Mazhab Geografi dan Lingkungan dalam Teori Sosiologi Setelah Auguste Comte

Secara umum, perkembangan sosiologi dapat dibagi dalam tiga kelompok masa. Ketiga kelompok masa tersebut meliputi masa sebelum Auguste Comte, era Auguste Comte, dan setelah Auguste Comte. Jadi, bisa dikatakan masa Auguste Comte -lah yang menjadi patokan dari perkembangan sosiologi.

Auguste Comte yang dikenal sebagai bapak sosiologi ini sangat populer karena dialah yang memunculkan istilah sosiologi untuk pertama kalinya. Setelah masa Auguste Comte, sosiologi kemudian terus mengalami perkembangan. Bermunculan pula tokoh tokoh sosiologi lainnya yang juga memunculkan pemikirannya masing -masing mengenai sosiologi dan kajiannya.

Ada banyak tokoh sosiologi yang menyerukan gagasan mengenai konsep masyarakat, dengan aneka ide berbeda. Dari berbagai gagasan inilah, kemudian untuk memudahkan kajian mengenai sosiologi, maka dibuatlah kelompok pemikiran berupa mazhab mazhab sosiologi.

Mazhab mazhab sosiologi ini mencakup aliran aliran pemikiran dari para pemikir yang memiliki ciri khas serupa. Teori sosiologi setelah Auguste Comte ini mengenal ada enam mazhab, yang meliputi :

(1) mazhab geografi dan lingkungan, (2) Mazhab Organis dan Evolusioner, (3) Mazhab Formal, (4) Mazhab Psikologi, (5) Mazhab Ekonomi, (6) Mazhab Hukum.

Kali ini, mazhab yang akan kita bahas lebih mendalam adalah mazhab geografi dan lingkungan. Mazhab lainnya akan dijabarkan dalam artikel lain secara lebih terfokus.

Para tokoh sosiologi pendukung mazhab geografi dan lingkungan

Ada banyak tokoh pemikir yang ikut mengembangkan mazhab geografi dan lingkungan. Bahkan, teori teori yang dapat digolongkan ke dalam mazhab ini juga cukup banyak dan sudah lama berkembang. Banyak pemikir yang setuju bahwa masyarakat manusia mengalami perkembangan tak lepas dari tanah atau lingkungan di mana masyarakat tersebut hidup.

Sederhananya, keberadaan masyarakat hanya akan mungkin ketika terdapat tempat atau lingkungan untuk berpijak dan hidup bagi masyarakat tersebut. Dalam lingkungan tersebut pula, masyarakat bisa berkembang.

Aneka teori yang tercakup dalam mazhab geografi dan lingkungan ini dianggap sangat logis dan sederhana untuk dipahami. Sebab, teori ini dapat menjadi dasar dalam kajian terkait sejarah perkembangan dari suatu masyarakat.

Karena banyaknya teori dan kajian yang terkait dengan relasi masyarakat dengan geografi, maka para pendukung mazhab geografi dan lingkungan ini pun terbilang cukup banyak. Meski begitu, tidak semua teori terkait langsung dimasukkan ke dalam fokus pembelajaran dalam mazhab ini.

Di antara sekian banyak teori-teori yang dapat digolongkan dalam mazhab geografi dan linkungan ini, dipilih beberapa ajaran yang dianggap paling relevan dan berpengaruh. Ajaran tersebut di antaranya berasal dari tokoh sosiologi bernama dari Edward Buckle dari Inggris (1821-1862) dan Le Play dari Prancis (1806-1888). Selain itu, ada juga dukungan dari E. Hutington.

Mazhab geografi dan lingkungan menurut Edward Buckle

Edward Buckle menyampaikan gagasannya dalam buku karyanya yang berjudul ‘History of Civilization in England. Di dalam buku yang tidak diselesaikannya ini, Buckle berusaha meneruskan ajaran-ajaran sebelumnya mengenai bagaimana pengaruh keadaan alam terhadap perkembangan masyarakat.

Analisa yang dilakukan oleh Buckle ini berhasil menemukan tentang adanya beberapa keteraturan hubungan antara keadaan alam dengan tingkah-laku manusia. Bagaimana manusia berperilaku dan berkembang dipengaruhi oleh bagaimana kondisi alam di mana manusia tersebut tinggal.

Sederhananya, kita bisa memahami bagaimana suatu kondisi lingkungan akan berpengaruh terhadap taraf kemakmuran suatu masyarakat, pola pikir, kecenderungan pekerjaan, pendidikan, hingga tinggi rendahnya penghasilan dari kelompok masyarakat tersebut.

Agar lebih jelas, mari kita lihat contohnya, yakni ketika seorang yang tinggal dekat dengan wilayah pantai, maka masyarakat di sekitar lingkungan geografi tersebut akan cenderung berprofesi sebagai nelayan. Karena profesinya sebagai nelayan, berarti penghasilan yang didapatkan pun akan tergantung pada banyak sedikitnya ikan yang diperoleh.

Banyak Penghasilan para nelayan tradisional yang relatif rendah membuat para nelayan cenderung mengabaikan pendidikan. Apalagi, ketika fasilitas pendidikan di lingkungannya minim. Pendidikan yang rendah ini pun akan sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan tingkah lakunya.

Contoh lain, ketika orang -orang yang tinggal di daerah pegunungan dengan medan yang sulit dijangkau fasilitas umum, maka hal ini juga akan mempengaruhi tingkah laku mereka. Begitu pula, contoh nyatanya masyarakat di daerah Madura. Kondisi lingkunan geografis yang panas, gersang dan tidak subur membuat masyarakatnya harus mau bekerja keras secara fisik, sehingga cenderung menempa karakter mereka menjadi sosok yang keras.

Poin utama dari pemikiran ini dapat dipahami bahwa taraf kemakmuran suatu masyarakat sangat tergantung pada keadaan alam, iklim dan kondisi geografis lain, di mana masyarakat tersebut hidup.

Mazhab geografi dan lingkungan menurut Le Play

Jika diamati, Le Play juga memiliki kesimpulan-kesimpulan yang serupa dengan pemikiran Buckle. Meski cara analisa yang dilakukan agak berbeda, namun hasil analisanya menunjukkan adanya keterkaitan dan mendukung mazhab geografi ini.

Le Play yang merupakan seorang insinyur pertambangan, banyak melakukan studi lapangan ketika ia banyak mendapat kesempatan mengunjungi berbagai pelosok daerah di kawasan Eropa. Dalam perjalanannya tersebut, Le Play banyak mempelajari mengenai kehidupan berkelompok manusia demi mempertahankan hidupnya.

Ia pun memulai analisisnya dengan menggunakan objek utama berupa keluarga, karena keluarga dianggap sebagai unit sosial yang fundamental dari masyarakat. Organisasi keluarga ini menurut Le Play ditentukan oleh cara-caranya mempertahankan kehidupan, yakni dengan cara mereka bermata pencaharian.

Berdasarkan pengamatannya, mata pencaharian dari kelompok masyarakat ini umumnya sangat tergantung pada lingkungan hidupnya. Relasi antara masyarakat dengan lingkungan hidup ini dapat dilihat sebagai suatu hubungan timbal balik antara faktor-faktor tempat, pekerjaan dan manusia atau masyarakat.

Atas dasar faktor-faktor tersebutlah, dapatlah diketemukan adanya unsur-unsur yang menjadi dasar dari adanya kelompok-kelompok yang lebih besar. Jika sudah memasuki analisa yang lebih luas, maka diperlukan analisis terhadap semua lembaga-lembaga politik serta lembaga sosial dari suatu masyarakat tertentu.

Ada banyak pengikut Le Play yang juga mengembangkan teori yang serupa dengan yang dikembangkan oleh Le Play. Analisa yang dilakukan para pengikut Le Play ini dilakukan dengan jalan mencoba mengumpulkan faktor-faktor yang memengaruhi kehidupan sosial.

Faktor – faktor yang telah dilakukan disusun secara logis dan sistematis. Kemudian, analisa dilakukan dengan bertitik tolak pada asumsi bahwa tipe organisasi sosial ini ditentukan oleh faktor tempat.

Dari analisa ini, maka timbulah teori yang menyatakan bahwa keluarga-keluarga patrilineal mayoritas timbul di daerah-daerah stepa. Keluarga-keluarga dengan karakter ini memiliki sifat yang cenderung otoriter, tidak demokratis dan konservatif.

Tipe-tipe keluarga ini akan berkembang menjadi particularist type of family, dengan mata pencaharian umum adalah bercocoktanam dan menangkap ikan. Kemudian, pada tipe keluarga semacam ini dapat tumbuh akar-akar demokrasi dan kebebasan.

Analisa semacam inilah yang kemudian banyak dikembangkan dan didukung oleh tokoh tokoh sosiologi lain. Bahkan, di awal abad ke-20, muncul pula karya terkait oleh E. Hutington (tahun 1915) yang berjudul ‘Civilization and Climate’.

Dalam bukunya tersebut, ia menguraikan mengenai mentalitas manusia yang menurutnya ditentukan oleh faktor iklim. Hal ini sekaligus memperkuat bagaimana mazhab geografi dan lingkungan dapat sangat berpengaruh dalam perkembangan sosiologi.

Mazhab ini dianggap sangat penting dalam perkembangan sosiologi karena ajaran-ajaran atau teori -teori yang terdapat di dalamnya menghubungkan faktor keadaan alam dengan faktor – faktor struktur serta organisasi sosial. Ajaran dan teori ini pun juga mampu mengungkapkan bagaimana korelasi antara tempat tinggal dan aneka ragam karakteristik kehidupan sosial dari suatu masyarakat.

Jadi, demikianlah mengenai teori sosiologi setelah Auguste Comte, yakni berupa mazhab geografi dan lingkungan. Semoga artikel ini bermanfaat.

Referensi :

  1. Poloma, Margaret. M. 2007. Sosiologi Kontemporer. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta.
  2. Soerjono Soekanto. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Bacaan lain:

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *