Cerita Inspirasi dari Muniba Mazari “The Iron Lady of Pakistan”

by:

Muniba Mazari adalah seorang seniman sekaligus model dari Pakistan. Terlahir sebagai putri dari keluarga Baloch yang masih terbilang tradisional membuatnya patuh terhadap perintah sang ayah. Karenanya, ketika ayahnya meminta Muniba untuk menikah, dia tidak bisa berkata tidak.

Jangan lupa LIKE FP kami

Muniba hanya bisa berkata “Jika itu membuat ayah bahagia, maka aku akan menikah”. Muniba merasa tentu saja itu bukan pernikahan yang bahagia baginya. Apa boleh buat, itu pilihan sang ayah.

Kehilangan Harapan

Sekitar dua tahun setelah menikah, Muniba dan suaminya mengalami kecelakaan. Pada saat itu, suaminya mengantuk dan mobilnya jatuh ke parit. Suaminya berhasil melompat keluar mobil dan selamat. Namun, Muniba terjebak di dalam mobil dan mengalami banyak luka. Dia mengalami cedera tulang lengan, tulang hasta, tulang punggung, dan cedera tulang belakang. Cedera tulang belakang inilah yang kemudian merubah hidup Muniba.

Berada di Rumah Sakit sekitar 2,5 bulan membuat Muniba merasa menderita. Apalagi, hal yang membuat Muniba merasa seperti di ambang keputusasaan adalah ketika pada suatu hari dokter datang ke kamarnya dan berkata, “Karena cedera pada lenganmu, kau tak dapat melukis lagi.”Meski kenyataan ini begitu menyesakkan, akan tetapi Muniba masih berusaha menerimanya.

Sayangnya, cobaan tidak berhenti sampai di situ. Esok harinya, dokter datang lagi menghampirinya dan berkata,“Karena cedera pada tulang belakang yang parah, kau tak dapat berjalan lagi.” Mendengar kabar itu,Muniba masih berusaha tabah dan berkata, “Tak apa’. Sekalipun jelas, mengatakan hal ini adalah suatu tantangan besar. Tidak bisa melukis dan berjalan adalah pukulan besar dalam hidup siapa pun, termasuk Muniba.

Rupanya, cobaan Muniba masih belum cukup.Keesokan harinya, lagi, dokter datang dan membawa berita buruk, “Karena cedera yang cukup parah di tulang belakang dan tulang punggungmu, kau tak dapat melahirkan lagi.” Mendengar perkataan dokter ini, Muniba bagai disambar petir.

Tidak bisa melahirkan? Bukankah artinya, kehidupannya akan menjadi gelap gulita? Ia benar-benar telah kehilangan harapan. Segala harapan yang mungkin dapat ia impikan, seolah telah direnggut lantaran kecelakaan itu. Muniba lantas bertanya pada dirinya sendiri, “Untuk apa aku hidup?”

Berusaha Bertahan 

Kecelakaan yang dialami Muniba bagaikan malapetaka besar dalam hidup Muniba. Ibarat mendapat pukulan bertubi-tubi hingga tak sempat bangkit dan berdiri. Namun, apakah lantaran segala pukulan ini, Muniba harus berhenti berharap dan berhenti hidup?

Toh kehidupannya masih terus berjalan. Artinya, mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus menjalani hidupnya. Tinggal apakah dia memilih menghabiskannya dalam kemuraman atau berusaha bangkit.

Beruntung, Muniba masih memilih untuk bangkit. Ia berusaha bertahan. Suatu hari, dia meminta adiknya untuk membawakan canvas kecil dan pewarna. Dia ingin mulai melukis walaupun tangannya masih sakit. Muniba merasa bahwa itu adalah terapi yang sangat bagus untuk dirinya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia membiarkan tangannya melukiskan pikirannya di atas kanvas. Lewat cara itulah, ia mampu menceritakan seluruh isi hatinya dalam lukisan tersebut.

Dalam masa-masa terpuruk itu, Muniba memutuskan untuk menjalani hidup untuk dirinya sendiri. Dia tidak ingin lagi berusaha menjadi sempurna untuk orang lain, termasuk untuk keluarganya, untuk suaminya. Dia pun mengambil momen tersebut untuk berusaha menjadi sempurna, hanya untuk dirinya sendiri.

Dengan cara itulah, Muniba dapat berusaha melawan rasa takutnya.Dia menuliskan satu persatu ketakutannya dan mengatasinya saat itu juga. Saat ia meliarkan tangannya di atas kanvas.

Salah satu ketakutan besar bagi Muniba yang ingin ia lepaskan adalah perceraian. Namun, saat Muniba memutuskan bahwa semua ketakutannya adalah bukanlah apa-apa, melainkan hanya rasa takut, dia membebaskan diri dengan melepas suaminya.

Simak juga: Joanna Alexandra dan Raditya Oloan – Habis Gelap Terbitlah Terang

Cara Melepaskan Ketakutan

Pada saat Muniba mendapat kabar bahwa mantan suaminya akan menikah, dia menguatkan emosinya dan mengirim pesan pada suaminya “Aku turut berbahagia untukmu, dan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”

Ketakutan terbesar kedua bagi Muniba ialah bahwa ia tidak dapat menjadi seorang ibu lantaran ketidakmampuannya melahirkan. Namun, kemudian Muniba menyadari bahwa untuk menjadi seorang ibu, ia tidak harus melahirkan.Banyak sekali anak di dunia ini yang butuh penerimaan karena tidak memiliki orang tua.

Dia pun berkata pada dirinya sendiri, “Tak ada gunanya menangis, cukup cari dan adopsi salah satu dari mereka. Beres.”

Lalu, Muniba mendaftarkan namanya di beberapa Panti Asuhan di Pakistan. Setelah dua tahun, ia mendapat kabar bahwa ada anak laki-laki yang dapat diadopsi. Pada saat itu, Muniba seperti dapat merasakan rasa sakit saat persalinan. Muniba sangat bahagia dan setuju untuk mengadopsi bayi tersebut.

Berbagi Kisah

Pengalaman Muniba mengantarkannya pada orang-orang yang juga membutuhkan kekuatan yang serupa, untuk menghadapi cobaan-cobaan berat, sama seperti sehabis Muniba kecelakaan. Untuk itu, Muniba memutuskan untuk bercerita tentang bagaimana rasanya berada di kursi roda.

Ia menyatakan bagaimana orang-orang yang menghabiskan hidupnya di kusi roda berpikir bahwa mereka tidak akan diterima di masyarakat, karena mereka merasa mereka tidak sempurna di dunia orang-orang yang sempurna. Kisahnya banyak memotivasi dunia.

Dengan pengalamannya berjuang melawan keterpurukan, Muniba memutuskan untuk lebih sering muncul di publik.Dia mulai melukis dan menjadi pembawa acara di TV. Muniba juga menjadi Duta Besar di UN Women untuk Pakistan.

Pencapaian Muniba

Langkah Muniba bagi kegiatan sosial semakin giat. Muniba mengkampanyekan hak perempuan dan anak-anak. Dari berbagai hal yang dilakukannya ini, Muniba masuk sebagai 100 perempuan berpengaruh versi BBC pada tahun 2015. Dia juga masuk dalam Majalah Forbes 2016 sebagai 30 orang berpengaruh di bawah usia 30 tahun.

Muniba berkata, “Jika kamu menerima dirimu apa adanya, dunia akan menerimamu. Segalanya berawal dari diri sendiri…”. “Kita memiliki rencana dalam hidup dan berharap semua berjalan sesuai apa yang telah kita rencanakan, tapi saat semua tidak berjalan sesuai harapan, kita tidak dapat menyalahkan hidup atas itu semua.”

Orang berkata bahwa kegagalan seharusnya bukanlah pilihan. Namun, menurut Muniba kegagalan haruslah menjadi sebuah pilihan. Karena setelah gagal, kita dapat bangkit dan itu yang membuat kita dapat terus maju. Kita harus menikmati setiap nafas yang kita ambil, menikmati hidup kita.

Don’t die before you’re death, kebahagian sejati terletak pada rasa syukur. Bersyukur dan hiduplah. Live every moment”, Itulah yang dikatakan Muniba Mazari seorang Wanita Besi dari Pakistan.


Sumber:

Goalcast. Youtube.com . diakses pada 02 Juni 2018

Bagikan Jika Bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *