Aku Dia dan Kapal Tua – Chapter 5

Fikri Haikalby:

Astaga, kenapa ini? Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa orang tua ini tidak pernah bilang sesuatu pada ibu, kenapa?

Seketika rasa kesal di hati mencengkamku. Aku menggeleng, mendengus, tidak percaya. Bagaimana tidak, ayah ternyata mempunyai anak selain aku.

Bantu kami dengan klik "LIKE"

“Jadi, kamu mencari Diana.” nada ayah menekan, aku balas mengangguk.

Aku kira karena ayah tau, dan akan memberikan alamat lengkapnya padaku. Kenyataannya tidak begitu. Orang tua berpakaian lusuh itu, dengan geram menjambak kencang badan kausku tepat di dada. Matanya melotot, nampak urat-uratnya menonjol di peluh. Mendengus, tangan kanannya mengepal, tepat berada di depan wajah. Kemarahannya kian memuncak.

“Buat apa kau cari dia hah, buat apa!!” Pekiknya sambil melabai kepalan yang siap memukul.

Awalnya aku hanya diam, entah maksud aku diam untuk apa. Tapi setelah dia berkata bahwa Diana adalah anaknya, Aku sontak merasa tidak terima. Sejurus tangannya yang masih mengayun di depan biji mataku–dengan emosi, aku tangkap pergelangannya. Sebelah tanganku melesat cepat, menyikut dadanya. Aku terlepas dari todongan.

“Ayah, bukankah kamu pernah bilang saat awal bertemu denganku, kamu bercerita tentang kematian putrimu, namun kenapa!! Kenapa hah!!” Aku berdiri, unjuk rasa di hadapannya yang sedang kesakitan, memegang dada.

Yang diunjuk malah tercenung. Wajah tirusnya menunduk, takzim. Lengang lima detik, keadaan berubah drastis. Kemarahannya mulai reda, urat-urat di peluh tak lagi muncul, ia memasang wajah teramat melas seakan minta dikasihani. Tapi aku tetap acuh, tidak peduli.

Alih-alih justru aku menyiapkan jurus, siap memitingnya.

“Nak?” panggilnya lirih.

Tidak ku jawab, meski dengan nada super lembut sekalipun. Aku tetap diam, bersikukuh siap mengganyangnya habis-habisan. Kalian tau alasan kenapa aku demikian. Dulu peristiwa lima tahun lalu adalah awal semua tabiat buruk menimpa kesukuan dan kekeluargaan. Suku-ku yang diberi nama Angpel diserang oleh suku tak di kenal. Tepat malam perayaan pernikahan anak sulung kepala suku. Betapa indahnya saat itu, setiap sudut rumah terdapat banyak sekali aneka macam buah, daging daratan sampai yang di lautan. Ini perayaan besar-besaran.

“Nak, ayahmu kemana?” Itulah pertanyaan terakhir ibu, sebelum ia mati.
Pada tengah keramaian pesta, dengan kobaran kembang api yang menyala-nyala. Aku bisa merasakannya, karena jarak rumahku dengan istana tidak terlalu jauh.

“Baiklah bu, aku akan mencarinya.”

Aku meninggalkan ibu yang tengah terkapar tak bertenaga itu. Suara khas lembutnya, gurat lempengan wajah sedunya, meluluhkan hatiku yang ketika itu sedang merasa kesal, karena lebih satu jam kami berdua menunggu ayah.

Entah kemana aku akan mencari, tapi sekali lagi ini adalah demi ibu. Kemana pun arah melintang, aku siap mencari sampai menemukan. Baiklah, aku menghela napas, tujuan pertama: menuju istana. Cukup lima menit aku sudah sampai, sebelum masuk ke dalam, seperti biasa para pengawal memeriksaku di depan gerbang, mulai dari pakaian sampai melihat sisi kulit bagian tubuhku. Selesai. Aku dipersilahkan masuk.

Kakiku melangkah, jarak pesta lebih dekat ketimbang istana. Lihatlah, di sana terdapat banyak sekali persembahan untuk sang dewa, kepala-kepala kerbau, tanduk kepala rusa, semuanya kian berjejer menggantung, bersamaan dengan aneka buah anggur yang berada di bawahnya. Aku menuju ke sana, aku yakin pasti di sekitar tersebut terdapat ayah.

Sebagaimana kebanyakan orang tahu, selain ayah pandai mengobati penyakit, ayah juga adalah orang pandai yang paling terkenal hebat berburunya di suku Angpel ini. Barangkali persembahan itu ayah yang mencarinya, pikirku.

Kenyataannya tidak begitu. Justru ayah menjadi buronan karena enggan menuruti perintah kepala suku. Informasi itu kudapat dari penjelasan kepala suku sebelumnya.

Mahesa Tengku si kepala suku itu menunjukku–membuat ku terdiam. Sejurus, ia memerintahkan pengawal untuk meringkus dan memenjarakanku. Dari sini aku mulai membenci ayah. Kenapa dia tidak peduli dengan kepala suku. Bukankah selama ini hidup keluargaku di tanggung olehnya.

“Kamu tetap ditahan sampai Tamrin kembali ditemukan,” Jelas Tengku.

Seiring waktu berputar, tepat pukul satu malam. Saat itu semua penduduk pulas tertidur, seisi orang di istana yang biasanya sebagian aktif menjaga, kini tidak begitu. Terbilang semua telah nyenyak lepas menikmati lelahnya pesta satu jam ke belakang.

Tiba-tiba, terjadi benturan besar mengenai tembok penjara, jebol sampai tembus berlubang.

Inilah awal terjadinya penyerangan, bertubi-tubi peluncuran batu panas. Ledakkan besar terjadi di mana-mana, semua selalu tepat mengenai sasaran. Aku melihatnya langsung, unduk unduk berjalan keluar menyelematka ln diri, keluar dari istana. Singguh naif, para penduduk istana semua sudah terkapar mati. Terlebih saat melewati singgasana Mahesa

Tengku, membuatku jengah dan terpaku melihat ayah menembak bagian leher kepala suku itu. Perasaanku semakin tidak mengerti, hingga sudah sangat membencinya kali ini.

Tidak sempat aku mencegahnya, ayah melesat cepat, pergi setelah nyawa terlepas dari kepala suku berjarak sekitar sebelas meter itu.

Pukul empat pagi, aku sudah tiba di rumah, setelah sebelumnya berhasil menumpas lima pasukan tak di kenal, aku menang bertengkar. Lihatlah, ibuku sudah betul-betul tak bernyawa. Lidahnya menjulur ke luar. Matanya melotot bulat. Tragisnya terdapat tusukan di perut. Salah seorang saudara yang sekarat memberi tahu, suaranya begitu tercekat, berucap dengan bantuan napas sesaknya. Menjelaskan atas kematian ibuku.

“Pergilah Nak, tinggalkan suku ini. Di sini sudah tidak aman lagi, carilah kekasihmu Diana, dia sekarang teramat butuh dan merindukanmu.” nadanya berakhir, terlanjur maut menjemput.

Aku teriak sekencang-kencangnya, ibu kupeluk erat, kucium sekujur wajahnya yang layu.

Tepat pukul lima pagi, aku membakarnya sesuai upacara adat kesukuan kami, meski sebenarnya aku tidak rela melihatnya menjadi debu–apalah daya ini sudah tradisi.

Pada saat itu tidak ada lagi yang perlu di harapkan. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung halaman. Berlayar mencari kehidupan baru, menyebrangi lautan dengan sendirinya bertepi, layaknya musafir yang mengadu nasib. Lima hari waktu yang tepat, aku berkemas usai menambatkan kapal yang kubuat empat hari lalu.

Baiklah, aku menghela napas, menghembuskannya lega. Siap melepas tali dari dermaga.

Astaga, aku lupa membawa kalung turun temurun keluarga. Napasku membuncah, berlarian mengambilnya. Dan inilah, tanpa sengaja terdapat surat yang tertindi kalung sutera mas milik kami. Aku meraihnya, kumasukkan dalam saku semuanya. Niatku untuk membacanya, sementara kuurungkan, terburu-buru menuju kapal. Tibalah saat yang tepat, waktuku cukup lengang untuk sesaat membaca surat.

Tanganku sudah memegangnya, perlahan membuka lipatan menggunakan mulut. Tangan sebelah sibuk mengantur kemudi. Dari sampulnya tertulis wasiat, dan berlogo tauhid. Aku menenangkan segala ketegangan, menoleh kiri kanan, menghela napas, siap membaca. Ternyata inilah isinya.

“Sebelum kamu membunuhku, izinkan ayah berkata sesuatu padamu. Sebenarnya tujuan ayah bukan untuk menumpas kejahatan, tetapi ini sudah menjadi jihad bagi agama ayah. Kesyirikan, perjudian, kemaksiatan, semuanya telah merajalela. Kepala suku tidak lagi menjunjung tinggi kemuliaan, yang ada berantakannya tabiat hidup kerakusan, kekejaman, sampai penghinaan. Ketahuilah nak, hidup di dunia hanyalah sementara, pun sama kekuasaan, kehebatan, kepandaian semua bersifat sementara.

“Jadi, mengertilah nak jangan mudah terhasut oleh para tetua yang menyesatkan, yang apabila bicara dia ingkar. Apabila bertindak dia dengan sepenuhnya memaksamu untuk mengikut. Tetap pegang teguh akidah kamu, atau hijrahlah mencari kehidupan baru.”

— Chapter 4 | Chapter 6 —

  • 5
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *