Konsep Kemiskinan dan Ketimpangan Sosial

Bagi sebuah negara, kemiskinan dan ketimpangan adalah suatu momok tersendiri. Sudah pasti suatu negara menginginkan yang terbaik bagi rakyatnya, yakni hidup makmur dan sejahtera tanpa kemiskinan. Hanya saja, melepaskan diri dari jerat kemiskinan dan meminimalisir ketimpangan dalam masyarakat sering jadi pekerjaan berat dan sulit terselesaikan.

Konsep kemiskinan dan ketimpangan sendiri menjadi kajian menarik dalam kajian sosial politik. Sebab, konsep kemiskinan dan ketimpangan ini memang sudah seharusnya dikaji secara mendalam agar diperoleh gambaran tepat mengenai bagaimana tindakan tepat untuk mengatasi kedua permasalahan pelik ini.

Kali ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai konsep kemiskinan, konsep ketimpangan, macam-macam kemiskinan, indikator kemiskinan, faktor-faktor penyebab kemiskinan, dan bagaimana peran perekonomian suatu negara dalam mengatasi kemiskinan.

Konsep Kemiskinan

Konsep kemiskinan bisa dikatakan sebagai masalah multidimensi lantaran hal ini berkaitan dengan ketidakmampuan individu dalam berbagai hal, termasuk akses ekonomi, sosial, budaya, politik juga partisipasinya dalam masyarakat. Konsep masyarakat mengandung pengertian yang lebih luas dari sekedar tingkat pendapatan atau konsumsi yang rendah.

Lebih dari itu, kemiskinan juga mencakup ketidakmampuan seorang individu dalam memenuhi aspek kebutuhan dirinya di luar pendapatan (non-income factors), seperti akses kebutuhan minimun, pendidikan, kesehatan, air bersih dan sanitasi. Itu sebabnya, konsep kemiskinan dapat disebut sebagai suatu hal yang kompleks (Nurwati, 2008 : 2).

Karena begitu kompleksnya masalah kemiskinan ini, upaya mengentaskan kemiskinan pun juga jadi perkara yang sulit. Indikator-indikator kemiskinan dan metode untuk mengatasi kemiskinan yang berlaku di suatu tempat, belum tentu bisa diterapkan di tempat lain.

Definisi Kemiskinan

Pengertian kemiskinan dapat dipahami sebagai ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan dirinya secara relatif sesuai persepsi yang dimilikinya, yang mencakup ketidakmampuan ekonomis dan non ekonomis seperti sosial, politik dan spiritual (Kurnianingsih, 2012 : 47),

Pengertian kemiskinan lainnya juga disampaikan oleh Supriatna (1997:90) yang menjelaskan bahwa kemiskinan adalah situasi serba terbatas yang terjadi bukan atas kehendak individu yang bersangkutan. Individu termasuk miskin ketika ia memiliki kecukupan yang rendah dalam aspek tingkat pendapatan, pendidikan, produktivitas kerja, kesehatan, gizi, serta kesejahteraan hidup yang menunjukkan lingkaran ketidakberdayaan (Kadji, tt : 1).

Meskipun secara luas kemiskinan dikaitkan dalam aspek yang cukup luas dalam kehidupan, akan tetapi untuk memudahkan penetapannya, kemiskinan sering diidentikkan pengukurannya dengan indikator ekonomi. Dalam pengertian sempit, kemiskinan diartikan sebagai ketidakmampuan seseorang dalam hal ekonomi.

Macam Kemiskinan

Kemiskinan dapat dibagi ke dalam berbagai macam, dengan berbagai indikator yang berbeda. Jika dilihat dari sudut pandang pengukurannya, kemiskinan dibedakan ke dalam dua macam, yakni kemiskinan absolut dan relatif.

a# Kemiskinan Absolut

Kemiskinan absolut adalah kemiskinan yang diukur dengan menggunakan standar yang sifatnya konsisten, atau tidak terpengaruh terhadap waktu, tempat atau pun negara. Indikator seseorang termasuk dalam kategori kemiskinan absolut adalah ketika dirinya berada di bawah garis kemiskinan, dan ia tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri yang paling minimum.

Definisi kemiskinan absolut menurut Word Bank adalah : individu yang hidup di bawah pendapatan USD 1 $ per hari, sedangkan kemiskinan menengah di bawah USD 2 $ per hari.

b# Kemiskinan Relatif

Berbeda dengan kemiskinan absolut yang telah memiliki standar baku, kemiskinan relatif sifatnya juga relatif. Kemiskinan relatif adalah kondisi masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi akibat kebijakan pembangunan yang belum mampu menjangkau keseluruhan lapisan masyarakat sehingga mengakibatkan adanya ketimpangan distribusi pendapatan.

Macam kemiskinan lainnya juga bisa dilihat dari sisi yang lebih kompleks dari indikator kemiskinan yang digunakan, yakni kemiskinan makro dan kemiskinan mikro. Berikut adalah perbedaannya :

a# Kemiskinan Makro

Konsep kemiskinan makro dilihat dari sudut pandang ketidakmampuan sisi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan hidup dasar, berupa makanan dan bukan makanan, yang diukur dari sisi pengeluaran. Pengukuran kemiskinan makro ini memanfaatkan data jumlah penduduk miskin secara agregat (nasional), yang diperoleh dari data penghitungan sampel secara nasional.

b# Kemiskinan Mikro

konsep kemiskinan mikro dihitung dengan menggunakan 14 indikator kemiskinan pada basis rumah tangga. Adapun 14 variabel yang digunakan sebagai indikator kemiskinan tersebut meliputi :

  • Luas lantai per kapita
  • Jenis tanah
  • Jenis dinding
  • Fasilitas tempat buang air besar
  • Sumber air minum
  • Sumber penerangan
  • Bahan bakar
  • Daya beli terhadap daging/ susu/ ayam
  • Frekuensi makan
  • Frekuensi membeli pakaian baru
  • Kemampuan berobat
  • Lapangan usaha kepala rumah tangga
  • Pendidikan kepala rumah tangga
  • Aset yang dimiliki rumah tangga

Perbedaan mendasar dari konsep kemiskinan makro dan mikro terletak pada metodologi yang digunakan pada pengukurannya. Jika pada kemiskinan makro dihitung berdasarkan konsep basic need approach, pada kemiskinan mikro berdasarkan pada pendekatan kualitatif.

Macam kemiskinan juga dapat dilihat berdasarkan pada pola waktunya. Berdasarkan pola waktu, kemiskinan dibedakan ke dalam empat macam, yakni (a) persistent poverty, (b) cyclical poverty, (c) seasonal poverty, dan (d) accidental poverty.

(a) persistent poverty merupakan jenis kemiskinan yang kronis atau terjadi secara turun temurun. Daerah dengan penduduk yang tergolong miskin persisten ini umumnya tinggal di daerah-daerah dengan sumber daya yang kritis, atau daerahnya terisolasi, minim infrastruktur sehingga tidak terdapat akses jalan dan transportasi dengan daerah lainnya.

(b) cyclical poverty, merupakan macam kemiskinan yang terjadi mengikuti pola siklus ekonomi secara keseluruhan.

(c) seasonal poverty, merupakan macam kemiskinan yang terjadi musiman seperti sering ditemukan pada masyarakat dengan mata pencaharian sebagai nelayan dan buruh pertanian tanaman pangan.

(d) accidental poverty, merupakan macam kemiskinan yang terjadi dikarenakan peristiwa bencana alam atau dampak suatu kebijakan tertentu yang menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat (Nurwati, 2008 : 5).

Faktor Penyebab Kemiskinan

Kemiskinan dapat terjadi akibat berbagai faktor. Faktor-faktor penyebab kemiskinan tersebut menurut Kartasasmita, Ginandjar (1996: 240), dalam Nurwati (2008), meliputi

  • rendahnya tingkat pendidikan,
  • rendahnya derajat kesehatan,
  • keterbatasan lapangan kerja,
  • kondisi keterisolasian

Penyebab kemiskinan ini juga dapat dilihat dari laporan yang dikeluarkan Word Bank (2010) yang menyebutkan bahwa terdapat lima faktor yang dianggap mempengaruhi terjadinya kemiskinan. Lima faktor penyebab kemiskinan menurut Word Bank tersebut, meliputi :

  • pendidikan,
  • jenis pekerjaan,
  • gender,
  • akses terhadap pelayanan kesehatan dasar
  • infrastruktur dan lokasi geografis.

Relasi Kemiskinan dan Ketimpangan

Hal paling nyata yang dapat dilihat ketika terjadi kemiskinan adalah adanya pengangguran serta keterbelakangan. Masyarakat yang miskin umumnya lemah dalam kemampuan berusaha, serta terbatas terhadap akses kegiatan ekonomi. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat tersebut semakin jauh dari masyarakat lain dengan potensi lebih tinggi.

Pada akhirnya, masyarakat yang miskin cenderung lebih mudah terjebak pada kemiskinan, sementara masyarakat dengan kemampuan yang lebih tinggi akan cenderung berusaha untuk terus memperbaiki hidupnya. Alhasil, jarak antara masyarakat miskin akan menjadi semakin jauh dengan masyarakat golongan menengah dan kaya. Hal ini berarti, dalam masyarakat telah terjadi ketimpangan.

Kondisi ini menunjukkan bagaimana relasi kemiskinan dan ketimpangan yang berlangsung dalam masyarakat terwujud. Satu kondisi dapat mempengaruhi kondisi lainnya. Ketimpangan dalam masyarakat ini akan semakin besar apabila kebijakan pemerintah setempat tidak tepat dalam upaya mengatasi aneka faktor penyebab kemiskinan ini.

Referensi:

1. Kadji, Yulianto. Tt. Kemiskinan dan Konsep Teoritisnya. Dalam http://repository.ung.ac.id/get/simlit_res/1/318/Kemiskinan-dan-Konsep-Teoritisnya.pdf, diakses pada 13 Mei 2018.
2. Kartasasmita, Ginanjar. 1996. Pembangunan Untuk Rakyat, Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. Jakarta : Pustaka Cidessindo.
3. Kurnianingsih, Titik. 2012. Dimensi Kemiskinan. Dalam http://www.dpr.go.id/doksetjen/dokumen/apbn_Dimensi_Kemiskinan20130130135844.pdf, diakses pada 13 Mei 2018.
4. Nurwati, Nunung. 2008. Kemiskinan : Model Pengukuran, Permasalahan dan Alternatif Kebijakan. Padjajaran : Jurnal Kependudukan Padjadjaran, Vol. 10, No. 1, Januari 2008 : 1 – 11.

Materi lain:

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *