6 Gejala Optik di Atmosfer dan Penjelasannya

Atmosfer merupakan lapisan udara yang menyelimuti bumi. Kata atmosfer sendiri, berasal dari dua kata, yakni kata “atmos” yang berarti uap dan “sphaira” yang berarti bola bumi. Jadi, secara sederhana atmosfer bisa dikatakan sebagai uap atau kumpulan udara yang menyelimuti bola bumi ini.

Sebagai lapisan yang berada di atas bumi, atmosfer berperan penting dalam melindungi bumi dari gangguan benda – benda angkasa serta dari radiasi sinar matahari yang berbahaya bagi makhluk yang hidup di bumi.

Atmosfer sendiri juga masih terbagi dalam berbagai jenis lapisan, mulai dari troposfer, stratosfer, mesosfer, hingga thermosfer (lebih lanjut baca: 5 Lapisan Penyusun Atmosfer). Di lapisan -lapisan atmosfer ini pun juga terjadi berbagai peristiwa khusus, salah satunya seperti gejala optik.

Gejala optik seringkali muncul pada atmosfer terutama pada lapisan troposfer. Troposfer merupakan lapisan atmosfer yang berada di bagian paling bawah atau pada ketinggian 0 sampai dengan 10 km dari atas permukaan bumi. Lapisan troposfer mempunyai ketebalan yang berbeda di setiap tempatnya.

Contoh Gejala Optik

Lantas, apa saja gejala optik yang sering terjadi di atmosfer atau khususnya di lapisan troposfer ini? Contoh gejala optik di atmosfer, antara lain halo, aurora, pelangi, kilat dan guntur, serta fatamorgana.

1# Halo

Halo yang dimaksud di sini adalah suatu gejala optic ya. Halo adalah suatu kabut putih yang terkadang tampak melingkari bulan atau matahari. Halo dapat terjadi karena adanya kristal-kristal es awan yang dibiaskan oleh sinar bulan atau pun sinar matahari.

2# Aurora

Aurora juga sering disebut sebagai cahaya kutub. Yang dimaksud dengan aurora adalah berupa gejala dalam bentuk cahaya di sekitar wilayah lingkaran kutub yang tampak bersinar pada malam hari.

Aurora dapat terbentuk apabila terdapat partikel – partikel yang bermuatan listrik dari sun spots (bintik-bintik matahari) yang mengalir ke arah bumi dan tertarik oleh gaya geomagnetik utara dan selatan bumi.

Aurora dapat terjadi di kutub utara bumi maupun di kutub selatan. Aurora yang bersinar di kutub selatan disebut sebagai aurora australis atau aurora selatan. Sedangkan aurora yang bersinar di kutub utara disebut sebagai aurora borealis atau cahaya utara.

aurora

3# Pelangi

Pelangi merupakan suatu gejala optic di atmosfer yang umumnya terjadi karena titik-titik hujan. Pelangi tampak dalam bentuk setengah lingkaran (lengkungan) di udara yang terjadi saat sinar matahari mengenai partikel – partikel air di udara.

Partikel – partikel air tersebut berupa uap atau titik-titik air yang tipis dan tembus pandang dan berperan sebagai prisma yang memantulkan (refleksi) dan membiaskan (refraksi) spektrum warna yang ada pada cahaya matahari.

Berkas sinar matahari ini lalu dibiaskan dan dipantulkan menjadi spektrum warna, yang terdiri atas beragam warna, berupa warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.

pelangi

4# Kilat

Kilat merupakan suatu fenomena yang terjadi di atmosfer berupa aliran atau loncatan listrik dalam bentuk cahaya (sinar) yang terjadi di antara dua awan atau antara awan dengan bumi yang bermuatan listrik berlawanan. Kilat dapat terjadi ketika udara bermuatan listrik yang saling berlawanan ini bertemu.

petir

5# Guntur

Guntur merupakan suara yang menggelegar yang terjadi setelah kilat. Terjadinya suara menggelegar ini disebabkan oleh udara yang secara tiba – tiba memuai karena dipanasi oleh kilat.

Di lapisan atmosfer sana, guntur dan kilat terjadi secara bersamaan. Hanya saja, kita di bumi baru bisa mendengar suara guntur ini setelah kilat karena cahaya merambat lebih cepat daripada suara.

6# Fatamorgana

Fatamorgana merupakan suatu ilusi optic yang terjadi akibat pembiasan sinar matahari oleh udara dengan tingkat kerapatan yang berbeda. Fatamorgana umumnya tampak berupa kenampakan genangan air di tengah padang pasir atau dapat juga di permukaan jalan beraspal yang terkena panas terik matahari.

Kenampakan yang terjadi tersebut sebenarnya hanya merupakan sinar matahari yang dibiaskan oleh massa udara dengan kerapatannya yang renggang. Pada umumnya tampak pada permukaan padang pasir atau jalan beraspal.

Referensi :

  1. Anjayani, Eni dan Tri Haryanto. 2009. Geografi : Untuk Kelas X SMA/MA. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
  2. Hartono. 2007. Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta, untuk Kelas X SMA/MA. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
  3. Rahayu, Saptanti dkk. 2009. Nuansa Geografi 1: untuk SMA / MA Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Materi lain:

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *