Kehidupan Pertanian: Pengertian Cerita Rakyat dan Karya Sastra Melayu Klasik

Mendengar kata pertanian,  tidak jauh – jauh dari kehidupan rakyat pedesaan. Di mana pertanian merupakan mata pencaharian utama. Mengapa jadi mata pencaharian utama? Sebab lahan subur dan kaya akan kehidupan alam, menjadikan pertanian  menjadi pilihan utama dalam bekerja.

Namun, di sini kita tidak akan membahas tentang pertanian sebagai mata pencaharian rakyat desa. Jauh dari itu, namun masih berhubungan dengan hal tersebut. Pada artikel ini akan dibahas tentang cerita rakyat, karya sastra melayu klasik, teks pidato, dan menghubungkan puisi dengan realitas. Di mana kesemuanya itu dapat diperoleh inspirasinya dari kehidupan pertanian.

Pengertian dan Jenis – Jenis Cerita Rakyat

Coba sebutkan cerita rakyat apakah yang pernah kamu lihat atau kamu baca? Perkembangan zaman, dapat menyebabkan tergesernya nilai – nilai tradisi suatu bangsa. Percampuran budaya dalam negeri menjadikan seorang individu harus bersikap bijaksana. Siapakah yang akan membacakan pada anak – anak bangsa tentang cerita rakyat? Jika dulu kita sering melihat berbagai siaran di televisi tentang berbagai cerita rakyat dengan menggunakan gambar – gambar animasi.

Namun, saat ini meskipun tidak banyak yang menyiarkan tentang film cerita rakyat. Jika pun ada, ada yang tidak menggunakan animasi, namun diperankan langsung oleh seseorang. Apa sih yang dimaksud dengan cerita rakyat? Cerita rakyat berkembang pada masa budaya lisan, di mana ceritanya disampaikan secara turun – temurun dan tidak pernah diketahui siapa yang pertama kali membuat cerita tersebut.

Cerita rakyat dapat berbentuk prosa. Yang dibagikan ke dalam tiga kelompok, yaitu mite, legenda, dan dongeng. Mite merupakan cerita rakyat yang dinilai benar – benar terjadi serta dianggap suci oleh yang memiliki cerita. Mite dapat menghadirkan tokoh – tokoh. Tokoh tersebut dapat berbentuk para dewa maupun makhluk setengah dewa.

Legenda merupakan cerita rakyat yang dianggap benar – benar terjadi dikehidupan nyata, namun tidak dianggap suci. Legenda pada umumnya menceritakan tentang asal usul terjadinya suatu tempat atau benda. Legenda bersifat duniawi. Artinya cerita tersebut terjadi belum begitu lama dan terjadi di dunia, seperti yang dikenal saat ini. Legenda terkadang dinilai sebagi sejarah. Pada hal legenda sebenarnya telah terjadi distorsi dari kisah aslinya.

Mempergunakan legenda sebagai rekonstruksi dalam sejarah, maka perlu menghilangkan bagian cerita yang bersifat folkfore. Dongeng merupakan jenis cerita rakyat yang tidak benar – benar terjadi atau benar – benar ada dalam kehidupan nyata. Dongeng dapat dikatakan sebagai imajinasi saja. Dongeng juga tidak terikat oleh tempat dan waktu.

Meskipun cerita rakyat yang termasuk kelompok dongeng, bersifat imajinatif, namun banyak pelajaran yang dapat dipetik. Cerita tersebut tentu memiliki kandungan makna atau isi dan pesan yang ingin disampaikan. Sesuai dengan karakter budaya lisan, maka segala ajaran moral, sosial kemasyarakatan, agama, dan cara untuk bertahan hidup yang disampaikan lewat cerita secara lisan.Mite, dongeng, dan legenda merupakan cerita rakyat yang berbentuk prosa.

Sudah tahukan tentang cerita rakyat. Cerita rakyat sebenarnya sebagai bagian dari karya sastra melayu klasik. Apakah itu? Nah untuk mengetahui lebih mendalam dan jelas tentang karya sastra melayu klasik, marilah kita beranjak ke pembahasan selanjutnya.

Artikel terkait: Teks Eksemplum (Pengertian, Karakteristik, Struktur, Ciri – ciri, dan Contoh)

Membaca Karya Sastra Melayu Klasik

Terdapat berbagai jenis karya sastra. Salah satunya karya sastra melayu klasik. Hikayat merupakan salah satu jenis dari karya sastra melayu klasik. Yang diceritakan dalam hikayat, pada umumnya raja dan keluarga istana. Cerita yang ditunjukkan, juga merupakan cerita khayalan. Bahkan cerita tersebut juga tidak masuk akal. Hikayat mengandung nilai – nilai yang berguna untuk menunjukkan perilaku individu pada masa saat ini.

Karya sastra melayu klasik yang lain, yaitu

  • Tiap bait terdiri dari empat baris. Bersajak a – b – a – b. Tiap larik terdiri dari empat kata. Baris pertama dan baris kedua merupakan sampiran. Baris ketiga dan baris keempat merupakan isi.
  • Merupakan sajak yang terdiri dari dua baris. Sajak ini mengandung nasihat atau petuah.
  • Pantun kilat. Baris pertama sebagai sampiran. Baris kedua sebagai isi yang berwujud sindiran. Rumus rima yaitu a – a.
  • Tiap baris terdiri dari empat larik. Berakhir dengan bunyi yang sama yaitu a – a – a – a – a.

Membuat sinopsis dalam karangan sastra melayu klasik, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

  • Membaca secara keseluruhan dari naskah yang akan disipnosiskan.
  • Menuliskan hal – hal yang menjadi pokok – pokok isi dalam cerita.
  • Menuliskan sinopsis dengan menggunakan bahasa sendiri dalam bentuk paragraf – paragraf dengan mengacu pada pokok – pokok isi.
  • Membaca sinopsis yang baru dibuat bersamaan dengan mengoreksi dan memperbaiki, baik dari segi pilihan kata, susunan kalimat, kelengkapan isi, maupun rangkaian paragraf.

Sastra melayu klasik ternyata banyak jenisnya bukan? Dan semua jenis dari sastra melayu klasik, tentu saja pernah kita dengar, pelajari, atau bahkan membuatnya. Untuk menambah wawasan kita. Selain belajar tentang sastra melayu klasik, tidak ada salahnya bukan, jika belajar tentang pidato.

Menyusun Teks Pidato

Pernahkah saudara berpidato? Setiap orang sebenarnya mampu melaksanakan pidato di depan umum. Bahkan menjadi hak setiap orang untuk berpidato. Namun pernahkah saudara bertanya pada diri sendiri, apa itu pidato?

Pidato merupakan menyampaikan suatu uraian secara lisan mengenai suatu hal di depan umum. Teks pidato menjadi salah satu persiapan dalam pidato. Secara garis besar, bagian – bagian dari teks pidato terdiri dari salam pembuka, pendahuluan, isi pidato, simpulan, dan penutup. Untuk mengetahui Pidato lebih lanjut simak artikel ini.

Menghubungkan Puisi dengan Realitas

Puisi dapat dikatakan sebagai manifestasi dari kehidupan. Puisi merupakan simbol – simbol dari kehidupan seseorang. Puisi merupakan mimesis dari kehidupan. Puisi dapat disebut juga sebagai ekspresi jiwa seseorang. Sebab puisi mengekspresikan fenomena – fenomena sosial melalui penggunaan kata – kata yang bersifat figuratif. Puisi juga sebagai simbol sosial.

Puisi merupakan penyebaran untuk nilai – nilai sosial yang diketahui oleh pengarangnya untuk digunakan sebagai bahan baku dalam imajinasinya.

Pengarang dalam mengolah imajinasinya untuk bahan puisi yang dikembangkannya, berasal dari keadaan sosial yang pernah dilihatnya. Bahkan diketahui dan dirasakannya. Tidak mungkin bagi seorang pengarang puisi, tanpa memperhatikan fenomena – fenomena yang ada dalam kehidupan sosialnya. Ide – ide yang ditemukan oleh pengarang puisi untuk meningkatkan imajinasi diperoleh dari keadaan budaya, gejolak sosial, kenyataan sejarah, komunitas sosial, elemen sosial, dan simbol – simbol sosial yang berkembang di masyarakat.

Puisi selain menggambarkan fenomena sosial, juga merupakan ekspresi dari suatu budaya. Penyair akan berpijak pada sebuah peradapan yang dibangun dari wujud kebudayaan sebagai bahan dalam penciptaannya. Koentjaraningrat menyatakan bahwa wujud dari suatu kebudayaan, dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut.

  • Wujud kebudayaan sebagai sesuatu yang kompleks dari aktivitas kelakuan berpola dari manusia dan masyarakat.
  • Wujud kebudayaan sebagai benda – benda dari hasil karya seorang manusia.
  • Wujud kebudayaan sebagai sesuatu yang kompleks dari gagasan, ide – ide, norma – norma, peraturan, dan nilai – nilai.

Berdasarkan penjelasan di atas menunjukkan tentang bahwa cerita rakyat berasal dari kehidupan masyarakat, yang diyakini, kemudian menjadi budaya yang dapat diceritakan oleh generasi selanjutnya. Sebagai bagian dari melayu klasik, cerita rakyat dapat dituangkan dalam sebuah narasi maupun puisi. Kemudian dapat disampaikan dalam berbagai cara, salah satunya di depan umum dengan cara pidato. Topik pertanian, menjadi petunjuk bagi kita, bahwa cerita rakyat terlahir, seperti cerita rakyat dari Banyuwangi.

Referensi:

  1. A.R., Syamsudin, Mulyanto, A., Deden F.., Usman S., dan Suminto. 2009.  Kompetensi Berbahasa dan Sastra Indonesia 1: Untuk Kelas X SMA dan MA. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
  2. Juhara, E., Budiman, E., dan Rita R. 2005. Cendekia Berbahasa: Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA Kelas X Jilid 1. Jakarta: PT Setia Purna Inves.
  3. Sulistyo, K. 2006. Rangkuman dan Pembahasan Soal Bahasa Indonesia SMA. Depok: Puspa Swara.
  4. Sulistyo, K. 2009. Sukses Ujian Nasional Bahasa Indonesia SMA 2009. Depok: Media Pusindo.
  5. Syahzaman. 1994. Cerita Rakyat dari Kalimantan Barat 2. Jakarta: Grasindo.
  6. Tim Grasindo. 2005. Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Kelas 1. Jakarta: Grasindo.
  7. Wiyanto, A. 2007. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA & MA Kelas X. Jakarta: Grasindo.

Materi lain:

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *