Cara Bijak Menghadapi Penghinaan Ala KH Agus Salim

Siapa manusia yang mau atau suka dihina? Secara naluriah, setiap manusia memang tidak suka dihina, direndahkan atau pun dilecehkan. Sebaliknya, akan muncul suatu sensasi menyenangkan tersendiri bila kita sebagai manusia, mendapatkan suatu pujian atau sanjungan. Betul begitu?

Jika tak memungkirinya, Anda tentu setuju bukan? Saya yakin, Anda pun juga termasuk orang yang tidak suka untuk dihina. Setiap orang pada dasarnya sama, tidak suka dihina. Akan tetapi, yang membedakan dari masing -masing orang adalah tentang sikapnya dalam menghadapi penghinaan ini.

Ada orang yang mudah muntap ketika dihina. Ada yang amarahnya menaik perlahan ketika dihina. Ada yang langsung membalas penghinaan dengan penghindaan lain yang setara atau bahkan lebih kejam. Semua respon ini pada dasarnya adalah hal yang wajar jika merujuk pada naluriah manusia yang memang tidak suka jika dihina.

Akan tetapi, uniknya tak sedikit pula orang yang bisa cukup bijak dalam menghadapi penghinaan. Ini adalah tentang kisah inspirasi menarik dari seorang tokoh pejuang sejarah Indonesia. Mengenai bagaimana caranya yang ternyata sungguh begitu bijak ketika ia mendapatkan penghinaan.

Dia adalah KH Agus Salim, seorang tokoh Syarekat Islam yang begitu populer akan kebijaksanaannya. Sikap bijaksana KH Agus Salim ini bisa jadi inspirasi menarik bagi siapa pun yang mungkin suatu ketika akan menghadapi suatu penghinaan, atau sekedar sindiran yang dirasa menyinggung. Memangnya, seperti apa ya kisahnya?

Baca juga: Inspirasi dari Berlin Timur dan Berlin Barat : Balasan Kebaikan untuk Kejahatan

Bijaksana Ketika Dihina

Anda tentu tahu SI alias Syarekat Islam bukan? Organisasi Islam ini cukup berpengaruh pada jaman perjuangan kemerdekaan. KH Agus Salim, adalah salah seorang tokoh SI tersebut. SI kala itu masih mempunyai dua tokoh besar yang sering jadi sorotan, yakni KH Agus Salim dan Semaun.

Sayang, kedua tokoh tersebut sering berselisih paham dan terciumlah aroma persimpangan pemikiran antara keduanya. Suatu ketika, SI sedang mengadakan sebuah rapat. Dalam rapat tersebut, kedua tokoh besar tersebut menjadi pusat perhatian lantaran keduanya adalah pembicara.

Kesempatan pidato yang pertama didapatkan oleh Semaun. Perlu diketahui, Semaun adalah tokoh SI yang kemudian berpaling menjadi anggota PKI. Ketika berpidato di atas podium, Semaun sempat bertanya pada para hadirin yang datang.

“Orang yang berjenggot itu seperti apa Saudara -saudara?” kata Semaun memancing jawaban dari para pendengarnya.

“Kambing!”. Jawab para peserta rapat tersebut.

“Orang yang berkumis itu seperti apa?” Semaun kembali bertanya lagi.

“Kucing!”. Begitu jawaban para peserta rapat. Pertanyaan tersebut memang secara sengaja ditujukan bagi salah seorang tokoh pesaingnya, yakni KH Agus Salim, yang kala itu memang berpenampilan dengan jenggot dan kumis. KH Agus Salim pun menyadari betul kalau dirinya sedang disindir alias dihina dalam pidato Semaun.

Marahkan KH Agus Salim? Hmm, ia adalah orang yang cukup bijak dan sabar ketika dihina. Ia biarkan saja ocehan Semaun tersebut hingga tiba gilirannya untuk berpidato. Ketika KH Agus Salim naik ke podium, ia pun menyempatkan diri untuk melontarkan pertanyaan sederhana pada para peserta rapat.

“Saudara -saudara, yang tidak berkumis dan berjenggot itu seperti apa?” Tanyanya dengan nada lembut.

“Anjing!” Serentak saja para hadirin menjawab demikian.

Betapa santainya KH Agus Salim dalam menghadapi penghinaan ini. Bahkan, ketika penghinaan yang ditujukan padanya ini dilakukan di depan umum. Tak perlu marah -marah dan menghabiskan energi, karena hal ini justru akan menjatuhkan karakter.

Itulah menariknya KH Agus Salim, seorang tokoh yang memang dikenal sebagai orang yang hebat dalam berdebat dan tajam dalam beragumentasi, tapi tetap dalam tataran yang bijak. Sungguh inspiratif bukan?

Sumber:

Purna, Asep. 2011. 101 Kisah Inspiratif. Jakarta: GagasMedia.

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *