi bertanya kepada Rusdi.

“Sudah sampai toilet Pak?” Herman menyela

“Kok sampai toilet?”

“Rusdi emang aneh Pak, masa berlatih di dalam toilet?” Herman kembali menegaskan

“Maaf Pak” Rusdi minta maaf.

“Ya, nggak apa-apa, nanti pas istirahat kamu berlatih sama bapak.”  Pak Dedi melanjutkan materi pelajaran untuk hari ini.

Rusdi sangat bersyukur banyak sekali yang mendukung untuk mengikuti perlombaan ini. Dari mulai Pak Dedi yang selalu melatih dan mengarahkan, Tina sahabatnya yang selalu memberikan semangat serta orang tuanya yang selalu memberikan dukungan serata do’a. tetapi dibalik itu semua ada pula yang meragukan bahkan mencibir Rusdi. Rusdi selalu ingat perkataan mamahnya, bahwa ada selalu ada yang pro kontra terhadap sesuatu yang dilakukan oleh kita.

Terdengar bel pulang, anak-anak semangat membaca do’a pulang, setelah selesai lalu berhamburan keluar kelas. Rusdi dan Tina pulang bersama-sama. Setelah sampai di depan gerbang sekolah, Rusdi minta izin ke Tina untuk membeli makanan kecil di sebrang jalan.

“Rusdi awas….” Tina berteriak.

Gubrakkkk… Rusdi pun jatuh tertabrak sepeda. “Aduhh…” Rusdi kesakitan

”Hehh! Mau mampus kamu, ya?” Teriak Herman yang memakai sepeda.

“Herman, seharusnya kamu minta maaf.” Ujar Tina

“Dia yang tak lihat-lihat saat mau nyebrang, masa aku yang minta maaf.”

“Udah Tin, aku nggak apa-apa” Rusdi berkata sambil memegang kakinya.

“Makanya kalau mau nyebrang, lihat-lihat!” Herman berkata sambil mengayuh sepeda.

“Heii.. Herman kamu harus tanggung jawab!” Teriak Tina. Lalu menoleh ke Rusdi “Di, kamu nggak apa-apa?” Tina Panik.

“Kakiku agak sakit Tin!” Rusdi meringis sambil mencoba berdiri. Tina juga membantu Rusdi untuk bisa berdiri.

“Bisa jalan kan?” Tanya Tina, “Yuk Kita ke UKS dulu, mumpung masih ada di sekolah”. Tina memapah Rusdi. “Keterlaluan tuh Si Herman.”

Tiba di UKS, Tina membaringkan Rusdi di ranjang yang terletak di tengah ruangan UKS. Lalu Tina keluar dari ruangan UKS menuju ke ruang guru. Tina mencari Pak Dedi.

“Ada apa Tina?” Pak Dedi mendekati Tina.

“Itu Pak, Rusdi ditabrak oleh sepeda Herman.” Tina berkata.

“Kok bisa, sekarang dimana Rusdinya?”

“Di ruang UKS Pak.”

“Ya udah mari kita ke UKS.”

Pak Dedi dan Tina menuju ruang UKS dimana Rusdi terbaring. Kemudian Pak Dedi mendekati Rusdi.

“Apanya yang sakit?” Tanya Pak Dedi

“Kaki saya Pak.”

“Coba bapak periksa dulu.”

“Aww… “ Rusdi merintih kesakitan

“Ya udah kita bawa ke rumah sakit saja, Tin kamu temani dulu Rusdi di sini, dan kamu Di, jangan banyak gerak dulu, bapak nyiapkan dulu mobil” Ujar Pak Dedi, lalu Pak Dedi keluar menuju ke tempat parker dimana mobilnya berada.

Rusdi dibawa ke rumah sakit yang jaraknya sekitar empat kilo dari sekolah, ditemani sahabatnya. Tiba di rumah sakit Rusdi lalu di bawa ke ruang UGD. Tak lama kemudian dokter memeriksa Rusdi. Pak Dedi dan Tina menunggu di luar. Selang tiga puluh menit dokter yang memeriksa Rusdi keluar lalu menemui Pak Dedi.

“Bapak orang tuanya?” Tanya dokter

“Bukan Dok, saya gurunya.” Jawab Pak Dedi

“Ohh gitu, pasien yang bernama Rusdi tak apa-apa, kaki nya hanya terkilir saja. Saya sudah memberi obat menghilangkan rasa nyeri, pasien sudah bisa dibawa pulang, pasien jangan dulu banyak jalan dan berdiri lama sebab kakinya akan membengkak.” papar Dokter.

“Ya Dok, saya paham, terima kasih Dok.”

Pak Dedi kemudian menuju ruang administrasi pembayaran  untuk menyelesaikan administrasi pengobatan Rusdi. Setelah semaunya dirasa beres Pak Dedi dan Tina membawa Rusdi pulang ke rumahnya. Sengaja Pak Dedi tak memberi tahu orang tua Rusdi agar tidak membuat orang tua Rusdi khawatir.

Assalamu’alaikum.” Pak Dedi mengucapkan salam

Waalaikum salam.” Jawab Ibu Rusdi sambil membukakan pintu.

“Loh Rusdi, kamu kenapa Nak? Kok diantar sama Pak Dedi dan Tina? Baju kamu kok kotor? Rusdi kok di papah?” Ibu Rusdi memberikan banyak pertanyaan.

“Aduhh mamah, banyak banget pertanyaannya.” Ujar Rusdi.

“Mamah panik Rusdi, ya udah masuk dulu Pak, Tin!” Ibu Rusdi mempersilahkan masuk. Pak Dedi dan Tina masuk ke ruang tamu kemudian ibu Rusdi mempersilahkan duduk.

“Jadi bagaimana ceritanya?” Ibu Rusdi penasaran

“Rusdi tadi tertabrak sepeda Herman Bu, pada saat menyebrang” Ujar Tina

“Rusdi sudah di bawa ke rumah sakit, kata dokter kaki Rusdi hanya terkilir dan jangan banyak berdiri dan jalan kaki biar kaki nya tidak bengkak” Pak Dedi menambahkan.

“Sakit nggak Nak kakinya?” Tanya Ibu Rusdi

“Aduh mamah, kok nanya nya itu sih, ya jelas sakitlah, tapi sekarang sudah mendingan kok.”

“Ya sudah kamu istirahat saja Di.” kata Pak Dedi, “Bu, saya pamit dulu, mau ke sekolah, masih banyak yang harus dikerjakan, dan kamu Rusdi istirahat saja jangan sekolah dulu, besok bapak akan panggil Herman untuk mempertanggungjawabkan kejadian ini dan tentang lomba, kamu jangan dipikirkan dulu. Fokus ke pemulihan kaki mu dulu.” kata Pak Dedi

“Ya Pak, terima kasih sudah mengantar saya Pak, ohh yaa.. tentang kejadian tadi, saya yang salah Pak, saya tidak berhati-hati saat menyebrang. Dan untuk lomba Rusdi mau berusaha menjaga amanah bapak telah menunjuk Rusdi jadi perwakilan kelas, Rusdi mau berusaha.” Rusdi meyakinkan Pak Dedi

“Tapi Herman tetap harus bertanggung jawab.” Ujar Pa Dedi. “Tin, kamu masih mau disini atau mau pulang langsung? Tanya Pak Dedi ke Tina.

“Saya langsung pulang Pak, Saya belum minta izin ke orang tua saya di rumah Rusdi.” Ujar Tina.

“Bu, Rusdi saya pamit dulu ya.” Pak Dedi berdiri dan bersalaman ke Ibu Rusdi dan Rusdi. “Cepat sembuh ya Pejuang kelas empat! Assalamu’alaikum.” Pak Dedi pamit dan meninggalkan rumah Rusdi.

“Tina juga pamit Tante Assalamu’alaikum.” Tina pun pamit ke Ibu Rusdi

Keesokan harinya Pak Dedi memanggil Herman ke ruang guru untuk mempertanggungjawabkan kejadian kemarin yang menimpa Rusdi.

Assalamu’alaikum.”

Waalaikum salam, masuk Herman, silahkan duduk.”

“Pak, saya minta maaf tentang kejadian kemarin.” kata Herman

“Kalau mau minta maaf buka pada bapak , tapi pada Rusdi. Nampaknya kamu tidak suka kepada Rusdi?” Tanya Pak Dedi

“Iya pak saya salah, nanti saya minta maaf ke Rusdi.”

“Bagus, tapi tetap ada konsekuensinya dari kejadian ini, kamu harus membantu Rusdi dalam mempersiapkan lomba.”

“Tapi Pak?”

“Tapi apa?”

“Nggak Pak, saya siap membantu Rusdi.”

“Oke, bapak pegang ucapanmu, ingat kamu ketua kelas jadi harus jadi teladan dan baik sama teman-temanmu, mari kita ke kelas.” ajak Pak Rusdi.

Walau Rusdi terkena musibah Rusdi terus berlatih setiap hari, dari mulai berlatih jalan, bagaimana cara berdiri yang benar, bagaimana cara membaca dengan intonasi yang baik.

Sehari menjelang lomba Rusdi masuk sekolah. Teman-teman sekelas Rusdi sangat senang Rusdi sudah kembali ke sekolah, Tina pun menyambut kedatangan Rusdi,  kecuali Herman yang menunjukkan rasa tak suka kepada Rusdi.

“Rusdi, saya minta maaf atas kejadian kemarin.” Herman minta maaf walau kelihatan tak ikhlas.

“Ya Herman, aku yang salah kok, nyebrang tak hati-hati.”

“Aku janji sama Pak Dedi untuk membantu kamu berlatih untuk lomba, tapi untuk sehari ini saja.”

“Kalau kamu tak ikhlas, jangan dipaksa.” Ujar Tina menimpali

“Kamu jangan ikut campur Tin.” Herman berkata pada Tina

“Nggak apa-apa Tin, aku senang kok, Herman akan membantu aku berlatih.”

Hari perlombaan pun tiba, Rusdi bangun pagi-pagi sekali. Walaupun kakinya masih sedikit sakit. Ia tak mau kesiangan sampai di sekolahnya. Ia mandi kemudian memakai pakaian yang telah disiapkan sebelumnya, celana pendek warna putih dan kemeja panjang warna putih, tak lupa ia juga memakai peci hitam. Setelah dirasa rapi, Rusdi keluar kamar dan langsung menuju meja makan.

“Ganteng banget kamu Nak.” Ibu Rusdi memuji.

“Makasih Mamahku yang cantik.” Rusdi memuji ibunya kembali.

“Sudah siap kamu Nak?” Ibu Rusdi bertanya.

“Siap, Mah.. do’ain Udi ya?” Ujar Rusdi.

“Tanpa kamu minta juga, mamah selalu do’a in Nak, semangat terus ya Nak, apapun hasilnya, yang penting kamu sudah berusaha dan memberikan yang terbaik serta membuktikan kepada teman-temanmu bahwa kamu pejuang tangguh bukan pejuang tanggung.” Paparan Ibu Rusdi.

Suasana sekolah hari ini sangat berbeda dari biasanya, dilapang upacara terdapat satu buah panggung dan auning di depannya. Panggung sudah dihias seindah mungkin. Tampak siswa berkumpul di lapang tersebut, mereka sangat antusias pada kegiatan kali ini. Panitia yang terdiri dari guru-guru SDN Sentosa tampak sibuk, mereka menyiapkan acara ini sudah hampir sebulan.

Rusdi tiba di sekolah dan berjalan dengan rasa sakit di kakinya walaupun tak sesakit kemarin, Rusdi langsung menuju ke kelas. Di dalam kelas sudah banyak teman-temannya yang datang. Mereka asyik bercengkrama dengan sesama temannya. Ketika Rusdi tiba, perhatian mereka langsung mengarah ke Rusdi. Teman-teman Rusdi ada yang bilang, “Cieee Rusdi.”, “Wuihhh Rusdi keren sekali”, “Rusdi beda banget ya teman-teman, nggak seperti biasanya, pecicilan”. Banyak sekali komentar teman-temannya. Rusdi melihat ke sekeliling kelasnya, ia tak menemukan sahabatnya Tina.

“Tina Kemana ya?” Rusdi bergumam. Di ujung kelas ada satu orang yang tampak tidak senang terhadap kehadiran Rusdi yaitu Herman sang ketua kelas.

Herman berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan mendekati Rusdi. Ia menatap Rusdi dengan tajam.

“Ingat ya Di, kamu jangan ngecewain kami!” Herman berkata tegas lalu keluar dari kelas. Teman-teman Rusdi yang melihat kejadian itu langsung mendekati Rusdi,

“Sabar ya Di, kami yakin kamu pasti bisa, walau kamu masih sakit.” salah satu temannya berkata menyemangati. Sementara di gerbang sekolah ada seseorang yang berlari tergopoh-gopoh, kemudian ia berlari menyusuri lorong kelas, menuju kelas empat.

“Udiii.. maaf aku kesiangan.” Tina berkata sambil menarik nafas yang tak beraturan.

“Kirain kamu nggak akan hadir Tin.” Ujar Rusdi.

“Mana mungkin lah aku nggak hadir, ini kan hari istimewa, gimana persiapannya, sudah beres semuanya?” Tina berkata.

“Semuanya sudah siapp….” Rusdi bersemangat.

“Gimana kakimu?

“Masih sakit Tin.”

“Kalau masih sakit jangan dipaksa Di!”

“Nggak Tin, ini sudah mau akhir, masa aku mau mengundurkan diri.”

“Kami panggilkan Peserta dengan nomor undian lima.” Pembawa acara menyebutkan peserta lomba yang akan tampil. Tak terasa satu undian lagi Rusdi akan tampil. Rusdi kelihatan sangat tegang dan merasakan sakit di kakinya. Tetapi ia harus mampu mengendalikan rasa sakit tersebut. Rusdi terus mengatur nafasnya, ia melihat ke sekelilingnya, banyak teman-temannya yang mendukung.

“Dewan juri yang terhormat, serta hadirin yang berbahagia, itulah tadi penampilan peserta nomor undian lima, selanjutnya saya panggilkan peserta nomor undian enam, beri tepuk tangan yang meriah!” Pembawa acara menyebutkan nomor peserta yang akan tampil.

Rusdi pun berdiri, ia kembali melihat ke arah penonton lalu ia berjalan menuju panggung. Rusdi berjalan dengan gagahnya, walaupun ia sakit, ia harus mengendalikannya. Kemudian ia berdiri di panggung melihat ke arah penonton. Lalu Rusdi memberi hormat kepada dewan juri dan penonton, penonton pun memberikan tepuk tangan yang meriah.

Pembacaan Undang-Undang 1945 pun mulai dibacakan Rusdi, dengan suara yang lantang dan intonasi yang bagus Rusdi menghipnotis dewan juri dan penonton. Semua penonton dan dewan juri terdiam menyaksikan Rusdi yang sedang membaca Undang-Undang. Rusdi pun selesai membacakan Undang-Undang Dasar 1945. Namun, dewan juri dan penonton masih tetap diam, mereka masih terkesima dengan apa yang barusan mereka saksikan. Tak selang berapa lama, tepuk tangan yang meriah terdengar. Mereka tampak senang apalagi teman-teman Rusdi bertepuk tangan dengan waktu yang lama. Mereka bangga dengan Rusdi.

Rusdi kembali ke tempat duduknya, Rusdi meringis menahan sakit. Melihat kejadian tersebut, Tina langsung mendekati Rusdi.

“Di, kamu nggak apa-apa?”

“Kakiku sakit Tin.”

“Coba aku lihat” Tina membuka sedikit kaos kaki Rusdi.

“Kakimu bengkak Di.” Tina panik.

———————–

*Cerpen ini diajukan sebagai lomba menulis cerpen FORAKIT_Forum Literasi Kita, yang perdana. Penulis adalah anggota Forakit, sebuah forum tempat berkumpulnya para penggiat dan pecinta literasi.

BIODATA PESERTA

Yusuf RubiherlanPenulis bernama YUSUF RUBIHERLAN. Lahir di Cianjur, pada tanggal 02 Nopember 1980, anak dari pasangan Endang Dahlan dan Hasanah. Penulis mengawali karirnya dengan mengabdikan diri pada dunia pendidikan, penulis pernah menjadi tenaga pengajar di SD Negeri Pasirhonje dan SDN Ciranjang 01 Alhamdulillah telah tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil di SDN Cimacan 2 Pusat Pembinaan Pendidikan Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat.

Jenjang pendidikan yang pernah penulis tempuh antara lain :

  1. MI Sukasenang Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur, lulus pada tahun 1993.
  2. MTs Nurul Islam Kecamatan Sukaluyu Kabupaten Cianjur, lulus pada tahun 1996.
  3. SMAN 1 Ciranjang Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur, lulus pada tahun 1999.
  4. Universitas Terbuka Jurusan PGSD lulus Tahun 2007.
  5. Universitas Pendidikan Indonesia lulus tahun 2010.
Bagikan Jika Bermanfaat

2 Replies to “Pejuang Tanggung Yang Ingin Tangguh”

  1. Yusuf Rubiherlan berkata:

    Terima kasih Miss Hasna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *