Aisyah Sang Istri Nabi

Aisyah  ra. sang Ummul Mukminin. Wanita yang sangat fakih dan cerdas dalam menjawab segala permasalahan agama secara detail. Ia sangat paham hukum Allah dan mengetahui bagaimana ia bisa mengamalkannya. Dalam potret sejarah, Aisyah terkenal sebagai seorang perempuan yang ahli dalam puasa dan beribadah.

Aisyah adalah wanita yang senantiasa berpegang teguh terhadap Al-Qur’an dan Sunnah. Kewajiban-kewajiban sebagaimana perintah dalam Al-Qur’an ia tunaikan. Aisyah pun tak melewatkan malam-malamnya bersama Rabb Nya.

Lahir dari keluarga yang penuh dengan kemuliaan adalah suatu keberkahan bagi Aisyah. Ayahnya adalah orang paling mulia setelah Rasulullah yakni Abu Bakar As-Shidiqi. Sementara Ibunya adalah salah seorang Shahabiyah yang mulia, Ummu Ruman binti Amir. Tak sedikit harta dan jiwanya ia korbankan untuk agama Islam.

Aisyah memiliki paras sungguh menawan. Kulit putih, bersih nan cantik membuatnya mendapat julukan Al-Humaira yang berarti yang kemerah-merahan. Julukan Al-Humaira begitu tak asing dalam potret sejarah Islam. Pantas saja panggilan itu khusus di dapat dari sang suami, Nabi Muhammmad SAW.

Pernikahan Dengan Nabi Karena Wahyu Dari Langit

Wahyu dari langit perihal pernikahan Nabi dengan Aisyah di dapat tatkala Nabi bermimpi. Dalam mimpinya, Nabi melihat Aisyah sebanyak tiga kali. Kala itu Jibril mendatangi Nabi dengan membawa gambar Aisyah dan berkata, “ Ini adalah istrimu di dunia dan akhirat ”.

Nabi menikahi Aisyah ketika masih berusia enam tahun. Dan ketika usianya sembilan tahun, Aisyah diserahkan kepada Nabi. Kala itu Aisyah sedang bermain ayunan di pelataran bersama teman-temannya. Kemudian sang Ibu memanggilnya, dan Aisyah langsung menghadap panggilan sang Ibu. Ummu Ruman kemudian memegang tangan Aisyah dan membawanya pada sebuah rumah yang di huni beberapa wanita Anshar. Sambutan hangat Aisyah dapatkan. Ummu Ruman menyerahkan Aisyah kepada mereka untuk di rias. Tepat waktu dhuha Nabi dan Aisyah dipertemukan.

Aisyah tinggal dalam sebuah rumah kecil yang penuh berkah bersama Nabi. Perbedaan usia yang terpaut jauh tidak mengurangi rasa cinta Nabi kepada Aisyah. Justru Nabi hadir sebagai sosok romantis yang selalu memahami tingkah menggemaskan Aisyah. Nabi paham betul, di usia Aisyah yang masih belia masih sangat menyukai permainan. Dari Aisyah ra., bahwa ia sedang bermain dengan anak-anak perempuan lainnya disekitar Rasulullah, ia berkata, “ Maka teman-temanku menghampiriku dan menjauh dari arah Rasulullah.” Aisyah berkata, “ Maka Rasulullah pun mengarahkan mereka untuk bermain kepadaku.”

Kisah romantis Aisyah dan Nabi terlihat pula tentang bagaimana sebagai dua insan dalam menjalani rumah tangga untuk tidak enggan memberikan nasehat ketika pasangannya melakukan kesalahan. Diriwayatkan dalam suatu hadist shahih, Suatu hari Ummul Mukminin Aisyah ra. berkata kepada Rasulullah sambil menunjuk ke rumah istri Nabi yang lainnya, yaitu Ummul Mukminin Shafiyah binti Huyyai ra., “ Cukuplah untukmu Shafiyah seperti ini.” Adapun maksudnya adalah Shafiyah memiliki postur tubuh yang pendek. Kemudian Rasulullah mengatakan kepada istri yang paling dicintainya, Aisyah. Dalam sabdanya Rasulullah, “Sesungguhnya kau telah mengatakan kata-kata yang jika engkau campur dengan air lautan, niscaya air lautan itu akan menjadi keruh..” Cara Nabi menasehati Aisyah disampaikan dengan kalimat yang indah dan penuh makna. Sebagai seorang suami, ia tidak membiarkan istrinya mengatakan hal-hal kotor, bahkan menggunjing saudaranya sendiri.

Disamping sifatnya yang masih suka bermain, Aisyah adalah sosok pencemburu. Dari Aisyah ra. berkata, “ Tidaklah aku cemburu kepada wanita seperti kecemburuanku kepada Khadijah ra., aku tidak pernah melihatnya, namun Nabi selalu mengenangnya. Jika beliau menyembelih seekor domba, maka beliau mengirimkan beberapa potongnya kepada kerabat-kerabat Khadijah. Begitu cintanya Nabi dengan Khadijah, pun hal-hal atau orang-orang yang mempunyai hubungan dengan Khadijah Nabi jadikannya istimewa. Suatu ketika datang seorang wanita hitam hendak menemui Nabi. Kemudian Nabi menyambutnya dengan sambutan yang sangat baik. Wanita itu pernah menemui Khadijah. Dan Khadijah pun menyambutnya dengan sangat baik.

Begitu luasnya hati Aisyah. Aisyah hidup dalam sebuah rumah tangga yang di dalamnya terdapat wanita-wanita yang mempunyai hati seluas langit untuk rela berbagi tanpa adanya unsur keterpakasaan maupun tekanan. Kala itu Aisyah bukanlah salah seorang istri Nabi. Dalam kitab Siyar A’lan An-Nubala, Imam Adzahabi berkata, “ Pernikahan Nabi dengan Saudah dan Aisyah dilaksanakan dalam satu waktu setelah Khadijah wafat.”  Nabi tidak hanya beristri satu wanita saja melainkan lebih dari satu atau bisa dikatan poligami. Sebuah pilihan yang dengan begitu sadar untuk bersedia menjadi istri Nabi. Tidak menjadi sebuah masalah karena semua itu terjadi karena mereka mencintai Allah dan Rasul Nya. Akhirat adalah pilihannya. Oleh karenanya rumah tangga mereka dipenuhi kemuliaan dan keberkahan.

Sebagai suami dan istri sudah menjadi kewajiban untuk saling mendukung pasangan dalam mencapai mimpi. Dukungan tersebut dapat berupa sebuah motivasi dan upaya agar mimpi itu dapat terwujud serta memberikan solusi atas kesulitan-kesulitan yang dihadapi.

Begitu pula Nabi yang sangat mencintai Aisyah. Nabi menginginkan agar Aisyah mencapai sebuah derajat yang diinginkan Allah, yakni menjadi istri Nabi dan Ahlul Baitnya. Langkah awal Nabi mendatangi Aisyah lebih dulu dibandingkan dengan istri-istri lainnya. Kemudian Nabi menghadapkan Aisyah pada suatu pilihan dan meminta Aisyah untuk tidak tergesa-gesa menjawabnya. Nabi menyarankan agar ia bermusyawarah terlebih dahulu kepada kedua orangtuanya. Hingga sampai pada pilihan untuk memilih tempat tertinggi bersama Nabi. Namun, lagi-lagi Nabi meluruskan kehendak Aisyah yang terlihat mempersulit. Kala itu Aisyah meminta Nabi untuk tidak memberitahukan kepada istri-istrinya atas pilihannya. Aisyah memiliki keinginan bahwa hanya dirinya lah yang memilih Allah dan Rasul Nya sebagai bukti bahwa Aisyah memiliki kelebihan daripada istri-istri lainnya. Tidak sependapat dengan Aisyah, Nabi menolak permintaan Aisyah.

Sama sekali Nabi tidak suka menghalangi istri-istrinya terhadap suatu kebaikan, pun juga tidak suka mengujinya dengan ujian yang sulit. Nabi akan menawarkan pertolongan kepada siapa saja yang dikehendakinya agar martabatnya lebih tinggi dan terhindar dari godaan dunia yang fana. Memang kedudukan Aisyah begitu istimewa di hati Nabi. Akan tetapi, sesekali Aisyah melakukan suatu hal yang tidak benar maka Nabi pun tidak segan untuk menasehatinya.

Julukan Wanita Pembawa Seperempat Syari’ah

Sebaik-baik perempuan adalah perempuan Anshar. Mereka tak mempunyai rasa malu sedikitpun untuk mendapatkan kesempatan belajar ilmu agama. Begitu berharganya ilmu tatkala agama Islam hadir. Para wanita mulai berbondong-bondong untuk mempelajarinya.

Aisyah adalah salah satunya. Di usianya yang belum genap sembilan belas tahun, telah membawanya berbagai penjuru dengan ilmu. Kefakihannya dalam ilmu agama Islam tidak diragukan lagi. Aisyah merupakan satu-satunya perawi wanita yang paling mengerti dan paling banyak meriwayatkan hadist.

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, bahwasannya Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “ Tidaklah kami para sahabat Rasulullah mempunyai masalah dalam sebuah hadist, lalu kami tanyakan kepada Aisyah ra. kecuali pasti kami selalu mendapatkan ilmu darinya.”

Begitu pentingnya ilmu pada masa agama Islam hadir. Para wanita pun menjadikan ilmu sebagai suatu kebutuhan untuk mempelajarinya. Para wanita kala itu selalu datang untuk menemui Aisyah untuk memintanya mengajari mereka. Kesadaran akan pentingnya ilmu bagi seorang muslimah sudah ada dan berkembang pada masa dahulu. Masa dimana para muslimah memeluk agama Islam. Dan dengan agama Islam, Allah muliakan mereka.

Keahlian Aisyah Dalam Kedokteran

Aisyah dikenal sebagai sosok perempuan yang cerdas. Kepiawaiannya dalam berbagai ilmu tak tertandingi oleh siapapun, termasuk pengetahuannya dalam ilmu kedokteran. Tidak ada yang mengira pengetahuan Aisyah seluas itu. Ilmu kedokteran yang ia miliki di dapat ketika Nabi jatuh sakit. Tatkala Nabi jatuh sakit, datanglah orang-orang Arab dari berbagai tempat untuk mengobatinya. Namun tetap saja mereka tidak bisa, sehingga Aisyah sendiri yang mengobati Nabi. Kemampuan Aisyah mengobati Nabi tidak sekejap ia kuasai. Aisyah mampu menguasai ilmu kedokteran dengan cara menghafal. Ia mendengar apa yang disampaikan oleh orang yang mengobatinya. Maka dari itu bagaimana cara mengobati antara satu sama lain pun ia hafalkan.

Aisyah dalam Medan Perang

Tidak jarang wanita-wanita pada zaman dahulu ikut serta dalam medan perang. Aisyah sebagai istri Nabi pun ikut berbaur dengan wanita-wanita lainnya membantu berjuang dalam medan perang. Disamping menyiapkan keperluan makan, Aisyah juga memberikan pertolongan kepada yang terluka.

Dalam perang Uhud misalnya, Aisyah mendadak sebagai sosok yang mempunyai tenaga sejajar dengan kaum laki-laki. Aisyah memikul air dipundaknya untuk keperluan minum para pejuang. Dapat dibayangkan bukan perjuangan Aisyah ? Kala itu ia masih sangat belia.

Dalam perang Khandaq, keberanian Aisyah begitu besar. Dalam peperangan ia berani menerobos barisan terdepan bersama para pejuang lainnya. Aisyah keluar dan bergabung dengan pasukan lainnya. Kala itu Aisyah bersama Sa’ad bin Mu’adz dan saudaranya Al Harist bin Aus yang sedang membawa perisai. Aisyah duduk diatas tanah. Hingga kemudian Mu’adz melewatinya sembari membawa baju dengan perisai dari besi yang nampak kecil. Seketika tubuh mungil Aisyah bergegas sembunyi disampingnya karena Mu’adz lah orang yang paling tinggi jika dibandingkan sahabat-sahabat lainnya. Dan kemudian Aisyah berlalu dengan syair nya yang seraya berbunyi, “ Songsonglah peperangan walau hanya sesaat, sungguh alangkah baiknya kematian jika ajal datang saat itu.”

Balaghah dan Kefasihan Aisyah

Aisyah tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan pendidikan yang amat kuat dalam hal kefasihan. Ayahnya, Abu Bakar terkenal sebagai seseorang yag sangat fasih dan mengetahui banyak hal mengenai nasab. Kemudian Aisyah berpindah ke rumah Rasulullah yang secara tidak langsung pendidikan Nabawi ia dapatkan. Ayat-ayat Al-Qur’an pun menjadi temannya sehari-hari. Oleh karenanya tidak sedikit yang Aisyah ucapkan merupakan mutiara Al-Qur’an apabila yang mendengarnya takjub dan terkesima.

Pendukung lainnya yang membuat Aisyah ahli dalam sastra Nabawi adalah kamar Aisyah berdampingan dengan masjid dimana banyak berbagai utusan Arab datang kesana. Dari dinding kamarnya ia selalu mendengar sya’ir-sya’ir yang dilantunkan oleh para utusan yang berdatangan. Selain sya’ir, dengan sangat kusyuk Aisyah memperhatikan hadits-hadist Rasulullah pun khutbah-khutbah yang diucapkan. Maka tidak heran bukan jika Aisyah memiliki ilmu yang amat luas dalam balaghah dan kefasihan berbicara.

Sumber :

  1. Di dalam Al-Ukt Al-Muslimah oleh Al-Jauhari.
  2. H.R Al-Bukhari (3818) di dalam Al-Manaqib.
  3. H.R At-Tirmidzi dengan sanad yang shahih (2505).
  4. H.R At-Tirmidzi (3883).
  5. Kitab Siyar A’lan An-Nubala (2/141-142).
  6. (Mutafaq Alaih) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7/19) (3662) di dalam Al-Manaqib /bab: Sabda Nabi, Lau Kuntu Muttakhidz Khaila, dan Muslim (2384) di dalam Fadhail  As-Shahabah.
  7. Mahmud, Al-Mishari. 2016. Biografi 35 Shahabiyah Nabi. Terjemahan oleh Pipih Imron Nurtsani. Surakarta : Insan Kamil Solo.
Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *