Khulafaur Rasyidin Sebagai Penerus Perjuangan Nabi Muhammad saw.

Renungan Awal

Sebagai seorang manusia, sudah menjadi hal yang wajar mereka akan meninggalkan dunia yang sifatnya hanya sementara ini. Termasuk juga yang terjadi pada baginda nabi Muhammad saw.

Namun demikian, nabi Muhammad sebagai seorang utusan dan rasul yang terakhir tentunya sudah menyiapkan beberapa sahabatnya untuk meneruskan perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam ke seluruh dunia ini.

Dari sekian banyak jumlah sahabat yang setia dan mengikuti nabi hingga akhir hayatnya. Ada beberapa sahabat yang memang mempunyai kedekatan dan keahlian khusus dalam mendapingi keseharian dan perjuangan nabi dibandingkan dengan para sahabat yang lainnya.

Sehingga ketika nabi Muhammad saw. wafat, beberapa sahabat ini ditunjuk sebagai pemimpin yang melanjutkan tongkat perjuangan dari nabi Muhammad saw.

Para sahabat yang ditunjuk sebagai penerus perjuangan nabi inilah yang kemudian mendapatkan gelar Khulafaur Rasyidin. Lalu apa dan siapa sajakah sahabat yang mendapatkan gelar Khulafaur Rasyidin itu??. Marilah kita ulas dan pelajari secara bersama-sama.

Apa dan Siapakah yang dimaksud dengan Khulafaur Rasyidin itu ?

Bagi sebagian orang Islam tentu sudah ada yang mengetahui apa dan siapa itu Khulafaur Rasyidin, tetapi mungkin ada sebagian lagi yang belum mengetahui dan belum kenal dengan apa dan siapa yang dimaksud dengan Khulafaur Rasyidin tersebut.

Sebelumnya mari kita ketahui terlebih dahulu arti dari kata Khulafaur Rasyidin itu sendiri. Khulafaur Rasyidin ini artinya adalah pemimpin-pemimpin yang diberikan petunjuk oleh Allah swt.

Merekalah yang menggantikan posisi Rasulullah saw. ketika beliau wafat. Jumlah mereka terdiri dari empat orang sahabat yakni, Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Empat orang sahabat di atas, tentu saja mempunyai peran penting dalam mendampingi keseharian dan perjuangan Rasulullah saw. Mereka semua adalah hasil didikan terbaik dari nabi saw. yang mana telah teruji kepiawaiannya, kehebatannya dan kepercayaannya, dalam membangun peradaban Islam.

Para Khulafaur Rasyidin ini senantiasa mengabdikan diri dan hidupnya untuk perkembangan dan peradaban Islam agar menjadi lebih baik dan lebih maju. Sangatlah banyak jasa-jasa mereka terhadap perkembangan umat Islam pada periode pertama.

Semuanya tidak lain karena mereka adalah orang yang benar-benar setia terhadap nabi Muhammad saw. baik dalam kondisi senang maupun susah, dan mereka selalu setia dalam meneladani akhlak terpuji dari Rasulullah saw.

Sejarah Singkat Para Khulafaur Rasyidin

Abu Bakar as-Shiddiq (Sosok yang Bijaksana dan Tegas)

Abu Bakar as-Shiddiq, nama aslinya adalah Abdullah bin Abu Kuhafah. Beliau lahir pada tahun 573 M. Terlahir dari sebuah keluarga terhormat yang berdomisili di kota Mekkah. Jarak kelahiran beliau terpaut dua tahun satu bulan setelah lahirnya  nabi Muhammad saw.

Sahabat Abu Bakar mendapatkan gelar “as-Shiddiiq” dari nabi saw. yang artinya yang benar. Gelar tersebut diberikan oleh nabi Muhammad saw. kepada beliau karena hanya Abu Bakar sajalah yang membenarkan apa yang diceritakan oleh Rasulullah berkaitan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj yang dilakukan oleh dirinya sendiri.

Ketika nabi menyampaikan cerita peristiwa Isra’ Mi’raj-nya kepada semua orang, dimana beliau melakukan perjalanan di malam hari mulai dari Masjidil Haram yang berada di Mekkah menuju ke Masjidil Aqsha yang berada di Palestina, kemudian naik ke langit Sidratul Muntaha dalam waktu sepertiga malam.

Semua orang Mekkah menganggapnya itu adalah berita bohong belaka. Sampai-sampai ada yang menganggap nabi Muhammad saw. hanyalah seorang pembohong. Karena yang membenarkan apa yang disampaikan ole nabi Muhammad saw. hanyalah Abu Bakar saja, maka Rasulullah saw. memberikan gelar “as-Shiddiiq” kepadanya.

Sebagai salah seorang dari golongan assabiquunal awwaluun (orang-orang yang pertama kali masuk Islam), Abu Bakar berani mengorbankan semua harta benda dan jiwanya untuk membela agama Islam pada waktu itu. Dimana agama Islam masih belum berkembang secara luas.

Tentu saja yang demikian itu bukan sesuatu perkara yang mudah. Namun dengan semangatnya, Abu Bakar senantiasa setia mendampingi nabi Muhammad saw. dalam berdakwah kemanapun mengajarkan dan menyebarkan agama Islam.

Dalam mendampingi nabi pun, Abu Bakar senantiasa dihina dan dicaci maki oleh musuh-musuhnya. Namun demikian beliau tetap tegar dan semakin semangat dalam mendampingi nabi Muhammad saw. terutama ketika akan berangkat hijrah. Meskipun rintangan yang ada semakin bertambah banyak dan berat.

Sebagai salah seorang Khulafaur Rasyidin, tentu saja beliau senantiasa berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi agama Islam, baik itu melalui pengorbanan harta, jiwa dan raganya. Itu semua dilakukan tidak lain agar agama Islam tetap berkibar dan berkembang di seluruh alam ini.

Adapun dalam menjalankan masa kepemimpinan atau kekhalifahannya, Abu Bakar mempunyai program-program yang terkenal, diantaranya adalah:

  1. Memerangi orang-orang yang keluar dari Islam alias murtad
  2. Memerangi orang-orang yang malas dalam membayarkan zakatnya
  3. Memerangi orang-orang yang mengaku-ngaku menjadi nabi palsu

Umar bin Khatthab (Sosok yang Tegas dan Pemberani)

Sosok Umar bin Khatthab mempunyai nama panjang Umar bin Khatthab bin Nufail bin Abdul Uzza. Beliau dilahirkan di kota Mekkah dari suku Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy terbesar pada waktu itu. Umar bin Khatthab ini adalah salah seorang sahabat nabi yang juga menjadi penerus dari kekhalifan Abu Bakar setelah beliau wafat.

Ayahnya sahabat Umar ini bernama Khatthab bin Nufail al-Shimh al-Quraisyi dan ibunya bernama Hantamah binti Hasyim. Sahabat Umar juga memiliki gelar sendiri yakni “al-Faruq” yang artinya yang dapat membedakan atau memisahkan mana yang benar dan mana yang bathil.

Sebelum masuk Islam, sosok Umar sangatlah ditakuti oleh orang-orang Islam karena keberaniannya. Namun, begitu Umar masuk ke agama Islam, yang terjadi adalah sebaliknya, orang-orang kafir yang memusuhi agama Islam menjadi takut kepadanya. Dari perilaku yang menunjukkan keberanian inilah Umar juga mendapatkan julukan Singa Padang Pasir.

Meski dikenal sebagai panglima yang mempunyai keberanian dan keras kepala terhadap musuh-musuh Islam, tetapi hati Umar bin Khatthab senantiasa lembut dan baik ketika berhadapan dengan orang-orang yang baik.

Umar bin Khatthab juga dikenal sebagai pemimpin dan juga sahabat yang mempunyai prinsip mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi. Baginya lebih baik untuk tidak makan dan tidur di lantai daripada makan enak dan tidur nyenyak di istana megah sementara rakyatnya hidup dalam keadaan menderita.

Dalam sebuah cerita disebutkan, bahwa ada seorang warga yang bernama Auza’iy yang mendapati Khalifah Umar masuk kedalam rumah seseorang. Di keesokan harinya Auza’iy mendatangi rumah yang dimasuki oleh Khalifah Umar pada hari kemarin. Ternyata di dalam rumah tersebut terdapat seorang janda tua yang buta penglihatannya dan sedang menderita sakit.

Janda tersebut berkata kepada Auza’iy, bahwa setiap malam ada seseorang yang datang ke rumahnya mengantarkan makanan dan obat-obatan untuk dirinya. Adapun siapa nama orang tersebut, janda tersebut tidak mengetahuinya. Padahal yang datang kepada janda terebut adalah Umar bin Khatthab, seorang khalifah yang semua orang kagum kepadanya.

Utsman bin ‘Affan (Sosok yang Baik Hati dan Dermawan)

Utsman bin ‘Affan ini adalah seorang sahabat nabi yang berasal dari Bani Umayyah. Nama Bapaknya adalah ‘Affan bin Abil Ash bin  Umayyah bin Abdisyams bin Abdul Manaf. Nama Ibunya adalah Urwa binti al-Baidhak binti Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdul Manaf. Utsman bin ‘Affan terlahir di Thalif pada tahun 574 M.

Sahabat Utsman bin ‘Affan ini termasuk bagian dari Khulafaur Rasyidiin, yang menempati urutan ke tiga. Utsman bin ‘Affan ini juga dikenal sebagai seorang pedagang dan pebisnis yang memiliki banyak harta, dan juga terkenal dengan kedermawanannya. Dari hasil kekayaannya, beliau memberikan bantuan ekonomi kepada umat Islam pada waktu itu.

Julukan yang melekat pada sahabat Utsman bin ‘Affan ini adalah Dzun-nur’ain yang artinya “orang yang memiliki dua cahaya”. Julukan ini dikarenakan beliau telah menikahi putri kedua dan ketiga dari Rasulullah saw. , yang bernama Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Sebagai seorang sahabat nabi yang diberikan kekayaan oleh Allah swt. yang melimpah ruah, Khalifah Utsman bin ‘Affan sama sekali tidak segan-segan untuk mengeluarkan harta kekayaannya untuk membela kepentingan agama, dan masyarakat umum.

Hal ini terbukti dengan, dibelinya sebuah sumur dari seorang Yahudi yang mana sumur tersebut jernih airnya dengan seharga 200.000 dirham, yang mana pada waktu itu setara dengan harga emas seberat dua setengah kilogram. Setelah itu sumur tersebut diwakafkan untuk kepentingan rakyat bersama.

Di samping itu pula, Khalifah Utsman juga memberikan bantuan untuk perluasan Masjid Madinah dan membeli lahan tanah di sekitarnya. Beliau juga memberikan bantuan 1.000 ekor unta dan 70 ekor kuda ditambah lagi dengan sumbangan pribadi sebanyak 1.000 dirham yang digunakan untuk keperluan Perang Tabuk.

Pada masa sebelumnya, tepatnya masa kekhalifahan Abu Bakar, sahabat Utsman juga pernah memberikan bantuan gandum yang diangkut oleh 1.000 unta untuk diberikan kepada kaum fakir miskin yang menderita di musim panas.

Ali bin Abi Thalib (Sosok yang Cerdas dan Sabar)

Ali bin Abi Thalib terlahir di kota Mekkah pada tanggal 13 Rajab pada sekitar tahun 600 M. Beliau adalah pemeluk Islam pertama kali dan juga berasal dari keluarga dekat nabi Muhammad.

Ayahnya bernama Abu Thalib dan ibunya bernama Faimah binti Asad. Perlu kita ketahui, bahwa Abu Thalib sendiri adalah adik dari Abdullah, ayah dari nabi Muhammad saw. jadi tidak lain beliau adalah sepupu dari nabi Muhammad saw. dan ketika menikahi putri dari nabi Muhammad saw. yang bernama Fatimah, maka status Ali secara keluarga adalah menjadi menantu baginda nabi saw.

Di waktu kecilnya, kehadiran Ali dalam keluarga besar nabi. memberikan hiburan tersendiri bagi nabi Muhammad saw. hal ini dikarenakan nabi Muhammad saw tidak mempunyai anak laki-laki. Nabi beserta istrinya Khadijah, mengasuh dan mengangkat Ali sebagai anak. Hal seperti ini dilakukan sekaligus untuk membalas jasa kebaikan Abu Thalib  yang telah mengasuh nabi dari kecil hingga dewasa.

Pada masa remajanya Ali banyak belajar secara langsung dari Rasulullah saw. selain dikarenakan menjadi anak angkatnya, status beliau yang kemudian berubah menjadi menantu rasul-pun menjadikannya seorang pemuda yang cerdas, berani dan juga sabar.

Setelah nabi hijrah dan tinggal di Madinah, dan melalui berbagai pertimbangan, nabi Muhammad saw. menikahkan Ali dengan putrinya yang bernama Fatimah. Hal ini tidak lain karena diantara beberapa orang yang mengakui kenabian nabi Muhammad  (setelah Khadijah) dalam keluarga besarnya (Bani Hasyim) adalah Ali.

Keluasan ilmu yang diperoleh oleh Ali dari nabi Muhammad saw. sangatlah luas. Sampai Rasulullah sendiri mengatakan “Anaa madiinatul ‘ilm, wa ‘Aliyyu baabuhaa” (Saya adalah kotanya ilmu, dan Ali adalah pintu gerbangnya)

Sebagai khalifah terakhir, tentu saja proses penggantian dari khalifah Utsman bin ‘Affan kepada khalifah Ali bin Abi Thalib ini sedikit mengalami beberapa hambatan. Diantaranya ada kelompok-kelompok yang setuju dan yang menentang dengan penggantian Ali tersebut.  

Namun, dengan sikap tegas dan bijaksana yang ada dalam diri Ali bin Abi Thalib, beliau mampu mengatasi dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul tersebut. Di sinlah letak kepiawaian Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Ikhtisar

Dari penjelasan tentang khulafaur rasyidin di atas, dapat kita ambil beberapa point penting diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Arti dari Khulafaur Rasyidin adalah para pemimpin yang diberikan petunjuk oleh Allah swt.
  2. Adapun Khulafaur Rasyidin tersebut adalah; Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khatthab, Utsman bin ‘Affan, dan Ali bin Abi Thalib
  3. Khulafaur Rasyidin ini mempunyai sifat-sifat yang terpuji dan patut untuk kita tiru, antara lain: amanah (dapat dipercaya), istiqamah, jujur, cerdas, bertanggung jawab, serta senantiasa menyampaikan kebaikan dan kebenaran.
  4. Adapun jika kita pelajari secara lebih khusus, sifat-sifat Khilafaur Rasyidin adalah sebagai berikut:
  • Abu Bakar as-Shidiq memiliki sifat tegas terhadap orang-orang yang murtad, dan tidak mau mebayarkan zakatnya, serta menindak tegas orang-orang yang mengaku sebagai nabi baru.
  • Umar bin Khatthab memiliki sifat pemberani dalam melakukan perluasan wilayah Islam.
  • Utsman bin ‘Affan memiliki dermawan serta banyak membantu dalam perjuangan umat Islam
  • Ali bin Abi Thalib memiliki sifat yang cerdas dan pintar. Ilmunya terkenal sangat luas, sehingga dapat memberikan jalan keluar bagi permasalahan yang muncul.

Semoga semangat perjuangan para sahabat Khulafaur Rasyidin di atas, kita semua bisa meniru dan menmpraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari kita. Sehingga mampu ikut andil dalam menyebarkan agama Islam di era yang modern ini.

Sumber:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP/MTs Kelas VII, (Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), 2017
https://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Rasyidin, (diakses tanggal 16 Januari 2020)
Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v 1.1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *