Belajar Tentang Adab Terhadap Orang Tua dan Guru

Abdul Wahid

Semenjak dilahirkan sampai pada kondisi saat ini, tentu kita tidak bisa lepas dari peran penting orang tua dan guru kita yang telah memberikan berbagai macam pelajaran penting kita semuanya baik sebagai anak atau pun murid.

Bapak dan ibu kandung kita tentu saja merupakan guru bagi kita semua ketika kita sedang berada di rumah. Adapun guru adalah orang tua kita ketika kita berada di lingkungan sekolah.

Dalam agama Islam, seorang anak tentunya harus tahu dan memperhatikan adab atau sopan santunnya kepada orang tua dan guru masing-masing. Hal ini karena mereka yakni, orang tua, dan guru sudah pasti mempunyai peran dan jasa besar terhadap diri kita sebagai seorang anak.

Dari sinilah kita akan sedikit belajar tentang bagaimana adab kita sebagai seorang anak atau pun siswa, terhadap orang tua dan guru kita, baik itu ketika di rumah atau pun ketika di sekolah.

A. Adab Kepada Orang Tua

1. Pengertian Adab Kepada Orang Tua

Sebelumnya mari kita bahas terlebih dahulu apa arti “adab” ini. Kata “adab” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti kehalusan, kesopanan, akhlak, atau bisa juga budi pekerti.

Lalu siapakah yang dimaksud dengan orang tua itu?. Orang tua adalah bapak (laki-laki) beserta ibu (perempuan) yang menjadi perantara adanya diri kita di dunia ini.

Seorang ibu (perempuan) tentu saja melahirkan seorang anak, tidak lepas dari peran seorang ayah (laki-laki). Semua manusia tentu dilahirkan melalui perantara keduanya (ayah dan ibu) , kecuali tiga orang. Yaitu, Nabi Adam as., Hawa (istri Nabi Adam as.), serta Nabi Isa as. (dilahirkan tanpa perantara ayah).

Tanpa keduanya (ayah dan ibu), tentu saja keberadaan kita tidak akan ada di dunia ini. Demikianlah sunnatullah yang terjadi di alam raya ini.

Dari penjelasan tentang arti “adab” dan “orang tua” di atas, maka pengertian dari adab kepada orang tua adalah berperilaku sopan santun dan baik budi pekerti kepada orang tua. Baik itu dalam perkataan ataupun perbuatan kita sehari-hari.

2. Perintah untuk Beradab kepada Orang Tua

Islam sebagai agama yang sempurna tentu saja memiliki aturan-aturan umum tentang bagaimana akhlak atau sikap seorang anak terhadap orang tua nya masing-masing.

Perintah untuk bersikap sopan santun, dan berakhlak mulia terhadap orang tua ini tentu saja banyak kita dapati dalam kitab al-Qur’an ataupun hadits. Diantaranya adalah sebagai berikut ini:

a. QS. an-Nisaa’ (4): 36

۞وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا ….. ٣٦

Artinya:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tuamu (ibu – bapak), …. ” (QS. an-Nisaa’ : 36)

b. QS. al-Israa’ (17) : 23-24

۞وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ٢٣ وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا ٢٤

Artinya:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. al-Israa’ (17): 23-24)

c. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، أَيُّ الْأَعْمَالِ أَقْرَبُ إِلَى الْجَنَّةِ؟ قَالَ: «الصَّلَاةُ عَلَى مَوَاقِيتِهَا» قُلْتُ: وَمَاذَا يَا نَبِيَّ اللهِ؟ قَالَ: «بِرُّ الْوَالِدَيْنِ» قُلْتُ: وَمَاذَا يَا نَبِيَّ اللهِ؟ قَالَ: «الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ»

Artinya:

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. dia berkata: “ Aku berkata kepada Nabiyyullah saw.: “Amal apa saja yang bisa mendekatkan kepada surga?”. Beliau menjawab: “Shalat tepat pada waktunya”, “Kemudian apa lagi ?”. Beliau menjawab: “ Berbakti kepada orang tua”, Kemudian aku bertanya “Dan apa lagi Nabiyyullah saw.?”. Beliau menjawab: “Jihad di dalan Allah swt.” (Hadits Riwayat Muslim)

Dari keterangan hadits di atas, berbakti (beradab) kepada orang tua menempati urutan yang kedua. Adapun urutan yang pertama adalah menjalankan ibadah shalat (menyembah Allah). Hal ini membuktikan bahwa betapa penting dan mulianya akan beradab kepada orang tua tersebut.

3. Macam – Macam Adab kepada Orang Tua

Jika melihat firman Allah swt. dalam surat al-Israa’ (17) ayat 13 dan 14 di atas, ada berbagai macam bentuk bagaimana adab seorang anak kepada orang tuanya. Antara lain adalah sebagai berikut:

  • Dilarang untuk berkata “ah” atau “cis” kepada kedua orang tua kita masing-masing.
  • Larangan untuk berkata kasar atau membentak kepada kedua orang tua
  • Ketika berbicara kepada orang tua hendaklah dengan perkataan yang sopan dan santun dan lemah lembut
  • Merendahkan diri di hadapan orang tua (ibu-bapak) dengan landasan sifat kasih dan sayang.
  • Senantiasa mendoakan kedua orang tua. Sebagaimana berikut ini: “Wahai Rabb-ku, kasihanilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah menyayangiku dan mendidikku semenjak aku masih kecil
  • Belajar dengan giat dan tekun untuk mendapatkan ilmu dan prestasi yang bermanfaat dan gemilang

4. Menyimulasikan atau Mengamalkan Adab Kepada Orang Tua

Menyimulasikan atau melatih teori mengenai adab kepada orang tua ini dapat kita praktekkan di rumah dan sekolah kita sendiri. Mempraktekkan adab kepada orang tua ini ketika sedang berada di sekolahan dapat dilakukan dengan cara:

  • Menjaga nama baik diri kita, dengan menjadi siswa yang baik, tekun dan giat belajar, patuh pada peraturan sekolah. Hal ini sangatlah diperlukan, karena baik buruknya kita menjadi siswa di sekolahan, kita juga membawa-bawa nama baik orang tua kita.
  • Berusaha terus menerus (istiqomah) dalam menjaga nama baik diri sendiri dan orang tua. Diantaranya dengan meninggalkan segala sesuatu yang buruk dan tindakan negatif, yang dapat mencemarkan nama baik diri dan orang tua kita.
  • Mengerjakan dengan baik tugas sekolah yang diberikan kepada diri kita dengan kemampuan yang maksimal.
  • Berdisiplin dalam berbagai hal sehingga menciptakan situasi dan kondisi yang positif, baik ketika ada di ruah maupun dalam lingkungan sekolah.

5. Menghayati Adab kepada Orang Tua

Menghayati mempunyai arti mengalami (secara tidak langsung) dan merasakan atau menjiwai sebuah peristiwa atau pun perbuatan yang sedang dilakukan. Menghayati ini tentunya bisa dilakukan sendiri oleh pelakunya secara langsung. Dari sinilah kita perlu berusaha semaksimal-nya untuk memiliki adab kepada orang tua kita.

Ketika berada di lingkungan sekolah, maka berusaha menjadi siswa yang baik dan berdisiplin dalam mengerjakan tugas. Tentu saja itu masuk dalam kategori pengamalan dari QS. al-Israa’ (17) ayat 13 dan 14 di atas. Sama halnya ketika seorang anak berada di rumahnya..

Seorang anak yang memiliki adab kepada kedua orang tua nya, tentu saja dapat merasakan beberapa hal berikut ini:

  • Mendapatkan ridha dari kedua orang tua nya, karena dengan beradab kepada mereka berdua, hati mereka bisa menjadi bahagia dan lega.
  • Memperoleh ridhanya Allah swt. Ini sebagaimana terdapat pada sebuah hadits Nabi saw. yang berbunyi: “ Ridhanya Allah terletak pada ridhanya kedua orang tua
  • Dengan adanya sebuah penghayatan, bisa mendekatkan hubungan batin antara anak dan orang tua, dan menentramkan hubungan keduanya.
  • Mendapatkan doa dan dukungan yang positif dari kedua orang tua yang senantiasa mengerjakannya dengan tulus dan ikhlas sehari-harinya.

B. Adab Kepada Guru

1. Pengertian Guru

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “guru” ini mempunyai arti “orang yang mempunyai pekerjaan mengajar”. Mengajar di sini maksudnya melatih, mendidik, dan memberikan suatu pelajaran tertentu. Misalnya saja orang yang memberikan pelajaran, latihan, mata pelajaran matematika, maka orang tersebut mempunyai status guru matematika.

Begitu pula dengan orang-orang lain (baik di sekolahan, yayasan, lembaga, dll.) yang bertugas memberikan pelajaran-pelajaran tertentu lainnya, sesuai dengan bidangnya masing-masing. Maka orang tersebut juga disebut dengan guru. Misalnya saja guru IPA, guru IPS, guru agama , dan lain sebagainya.

Dengan memahami arti guru di atas, maka sesama teman pun bisa menjadi guru kepada teman yang lainnya. Selama teman tersebut mampu menguasai materi yang menjadi favoritnya. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang tua yang pandai dan cakap tentu menjadi guru bagi mereka yang masih muda.

Tetapi, dalam perkembangan zaman atau pun ilmu pengetahuan yang baru ( komputer misalnya) . Generasi muda tentu saja lebih menguasai dan terampil, dan bisa menjadi guru dan mengajarkan ilmu pengetahuan yang baru tersebut kepada mereka yang umurnya lebih tua.

Meskipun tidak memandang umur baik muda atau pun tua. Menjadi seorang guru haruslah mengetahui dan mendalami ilmu yang diajarkannya. Selain itu, juga harus mampu mendidik, melatih, juga harus mampu memberikan contoh yang baik bagi siapa saja yang ada di sekitarnya, khususnya kepada para siswa-siswanya. Karena guru tidak lain adalah orang tua kita ketika kita berada di sekolahan.

2. Adab Kepada Guru

Murid sebagai anak yang sedang bersekolah atau belajar. Tentu sangat membutuhkan peran guru. Guru sangatlah besar jasa dan pengorbanan-nya, oleh karena itu sudah sepantasnya jika guru mempunyai sebutan yang kita kenal dengan pahlawan tanpa tanda jasa. Dari sinilah seorang murid atau pun siswa, harus mempunyai adab atau tatakrama yang baik kepada gurunya.

Ketika murid atau siswa sadar akan adab kepada gurunya, tentu harus diberlakukan kepada semua guru. Artinya, baik guru-guru itu masih aktif mengajar atau guru-gurunya yang sudah pensiun karena faktor usia. Juga terhadap guru-gurunya terdahulu atau guru-gurunya saat ini.

Adab kepada guru ini antara lain, yaitu:

  • Mematuhi dan mentaati perintah-perintah guru yang baik dan benar, secara tulus dan ikhlas. Tentunya ini untuk kebaikan murid itu sendiri.
  • Hormat dan santun kepada guru, baik perkataan dan perbuatan.
  • Berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik, sehingga tidak mengecewakan hati guru.
  • Menjaga nama baik guru, baik di lingkungan sekolah ataupun ketika sedang berada di rumah.
  • Memperhatikan dengan baik dan benar materi ataupun pelajaran yang disampaikan oleh guru.
  • Murah senyum terhadap guru dengan bermaksud untuk menghormati.
  • Ketika berpapasan, berusaha untuk menyapa gurunya terlebih dahulu (sebelum disapa oleh gurunya)

3. Menyimulasikan atau Mengamalkan Adab Kepada Guru

Menyimulasikan atau mengamalkan adab kepada guru ini tidak hanya di sekolah saja, tetapi juga harus dilakukan pula ketika kita sedang berada luar sekolah. Adapun simulasi dari adab kepada guru ini antara lain adalah sebagai berikut:

  • Pada suatu hari ketika Hasan siswa kelas 8 pulang ke rumah membonceng saudaranya, tiba-tiba di jalan ia melihat guru matematika-nya menuntun kendaraannya karena bocor. Kemudian ia meminta kepada saudaranya untuk berhenti sebentar. Kemudian Hasan pun turun, dan menyuruh saudaranya untuk pulang lebih dahulu, karena jarak rumahnya sudah tidak terlalu jauh lagi.
    Setelah itu Hasan pun menyapa guru Matematika-nya tersebut dan meminta kendaraan gurunya untuk dituntun sampai tempat tambal ban terdekat.
  • Suatu saat ketika guru bahasa Indonesia sedang menuliskan materi di papan tulis, spidol yang digunakan untuk menulis di papan tulis tintanya habis. Guru tersebut meminta salah seorang siswanya untuk mengambilkan spidol yang ada di ruang guru. Lalu dengan cekatan Ratih pun meminta izin untuk mengambilnya. Ratih pun diberikan izin guru bahasa Indonesia nya untuk mengambilkan spidol tersebut.
  • Fahmi adalah salah satu mahasiswa di perguruan tinggi ternama. Suatu saat ketika ia pergi ke salah satu tempat pariwisata, Fahmi bertemu dengan salah seorang guru SMP yang telah mengajarnya dulu. Fahmi pun mendekati gurunya tersebut, dan memberikan salam dan menjabat tangannya dengan penuh sikap hormat

4. Menghayati Adab Kepada Guru

Menghayati adab kepada guru tidaklah jauh berbeda dengan menghayati adab kepada orang tua yang telah dijelaskan lebih dahulu di atas. Menghayati adab kepada guru ini sangatlah penting, karena ketika kita tidak menghayati adab kepada guru, tentu akan terjadi hal-hal negatif yang sangat bertolak belakang dengan sopan santun kita terhadap mereka para guru-guru kita

Ketika kita sebagai murid mampu menghayati adab kepada guru, setidak-tidaknya kita bisa merasakan beberapa hal berikut ini:

  • Adanya hubungan batin yang dekat antara murid dan guru
  • Dengan kedekatan hubungan batin ini akan memberikan kemudahan dalam menerima materi pelajaran yang diberikan oleh guru kepada muridnya
  • Membuat hati kita menjadi senang dan bahagia akan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru
  • Tujuan pembelajaran yang diberikan oleh guru dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan

C. Rangkuman

Dari penjelasan mengenai adab kepada orang tua dan guru di atas, adalah:

  1. Adab kepada orang tua berarti sopan santun, akhlak, budi pekerti kepada kedua orang tua (ayah dan ibu). Adab ini tidak hanya berlaku kepada orang tua saja tetapi juga kepada guru-guru kita.
  2. Memiliki adab kepada orang tua dan guru adalah wajib hukumnya
  3. Adab kepada orang tua antara lain adalah: tidak berkata ‘ah’ kepada keduanya, tidak berbuat dan berkata kasar, rendah diri di hadapan keduanya, mendoakannya baik ketika masih hidup ataupun sudah meninggal dunia, dan lain-lainnya
  4. Sebutan guru adalah bagi siapa saja yang mampu memberikan pengertian, pembelajaran, pelatihan, atau suatu arahan dari suatu hal. Seorang teman atau pun saudara juga bisa menjadi guru dalam hal tertentu.
  5. Adab kepada guru antara lain adalah mematuhi dan menaati nasihat-nasihatnya secara ikhlas, senantiasa hormat dan bersikap sopan dan santun baik perkataan atau perbuatan, menjaga nama baiknya dan tidak menceritakan kekurangannya terhadap orang lain.

Demikianlah penjelasan perihal adab mengenai orang tua dan guru. Semoga kita semua bisa mengerti, paham, dan bisa mengamalkannya dalam keseharian kita semuanya baik di sekolah atau pun di rumah. Sehingga bisa menjadi pengamalan dari ayat al-Qur’an dan hadits yang tercantum di atas.

Sumber:

T. Ibrahim dan H. Darsono, Membangun Akidah dan Akhlak 2 untuk Kelas VIII Madrasah Tsananwiyah, (Solo: PT. Tiga Serangkai), 2017.
Software Qur’an in Ms.Word v. 2.2
Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v. 1.1

Jangan Lupa Share & Komentar Ya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *