Metode Role Playing: Pengertian hingga Tujuan

Role playing atau bermain peran. Sebagai salah satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru pada siswa. Artikel ini akan memberikan penjelasan tentang metode pembelajaran dengan teknik ini.

Apakah yang dimaksud dengan metode pembelajaran role playing? Akan dijelaskan di artikel ini. Selain itu, masih ada banyak hal lagi yang akan dijelaskan pada artikel ini. Semoga pembahasan metode pembelajaran dengan teknik role playing akan dapat membantumu untuk memahami metode tersebut.

Pengertian Metode Pembelajaran Teknik Role Playing

Apakah metode role playing itu? Sandra de Young dalam Nursalam dan Efendi (2008) menyatakan bahwa metode role playing atau dikenal dengan bermain peran merupakan salah satu bentuk drama. Dalam metode ini, siswa diminta untuk bermain suatu drama, secara spontan untuk memperagakan peran – perannya dalam berinteraksi. Peran yang dilakukan berhubungan dengan masalah maupun tantangan dan hubungannya dengan manusia.

Pendapat lain Perdana (2010) menyatakan bahwa metode bermain peran merupakan suatu metode pembelajaran, di mana subjek diminta untuk berpura – pura menjadi seseorang dengan profesi tertentu yang digeluti orang tersebut. Selain itu, subjek juga diminta untuk berpikir seperti orang tersebut agar dia dapat mempelajari tentang bagaimana menjadi seseorang dengan profesi tersebut.

Tangdilintin (2008) menyatakan bahwa metode role playong dapat juga disebut sebagai sosiodrama. Dia menyatakan bahwa metode ini dapat menunjukkan dampak dari tekanan yang kita berikan ke orang lain, mampu menunjukkan suatu kondisi kehidupan yang nyata, dan menghentika sementara suatu drama secara tepat untuk mencari tahu dan merefleksikan perasaan yang ditunjukkan oleh peran tersebut. Fatmawati (2015) menyatakan role playing atau bermain peran merupakan suatu model pembelajaran yang meminta siswa untuk melaksanakan suatu peran sesuai dengan skenario yang telah disusun. Tujuannya untuk mencapau kompetensi yang dibutuhkan dalam pembelajaran.

Kartini (2007) menyatakan bahwa metode bermain peran merupakan suatu cara yang digunakan untuk meniru cara bertingkah laku seseorang dalam sebuah drama. Tingkah laku yang ditekankan dalam metode bermain peran, kaitannya dengan hubungan sosial. Santoso (2010) menyatakan bahwa metode bermain peran mendayagunakan pengaruh kinestetik atau gerakan, sebab subjek diminta untuk melakukan suatu peranan tertentu. Metode ini digunakan untuk mengembangkan kemampuan interpersonal atau kemampuan individu untuk melakukan interaksi dengan orang lain.

Selanjutnya, pendapat lain Wicaksono (2016) menyatakan bahwa metode role playing memiliki dua macam pengertian. Pertama, bermain peran merupakan kegiatan yang bersifat sandiwara. Artinya terdapat permain – pemain maupun tokoh – tokoh yang memainkan suatu peran tertentu, peran tersebut sesuai dengan tokoh yang telah ditulis dalam skenario, dan tujuan dari bermain peran ini adalah untuk memberikan hiburan pada orang lain. Kedua, metode bermain peran merupakan suatu kegiatan yang bersifat sosiologis, di mana pola – pola dalam berperilaku yang ditunjukkan oleh seseorang, ditentukan oleh norma – norma sosial yang hidup di masyarakat.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat diketahui bahwa metode bermain peran, meminta subjek untuk memainkan peran tertentu, melalui suatu interaksi dengan lingkungan sosialnya. Metode pembelajaran dengan  teknik ini dapat dipilih guru untuk diterapkan pada siswa, sebab memiliki kelebihan tertentu. Apa saja kelebihannya? Akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.

Kelebihan dan Kelemahan dari Metode Pembelajaran dengan Teknik Role Playing

Penggunaan metode role playing atau bermain peran, memiliki beberapa kelebihan, yaitu sebagai berikut.

  1. Permainan yang diperankan sendiri, membantu dalam memahami masalah – masalah yang sedang dihadapi (Santoso, 2010).
  2. Bagi peserta yang memainkan peran sebagai orang lain, maka peserta tersebut dapat menempatkan dirinya sendiri seperti watak dari karakter yang dimainkan itu (Satoso, 2010).
  3. Mampu merasakan perasaan yang dialami oleh orang lain. Hal tersebut mampu menumbuhkan sikap saling memperhatikan orang lain (Santoso, 2010).

Selain memiliki beberapa kelebihan, metode role playing atau bermain peran juga memiliki beberapa kekurangan, yaitu sebagai berikut.

  1. Apabila pelatih tidak menguasai metode bermain peran dalam setiap sesi yang diadakan dalam pelatihan, maka akan menjadikan metode bermain peran ini menjadi tidak berhasil (Santoso, 2010).
  2. Langkah – langkah dalam metode bermain peran yang tidak dipahami trainer dengan baik, dapat menimbulkan kekacauan selama kegiatan berlangsung (Santoso, 2010).

Ternyata dalam metode role playing ini akan menjadi suatu kelemahan, ketika guru atau pembimbing atau pelatih tidak memahami dengan baik, tentang langkah – langkah dalam melasanakan metode role playing. Pembahasan yang selanjutnya akan memberikan penjelasan tentang langkah langkah dalam role playing yang perlu dilakukan oleh guru. Sebagai pembanding penting juga untuk mempelajari Metode Simulasi, jadi pelajari juga metode tersebut.

Langkah – langkah Metode Pembelajaran dengan Teknik Role Playing

Adapun langkah – langkah yang perlu dilakukan oleh guru, ketika menerapkan metode pembelajaran dengan menggunakan teknik bermain peran. Langkah – langkah tersebut (Wicaksono dkk. 2016) dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Guru atau pembimbing perlu untuk menyusun atau menyiapkan tentang skenario yang akan ditampilkan di kelas.
  2. Guru membentuk siswa dalam kelompok – kelompok.
  3. Guru memberikan penjelasan pada siswa tentang kompetensi – kompetensi yang ingin dicapai melalui kegiatan pembelajaran role playing.
  4. Kemudian, guru memanggil siswa yang telah ditunjuk untuk memainkan peran sesuai dengan skenario yang telah disiapkan oleh guru.
  5. Masing – masing siswa berada dalam kelompoknya, kemudian siswa tersebut melakukan pengamatan pada siswa yang sedang memperagaka skenarionya.
  6. Guru meminta masing – masing kelompok untuk menyusun dan menyampaika hasil kesimpulan berdasarkan skenario yang dimainkan oleh kelompok yang lain.
  7. Pada langkah terakhir ini, guru memberikan kesimpulan dari kegiatan role playing yang dilakukan bersama siswa. Kesimpulan yang diberikan guru bersifat umum.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa ada tujuh langkah yang harus dilakukan oleh guru, ketika menerapkan suatu teknik bermain peran dalam kegiatan pembelajaran. Skenario sebagai bagian yang penting dalam bermain peran perlu disusun oleh guru dengan cara sebaik mungkin. Meninjau dari skenario yang harus disusun oleh guru, sebenarnya apakah tujuan dari metode pembelajaran yang menerapkan teknik bermain peran? Di bawah ini penjelasannya.

Tujuan dari Metode Pembelajaran dengan Teknik Role Playing

Sama hal nya dengan metode – metode pembelajaran dengan teknik yang lain, metode role playing atau bermain peran, juga memiliki tujuan. Tujuan dari metode role playing atau bermain peran, yaitu mengajarkan tentang empati pada siswa (Ismail, 1998). Siswa diajak untuk mengalami dunia dengan cara melihat dari sudut pandang orang lain. Siswa diminta untuk membayangkan dirinya di posisi orang lain agar bisa menyelami perasaan dan sikap yang tunjukkan oleh orang lain, memahami dan peduli terhadap tujuan dan perjuang dari orang lain, dan mencoba untuk berperan yang tidak biasa. Dalam artian memainkan peran orang lain yang mungkin dapat berbeda dengan karakteristik yang ada dalam dirinya.

Penjelasan di atas tentang berbagai hal yang berkaitan dengan metode pembelajaran yang menerapkan teknik bermain peran, semoga dapat membantu saudara dalam memahami teknik role playing. Selamat belajar dan sukses selalu.

Referensi:

  1. Fatmawati, S. 2015. Desain Laboratorium Skala Mini untuk Pembelajaran Sains Terpadu. Yogyakarta: Deepublish.
  2. Ismail, A. 1998. Ajarlah Mereka Melakukan: Kumpulan Karangan Seputar Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
  3. Kartini, T. 2007. Penggunaan Metode Role Playing untuk Meningkatkan Minat Siswa dalam Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Kelas V SDN Cileunyi I Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Jurnal Pendidikan Dasar, (8).
  4. Nursalam, dan Efendi, F. 2008. Pendidikan dalam Keperawatan. Surabaya: Salemba Medika.
  5. Perdana, P. 2010. Biru Indigo. Jakarta: Voila.
  6. Santoso, B. 2010. Skema dan Mekanisme Pelatihan: Panduan Penyelenggaraan Pelatihan. Jakarta: Yayasan Terumbu Karang Indonesia (TERANG).
  7. Tangdilintin, P. 2008. Pembinaan Generasi Muda. Yogyakarta: kanisius.
  8. Wicaksono, A., dkk. 2016. Teori Pembelajaran Bahasa: Suatu Catatan Singkat Edisi Revisi. Yogyakarta: Garudhawaca.

Bacaan lain: