JAKOB OETAMA – KUNCI SUKSES MENYANDANG GELAR KONGLOMERAT MEDIA

Sukses seringkali didefinisikan sebagai suatu keberhasilan atas kerja keras yang dilakukan. Dalam perjalanan meraihnya tentu menguras waktu, tenaga, dan pikiran. Banyak belajar dari berbagai sumber pendukung. Kemudian mengeksekusinya dengan penuh perjuangan. Bahkan harus berkorban berkali-kali lipat.

Salah satu bukti nyata ketika seseorang dikatakan sukses manakala karya-karyanya bertebaran dimana-dimana. Dari karya-karya itu, berjuta manfaat dirasakan oleh penikmat setianya. Di dunia literasi misalnya, ada Koran Kompas yang biasanya menjadi teman duduk santai, Majalah Bobo kawan bermain aktif dan media belajar menarik untuk anak-anak, dan Toko Buku Gramedia yang menyediakan segala jenis genre buku untuk dilahap pembacanya.

Pertanyaannya pernahkah kita mencari tahu siapakah sosok dibalik itu semua? Yaa beliau adalah Pak Jo sapaan akrabnya. Nama lengkapnya adalah Jakob Oetama. Priyayi jawa yang sangat mencintai dunia kepenulisan. Namanya cukup terkenal berkat konsistensinya dalam membangun pers di Indonesia.

Jo memiliki semangat juang tinggi dikalangan jurnalis. Ia dikenal sebagai wartawan yang kerap mengkritik dengan bahasa manis. Lewat tulisan ia berbicara mengenai kemanusiaan. Karakternya tanggap pada sekitar. Itulah mengapa pemikiran-pemikirannya sangat menginspirasi banyak orang.

Jo mulai mengawali karirnya dengan bekerja sebagai seorang guru. Ia mengikuti saran ayahnya untuk pergi ke Jakarta menemui Yosef Yohanes Supatmo. Yosef adalah kawan dari ayahnya Jo pemilik Yayasan Pendidikan Budaya. Sampai di Jakarta, ia langsung bertemu degan Yosef.  Jo tidak mengajar di sekolah yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan Budaya, melainkan ia mengajar di SMP Mardiyuwana Cipanas, Jawa Barat.

Belajar adalah candu bagi Jo. Begitulah kira-kira ungkapan yang mewakili kepribadian Jakoeb. Disamping mengajar sebagai pekerjaan sehari-harinya, ia melanjutkan studi di Sekolah Guru Jurusan B1 Ilmu Sejarah. Bahkan ia mendapat rekomendasi dari salah satu gurunya untuk mendapat beasiswa di Universitas Columbia, Amerika Serikat.

Jakob begitu menyukai ilmu sejarah. Berkat ilmu sejarah yang dipejalari, minat menulis Jakob semakin berkembang pesat. Tingginya minat di dunia tulis menulis Jakoeb mulai memperluas ilmunya dengan kuliah di jurusan Publisistik, Jakarta. Selepas lulus dari jurusan publisistik, ia melanjutkan studinya di Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Hobinya menjadi seorang pembelajar yang tekun teryata tidak menjadikan profesi guru sebagai pilihan hidupnya. Ia merasa, hobinya dalam hal membaca dan menulis harus ia kembangkan melalui profesi lain. Hingga sampai suatu ketika ia mengenal dunia jurnalistik.

Dunia jurnalistik memang tidak jauh-jauh dari kegemaran seseorang dalam membaca dan menulis. Sama halnya dengan keputusan Jo memilih jalannya ke dunia jurnalis. Di dunia jurnalis, ia mengawali karirnya sebagai redaktur mingguan Penabur. Karirnya melejit ketika ia menduduki puncak tertinggi sebagai pendiri Keluarga Kompas Media.

Sudah merasa menemukan passionnya di dunia jurnalis, ia berfikir bahwa ia harus tetap belajar. Baginya belajar adalah bekal ampuh di medan perjuangan. Selain belajar dengan para guru dan rekan sesama wartawan, ia juga menerapkan metode belajar dengan buku. Dengan buku, ia mampu meningkatkan ketajaman analisinya.

Berlatarbelakang sebagai mahasiswa sosial, ia banyak melahab buku-buku sejarah seperti karangan klasik sejarawan besar Arnold Toynbe. Tidak hanya buku-buku sejarah, ia juga mendalami dunia jurnalistik dengan memperdalam pengetahuannya melalui literatur yang ditulis oleh De Volder. Bahkan karya-karya Wilbur Schramm dibidang ilmu komunikasi ia pelajari dengan tuntas.

Bertahan Ditengah Tekanan Kekuasaan

Dalam sepanjang sejarah, satu-satunya masa pemerintahan yang begitu otoriter dan konsen membungkam media adalah Orde Baru. Pada masa ini media di Indonesia terpuruk akibat kekuasaan yang otoriter. Kebebasan berpendapat tak dijalankan sebagaimana amanat UUD 1945. Demokrasi dibungkam. Siasat menciptakan sebuah aturan hanyalah kedok untuk membatasi pergerakan pers di Indonesia.

Pers pada Orde Baru begitu ketat. Setiap tema dalam pemberitaan yang akan diterbitkan harus melalui pintu konrol yang begitu ketat. Jika pemberitaan membahayakan kekuasaan, maka berita tersebut tidak layak diterbitkan. Media besar seperti Kompas, Tempo dan Harian Indonesia Raya pernah mengalami kasus pemberedelan. Hal itu terjadi karena media dianggap tidak sejalan dengan pemerintah.

Tidak hanya pemerintah, perlawanan juga datang dari beberapa partai. Jika ada media yang membahayakan nama seorang elit partai maka mereka tidak segan untuk melakukan pencekalan. Untuk mensiasati hal tersebut, Media Kompas dibawah komando Jakob menggunakan strategi pemberitaan lembut. Strategi ini digunakan untuk menghindari kemarahan penguasa.

Bahkan ketika akan menerbitkan pemberitaan harus didahului dengan menandatangani sejumlah perjanjian. Tentunya perjanjian tersebut menguntungkan penguasa. Jakoeb pernah dituntut untuk menandatangani sejumlah perjanjian izin terbit. Isi perjanjian tersebut meliputi aturan bahwa Kompas tidak akan menurunkan berita yang dapat memicu konflik. Kompas juga tidak diperkenankan menulis berita mengenai asal-usul dan jumlah kekayaan presiden.

Perjanjian tersebut bagi Jakob tidak adil. Namun ia tetap menandatanginya. Dengan watak khasnya yang penuh dengan kehati-hatian ia mengambil keputusan dengan pertimbangan jelas dan matang. Pertama, ia tidak menginginkan Kompas mati. Kedua jika Kompas mati, maka ribuan karyawannya juga ikut mati.

Bukan serta merta Jakob bersedia tanda tangan. Ia justru menganggap bahwa kesempatan ini adalah peluang emas bagi Kompas. Ia telah menyiapkan strategi khusus untuk menjalankan misinya. Dari sini Jakob mulai mempelajari setiap model kepemimpinan para penguasanya. Dengan begitu ia mudah untuk membaca cara berfikirnya.

Gaya kepenulisan yang bernuansa damai adalah salah satu trik untuk menghindari kesan provokatif dari tanggapan penguasa. Tulisan-tulisan dalam Media Kompas seringkali mengundang perhatian pemerintah seolah-olah mendukung rezimnya. Bahkan ada salah satu penulis buku terkenal Imagined Communities: Reflection on the Origin and Spread of Nationalism menyebut Kompas sebagai koran yang sangat RI kedua, Orde Baru.

Dalam artikel yang ditulis oleh Dahlan Iskan yang berjudul “Hidup Bahagia Jakoeb Uama”  mengatakan bahwa pada intinya kepribadian manis Jakob Utama yang telah meluluhkan penguasa tidak mutlak dan tulus diberikan. Dahlan menambahkan bahwa dibalik kehalusan dan manis perangainya, Jakob tetap seorang wartawan yang asli. Manis hanyalah pembawaan saja. Sementara itu sikap batinnya tetaplah keras.

Gerak langkah kemajuan Kompas bersama Jakob dapat dikatakan sukses. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Rosihan Anwar menyapa Jakob dengan istilah Jurnalis Kepiting. Langkah Kompas mirip kepiting. Gerakannya pelan, setapak demi setapak.

Dengan triknya mempertahankan keberlangsungan Kompas, ia mengatakan bahwa ia bukanlah sosok yang revolusioner. Baginya srategi bertahap adalah pilihan tepat. Pers perlu melalui proses dan tahapan-tahapan tertentu. Ia tidak menginginkan semua hanyut dalam permainan pun juga dengan akhir mati. Kalau terbawa arus maka independensi persa telah hilang. Namun apabila mati maka media yang dibangun susah payah penuh kerja keras hanya akan percuma berdiri dengan sia-sia.

Perjalanan Membangun Bisnis

Karir Jo dibidang jurnalistik perlahan demi perlahan mengantarkannya pada kedudukan sebagai wirausahawan sukses. Perjalanan panjang penuh liku ia lewati sempurna hingga berdirinya Keluarga Kompas Gramedia. Bersama kawan setianya Ojong ia membangun perusahaan ini benar-benar dari bawah tanpa sokongan dana dari keluarga.

Pada tahun 1965 terbitlah Surat Kabar Kompas sebagai surat kabar mingguan dengan rentan waktu terbit 4 kali seminggu. Perjalanan karir bersama Kompas selama lima tahun, Jakob mulai mencicipi dunia bisnis dengan mendirikan Toko Buku Gramedia. Toko Buku ini berdiri sebagai upaya mendukung misinya dalam upaya mencerdaskan bangsa dan menyebarluaskan pengetahuan kepada masyarakat Indonesia. Selain menyediakan buku-buku, Gramedia juga memfasilitasi kebutuhan sekolah seperti alat tulis, tas dan keperluan penunjang lainnya.

Kemudian pada tahun 1971 adalah pertama kali Harian Kompas dicetak secara mandiri. Jakob berpandangan bahwa Surat Kabar Kompas memiliki potensi dalam usaha percetakan. Percetakan mandiri dapat menjamin terbitnya Harian Kompas setiap pagi. Atas pemikirannya, Jakob mendirikan PT Keng Po sebagai perusahaan Percetakan Gramedia.

Dalam perkembangan karirnya, Jakob membuat sebuah terobosan teknologi baru guna mempercepat pendistribusian Koran Harian Kompas di daerah. Terobosan yang dibangun adalah berupa remote printing yang tersebar dibeberapa daerah.

Pada tahun 1972, Jakob mulai mengembangkan layanan informasi secara elektronik melalui Radio Sonora yang berlokasi di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Kemudian setahun berjalan, Jakob mulai konsen memikirkan bacaan khusus diperuntukkan anak-anak. Walaupun dalam Harian Kompas sudah terpampang khusus sisipan halaman bagi anak-anak, baginya itu tak cukup. Jakob menggandeng penerbit Majalah Bobo dari Belanda untuk juga menerbitkan Majalah Bobo di Indonesia.

Sukses di dunia penerbitan, pada tahun 1974 Jakob mendirikan bisnis PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA (GPU) sebagai penerbit buku umum. Kemudian seiring respon positif dari masyarakat dimulai menerbitkan novel, GPU juga menerbitkan buku anak-anak, buku resep makanan, dam berbagai seri buku non fiksi.

Sukses di dunia percetakan, Jakob melanjutkan misinya dengan mendirikan penerbitan buku-buku elektronik. Ia juga semakin piawai merambah ke dunia perfilman. Terbukti PT Gramedia Film yang baru saja didirikan Jo mulai meproduksi cerita sendiri. Buah dari ketekunannya di dunia perfilman mengantarkan karyanya berhasil meraih penghargaan bergengsi di dunia perfilman Indonesia, yaitu Piala Citra.

Pada tahun 1981, Jakob mencoba keluar dari rantai bisnis yang membesarkan namanya. Ia membangun sebuah unit bisnis perhotelan. Kini bangunan-bangunan hotel yang ia rintis telah hadir di berbagai kota di Indonesia.

Tak berhenti disitu, dengan misi kemanusiaanya ia menghadirkan Unit Usaha Pers di Daerah. Tujuan mulianya adalah untuk menolong koran-koran daerah yang terancam tidak terbit lagi. Seperti tak mau berhenti ia juga mulai menekuni bisnis di bidang converting tissue berkualitas. Brand nya cukup terkenal dan membanjiri pasar.

Seiring perkembangan zaman, ternyata era digital mulai menggeser era manual. Bersama Kompas, Jakob menciptakan Kabar Harian Kompas dengan versi online. Pada saat itu nyali Kompas yang berani terjun ke dunia online mendatangkan perhatian khusus dari sejumlah kalangan. Digadang-gadang bakal merugi, justru kompas membuktikan keuntungannya meningkat pesat. Bahkan jumlah pembaca setianya berkali lipat meningkat dari penikmat berita cetak  Harian Kompas.

Jakob juga begitu konsen menyikapi kemajuan teknologi dan situasi bisnis media yang mengarah pada transformasi digital. Menanggapi hal tersebut, Jakob mulai menggiring Kompas untuk merambah ke dunia bisnis pertelevisian dengan mendirikan KOMPAS GRAMEDIA TV. Program-program yang diberikan memiliki nilai-nilai kemanusian sama seperti yang di ajarkan Jakob, yakni memanusiakan manusia.

Trik Memimpin Ala Jakoeb          

Idealis, tangguh, aktif, konsisten dan penuh kerja keras adalah gambaran karakter Jakob yang membawanya menjadi konglomerat media. Watak kritis sebagai seorang jurnalisme tidak membuatnya meledak-meledak dalam menyampaikan kritik kepada penguasa. Hal itu tercermin dalam setiap tulisannya yang santun penuh pesan tersirat. Bahasa halus dan pembawaan diri penuh kehati-hatian mengantarkan Jo pada puncak kesuksesan bersama Keluarga Kompas Gramedia (KKG).

Bisnisnya yang bertebaran dimana-dimana dapat dijadikan teladan bagaimana Jo mampu menjadi nahkoda hebat memimpin bisnisnya. Yang perlu digaris bawahi kesuksesannya bukanlah warisan dari keluarga. Ia benar-benar memulainya sendiri dalam proses yang cukup panjang.

Keberadaannya sebagai pemimpin media cukup berpengaruh. Lalu apa yang menjadi rahasia Jakob sukses memimpin bisnisnya? Beberapa strategi khas Jakob Oetama tergambar sebagai berikut :

Fokus pada Kerja Tuntas

Fokus menekuni bidang yang sedang dijalani adalah pekerjaan yang tidak mudah. Jakob adalah contoh sosok yang mampu fokus terhadap kemajuan media yang dibangunnya. Sebagai pemimpin dan pemilik grub media yang merajai Indonesia, bukan tidak mungkin iming-iming kemewahan berlalu lalang menghampirinya. Akan tetapi dengan kesungguhannya fokus berkonsentrasi penuh mengurus Kompas, berbagai godaan samasekali tidak membuatnyya tertarik. Baginya bekerja itu harus tuntas, jangan sekali-kali bekerja setengah-tengah kalau ingin mendapatkan hasil yang memuaskan.

Membangun Komunikasi yang Baik dalam Kerja Tim

Komunikasi yang baik merupakan bagian terpenting dalam kerja sama tim. Ketika komunikasi tercipta dengan baik, maka tim dapat bekerja dengan solid. Hal ini adalah salah satu strategi Jakob untuk memudahkan langkah mencapai visi dan misi bersama.

Jakob hanyalah manusia biasa terbatas dengan segala kekuranganya. Melalui komunikasi tim yang dibangun ia menekankan pada ranah tanggungjawab yang jelas pada setiap anggota. Pemetaan ranah kerja dikoordinasikan sesempurna mungkin demi menghindari gesekan kesalahpahaman antar anggota.

Mengedepankan Sikap Peduli

kepedulian yang dimiliki Jakob bisa dikatakan sebagai bawaan lingkungan. Lahir dari keluarga yang sederhana mendidik Jo menjadi seorang yang ramah dan rendah hati. Sikap peduli terhadap karyawaannya ia tunjukkan melalui hal-hal kecil seperti melempar senyum kepada karyawan, bahkan Jo tak segan melempar pertanyaan hanya sekedar menanyakan kabar.

Pembawaan Halus Penuh Pertimbangan

Menjadi seorang pemimpin dihadapkan dengan tumpukan berkas untuk segera mendapatkan keputusan cepat dan tepat adalah suguhan sehari-hari Jakob.  Oleh karenanya sikap kehati-hatian adalah trik yang ia pilih. Baginya keputusan yang ia ambil akan berdampak pada nasib perusahan dan ribuan karyawannya.

Untuk menghindari kesalahan dalam mengambil keputusan, seringkali ia meminta pendapat dari berbagai pihak. Ia mengakui bahwa dirinya bukanlah orang sempurna. Tidak semua hal ia bisa selesaikan sendiri. Oleh karenanya ia membutuhkan konsultan pendamping dalam menjalankan bisnisnya. Tak lupa ia juga tidak membatasi pendapat para karyawannya untuk memberikan masukan-masukan kepadanya.

Mampu Menepis Trauma Masa Lalu

Pencapaian tertinggi untuk duduk di kursi kesuksesan tidak lepas dari kegagalan masa lalu. Jakob yang memiliki segudang bisnis juga pernah mengalami kegagalan. Ia pernah gagal dalam mengembangkan inovasi media pertelevisan. Biaya operasional yang dikeluarkan untuk membiayai  proyek ini terbilang cukup besar.

Sekitar bulan Maret tahun 2002, Kompas Gramedia mendirikan PT Duta Visual Nusantara TV7. Namun selang empat tahun stasiun ini berjalan, PT Transcorporation masuk dalam kepemilikan saham. Karena hal itu nama TV7 resmi berubah nama menjadi Trans7. 

Ia sempat menyesal melepaskan TV7, namun ia tidak berlalu larut pada penyesalannya. Justru ia mulai berinovasi lagi mendirikan stasiun tv baru, KOMPAS TV. Strategi bisnis yang ditawarkan berbeda dengan stasiun televisi lainnya. Program-program yang ditayangkan memiliki tampilan unik dan menarik untuk menggaet perhatian pemirsa.

Selalu Berinovasi

Tumbangnya Orde Baru pada tahun 1998 menandakan sistem otoriterisme berakhir. Pun dengan pers semakin berkembang pesat. Cakupan berita yang disajikan semakin luas. Ditambah lagi dunia digital semakin hari semakin mengalami pembaruan.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Group of Magazine KG menyatakan bahwa sekitar 30 juta penduduk indonesia telah menggunakan internet.Mengikuti kemajuan di era digital, Media Kompas yang dipimpin oleh Jakoeb mulai menawarkan sejumlah kemudahan mendapatkan informasi  up to date kepada pembaca secara efisien. Langkah awal kompas mengikuti perubahan dengan menghadirkan situs Kompas.com.

Walaupun inovasi Kompas Online sukses menggaet penjunjung situs berkali-kali lipat, Jakob sama sekali tidak berpikiran mematikan media cetak yang sudahia rintis penuh perjuangan cukup lama. Bagi Jakob baik media cetak ataupun online sama-sama bisa tetap eksis mengikuti perubahan. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Media online hadir meawarkan sejumlah kemudahan dan efisiensi waktu bagi pembaca. Sementara media cetak memiliki kekuatan riset yang tidak tertandingi oleh media online. Jakob berpendapat bahwa kemampuan media cetak dalam menangkap petistiwa dan persoalan secara lengkap mendekati kompleksitas peristiwa.

Berhasil  menghadirkan situs Kompas Online, Jakob melakukan terobosan baru ke dunia blogger, kompasiana.com. Situs ini menawarkan model citizen journalism dimana setiap orang  bisa menulis walaupun ia bukan berprofesi sebagai wartawan. Semua orang dapat masuk dalam situs ini secara cuma-cuma. Terhitung sejak tahun 2008 kompasiana diluncurkan, terdapat tujuh belas ribu blogger bergabung.

Sumber :

  1. Isfatun, Nor. 2013. Jakob Oetama Bekerja Dengan Hati. Yogyakarta: Buku Pintar.
  2. Iskan, Dahlan. 2012. Hidup Bahagia Jakob Oetama, Diakses dari http://m.jpnn.com/news/ hidup-bahagia-jakob-oetama?page=2
  3. Oetama, Jacob. 2001. Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus. Jakarta: Buku Kompas.