BUYA HAMKA – ULAMA DAN SASTRAWAN TOLERAN

Wajah Indonesia saat ini adalah berkat cucuran keringat perjuangan dari pahlawan-pahlawan terdahulu. Pahlawan dengan semangat juang yang tinggi. Keberanian yang tak takut mati. Pemikiran hebat yang tak tertandingi .

Namanya sebagai Pahlawan Nasional sampai saat ini masih hidup. Bukan dengan raga melainkan dengan karya dan jasa. Buah karya dari pemikiran-pemikiran cemerlang ia persembahkan untuk negeri tercinta. Jasa-jasanya mendatangkan haru dan bangga pada jutaan sepasang mata generasi penerus bangsa.

Tidak jarang seorang pahlawan memiliki peran sentral dalam berbagai hal. Ada yang konsen dengan pendidikan,  politik dan syi’ar bahkan sastrawan. Ya itu benar adanya. Mereka adalah aset terbesar bangsa.

Buya Hamka adalah salah satu aset terbesar bangsa. Namanya hidup dalam lembaran karyanya. Jasanya dibidang ilmu agama, dan politik begitu besar. Terlepas dari karya dan jasanya ada nila-nilai moral dalam diri Hamka bisa kita jadikan teladan.

Hamka adalah sosok karismatik. Pendiriannya tidak bisa ditawar jika menyangkut soal aqidah sebagai umat muslim. Walaupun begitu, ia juga memiliki sikap toleransi yang tinggi. Tidak sedikit kawan-kawannya dari kalangan non muslim.

Buya Hamka begitulah sapaan akrabnya. Pemuda asal Maninjau, Sumatera Barat ini memiliki nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Panggilan Buya adalah panggilan khusus oleh masyarakat Minangkabau yang memiliki arti Abi jika diartikan dalam bahasa arab. Sementara Hamka adalah singkatan dari nama panjangnya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah.

Hamka adalah putra pertama dari pasangan Dr. Abdul Karim Amrullah dan Shaffiah. Ayah Hamka adalah seorang ulama terkenal di Sumatera. Harapannya gelar tersebut juga dapat diikuti  oleh Hamka seperti cita-cita sang ayah.

Lahir dan mendapatkan pendidikan langsung dari  seorang ulama, Buya tumbuh sebagai anak manja dan nakal. Apalagi mendengar kabar kedua orang tuanya akan berpisah kenakalannya semakin menjadi-jadi. Kabar kedua orangtuanya akan bercerai itu benar adanya. Akan tetapi sang ayah tidak lupa akan masa depan Hamka. Ayahnya marah besar dengan kelakuan nakal Hamka. Menjadi anak nakal bukanlah kenginan sang ayah, melainkan menjadi seorang ulama mengikuti jejaknya.

Hingga suatu ketika ayahnya memarahi Hamka. Kemudian Hamka lari mencari ketenangan di tepi danau dekat rumahnya. Pada saat itu hanya ada dua pilihan dalam pikiran Hamka, ulama atau anak nakal ? Hingga akhrinya Hamka memutuskan untuk menjadi seorang ulama.

Belajar di Padang Panjang

Pada saat itu Hamka juga mengenyam pendidikan Sekolah Desa. Di tanah kelahirannya,  Sekolah Desa adalah tingkatan sekolah yang memiliki strata paling rendah. Ada dua sekolah yang menyandang strata sosial tinggi yaitu Sekolah Gubernemen dan ELS (Europesche Lagere School). Kedua sekolah ini diisi oleh mereka yang berasal dari keluarga pegawai juga anak-anak keturunan Belanda.

Di Sekolah Desa Buya tidak tamat. Walaupun begitu, Hamka tetap masih memiliki minat tinggi untuk belajar, terutama agama. Hamka ingat betul keputusan besarnya di tepi danau waktu itu, menjadi seorang ulama.

Bekal menjadi seorang ulama betul-betul dipersiapkan ayahnya. Selain Sekolah Desa, Buya juga dimasukkan ke sekolah pendidikan Diniyah. Pada tahun 1918 Hamka menimba ilmu agama Islam di Sumatera Thawalib, Padang Pajang. Perjalanan mendalami agama kemudian ia lanjutkan ke Parabe, Bukittinggi. Namun Hamka juga tidak menuntaskannya.

Beberapa kali tidak menamatkan sekolahnya, Buya lebih memilih untuk belajar secara ottodidak. Ia belajar mandiri dengan banyak membaca buku. Di Padang Pajang waktu itu dibuka semacam taman baca. Kesempatan untuk membaca beragam buku ia gunakan sepulang sekolah diniyah.

Merantau ke Pulau Jawa

Kegemaran membaca buku membawa Hamka pada pengetahuan yang luas. Keingintahuannya melihat dunia lebih luas membulatkan tekadnya untuk merantau ke pulau Jawa. Kala itu usia Hamka baru 13 tahun. Suatu keberanian yang hebat atas tekad besarnya.

Di pulau Jawa, tepatnya di kota Yogyakarta Hamka tinggal bersama pamannya, Djafar Amrullah. Berawal dari sini Hamka bertemu dengan sejumlah tokoh-tokoh yang ia kagumi. Tokoh-tokoh yang ia ketahui dari buku ketika masih di Padang Panjang.

Jika dulu waktu masih di Padang Panjang hanya bisa belajar dengan membaca tentang pemikiran-pemikiran tokoh besar, maka disini ia banyak belajar langsung dengan tokoh-tokoh besar tersebut. Hamka belajar Islam dan sosialisme dari HOS Tjokroaminoto. Kemudian belajar agama Islam dengan Haji Fachruddin. Dan dengan R.M Suryopranoto ia belajar ilmu Sosiologi.

Seakan belum puas belajar dengan empat tokoh besar tersebut, Hamka melanjutkan misi belajarnya ke Pekalongan. Di kota ini ia menimba ilmu agama kepada kakak iparnya, Buya Sutan Mansyur. Buya Sutan Mansyur adalah istri kakaknya yang bernama Fatimah Karim.

Baru memulai mempelajari agama yang digagas oleh Muhammadiyah, kabar perintah untuk telah sampai ditelinganya. Permintaan untuk segera kembali ke Padang Pajang membantu Syekh Abdul Karim ia kabulkan.

Diusia yang ke 17 tahun, Hamka sebagai penerus ayahnya mulai mengembangkan misi keislaman Muhammadiyah yang ia dalami di pulau Jawa. Ceramah dari satu tempat menuju tempat lainnya ia lakoni. Akan tetapi, dalam perjalanan mengisi tausiyah Hamka banyak mendapat celaan.

Sederet cibiran bahwa Hamka hanya pandai berpidato, tetapi tidak paham nahwu sorof mulai terdengar di telinga ayahnya. “Jangan pidato saja yang kau kuasai ! Kau masih belum alim” ujar sang ayah. Seakan merasa dilecuti, akhirnya Hamka memutuskan untuk memperdalam ilmu agama  ke Mekah.

Merantau ke Mekah

Mekah adalah tempat yang tepat untuk menimba ilmu agama lebih dalam. Begitulah keyakinan Hamka menguatkan tekadnya. Hamka berangkat ke Mekah pada usia 18 tahun. Di Mekah, Hamka bermukim di rumah Syekh Amin Idris.

Bermukim di Mekah adalah ikhitar Hamka melancarkan kemampuan bahasa arabnya. Lebih dari tujuh bulan di Mekah, keseharian Hamka diisi dengan aktivitas sebagai pegawai pada sebuah percetakan. Ada banyak buku termasuk buku-buku agama. Disela-sela jam istirahatnya, ia manfaatkan untuk membaca buku -buku tauhid, filsafat, shirah dan masih banyak lagi.

Terbesit dalam pikiran Hamka untuk tinggal di Mekah dalam beberapa tahun lagi. Namun, selepas pertemuannya dengan H. Agus Salim dan berupa saran agar kembali ke Indonesia ia lakukan. Kembali ke Indonesia adalah awal perjuangan Hamka berdakwah. Meneruskan cita-cita ayahnya sebagai seorang ulama sekaligus menekuni dunia sastra.

Sisi Romantisme Hamka dengan Ibu H. Siti Raham Rasul

“Belum berniat, masih lekat kenangan dengan yang sudah wafat.”

Sepenggal kalimat Hamka dalam buku berjudul Ayah karangan Irfan Hamka anaknya. Kalimat itu terucap ketika ada pertanyaan mungkinkah Buya Hamka menikah lagi?

Sejak 1 Januari 1971, Hamka kehilangan separuh jiwanya, Ibu Siti Raham Rasul. Ibu Siti adalah perempuan kuat dan tegar. Ia bahkan mampu menjadi pemimpin kelurga menggantikan Hamka kala ditahan.

Pernikahan Hamka dengam Ibu Siti dikaruniai 12 putra-putri hebat. Lebih dari 40 tahun hidup berdampingan, rasa cinta Hamka terhadap Ibu Siti semakin kokoh. Bagi Hamka, Ibu Siti adalah sosok yang mempunyai jiwa penderma. Ia juga sangat mencintai sillaturrahmi. Ibu Siti memiliki karismatik tersendiri untuk Hamka. Sikap bijak dan pandangan yang luas Ibu Siti adalah tempat Hamka menemukan jawaban.Terbukti setiap saran yang disampaikan Ibu Siti ia dengar dan lakukan.

Perjuangan Ibu Siti menemani Hamka menyisakan kenangan tersendiri bagi Hamka. Sepeninggal Ibu Siti, kesehataan Hamka mulai menurun. Hamka lebih senang menyendiri ditemani dengan senandung Kaba (senandung melankolis mengisahkan cerita rasa sedih karena berpisah).

Menulis Dibalik Jeruji Besi

Kesungguhan Hamka menekuni dunia sastra terlihat sejak ia masih berumur 12 tahun. Dari mulai kebiasaan membaca sampai menciptakan karya. Hamka pernah berkata, yang sangat disayang didunia ini, yang pertama andung dan angku, yang kedua buku catatannya. Baginya catatan adalah segudang ingatan tertulis rapi terhadap apa sja yang harus ia ingat.

Kini terbukti, dari hal-hal kecil yang ia biasakan menghasilkan ratusan buku karya Buya Hamka. Begitu mahir dalam menulis, dalam karyanya ia banyak menuliskan ilmu-ilmu keislaman, sastra, budaya bahkan politik.

Perjalanan pahit dalam dunia politik dirasakan Hamka. Pada masa Orde Lama justru karya-karyanya mengantarkan Hamka ke penjara. Garis politik bermadzhab Demokrasi Terpimpin membawa Indonesia pada suatu sistem diktator. Bukan lagi berperang dengan adu senjata tajam dan mematikan, melainkan melalui kekuasaan.

Demokrasi terpimpin (1959-1965) adalah gambaran keadaan carut marut pemerintahan Indonesia waktu itu. Terlebih lagi PKI (Lekra) mulai melancarkan aksinya. Pengusung paham Marxisme-Leninismw-Maoisme ini mulai menguasai ranah strategis pemerintahan seperti sosial, ekonomi, dan budaya. Bahkan aksinya begitu cepat menerobos pada sastrawan yang tidak sehaluan dengan PKI.

Sastrawan yang tidak sehaluan dnegan PKI dipaksa untuk melancarkan aksinya melalui menulis opini-opini di surat kabar maupun media masa lainnya. Serangan strategis yang diciptakan PKI melalui jalan mulus. Surat kabar pro-PKI mulai bermunculan seperti Harian Rakjat, Bintang Timur, dan Warta Bhakti.

Untuk melancarkan serangan-serangannya, setiap minggunya dalam surat kabar pro-PKI disisipkan dalam rubrik yang membabat habis kritikus dan sastrawan yang masih kokoh bersebrangan dengan PKI.

Buya Hamka adalah salah satu incaran PKI. Sebagai seorang ulama sekaligus sastrawan, kedudukannya dipandang membahayakan misi PKI. Hamka dibabat habis oleh Lentera. Pemimpin Lentera, Pramoedya Antara Noer melalui tulisannya menghujat habis-habisan pribadi Hamka.

Tidak puas dengan menyebar kebencian, strategi baru dijalankan dengan melayangkan tuduhan serius kepada Buya. Hamka dituduh terlibat dalam pembunuhan Soekarno. Akhrinya Hamka ditahan selama 2 tahun 4 bulan lamanya tanpa diadili.

Bukan Hamka namanya jika tidak belajar dan berkaya dalam keadaan sempit. Selama dipenjara, justru Hamka mendapat anugrah yang luar biasa dari Allah. Didalam tahanan  ia dapat menyelesaikan tulisannya yakni tafsir Al-Qur’an 30 juz. Tafsir 30 jus atau judul populernya adalah Tafsir Al-Azhar.

Hamka Berjiwa Besar

Pada masa Orde Baru, sederet musuh Hamka bertebaran. Baik dari kalangan pemerintahan, politisi, bahkan kawan sesama sastrawan. Hamka sosoknya dikenal begitu dekat dengan Soekarno, Presiden Indonesia. Namun semenjak serangan tuduhan PKI menjelekkan namanya, hubungan Hamka dengan Soekarno jauh.

Kebencian pemerintah dengan Hamka tidak main-main. Pertama, larangan terbit dan beredar nya buku-buku Hamka. Kedua, Hamka ditahan tanpa diadiili atas tuduhan perencanaan pembunuhan Soekarno. Tidak hanya Hamka yang merasakan keadaan sulit. Keluarganya mendapat imbas atas peristiwa yang menimpa Hamka.

Namun keadaan berubah ketika Soekarno menemui ajalnya. Soekarno menyampaikan pesan terakhir kepada keluarganya bahwa jika ia mati, Soekarno meminta kesediaan Hamka untuk menjadi imam dalam menshalatkan jenazahnya. Pesan itu dipenuhi oleh Presiden Soeharto. Presiden Soeharto melalui utusannya menyampaikan langsung pesan Soekarno kepada keluarga Hamka.

Tanpa berpikir panjang, Hamka menyatakan kesediaannya. Tindakan Hamka memenuhi permintaan Soekarno menuai banyak komentar. Komentar itu disampaikan betapa dzalimnya rezim Soekarno terhadap Hamka. Lalu mengapa Hamka masih mau menshalatkan Soekarno.

Dengan lembutnya Hamka menanggapi komentar itu. Baginya Soekarno telah berjasa terhadap dirinya sehingga ia mampu menyesaikan tafsir 40 juz selama ditahan. Selain itu Soekarno juga memiliki jasa besar untuk umat muslim di Indonesia, yaitu dengan berdirinya Masjid Baiturrahman dan Masjid Istiqlal sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara. Di akhir ucapannya ia tutup dengan doa terbaik untuk Soekarno.

Sikap sederhana, santun dan pemaaf Hamka nampak juga dalam menyikapi lawan penanya, Pramoedya Ananta Noer. Surat kabar yang dipimpin oleh Pramoedya secara terang-terangan menyerang Hamka dengan berbagai tudingan. Hamka difitnah mencuri karangan asli dari pengarang Alvanso Care, ulasan dalam Harian Bintang Timur.

Setelah datang kabar bahwa PKI gagal melakukan kudeta pada tahun 1965, berita mengenai Pramoedya tidak mulai terdengar lagi oleh Hamka. Suatu hari Hamka kedatangan tamu mengejutkan. Astuti putri dari Pramoedya dan seorang laki-laki keturunan Cina datang menemui dan menyampaikan maksudnya.

Astuti akan menikah dengan laki-laki keturunan Cina bernama Daniel. Daniel adalah seorang non-muslim yang baru saja akan belajar agama Islam. Mendengar keinginan putrinya, Pramoedya mengirim calon mantunya ke Hamka untuk mendapatkan bimbingan secara langsung membaca syahadat. Selain berikrar sebagai seorang muslim, calon mantu Pramoedya juga memulai belajar agama dengan Hamka.

Dari secarik kisah Hamka dengan Pramoedya tidak terlintas pikiran untuk balas dendam. Justru keduanya terlihat tidak sedang bermusuhan. Pramoedya mengungkapkan, ” Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengam laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka. “

Sumber:

  1. Alniezar, Fariz. 2019. Sejarah Para Ulama yang Berkarya di Balik Penjara, Diakses dari https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/sejarah-para-ulama-yang-berkarya-dibalik-penjara-dnEC
  2. Hamka, Irfan. 2013. Ayah. Jakarta: Republika Penerbit.
  3. Purnama Putra, Erik 2014. Menengok Kisah Hidup Buya Hamka, Diakses dari https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/n0rngw
  4. Zuhri, Damanhuri. 2015.Terima Ajakan Agus Salim, Hamka Pulang, Diakses dari https://ihram.co.id/berita/nvoqzf301/terima-ajakan-agus-salim-hamka-pulang