MARK TWAIN – NOVELIS KLASIK AMERIKA SERIKAT

Dalam sembilan tahun terakhir, Doodle pada lambang Google menampilkan adegan cerita The Adventure of Tom Swayer yang menarik perhatian jutaan pengguna setia Google. Pasalnya dekorasi pada logo Google tersebut diperuntukan secara khusus bagi novelis klasik terkemu Amerika Serikat, Mark Twain.

Mark Twain adalah nama pena dari Samuel Langhorne Clemens. Mark adalah seorang novelis terkenal di Amerika Serikat. Bahkan ia mendapat julukan sebagai The Great American Novel.

Dari berbagai tulisannya menceritakan rangkaian kisah nyata sepanjang perjalanan hidupnya. Ia pandai membaca keadaan. Setiap kota yang ia jelajahi terdaftar dalam catatan hariannya. Dalam catatan tersebut hal apa saja ia tulis seperti keindahan suatu kota bahkan kondisi terpuruknya sekalipun.

Twain terlahir dari sepasang suami istri John Marshall dan Jame Lampton Clemens. Ayahnya pernah menggeluti berbagai profesi seperti pengacara, hakim, dan penjaga toko. Sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.

Mark Twain lahir di desa kecil Florida, Missouri, Amerika Serikat pada tanggal 30 November 1835. Sejak kecil tubuhnya nampak lemah, karena usia kelahirannya dua bulan lebih cepat dari waktu yang diperkirakan.

Ketika Twain berusia empat tahun, ia dan keluarganya pindah ke Hannibal, di dekat sungai Mississipi. Kota ini dikenal sebagai kota ramai dengan seribu orang. Hampir setiap perahu yang berdatangan menjadikan Mississipi sebagai pusat kegiatan.

Twain sejak kecil sudah terbiasa hidup dengan lingkungan yang keras. Ketika masih tinggal di Missouri misalnya, ia menyaksikan secara langsung kekerasan yang dilakukan terhadap budak. Missiouri pada saat itu familiar dengan sebutan negara budak. Pembunuhan terhadap budak sudah menjadi fenomena biasa terjadi di Missouri.

Ketika di Hannibal, lagi-lagi pemandangan kekerasan menjadi pertunjukan rutin Twain. Sekitar tahun 1844, Twain menjumpai mayat di kantor ayahnya. Konon mayat tersebut adalah imigran California yang dibunuh. Twain juga menyaksikan pembunuhan seorang budak yang dipukul dengan sepotong besi.

Mindset tinggal ditepian sungai sebagai suatu kebahagiaan adalah khayalan bagi Twain. Dibalik megahnya kota-kota mengalir sungai-sungai jernih dibawahnya tersirat problematika cukup komplek. Pasalnya ditepian sungai banyak masyarakat miskin yang diperlakukan semena-mena. Kebiasaan mabuk-mabukan menjadi fenomena mengerikan disepanjang kota.

Sepanjang perjalanan Twain dari Missiori tempat kelahirannya sampai ia bermukim di Hannibal memberikan pengalaman pahit untuknya. Kesedihan yang berlalu lalang ia temukan kini menjadi tumpukan fiksi populer menginspirasi para penikmat sastra klasiknya.

Perjalanan Karir Twain

1. Bekerja dipercetakan

Besar dan tumbuh dalam lingkungan penuh dengan kekerasan rupanya berhasil memupuk keberanian Twain. Semenjak ayahnya tutup usia pada tahun 1847 keadaan ekonomi keluarga Twain menurun dari pendapatan biasanya. Ayahnya sebagai satu-saunya tulang punggung keluarga yang kini tiada memaksa Twain untuk menggantikan posisi sang ayah.

Petualangan Twain dimulai ketika berusia dua belas tahun. Ia bekerja sebagai apprentice printer di Hannibal Courier. Selama bekerja ia hanya dibayar denngan upah jatah makan yang tidak seberapa. Kemudian pada usia 15 tahun ia mulai berhijrah tempat kerja ke Hannibal Western Union.

Hannibal Western Union merupakan sebuah perusahaan surat kabar yang dimiliki oleh kakak tertuanya, Orion. Twain kesehariannya bekerja sebagai pencetak. Tidak menyia-menyiakan kesempatan emas, Twain juga melebarkan potensinya untuk sesekali menulis di Hannibal Western Union.

Twain juga sempat menggantikan kakaknya sebagai editor. Meniti karir di Hannibal Western Union menciptakan sosok Twain yang kompeten. Sebagai sebagai pemuda yang mempunyai ambisi tinggi, pekerjaannya saat ini tidak cukup membuat Twain merasa puas. Twain memiliki keinginan melihat dunia lebih jauh.

Melepas karir di Hannibal Western Union, Twain melanjutkan perjalanan ke kota-kota di Amerika Serikat. Pada tahun 1853 Twain mulai bekerja di St. Louis. Kemudian ia melanjutkan perjalanan karirnya di sebuah percetakan besar di New York.

Darah sastra Twain senantiasa hidup dalam jiwanya. Meskipun tidak bekerja sebagai penulis, Twain terus menulis dan terkadang tulisannya masih terpampang di surat kabar milik Orion. Gaya Twain menulis memang terkesan unik. Rangkaian kata dalam kertas ia dapatkan dengan hanya mengamati kota-kota yang ia kunjungi.

2. Lisensi Nahkoda Kapal

Sukses menikmati kemegahan kota New York ternyata tidak membunuh ambisinya. Ketertarikan untuk belajar sebagai nahkoda kapal mulai menggelisahkan batinnya. Berbagai cara ia lakukan untuk memperoleh lisensi sebagai nahkoda kapal.

Pada saat itu ia mencoba mendaftar sebagai murid magang Bixby. Bixby dikenal sebagai nahkoda kapal hebat yang sudah memiliki lisensi. Untuk belajar, Twain harus mengeluarkan ongkos $500. Dengan ongkos yang terbilang mahal tidak sebanding dengan pengalaman belajar dan gaji yang diperoleh setelah mendapat lisensi sebagai nahkoda kapal.

Bagi Twain, profesi sebagai nahkoda kapal adalah profesi yang menawarkan sejuta kebebasan dan menyenangkan. Dari profesi ini ia juga mendapat kedudukan terhormat. Kondisi keuangan Twain yang sempat terpuruk, kini pulih kembali. Selang beberapa tahun, lisensi yang ia miliki rupanya tidak membawa Twain berlayar lebih lama dengan kapal uapnya.

Pada tahun 1861 terjadi perpecahan Perang Sipil yang salah satu dampaknya adalah penghentian sebagian besar lalu lintas sipil di Sungai. Dari sini cita-cita Twain sebagai nahkoda kapal yang berstatus terhormat dan berpendapatan tinggi harus ia lepaskan.

3. Bekerja Sebagai Reporter

Imbas dari Perang Sipil mengantarkan Twain untuk bermukim di kota Virginia. Sebuah kota yang cukup familiar dengan praktek perjudian. Sama dengan kota-kata yang pernah Twain singgahi, dibalik kemegahan kota Virginia menyingkap tabir prakter pembunuhan dan kerusuhan yang jarang diketahui khalayak umum.

Twain memulai karirnya sebagai reporter di perusahaan besar di Virginia. Sebagai reporter, jiwa integritasnya dipertanyakan. Mampukah Twain memertahankan integritas moralnya ? Pertanyaan itu seolah menguji dua hal pada Twain, tetap bertahan pada integritas moral yang ia miliki atau bungkam dengan praktek kejahatan disekelilingnya.

Nampaknya pengalaman masa lalunya melahirkan pribadi Twain yang berani. Lewat tulisannya ia lebih semangat melawan kejahatan-kejahatan penipuan. Bahkan menyoal praktek korupsi ia berani menyampaikan kritikannya.

Sukses berkarir sebagai reporter, semakin menguatkan ambisi Twain untuk mewujudkan keinginannya. Bagi Twain sudah saatnya ia berkarir secara mandiri sebagai seorang pembicara profesional.

Hobinya yang suka mengunjungi berbagai tempat, membuatnya tidak asing ketika melakukan tour ceramah diberbagai kota. Pengalaman pertamanya sebagai seorang pembicara di Kepulauan Sandwich, Hawai. Mencoba menekuni profesinya saat ini, dalam beberapa kesempatan ia juga diundang untuk mengisi acara-acara seminar di kampus.

Karya – karya Twain

Suguhan fiksi klasik penuh dengan nuansa humor memberikan gelar terhormat sebagai Greatest American Humorist of This Age kepada Twain. Karangan pertama Twain yang berjudul The Celebrated Jumping Frog dari Celaveras Country dan Other Sketches untuk pertama kalinya terbit pada tahun 1867. Buku ini mengisahkan pengalaman Twain selama kunjungan ke Barat.

Twain juga menulis sebuah roman klasik yang berjudul The Adventure of Huckleberry Finn (1855). Buku ini mengisahkan pengalaman seorang anak gelandangan bernama Huckleberry Finn yang hidup pada abad ke 19 di Amerika Serikat. Kemudian dalam beberapa tahun kemudian kisah serupa kembali terbit dalam buku terbarunya yang berjudul The Adventure of Tom Swayer (1876). Beberapa karya Twain lainnya seperti Old Time On The Mississpi, The Innocent Abroad, Life of The Mississipi, dan masih banyak lagi.

Berbagai penghargaan Twain terima berkat karya terbaiknya. Selama tahun-tahun terakhirnya Twain lebih sering menulis otobiografinya. Selain itu Twain juga konsen mengkritik penguasa melalui tulisan kontrversialnya seperti Anti-Semetism, “Concerning the Jews” (1899), a denunciation of imperialism, “To the Man Sitting in Darkness” (1901), an essay on lynching, “The United States of Lyncherdom” (posthumously published in 1923); and a pamphlet on the brutal and exploitative Belgian rule in the Congo under Leopold II, King Leopold’s Soliloquy (1905).

Selain roman dan beberapa esai karyanya, Twain juga sukses memikat pembaca melalui quote yang ia ciptakan. Berikut beberapa quote Twain yang membakar semangat kita.

“ If you tell the truth, you don’t have to remember anything ”

“ The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why ”

“ Never allow someone to be your priority while allowing yourself to be their option ”

Sumber :

1. Firmansyah, Ganjar. 2019. 7 Fakta Kehidupan Mark Twain, Penggagas Kesusastraan Modern Amerika, Diakses dari  https://www.google.com/amp/s/www.idntimes.com/science/discovery/amp/ganjar-firmansyah/fakta-kehidupan-mark-twain-exp-c1c2
2. Mark Twain (1835-1910), Diakses dari https://www.biography.com/writer/mark-twain
3. Medrut, Flavia. 2018. 22 Mark Twain Qoute that Could Change The World, Diakses dari https://www.google.com/amp/s/www.goalcast.com/2018/03/14/22-mark-twain-quotes/amp/
4. Wahyudi, Reza. 2011. Google “Doodle” Hari Ini untuk Mark Twain, Diakses dari https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/tekno/read/2011/30/11264869/google.quotedoodlequot.hari.ini.untuk.mark.twain
5. V. Quirk, Thomas. 2020. Mark Twain America Writer, Diakses dari https://www.britannica.co/biography/Mark-twain
Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *